
Beberapa bulan kemudian. Luna berada di universitas oxford ternama dinegara tetangga. Ia mulai merangkap belajar bahasa asing dan melanjutkan kuliah yang tertunda.
Meski begitu ia masih tidak fasih dan hanya mengerti sedikit demi sedikit. Luna pun menatap seisi pemandangan hijau di arena kampus yang megah itu.
Luna mulai mengirup udara, meregangkan kedua tangannya yang pegal setelah merapihkan tugas materi mata kuliah yang telah usai. Namun ketika ia melangkah berada di luar kelas ia terperanjat dan diam.
"Hello Miis. Help Me please!"
"Yes. Mr bisakah anda pelan dalam bicara?" tanya Luna mencoba agar pria itu berbahasa indonesia. Tapi ia sadar kini menetap di negara asing.
Pasalnya ia tak mengerti akan sikap dan perkataan Seseorang yang meminta bantuan dengan bahasa asing terlalu cepat.
"Bagaimana ini. Aku masih ga ngerti dan takut salah mengartikan." lirihnya.
Berkali kali pria itu mengatakan. Tapi Luna masih tak paham, namun seseorang membuat matanya membulat menatap dengan terkejut.
"Who. Whay kenapa kamu di sini?" tanya Luna melotot.
Pria itu tersenyum dan menghiraukan pertanyaan Luna. Ia asik dengan membalas pria asing yang meminta bantuan dan tersesat.
Luna merasa risih dan malu karena dirinya tak pandai dan belum fasih. Masih dengan gaya mood malu dan menelan saliva ketika Triis masih menatapnya. Triis pun berbalik arah dan melangkah. Hal itu pun membuat Luna mengekor kemana langkah Triis.
Dengan setelan jas rapih ala dosen atau oppa korea. Luna bertanya dengan nada manis.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku. Kamu bertanya padaku Luna?" tanya balik Triis.
"Lupakan saja. Kau pikir aku dari tadi ngapain, satu hal perlu kamu tau Luna. intinya kapanpun keberadaanku. Aku pasti di sampingmu Luna." bisik manja Triis.
"Ciiieh. Pria menjengkelkan kau."
"Dan kamu wanita menggemaskan Luna." balas Triis.
Luna terdiam dan masih menggerutu. Ia bertanya mengapa Triis kembali membuat moodnya tak stabil. Triis pun menghentikan langkah Luna dan menariknya hingga mereka saling bertatap.
"Kamu ingin tau kenapa Luna?"
"Heuuumph." Luna membalas sepatah kata. Ia terkejut akan aksi Triis yang mendekat dan membisikan sesuatu padanya.
"Karena Aku ayah dari anak kita. Dan kamu tetap menjadi milikku Luna. Pahamilah dan terimalah!"
Luna terperanjat dan memekik telinganya. Ia menatap sebal akan sikap Triis yang mencoba saja menggigit halus telinganya di depan umum.
"Kaaau .. menyebalkan Triis."
Luna meninggalkan Triis dengan gaya jalan melangkah seribu. Tapi Triis tersenyum berjalan dengan santai mengekor kemanapun Luna pergi.
"Sepertinya aku harus berusaha keras. Mengapa Triis mempersulit keadaan hatiku." benak Luna.
"Apa yang kamu pikirkan. Bukankah kuliah tertunda telah tercapai, setelah itu apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus?"
"Bukan urusanmu. Aku tak pernah mencampuri urusanmu. Aku harap kamu tak perlu mencampuri lagi Triis. Kita hanya sebatas orangtua bagi kedua anak kita!"
__ADS_1
Triis melangkah diam, Luna menoleh dan menatap Triis dengan tak enak hati. Triis mulai mendekati Luna, lalu menyelipkan helaian rambut poni yang tersapu angin. Lalu menyelipkan di belakang telinganya.
"Kembalilah. Aku tak akan menyakitimu lagi. Aku tak akan berhenti sampai kapanpun Luna!"
Triis berjalan lurus meninggalkan Luna. Luna pun tersipu malu dan berdebar. Sakit itu mulai terasa ketika ia mengingat dan menyentuh hatinya. Ia tak ingin selalu membicarakan masa lalu saat masih bersama. Tapi perlakuan manis Triis membuat ia takut dan sebuah topeng siasat pria yang pernah ada di hidupnya.
'TRIIS. MASA LALU KITA, AKU TAKUT MEMBERIMU KESEMPATAN DAN TERJADI ULANG KEMBALI RASA SAKIT ITU. AKU MINTA MAAF.' BATIN.
----
Esok Harinya.
Praaagkh ... Praaaghkh.
Luna mencuci sayuran hijau dan buah di wastafel. Ia membuka jendela dapur agar asap masakan berlalu dan tak menebar ngebul di ruangan kecil itu.
Sementara Triis masih menatap Luna. Ia duduk menatap wanitanya tak berkedip dengan menyilangkan satu kaki.
"Uhuuuk ... Uhuuk. Apa seperti ini sikapmu pada tamu Luna. Membiarkan asap tebal seperti gas alam yang bocor?" tanya Triis.
"Kau. Kenapa tidak pulang saja ke hotel, untuk apa masih di sini. Pergi saja!"
"Weeeh. Kau wanita galak sekali, aku pun sama menunggu kedua orangtuaku datang bersama kedua anakku. Bukankah hari weekand aku bebas mengunjungi dan bersama di sini?"
"Tapi kita bukanlah lagi muhrim Triis."
"Kamu mau apa Triis. Lepas jangan lingkari kedua tanganmu di pinggangku!"
"Kenapa. Kamu memilih tinggal di negara asing. Apa karena ingin bebas?"
"Omong kosong. Aku mengejar ilmu, bukan mengejar madu kegadisan wanita. Jangan pernah mencoba melebihi batas Triis. Jika tidak aku akan... "
Heuuump. Aku akan apa Luna. Ayo katakan aku mendengarkan apapun itu!!
Luna tak lagi menjawab. Ia melepas ikatan tangan Triis yang kokoh. Tapi Triis menahan membuat Luna kesal kala itu. Ia menengadah sebuah gayung berisi air dari wadah nampah air dan berusaha mengguyur Triis.
Tapi cekatan tangan Triis ia menahan dan menepis hingga gayung itu terlempar dan membasahi kedua baju mereka yang basah. Terutama Luna yang memakai kaos ketat Putih terpampang jelas membuat Triis ON tersenyum pada Luna.
"Jangan berani macam macam. Aku akan teriak!"
"Lakukanlah. Aku akan pergi setelah kamu menjawab. Ya atau Tidak?"
Luna menggeleng kepala. Ia tak mengerti.
Triis mulai menggoda, mencoba membuat ia melirik dan menatap seisi ruangan.
Luna tak tinggal diam lalu segera bergegas. Tapi Triis masih mode tersenyum, ia menarik tangan Luna dengan paksa.
"Meski kamu menolak beribu kali. Selagi nafasku belum berhenti, aku akan mengejar ibu dari anak anakku. Aku tak terbiasa dengan penolakan!"
"Lepasin!" teriak Luna.
__ADS_1
Seiring waktu Luna yang pergi mengganti baju. Ia mengelap kemejanya yang basah. Entah ia harus berapa kali menahan untuk menunggu Luna. Tapi ia sadar perlakuan yang terlalu membuatnya untuk bertahan dan menunggu.
Luna di kamar setelah berganti pakaian. Ia terpaksa memakai dress berwarna kuning motif bunga. Perasaannya bercampur rindu akan Erland dan ingin menunjukan jika hatinya masih berkabung dan kehilangan sosok pria yang ia damba. Triis adalah masa lalu terpahit yang pernah ia rasakan dan masih sama. Perasaan sakit itu membuat hatinya pelu dan hancur.
"Jika kau masih memikirkan pria yang sudah berbeda dunia. Mengapa tidak kau susul Luna?" tanya Triis.
Luna melirik diatas balkon. Ia memicik senyum sebal, menatap Triis membuatnya lelah. Jika saja dia bukan ayah dari kedua anak kembarnya. Sudah pasti ia lapor polisi karena mengganggu kesehariannya.
"Apa kesibukanmu adalah mengurusiku Triis?" ketus Luna.
"Ya. Bisa dibilang menjaga dan melindungi hati wanita spesial untuk saat ini." senyum Triis.
"Untuk saat ini. Ya jika kau dapatkan kau pasti akan kembali pada tabiatmu. Hal yang membuatku sakit hingga kini adalah masa lalu kita tak pernah manis. Jangan lagi mencoba manis di depanku Triis!"
Luna melangkah dan ia kembali mendekatiTriis.
"Triis. Aku tak akan pernah kembali sampai benar tau. Apakah kematian Erland karena ulahmu. Jika Ya! mustahil kita bersama."
Triis menatap Luna pergi dan menutup pintu kamar. Ia tertegun akan sikap perkataan Luna saat ini. Ia sadar Luna yang sekarang bukan lagi Luna yang polos dan selalu menerima perlakuan apapun darinya.
"Kamu semakin menantang Luna. Kita lihat apa yang terjadi nanti setelah kamu luluh padaku. Aku pastikan diriku tak ada hubungannya dengan kematian Erland meski aku setengah mati membencinya."
Tak lama sebuah ketukan pintu tiba saja membuat Luna yang terbaring dari kasur beranjak. Bell pun tak lama berbunyi, ia menatap jam masih keadaan sore.
Dan ketika ia turun ke anak tangga menatap beberapa pria paruh baya berbicara pada Triis.
"Apa bapak itu. Astaga Triiis kau mengacau suasana semakin runyam." lirih Luna mendekat.
"Ada apa ini pak?"
"Nona Luna. Kami telah menerima data warga baru. Tapi kami terkejut akan pria yang satu rumah tanpa status. Meski tinggal diluar negeri keadaan seperti ini tak boleh terjadi dan menganggap bebas!"
"Maksud inti bapak apa ya?" tanya Luna kesal.
Triis melerai saat Luna berdebat dan tersenyum menang.
"Pak, kami adalah mantan kekasih. Mantan suami istri. Tapi kami akan kembali dalam waktu dekat dan telah mendaftar. Jadi jangan khawatir!"
Haaaah .. Luna terpekik kaget mendengar ucapan Triis yang tak masuk akal. Pria itu tak mempercayai. Lalu Triis membuka dompet identitas dan bukti hingga Luna menutup mulutnya ketika Triis menatap wajahnya penuh senyum keceriaan menang.
"Dasar pria menjengkelkan. Kau sudah matang membuat situasi ini. Jika kau memaksa aku, aku akan membuatmu kesal dan mengakhiri dengan sendirinya Triis!" batin Luna.
Tbc.
Yuks mampir ke genre crazy Up!
#Pengantar Box Jutawan.
#Istri Genit Mas Faaz.
Kisah Luna akan delay kedepan, karena data di memori ponsel satu nya author sedikit rusak sehingga mengingat alur kerangka kisah Luna bertahap!
-- HAPPY READING ALL --
__ADS_1