HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
Bab 8


__ADS_3

“Kita nggak usah ke acara itu saja.” Tiba-tiba Genta berkata memecah keheningan. Saat ini, Genta memang hanya berdua dengan Anya di dalam mobilnya, sedangkan Bulan sudah di jemput oleh kekasihnya beberapa menit yang lalu.


“Umm, kalau kita gak ke sana, kita kemana?”


“Temani aku keluar.”


“Kemana?” Anya bertanya lagi.


“Ke tempat temanku.”


Anya tidak meng-iyakan, namun, ia juga tidak dapat menolaknya, masalahnya Genta memang tidak bisa di tolak dan sepertinya, ia tidak memiliki hak untuk menolak, mengingat dirinya saat ini sedang menumpang di mobil Genta.


Sepanjang perjalanan, Anya hanya diam, mau membuka suara pun ia canggung. Genta tampak serius dan berkosentrasi serta mengemudikan mobilnya, jadi Anya tidak berani untuk sekedar bertanya akan kemanakah mereka.


“Nanti, jangan membantah apapun yang ku katakan.”


“Apa?” Anya tidak mengerti dengan perkataan Genta.


“Kamu sudah punya pacar?” tanya Genta tanpa ekspresi.


Pipi Anya memerah seketika. Ia menundukan kepalanya secara spontan. Selama ini, tak ada yang pernah bertanya hal pribadi seperti itu kepada dirinya. Dan Genta menanyakannya dengan santai tanpa ekspresi sedikit pun.


“Kenapa? Kamu belum ada pacar,kan?” tanya Genta lagi memastikan semuanya.


Anya hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.“Siapa juga yang mau pacaran sama saya.” lirih Anya dengan pelan. Ya, siapa juga yang mau berkencan denganya? Ia hanya anak dari seorang pembantu, dengan pergaulannya di sekolah yang populer yang hampir seluruh muridnya adalah anak dari orang berada, Anya tidak berani mendekati murid lain bahkan untuk sekedar berteman.


“Apa salahnya dengan menjadi pacar kamu?” pertanyaan Genta membuat Anya mengangkat wajahnya menatap ke arah Genta. Rupanya Genta masih berkonsentrasi dengan jalanan di hadapannya.


“Kalau begitu, mulai malam ini, kamu sudah menjadi pacarku.”


“Apa?” Anya yakin jika ia hanya salah dengar.


Lalu Genta mendaratkan satu tangannya ke paha Anya, ia meremasnya secara pelan sebelum berkata “Ya, kamu jadi pacarku. mulai malam ini. Dan aku tidak terima penolakan.” Dan Anya hanha ternganga menanggapi kalimat Genta tersebut.


“Kenapa kak Genta mengenalkan saya sebagai pacar kakak?”

__ADS_1


“Kamu kekasihku sekarang.”


“Tapi-”


“Aku tidak suka di bantah.” Genta masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.


“Genta, panggil saja begitu. Kamu bisa memanggilku kakak di depan banyak orang, tapi ketika kita hanya berdua, panggil saja namaku.”


Anya tidak menjawab, ia masih tidak habis pikir dengan Genta yang tadi baru saja mengajak dia ke tempat teman-temannya.


Gilanya lagi, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Genta, dan Anya hanya diam, ia tidak membantah atau meralat ucapan Genta saat itu.


“Kenapa? Kamu nggak suka dengan hubungan kita?”


“Umm, bukan begitu, saya hanya tidak mengerti, Kenapa kak-”


“Genta.” Ralat Genta cepat memotong kalimat Anya.


“Umm, kenapa kamu melakukan ini kepada saya.” Anya masih enggan memanggil Genta dengan namanya saja, dan itu membuat Genta sedikit menyunggingkan senyumannya.


“Umm, tapi bagaimana bisa suka? saya kan cuma...”


“Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa menyukaimu, Anya! mungkin karena kamu menggodaku, atau mungkin karena pertahananku terlalu lemah saat melihat perempuan secantik kamu.”


Anya tidak menjawab, hanya tampak rona merah di pipinya yang nampak menyala. Oh, perkataan Genta benar-benar membuat pipinya memanas.


“Saya tidak pernah menggoda kamu.”


“Ya, aku mengerti, tapi bagaimana kalau aku yang tergoda? Ayolah, aku sudah dewasa dan melihat kamu berkeliaran di dalam rumahku setiap harinya benar-benar membuatku terganggu.”


“Umm, saya minta maaf , nanti saya akan bilang sama ibu untuk mencari rumah kontrakan-”


“Tidak! Bukan itu maksudku, astaga.” Genta mengerang frustasi. Lalu ia menepikan mobilnya, dan ketika mobilnya berhenti, ia segera menatap menatap ke arah Anya.“Maksudku adalah, kamu sudah membuatku tertarik denganmu, mungkin karena keberadaanmu yang selalu berada di sekitarku, atau mungkin karena faktor lain, aku sendiri tidak tahu, tapi yang terpenting, aku tertarik denganmu, dan aku ingin kamu menjadi kekasihku.”


“Tapi saya-”

__ADS_1


“Aku nggak terima penolakan, seperti yang kukatakan dari awal.”


Anya hanya menunduk saat Genta menatapnya dengan intens. Kemudian, Anya merasakan jemari Genta meraih dagunya, mengangkatnya hingga wajah mereka saling beradu pandang cukup lama, hingga kemudian Genta berbisik pelan. “Anggap saja ini tanda jadi hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Genta mendaratkan bibirnya pada bibir Anya.


Anya sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Genta, tapi ia tidak menolak, ia tidak meronta atau pun menghindar. Yang Anya lakukan hanya diam, lalu mengukuti irama bibir Genta yang seakan mengajak lidahnya menari. Menari dengan lembut dan seirama, hingga membuat cumbuan pertama mereka terasa begitu manis dan tak akan terlupakan.


Anya terpekik, saat merasakan sebuah lengan melingkari perutnya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan alangkah terkejutnya dirinya ketika mendapati Genta berada tepat di belakangnya.


Astaga, apa yang di lakukan lelaki ini? pikirnya. Anya sedikit meronta, memohon supaya Genta melepaskannya. Sungguh, ia tidak enak hati jika nanti ada orang yang melihat mereka. Meski sebenarnya Anya tahu jika tak akan ada orang yang melihat mereka karena kini dirinya sedang berada di loteng, tempat ia menjemur pakaian.


“Tolong jangan seperti ini, Tuan.” Anya berkata dengan sedikit canggung.


“Tuan? Aku sudah bilang sama kamu tadi malam, kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih.”


“Tapi-”


“Genta, panggil saja Genta.” Gent melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Anya hingga menghadap ke arahnya. “Kenapa kamu begitu sulit menerima kenyataan ini?” tanya Genta sambil menatap Anya dengan intens, sedangkan Anya hanya memilih menundukan kepalanya, seakan enggan menatap mata Genta.


“Saya, saya hanya nggah habis pikir, kenapa kamu melakukan ini.”


“Karena aku tertarik denganmu, apa itu kurang?”


“Tapi saya cuma...”


“Jangan teruskan. Ayolah, kita bisa menjalani ini. Oke, kalau kamu belum siap, kita bisa menjalaninya secara diam-diam seperti ini. Bolehkan?” Anya hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Genta seperti sedang mendesaknya, dan ia tentu tidak akan bisa secara terang-terangan menolak permintaan Genta.


Tanpa di duga, tiba-tiba Genta meraih dagunya, mengangkatnya hingga mau tidak mau wajah Anya terangkat menghadap ke arah Genta.


“Kamu sungguh manis, membuatku selalu ingin mencicipi rasamu.” Dan setelah kalimat tersebut, Genta segera menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Anya. seperti yang terjadi pada malam sebelumnya, Anya sempat terkejut. Tapi karena kelembutan Genta, ia menikmati cumbuan tersebut. Ia membalas cumbuan tersebut,meski dengan cumbuan seadanya, karena ia juga tidak pandai melakukan itu sebelumnya.


Bersambung....


Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.


Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!

__ADS_1


__ADS_2