HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
MENCARI INFORMASI


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mereka pergi dan bergegas melangkah. Luna tak enak hati, tapi saat itu ia menatap kantong jas Erland terbuka dan ada sebuah kotak cincin.


"Mas, berhenti sebentar!"


"Ada apa, Na?"


"Terimakasih, sudah sebaik dan menunggu Aku mas. Tapi kemarin aku dapat masalah mas. Ayah kedua anak ku datang ke cafe. Sein melihatnya." Luna menunduk.


"Lalu, apa yang bisa aku bantu Na?"


"Tinggalah dirumah. Jadi suami bohongan aku. Maksud aku, yakinkan agar Triis tak menggangguku. Aku tau permintaanku tak masuk akal. Tapi aku minta maaf Mas!"


Erland tersenyum, ia bersedia dan berkata.


"Aku akan menjagamu Luna, aku akan yakini kedua anak anak. Adalah anak kita, Meski bohongan aku bersedia. Membuatmu bahagia adalah kesempurnaan bagiku."


Luna terenyuh, ia menatap Erland memang pria sempurna. Tapi gagal dan pahitnya pernikahan membuatnya takut akan perlakuan tak pantas. Terlebih ibu Erland tak menyukai aku wanita miskin.


"Kok diam?" tanya Erland.


Luna tersenyum, "Aku gak apa Mas. Aku takut dan akan gagal jika menikah. Aku takut kamu berubah setelah menikahiku. Meski aku tau kamu bukan tipe seperti itu."


Luna, izinkan aku mendekatkan pada Riana, dan Rian lebih jauh ya. Aku akan membuktikan padamu kalau aku tulus.


Aku tulus dan masih menunggumu. Aku menerima kekuranganmu, karena kamu wanita satu satunya di dalam hati aku hingga kini, selamanya.


"Makasih Mas." Luna memegang tangan Erland yang menyentuh pipinya.


Tiba : Luna menjemput kedua anaknya. Luna berlalu menuju suatu kedai minuman segar.


"Bunda ada Air celapa. Aku mau!"


Sayang bunda Haus ya. Heuumph sama nih, Ayo Raina ikut ama bunda!


"Enggak mau, Raina mau sama Uncle Elan aja."


Luna menatap Erland. Sementara Rian ikut berebut.


"No, aku mau duluan ajak Uncle antar aku. Uncle aku mau pepsi. Antarin aku!"


"Oke, handsome. Cantik kita pergi Ya. Satu satu dulu. Karena toilet ka Rian cowo kaya Uncle. Jadi Riana sama Bunda dulu Ya!"


Riana mengangguk. Luna terdiam, karena kedua anaknya begitu akrab dengan Erland. Tidak mudah dan sudah seharusnya ia menerima Erland sebagai pendamping hidupnya.


"Mas, aku tunggu di kursi sana Ya. Aku pesenin kamu juga Air kelapa Ya?"


"Heuuump.. aku Mau. Makasih Ya."


"Ya. Mas, sama sama."


"Luna." panggil kembali Erland. Luna pun menoleh dan menatap Erland.


"Apa ada yang lupa Mas?"

__ADS_1


Erland menunjukan jari love pada jarinya di tautkan kearah Luna.


"Semoga itu tak tertinggal Ya!"


Luna tersipu, kamu Mas bisa bisanya di depan Rian dan Riana. Sementara kedua anak itu hanya menatap bengong. Menatap sang bunda sedang jatuh dan memerah merona.


"Luna." teriak kembali Erland. Saat sudah berjalan empat langkah.


"Ada Apa lagi Mas?"


Erland memajukan langkah dan berbisik,


"Pesankan aku Air kelapa, dengan tulus dan cinta ya. Aku mau satu air kelapa yang tersentuh bibirmu!" Erland tersenyum dan berlalu menggendong Rian.


"UNCLE LAMA BANGET SIH. NGAPAIN SIH DARI TADI BISIK BISIK MA BUNDA AKU!"


Luna terdiam malu, wajahnya merona. Dan tertawa ketika kedua anaknya protes.


"Udah sana Mas, kasian anak anak!"


"Oke Handsome. Prety Uncle. Maaf ya, tadi Uncle buat iklan goda Bunda una!"


Di Toilet :


"Bagus banget, handsomenya bunda Una tambah ganteng." tutur Erland.


"Uncle temani ke toilet ya!"


Rian mengangguk, ia masih menggengam tangan Uncle Elan yang selalu ia sebut. Sementara Luna di tempat minuman segar.


Setelah beberapa menit, Erland meminta Rian untuk menunggu nya di kursi tinggi meja ruang tunggu.


"Vero, jagain sultan kecil gw ya. Mau pepsi dulu sebentar!" Di Anggukan.


Vero pun mengajak, dan menduduki Rian kedalam ruangan meja kerjanya. Menjaga sebuah minuman mahal. Jika ada custumer yang memintanya. Sebenarnya usaha keluarga, hanya saja karyawan cuti jadi ia yang menjaga.


"Uncle Ero, apa Uncle El. Sama seperti Ayah Rian?" tanya sedikit cadel, di meja khusus.


"Heuump. Rian rindu Ayah ya, kalau gitu doakan aja. Nanti kita sama sama berdoa ya. Kali aja Rian bisa ketemu meski dalam mimpi." bisik Vero.


Selama ini Vero taunya Luna ditinggal cerai mati.


Triis dan Ebon tak jauh yang duduk, ia melirik anak berusia empat tahun itu sedang bertanya banyak, ia mendengarkan dan menatap anak itu kenapa mirip dengan Triis.


Ebon pun tak menyangkal jika wajah bocah kecil itu memang sedikit mirip. Hanya saja dia lebih putih sekali, sehingga kulitnya sedikit merah. Berbeda dengan Triis yang sedikit maskulin.


"Suara bocah itu kenapa mirip di ponsel ku semalam?"


"Suara itu banyak Tuan. Tidak cuma seorang." ketus Ebon. Mendengus nafas berat dan kesal.


Tak lama, Rian berteriak.


"Ayah El."

__ADS_1


Erland pun terdiam begitupun Vero. Sehingga mereka tersenyum dan memukul bahu Erland.


"Wah lampu hijau Son, sudah cepat halalkan!"


Oke, kita ke Bunda ya sayang! dalam genggaman gendongan, Rian menatap dan kiss bye pada Vero. Lalu menatap dua pria yang selalu menatapnya dari tadi di samping Uncle Vero.


"Uncle, aku tadi diliatin telus sama dua pria dewaca. Jadi aku rindu sama Ayah. Aku panggil Uncle Ayah gpp kan?"


"Tentu sayang, Uncle ga keberatan." balas Erland mengecup kening Rian. Ia pun tertarik dan mencari keberadaan pria yang menatap anak kesayanganya itu. Meski bukan darah dagingnya.


"Sepertinya nanti malam aku harus mengajak dinner Luna." batin Erland.


"Lama sekali sih, ayo nak. Bunda udah habis minum air kelapa sampai habis nih!"


Maaf bunda lama ya, tadi Ayah Elan yang bikin lama tuh? Luna terdiam ketika Erland menatap arah laut. Erland takut Luna marah ketika putranya memanggilnya Ayah.


"Ayah ?" tanya Luna.


Bocah kecil itu pun menjelaskan, hingga akhirnya Luna tersenyum dan tak lagi untuk mempermasalahkan panggilan.


Satu jam mereka main pasir di tepi pantai.


Luna mengajak Rian dalam genggaman tangannya dan menuju arah air yang bergelombang. Tak lama Rian dan Riana mengenggam tangan Erland.


Kedua bocah itu mengajaknya sehingga mereka bertiga bermain air. Luna menatap dengan tertawa senyum dan lebar sakin senang.


***


"Ebon kau benar tidak salah orang kan?"


Dia mengangguk. Tak lama ia mencerna pria di foto ini adalah pria yang menggendong tadi kala bersama anak kecil. Cari tau pria bernama Vero itu, selidiki dia pasti tau semua tentang Luna.


"Pengacara lulus itu, pantas aku tak asing mengenalnya. Kau berani sekali mendekati Luna yang masih istriku."


Triis mengepal dan menggumpalkan kertas informasi tentang Pria bernama Erland.


Bagaimanapun Luna masih istrinya dan belum ia ceraikan.


"Ebon, cari kelemahan pria ini. Aku ingin dua jam kau sudah dapat informasinya!"


Ebon hanya menelan saliva, tenggorokan terasa kering. Mulai mendapat sosok Tuannya yang kejam seperti awal.


"Tuan, Luna mendapatkan Trauma akan pernikahan yang..."


Sorot mata Triis menatap pengawalnya.


"Aku tau, aku akan bersikap baik dan lembut. kau masih tak percaya. Cepat pergilah!"


Triis kesal, pengawalnya memang tak salah bicara. Hanya saja ia kesal jika di ingatkan akan masa kelam yang keterlaluan pada Luna. Dia ingin membuat Luna bahagia, ia ingin mendapatkan hati luna kembali dan membawanya ke mansion dan hidup berbahagia.


"Jika dia anakku, kau harus membayarnya Luna. Aku akan menghukummu. Ketika kamu sudah ada di genggamanku!"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2