HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
DI TEGUR USTAD


__ADS_3

"Akhwan. Yus Ibrahim Khoirin. Silahkan masuk, ada kepentingan apa selarut ini?" tanya Pakle.


"Bisa ikut saya pakle. Maaf jika mengganggu. Bukle saya izin untuk meminta Pakle mengikut saya ke satu pondok akhwan ada hal penting. Abi juga sudah menunggu!"


"Iya. Silahkan nak. Hati hati!"


Pakle Srie pun pamit pada Bukle. Luna masih menatap cara pria surgawi itu menatap dan berbicara amat sopan. Ia melamun dan mengatakan hal tanpa kesadaran sehingga Bukle mendengarnya.


"Andai Luna tinggal di sini dulu, tak pergi ke ibu kota. Luna mondok, mungkin takdir Luna berbeda bukan. Memiliki pria surgawi bagai wanita yang bisa di tuntun tanpa celah dosa."


"Huuusst. Luna ayo masuk, udaranya dingin ga baik loh. Kamu mikirin apa, jangan jadi fitnah dalam pikiran. Jin selalu bisa menggoda iman. Jaga hati dan lidah!"


Luna mengekor Bukle. Ia mengorek ngorek siapa itu pria surgawi yang bernama Yus Ibrahim Khoirin.


"Kamu benaran pengen tau. Mau mendekatinya ya?"


"Iikh. Bukle apa sih, Luna ga kepikiran ke situ. Luna aja udah cacat dan udah pernah menikah, mempunyai anak. Mana mau pria itu menikahi wanita seperti Luna yang urakan. Bisa bisa Luna yang beruntung tapi Pria surgawi itu buntung."


"Huuush. Udah yah, ghibahnya nanti aja. Udah malam, ayo ngemil nih singkong rebus. Enak hasil dari copotan kebun di belakang!"


Luna pun menuruti, ia Lalu membuka buku besar setebal Lima jengkal jari manusia ketika direntangkan. Ia mulai membaca buku yang Bukle punya.


"Bisa habis berapa bab ni Luna. Haduh Bukle,tapi kenapa Bukle ga cerita intinya aja sih. Kenapa harus Luna baca setebal ini dulu. Baru Luna dapat informasinya?"


"Ada permintaan. Harus ada juga jembatan yang harus kamu lewati. Lakukanlah tanpa mengeluh. Udah Bukle masuk kamar dulu. Kamu jangan terlalu malam tidur ya!"


Heeeeumph. Bagaimana bisa ga tidur malam, pengen cepat kelar baca. Tapi udah setebal ini aja, bisa bisa ga keburu deh dapat informasi pria surgawi itu.


"Eekh. Ya. Kalau pria itu aku jadiin naskah apa dia keberatan, setelah aku dapat semuanya. Aku bakal minta izin padanya. Semoga dia baik ramah, mengijinkan." batin Luna.


 


***


Sementara Di Beda Tempat.


"Kau bodoh Ebon. Ini sudah tiga hari, kau tidak dapat tempat tinggal Luna juga?"


"Di malang. Tapi lokasi titik tak bisa saya cari. Bagaimana jika nona Sean menghubungi Luna dengan sebuah Trik?"


Ebon sebenarnya tak menyetujui. Tapi jika harus ia pilih, ia tak akan mendukung sahabat Luna yang murahan itu. Mengingat ia berusaha keras agar Tuan Triis kembali kejalan yang baik. Tapi ia merasa tertekan dan serba salah harus memihak kemana. Tuan besar atau anaknya Tuan Triis. Pilihan yang sulit bukan? benak Ebon.


[ Luna kamu dimana. Apa kamu tidak berencana kembali menemuiku? ] pesan Sean.

__ADS_1


[ Aku berada di pondok Malang. Dua pekan ini aku akan sibuk dengan tugas pekerjaan baruku. Maaf Sean!] balas Luna.


[ Apa omset Cafe sudah tak sesuai. Sehingga kamu bekerja Luna?]


[ Gidak. Aku perlu mengejar cita cita ku yang tertunda Sean. Setelah selesai aku akan mengabarimu jika aku sampai di bali ya! ] balas Luna.


Pesan telah usai. Luna segera menulis kembali naskah. Hal yang membuatnya sibuk, ia tak melupakan mengabarkan dan memberi via tatap pada kedua anaknya dan kedua mantan mertuanya yang baik itu, melalui vcall.


"Hah. Tak ada kabar dari Triis membuat aku lega. Tapi mengapa hatiku was was ya. Bagaimana jika dia menanyakan pada Sean melalui Ebon?" pikir Luna.


[ Sean. Jika seseorang menanyakan padaku. Tolong jawab tidak tau ya! ]" pesan singkat Luna.


Sean hanya tertawa kecil akan senang. Ia melirik ke arah Triis di sampingnya yang sedang tidur bersama. Lalu mengecup pipi Triis mendarat dengan sempurna sehingga membangunkannya kembali.


"Ooowh! Kau mengingikannya lagi?"


"Heuumph. Kau pria yang luar biasa, tapi berita baik padamu. Janji padaku setelah kau menikahi Luna, tak pernah menyentuhnya dan memperlakukan baik. Ceraikan setelah semuanya selesai!"


"Aku pasti akan menikahimu Sean!"


"Baiklah. Aku akan beritau padamu, setelah aku memanjakanmu ketiga kalinya. Bagaimana?" bisik Sean.


Triis melirik senyum. Baginya Sean benar benar wanita yang bisa ia manfaatkan untuk hasrat. Ia tak perlu berganti ganti ke klub jika menginginkannya. Terkecuali jika ia sangat jenuh dan berada sangat jauh, ia akan memanggil lewat seseorang yang bisa menyalurkan. Bahkan sekedar artis pun ia sanggup membayarnya selama satu malam.


***


"Luna. Apa kamu tertidur?"


"Ya. Bukle, maaf Luna ketiduran setelah mengejar dan semua jadi berantakan karena kertas Luna ini. Luna akan rapihkan ya!"


"Baiklah. Mandi dan berwudhu, sudah menjelang pagi, jangan lupa shalat malam. Jika tak bisa tidur. Cobalah untuk berdzikir menunggu adzan Shubuh!"


"Ya. Bukle."


Mentari telah berada diujung sudut. Begitu terang berwarna orange bercampur kembali biru muda. Luna membuka jendela kamar berbentuk kayu itu. Ia segera mandi dan bergegas bersiap siap.


Dua puluh lima menit kemudian. Ia mencari Bukle dan menanyakan akan pergi kemana.


"Sudah bangun Nak. Akan ada pengajian santri dan beberapa Akhwan yang hafidz di mesjid pondok ini Luna. Kita berada dibagian bawah. Jika kamu mau menghadirinya, akan terlihat tv yang terpampang kegiatan acara. Karena pembatas kita adalah lantai!"


"Ya. Bukle, tapi Luna benar ga punya baju putih."


"Ada baju mendiang ibu mu Nak. Pasti cocok dan pas untuk kamu, kalau Bukle jangan salah. Melar gini yang ada kamu malu nanti."

__ADS_1


"Hahaha. Bukle bisa aja."


Luna tertawa renyah. Ia segera mengganti baju dan membantu Bukle mengantar makanan dan snack.


Luna menyikap dengan balutan putih. Setelan dengan paduan celana dan motif baju muslim dengan renda payet gold. Ia merapihkan dengan selendang yang di lilit menutupi kedua body depannya sehingga tak menonjol.


Ibu. Ayah. Hari ini Luna merasa kembali dekat dengan keluarga, setelah beberapa waktu Luna lewati. Doakan Luna untuk menjadi lebih baik dan sabar serta ikhlas akan takdir Luna tanpa mengeluh.


Di balik cermin, senyuman sang bibi menatap Luna. Ia merapihkan dan membuat Luna tampil sederhana tapi sangat cantik.


"Masyallah. Keponakan Bukle sangat luar biasa."


"Bukle jangan memuji. Luna hanya mencoba menata diri Luna saja."


Hingga Sampai.


Teest ... Teesst.


Suara mic bergema oleh salah seorang santri dan pembukaan dimulai. Berjalan nya waktu Luna yang merapihkan snack box membantu Bukle. Ia mengantar pesanan kesamping acara dimana akhwan sedang menunggu panggilan.


"Astagfirullah. Ciptaan bidadari surgawi yang mana harus saya elak Tuhan." ucap salah santriwan.


"Akhwan. Jaga sikap kalian, jangan terpedaya. Kembali ke posisi semula!"


"Baik. Ust Yus." menunduk seluruh santriwan.


Luna mengetuk pintu tanpa melirik satu kerumunan santriwan yang berlatih disana. Ia mengingat perkataan bukle kala itu, meski belum semua ia hafal peraturan semua di sini.


"Assalamualaikum, Ummi Nur. Saya mau antar pesanan Bukle Srie."


Beberapa kali Luna mengetuk tak ada jawaban. Yus Ibrahim merasa terganggu.


"Seharusnya Pak Srie yang antar jika melewati batas Santriwan!"


Hal ini menyorot seseorang untuk membalas sapaan, mengapa ust muda bisa langsung menghampirinya.


"Apa ust muda sudah mengenalnya?" sehingga desas desus itu berbisik dari santriwan satu ke santriwan lainnya.


Tanpa menatap Luna. Masih mode menyamping dan melafidzkan tasbih ia berkata.


"Ikhwan. Silahkan letakkan di sudut kursi panjang. Ummi sedang keluar, jika boleh meminta. Harap tak melewati batas Santriwan yang sedang berkerumun, jika Pak Srie tak bisa mengantar!"


Luna menoleh, pria surgawi itu masih sama berkata padanya dan masih melihat jalan.

__ADS_1


"Baiklah. Maafkan Saya Ust Yus. Terimakasih."


Tbc.


__ADS_2