HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
ANCAMAN MANTAN


__ADS_3

"Kau pria perusak, apa ingin menjadi pahlawan. Dia masih istriku. Kau ingin berurusan dengan ku lagi?" ketus Triis.


Erland yang ingin meninju Triis. Ia tak bisa melakukannya. Pasalnya kedua anak Luna sedang menatap akan sorot perseteruan orang dewasa. Erland tak ingin mempengaruhi gangguan psikologis kedua anak Luna saat itu yang menatapnya.


"Aku hanya ingin berbicara di luar. Bisakah?" Nada melembut.


"Uncle El. Kenapa pintunya di terobos, apa ini film thomas di film kartun, yang sedang menyelamatkan rekannya dari kejahilan teman Thomas?" tutur putri Luna.


"Princess. Uncle ga sengaja, tadi Uncle pikir pintunya macet. Maafin Uncle udah bikin kalian panik!"


Di satu sudut, Luna tak bisa menahan khawatir. Tapi lirik mata Erland membuat teduh, meminta Luna untuk tetap tenang.


Sementara Erland naik ke atas lantai dua. Mengikuti Triis dan pengawalnya. Masih menatap kesal namun tersenyum di hadapan Luna dan kedua anaknya, berusaha menenangkan tatapan cemas Luna.


BRUUUGH .. KAU CARI MATI PADAKU ERLAND.


Triis menghajar satu pukulan ke wajah Erland. Lalu ia menepis dan meminta Triis untuk berhati hati padanya. Di salah satu sudut ruangan.


"Kau tidak bisa melakukan hal buruk padaku, karena aku tau kelemahan anda. Jika kau tulus, tidak seharusnya dengan cara pemaksaan. Itu meyakinkan diriku untuk mengambil Luna kembali!" tutur Erland.


"Bedebah. Kau akan menyesal jika masih terus maju mengejar pada istriku. Erland!"


Erland dan Triis saling menghantam kerah baju, tak ada yang mengalah. Meski Ebon melerai, hingga berakhir Erland menatap Luna dan kedua anaknya yang naik menyusulnya dengan tiba tiba.


"Uncle sedang apa, Om Tinggi aku mau pulang."


Mendengar suara lembut, Rian dan Riani kedua anak Luna pun berhasil keluar dari rumah tersebut. Alhasil Erland tersenyum saat kemenangan ada di pihaknya.


Luna menatap pada Triis yang mendekatinya. Luna memperingati agar ia tidak menggunakan cara hal bodoh seperti ini lagi, karena itu membuatnya semakin jijik dan membenci.


Beberapa saat perdebatanpun berakhir. Luna kembali pulang di antar oleh Erland. Tak lama sang ajudan Triis menerima kode untuk melakukan sesuatu dan jangan sampai salah sasaran.


"Luna, aku pasti akan berhasil merebutmu kembali. Aku berjanji akan membuatmu nyaman, dan kita menjadi keluarga bahagia." lirih Triis. Ia masih menatap punggung Luna yang berlalu pergi begitu saja dengan pria yang ia tak sukai. Terlebih kedua darah dagingnya sangat erat pada Erland kala itu.


AAARRGH .. KAU HARUS MATI BEDEBAH!!


Triis meninju sebuah dinding tembok saat itu dengan amat keras. Membuat salah satu tangannya terluka. Terlebih rasa emosional membuat ia memiringkan senyum kelicikan penuh siasat.


"Tuan, beristirahatlah. Luka anda harus di obati agar tidak infeksi!"


Triis hanya memberikan mata tajam, ia melambaikan kode angkuh. Membuat Ebon yang khawatir ingin mengobati. Namun Triis hanya pergi kedalam kamar dan mengurung diri sambil berteriak. Ada rasa cemas akan sikap Triis yang menyendiri. Pengawal dan Ebon mencari cara agar Triis mau di obati.


Jika anda sudah berubah, jika anda ingin bahagia. Saya akan melakukannya untuk anda.


Semoga nona Luna mau mempertimbangkan untuk bersama kembali. benak Ebon. Ia berusaha membujuk dan menyampaikan sesuatu tanpa Triis mengetahuinya.


Ebon tau, sosok tuannya telah berubah beberapa tahun silam. Nona Keiy membuat ia sadar, terlebih ia di hantui rasa bersalah saat nona Luna pergi. Ia meyakini perasaan itu telah muncul dan dalam pada Luna. Tapi kala itu nona Luna melarikan diri membuat rasa hancur Triis yang membuat ia depresi dua tahun belakangan ini. Perusahaan bangkrut dan berhasil berdiri oleh Erico dan Nona Keiy yang mengambil ahli.

__ADS_1


 ***


Pagi hari, Luna yang menatap arah balkon. Ia terkejut akan perasaan bimbang pada Erland. Masih menatap akan sikap dan perlakuan Erland yang selalu menjaganya.


"Aku akan menerimamu El. Semoga masa laluku tidak akan membuatmu sulit." lirih Luna.


MENJELANG SIANG.


Hal yang dilakukan Erland, ia mengantar Luna ke kedai LUSE dan mengantar kedua anaknya sekolah. Ia tak mengira jika sosok mata tajam telah membuntutinya kemanapun pergi.


"Mas EL, aku ingin bicara sesuatu penting padamu!"


"Mmmm .. Luna, apa yang ingin kamu bicarakan, katakanlah aku akan dengan senang mendengarkan." balasnya.


Mmmm .. mas El, aku harap kamu tidak putus asa dengan keputusanku. Tapi aku ga mau kamu berharap penuh dengan sikap aku selama ini. Maaf membuat Mas El menunggu sangat Lama. Tapi aku mau bilang kalau .. Ak- Aku saat ini.


"Cukup Luna. Tidak perlu di lanjutkan. Aku paham, dan mengerti aku akan berusaha lapang dengan keputusan mu. Sekarang kita mau kemana?" tanya Erland, menatap arah jalan.


"Mas. Kamu salah paham, aku akan bicara jika aku..."


Erland menatap Luna yang sedikit gugup. Tapi dengan nafas panjang helaian deru gemuruh suara Luna. Ia pun berkata dengan gemetar kala itu.


"Mmm .. Mas aku mau menerimamu, Tapi aku harap kamu sabar menghadapi masalalu ku!"


Erland terdiam, ia menstop stir mobil dan menepi. Ia menyangka jika Luna akan menolaknya, tapi tak di sangka jika Luna mengatakan yang membuatnya terkejut.


"Mas, Aku serius. Kamu ga salah dengar, aku akan menerimamu. Mohon bimbing aku Mas!"


Ada rasa tak percaya, raut wajah Erland sangat tersenyum lebar kala itu. Sampai tak sengaja ia memeluk Luna dengan begitu cepat membuat suasana jadi canggung.


Luna tau sosok Erland sangat baik dan sabar, bahkan ia tak pernah melihat keburukan sisi Erland. Yang ia tau, orang tua Erland lah yang menjadi penghalang hubungannya kala itu. Hingga ia putus kuliah dan terdepak dari universitas, hingga kini ingin sekali ia melanjutkan, tapi satu hal membuatnya ingin sekali bisa kembali kuliah.


"AKU SANGAT BERTERIMAKASIH PADAMU LUNA, AKU JANJI TIDAK AKAN MENYIAKAN DAN MEMBUATMU BERSEDIH!"


"Mas, aku percaya padamu. Aku mohon kamu bersabar jika bertemu Triis. Aku tak pernah ingin kembali, dan hatiku benar kosong sangat untuknya. Hanya kamu Mas El kini dan selamanya!"


Erland dengan rasa bahagia, ia dengan cepat menyempatkan membawa Luna ke rumah.


Selama tiga puluh menit sampai di rumah Erland pun meminta Luna menunggunya di dalam mobil. Setelah kembali, Erland menatap Luna dengan serius.


"Will you marry me Luna?'


Erland tersenyum dan menatap senyum indah pada pandangan Luna. Terlihat dari jarak tak jauh, seseorang sedang mengintai ketidaksukaan. Menatap sepasang insan yang sedang bahagia di bawah matanya.


AKU PASTIKAN ITU SENYUMAN TERAKHIR !!


SESEORANG.

__ADS_1


"Mas, El. Aku merasa bahagia saat ini, aku mohon bimbing aku. Terimakasih atas kesetiaan sabarmu Mas. Aku menerima mu."


Erland yang merasa bahagia, matanya sampai berkaca kaca menatap Luna. Memasangkan cincin indah yang telah lama ia beli dan persiapkan untuk Luna. Tak lama mereka melajukan mobil untuk bersiap menjemput kedua anak Luna.


***


Di Kediaman Triis.


 


"Kau sudah pastikan, benarkah Luna menerima si bedebah itu!"


Triis mengambil ponsel, ia tak akan berhenti dan membiarkan Luna menikah. Bahkan menceraikan Luna ia tak akan sampai hati untuk melepasnya.


"Sial, surat apa ini?"


Triis membukanya. Ia menatap dengan pengacara ternama yang sudah pasti ada hubungannya dengan Erland.


"Tidak benar, ini tak boleh terjadi!"


Triis merobek kertas surat pengadilan gugatan. Dan akan di umumkan dengan cepat. Jika Luna dan Triis sudah tidak lagi suami istri, dengan pengakuan Luna akan sikap Triis. Juga dengan bukti perjanjian kertas kontrak yang pernah Triis buat, ternyata tak disangka Luna masih menyimpannya.


Sehingga tak bisa di pungkiri ia akan kehilangan Luna dan kedua anaknya dalam waktu dekat.


"Jika kau tetap menikah dengan bedebah itu, aku pastikan senyum itu hanya sementara Luna. Kau harus tetap jadi milikku!" lirihnya.


 


Luna terdiam, ia menatap langit di tepi pantai. Bermain bola voli bersama kedua anaknya dan Juga Erland. Rasa senyum bahagia terlihat kala itu, di rasakan pula oleh Sahabat Luna yaitu Sein.


"Hah, aku bersyukur Luna bisa tersenyum lepas tak tertekan seperti saat ini." lirih Sein.


"Ya, aku turut bahagia akan kebahagian mereka. Tapi apa tidak ada kesempatan untuk kita berdua Sein?" ungkap Varo.


Sein melempar bola ke arah Varo, lalu berlari dan di ikuti oleh Varo. Terjadi mengejar dan tertawa bahagia kala itu.


Namun mereka berhenti ketika menatap beberapa orang berjas hitam berkerubun melewati ke arah mereka. Sementara tatapan semua orang menatap aksi sorot yang membuat mereka tertarik tak berkedip melihatnya.


"Bunda, siapa orang orang itu. Reina takut?"


Erland mendekat ke hadapan buah hati Luna. Lalu menatapnya dengan serius. Sehingga semua pemandangan indah kala itu menjadi berbeda, sedikit khwatir dan gundah gelisah di hati Luna saat itu.


"Mas, siapa mereka. Apa dia ?"


"Ssst .. Tenanglah Luna. Ada aku, aku akan bersamamu!" genggam Erland pada tangan Luna.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2