HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
SAHABATKU APIKU


__ADS_3

"Siapa itu Luna. Apa dia donatur ustadz abid?" tanya Bukle.


"Bukle Dia. Luna enggak tau dia dapat alamat aku tinggal sekarang dari siapa, tapi setau Luna tak ada yang tau bukan. Apa Triis mengikuti Luna terus, Aaakh Ya. Apa perlu Luna usir sekarang?"


"Triis. Owh, Luna apa dia itu Triis yang kamu ceritakan?" tanya Bukle menatap penuh.


Luna mengangguk dan memejamkan matanya akan lelah dan lemas tak karuan kala itu.


"Dia cukup tampan Luna. Mengapa kamu berpisah darinya?" lirih Bukle.


Luna tak bisa memungkiri, batas hatinya diambang kesabaran. Nafasnya berat tak beraturan. Terlebih ia kedatangan Triis dan takut membuat gaduh di tempat tinggal Bukle yang berada di pelataran pondok. Mengingat pondok ini adalah nyawa dan nama baik Bukle jika Triis melakukan hal aneh.


"Itu karena Bukle ga tau, siapa pria sebenarnya dia."


"Eeekh. Kamu mau kemana nak, kenapa berjalan cepat Luna?"


Luna segera ingin menghampiri Triis yang telah turun dengan angkuh dan sombong. Pastinya di ikuti Ebon sang pengawal. Tapi sosok pria surgawi dan ustadz abid tiba menghampiri mereka.


"Aduuh. Akhh! bagaimana ini Bukle. Sudah keburu Ustadz menghampiri. Bagaimana jika Dia buat keributan, mencari Luna dan memaki maki santriwan?"


"Huusst. Luna kamu jangan suudzon. Lihat saja semua tatapan santriwan menatap penuh. Bukle rasa dia ga seburuk yang kamu kira. Kamu mau menghampirinya nanti saja, jangan di lanjutkan!"


Luna mengangguk menuruti perkataan Bukle. Lalu menatap Ebon yang mengekor langkah Triis yang masuk kedalam pondok Dimana Ustad itu selalu berada di ruangan privasi atau ruangan di mana tamu datang. Namun ketika ia ingin berbalik penuh, ada rasa tak percaya ia menatap seseorang yang ia kenal.


"Sean."


"Kenapa Luna. Kamu mengenalnya?"


"Ya Bukle. Luna hampiri dulu ya."


"Sean. Kamu benar ini kan, kamu datang ke sini bagaimana bisa kamu tau?"


"Hai Luna. Hai ibu, maaf jika kedatangan saya mengganggu." sapa Sean.


"Assalamualaikum juga nak. Luna silahkan bawa masuk teman kamu pasti dari jauh!"


"Ya. Bukle."


Luna menarik Sean. Lalu ia menanyakan perihal mengapa ia bisa sampai kesini dan satu mobil pada Triis.


"Kamu gak mau aku masuk dulu Lun, aku capek udah banyak pertanyaan yang kamu cecar. Seolah aku tersangka Heuumph?"


"Akh. Ya sorry, aku terkejut sekali Sean. Owh ya panggil aja Bukle. Dia amat baik, udah lama aku mencari, akhirnya ketemu juga alamat Bukle ku sekarang."


Sean mengelus pundak Luna, ia menatap dengan senyuman dan berfikir sok polos.


Maafkan aku Luna. Dua tahun belakangan ini, aku tadinya mau membantumu untuk memisahkan dari Triis. Ku kira setelah kamu mencintai Erland kamu bilang tak akan kembali. Tapi aku salah malah jatuh cinta pada mantan suamimu itu. batin Sean.


"Duduk Sean!"


"Ya. Terimakasih."


Luna membuatkan Teh. Sementara Bukle mengajak mengobrol dari mana asalnya. Lalu Sean menceritakan sedikit kebersamaannya bersama Luna.

__ADS_1


"Kamu pasti bahagia. Bukle senang karena Luna mendapat teman sebaik kamu nak."


"Makasih pujiannya Bukle."


"Sean. Ayo minum teh hangatnya! Owh ya. Darimana kamu bisa sampai dan bareng sama Triis?" Menaruh nampan dan ikut duduk.


"Akh itu. Ya, Euuum Aku. Kamu lupa ya siapa suami kamu. Aku tak sengaja berpapasan dan bertemu Ebon. Karena satu alasan aku rindu, aku menumpang."


Luna dan Bukle saling menatap dan tertawa kecil kala itu. Bagaimana bisa ia melupakan tabiat keras, gigih Triis. Apalagi dalam sekejap mencari alamat.


"Akh. Aku lupa dan tau sekarang. Jadi kekasihmu Ebon." senyum tipis menggoda Luna.


"Hebat sekali mantan suamimu Luna. Apa dia orang penting yang mempunyai akses seperti pemerintahan. Bukle jadi ga kebayang deh. Ya udah kalian ngobrol di lanjut ya. Bukle mau buat sesuatu!"


Luna mengangguk, menggeser dan mendekat pada kursi Sean.


"Ayo ceritakan lebih!"


"Tentang apa Luna?"


"Tentang kamu dan Triis."


"Haaah. Ba- bagaimana bisa kamu tau?"


"Hahahhaha. Kamu aneh Sean, bukannya tadi kamu cerita kebetulan bertemu Ebon. Jika ya, mana mungkin kan Triis begitu saja menyetujui. Apalagi memberi tumpangan begitu saja?"


Sean menarik nafas. Ia bodoh akan pertanyaan Luna. Bagus ia bicara jika bertemu Ebon, jika Luna tau hubungannya saat ini. Entah apa ia masih mempunyai muka. Mencintai mantan suami sahabatnya yang sedang terluka, terlebih ia masih bimbang akan Triis yang memaksa Luna menikah, ia takut hubungannya kelak akan merenggang.


"Kamu pandai sekali membelokan ya Sean. Aku sedang bekerja sama dengan paman Erland. Nanti aku tunjukan ya." senyum Luna.


Hingga mereka pun berbincang bincang saling tertawa penuh. Hingga lupa akan waktu Bukle menyadarkan mereka berdua.


Bukle Srie mengajak mereka makan bersama. Hingga mereka mengikuti dan mengangguk kala itu. Tatapan Luna sedikit tak biasa menatap sean.


"Sean jika kamu ga keberatan. Aku ada kaos yang menutupi lengan. Karena ini pondok, aku takut Bukle tak nyaman tapi tak berani menegur!"


"Oke. Aku kekamarmu, aku ga keberatan kok. Aku tau ini pondok. Aku yang salah karna bajuku tertinggal di hoot. Di HO milik temenku yang sedang berlibur. Sorry ya Luna!"


"Thanks Sean."


Tak lama mereka telah berada di ruang meja makan. Berkumpul bersama Bukle dan Pakle Srie. Mereka memulai dengan berdoa sebelum membalikkan piring di depannya itu.


Sean menjadi sorotan Bukle karena cara ia berdoa dengan menengadah kepal kedua tangan dan menutup mata. Mengusap ujung kanan dan kiri lalu mencium jari jentiknya.


"Luna. Apa temanmu?"


"Ya Bukle. Luna hampir lupa, jika Sean non muslim." Sean menatap kaku.


"Ya. Tak apa, perbedaan tidak akan mengubah rasa silaturahmi menjadi jauh dan tak boleh dekat bukan. Hahaa Ayo kita makan sekarang!" tutur Pakle.


***


"Terimakasih Akhwan. Kami merasa terhormat jika orang seperti anda, masih mau menyisihkan sebagian harta untuk pondok santriwan kami yang notabane yatim piatu tak memiliki keluarga."

__ADS_1


Triis mengkirilit alis pada Ebon. Ia tak mengira jika namanya di ubah.


"Tuan. Akhwan itu maksudnya saudara untuk laki laki. Sebutan sebagian pondok memang seperti itu." bisik Ebon.


"Heuumph. Ya saya hanya bingung menghabiskan uang saja." senyum lebar Triis dengan sombong. Ebon hanya menggeleng tak percaya Tuannya bisa dengan enteng berbicara seperti itu.


"Masyallah. Nikmatnya membuat anda tak melupakan tempat ini. Silahkan di minum tehnya selagi hangat Pak Triistan dan Pak E-Ebon!"


Ebon sang pengawal tersenyum kala melirik Triis. Di saat berkunjung seperti ini, ia merasa sejajar tak dipandang bawahan.


"Terimakasih pak Ustadz. Jika berkenan, dimana toilet ya?"


Ustadz abidin meminta salah satu santriwannya untuk mengantar tamunya.


Tak menunggu lama Triis pamit, ia memberi pesan pada Sean untuk pulang lebih dulu dengan taksi online. Agar tak ada yang curiga dan bisa menyangkal.


[ Oke Honey. Mmmmmuach. ] Sean membalas pesan dan mengecup ponselnya. Menatap Luna disampingnya dengan berbunga bunga.


"Diiih. Senengnya deh kalau liat kamu lagi Asmara. Aku turut seneng deh untuk kamu Sean."


"Terimakasih Luna."


Hingga dimana waktu Luna mengantar Sean yang telah pamit. Ia pun ikut serta mengambil buku, untuk mengembalikan buku santriwati dibelakang rumah Bukle yang ia pinjam beberapa hari lalu.


"Sama - sama mbak Luna. ILa seneng deh, kenal mbak keponakan Buk Srie yang baik. Lain kali kasih tau kami juga ya dunia Luar negri seperti apa. Pasti cowoknya kaya oppa korea?" ILa menyeringai senyum.


"Oke. Tapi saran mbak. Klau mbak milih, mending kamu tetap di sini. Malah mbak iri sama kamu tau. Mbak ga mau kalian kesesat karena ketampanan pria gitu aja!"


"Mbak bisa aja. Eekh ya tau gak, tadi ila denger ada donatur tampan loh. Kalau mbak Luna liat pasti kesemsem deh. Heheee."


"Emang kamu liat. Ngintip ya?" goda Luna tertawa.


"Eeekh enggak sih. Dapat dari group, biasalah kalau ada yang bening ada yang share gitu. Biar kita semangat hafalannya. Iya gak genks?" ila menatap ketiga temannya lainnya dan saling tertawa.


"Nakal kalian. Ya udah Mbak pamit. Kalian lanjut tidur, ga enak kalau kepergok ustadzah ummi nanti! Asaalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Siapa itu?! Tatkala menatap sosok pria tinggi dari bayangan celah tembok. Luna menghampiri dengan sebilah kayu kala itu.


"Astagfirullah."


Luna menutup mata dan melirik ruangan, ia takut ada yang melihatnya. Lalu menendang setengah kaki Triis.


"Jangan berani berbuat mesum Triis. Lancang kamu mengikutiku hingga ke sini!"


"Haha. Kau berani, baik besok kau datang ketempat yang aku tuju. Jika kau tak memberi jawaban untuk kembali menikah denganku. Kau menyesal Luna sayang!" menepuk pipi Luna.


Triis pergi dengan senyuman. Sementara Luna menatap kesal.


"Eheuuum." Seseorang mendeheum, membuat Luna berdiri diam tak berkutik tak berani menoleh kearah belakang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2