HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
SAYAPKU


__ADS_3

Luna kembali terburu buru berjalan dengan taksi online. Di pertengahan jalan, ia menatap sekilas seperti sahabatnya.


"Sean. Apa benar dia, Aaakh. Kemana dia aku kehilangan jejaknya?"


Luna mencoba menghubungi Sean, namun tak diangkat olehnya. Sehingga ia berinisiatif memberi kabar dan pesan.


"Sean. Bagaimana di bali, kamu sedang berada dimana. Kapan kamu datang ke tempatku. Aku ingin bercerita." pesan singkat Luna.


Luna menyandarkan dirinya di kursi sofa taksi. Andai saja ia tak terburu buru. Sudah pasti ia meminta taksi untuk mengikuti seseorang yang tak jauh melintas saat ia lewat di sebelah arah berlawanan. Ia merasa rumor Sean san Triis hanya project, bukan lebih, sehingga ia berniat menemuinya.


Luna menatap layar tablet dan stylus- pen nya. Lalu membuka email pertemuan para produser E- Film ternama untuk berkumpul.


"Pak Albert mengundangku. Apa Triis akan mengijinkan aku ke singapore?"


Sesampai di gedung mall ternama. Luna berjalan melewati zebra cross dan menuju toko kue terbesar disamping mall tersebut.


Cake Sweet Home. Model rumah kue bernuasa elegan yang di buat Rivano design memang sangat memuaskan. Pantas saja papa Steva mempercayakan arsitek design padanya.


"Mengingat Rivano bagaimana dengan kabarnya ya?" benak Luna mencari seseorang di dalam bastment. Setau Luna ia telah dipindahkan menjadi orang kepercayaan dalam toko kue oleh papa mertuanya semacam SPV.


"Sayang. Kamu cari siapa di sini?"


"Mas. Aku tadi, mencari Rivano. Bukankah dia orang kepercayaan papa."


"Ada apa kamu mencarinya?"


"Aaakh. A-aku hanya menanyakan kabar nya saja. Sebab dia pernah menolongku Mas. Jangan salah sangka oke!"


Triis menarik tubuh Luna membenturkan tubuhnya ke dinding tembok. Luna terdiam kaget, ia tak menyangka tempramen Triis mulai kembali.


"Mas. Apa pekerjaanmu padat. Kita bicarakan di rumah ya!"


"Jangan pernah menanyakan dan dekat dengan pria lain selain aku. Kau harus tau posisimu siapa!"


Gleuuuuek. Apa maksudnya, apa dia menyuruhku harus sombong. Angkuh ketika bersikap seperti tak melihat manusia.


"Mas. Sepertinya ada yang ga beres dengan pemikiranmu. Maksudku dengan bicaramu. Aku ga ngerti maksud kamu tadi bagaimana?" Luna bicara memegang kerah Triis.


"Astaga. Maaf pak, saya tidak melihat. Saya permisi."


Salah satu karyawan yang tiba saja ingin lewat ia berputar arah. Hal bodoh yang ia lakukan adalah menatap seorang atasan yang ingin bercumbu. Ia berjalan seperti lari terbirit birit takut kena damprat.

__ADS_1


"Triis. Kita tak seharusnya seperti ini, malu mas!"


"Ikutlah denganku. Aku akan menunjukan ruanganku, otomatis ruanganmu juga. Kau harus lebih tepat memposisikan dirimu ketika aku tak ada!"


***


Diruang Karyawan Khusus.


"BRO. HEIIY GW ADA BERITA PENTING BUAT LO."


"Ada apa sih Ucup. Kerjaan gw buat ngecek semua stok barang belum kelar. Klo ga penting mending lo kerjaain tugas lo deh!" balas Rivano.


"Bukan. Lo tau enggak, Nona Luna itu siapa?"


"Luna. Maksudnya cewe yang pernah gue tolongin itu."


Ucup menganggup dan berbisik. Ia menengok ke kiri dan ke kanan.


"Masa sih. Ga mungkin anak pemilik ini bermain seperti itu pada Luna Cup. Gw ga percaya aakh."


"Gw liat sendiri. Pas mau ke toilet lewat jalan khusus. Tuan bos lagi pegangin bahu Luna kaya mau cium-an. Saling natap gitu, yaah gw yakin elo bakal kesusul deh."


Rivano pun meminta Ucup diam. Sejujurnya memang ia mengangumi, tapi apa bisa ia mengalahkan Tuan bos, yang desas desus dia adalah mantan suami Luna. Mereka dekat karena bisnis dan kedua anaknya yang benar sakit. Sehingga terlibat bersama dalam kegiatan termasuk toko CS.


Di Lain Tempat :


Mama Maya menghubungi Luna. Ketika ia berada dalam ruangan bersama Triis yang mengecek hasil penelusuran klien baru yang dipegang Erico. Papa membagi tugas anak perusahaan dan usaha kuliner pada kedua anaknya itu. Mereka pun selalu tetap terlibat dalam suatu hal, mereka telah berdamai dari masalalu perseteruan cinta dan seiringnya kesalahpahaman.


"Baik Mah. Luna akan segera bicara pada Triis. Luna akan meminta cuti atau menukar hari kerja Luna. Tapi tidak bisa besok, Luna harus ada pertemuan produser pertama di E-Film."


"Ya. Baik Mah. Sampai jumpa, ya setelah ini Luna akan beritau langsung Triis."


Luna menutup sambungan telepon yang tepat berada di sisi Triis. Triis menghentikan sebuah bolpen dan menutup map merah muda itu.


"Apa yang Mama katakan?"


"Mama. Meminta kita menjenguk kedua anak kita yang kemo ke dua kalinya. Tapi aku?"


"Ya. Kita pergi besok!"


"Mas. Tunggu Mas. Aku ingin bicara padamu sebentar saja!"

__ADS_1


Luna menarik langkah Triis saat ingin keluar. Saat sebelum pintu itu terbuka. Triis menatap Luna dan mendekat ke arah wajahnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Besok acara E-Film perdana. Aku harus meeting dan berencana ke singapore. Apa aku boleh pergi?"


"Kamu mementingkan pekerjaanmu dari pada kedua anak kita. Egois kamu Luna."


Luna hanya terdiam, inilah hal yang ia tak suka ketika telah menikah. Ia tak bisa bebas untuk mengembangkan sayapnya. Hal yang berhubungan dengan bakatnya akan terhenti.


"Baiklah. Aku akan mengundurkan diri. Aku akan membayar finalti, aku paham. Aku harus mengikuti apapun kemauan suamiku. Pergilah, kamu akan meresmikan dengan beberapa karyawan dan Klien kan. Aku akan menunggu diruanganmu saja!"


Triis melangkah. Ia berat ketika meeting berlangsung. Pembukaaan resmi yang telah berjalan lancar. Ia pun memikirkan Luna, ia memang egois. Ia tak ingin Luna sibuk sepertinya. Hal itu bisa memicu tabiatnya yang mengisi waktu dengan wanita lain. Apalagi sebisa mungkin ia sedang menjauh dari Sean.


'Maafkan aku Luna. Aku menikahimu awalnya karena satu tujuan egois. Tapi aku benar mencintaimu. Aku harap kamu tak pernah mengatakan di hatimu masih ada pria yang telah mati tersimpan di hatimu.' batin Triis.


Ebon menatap Tuannya terlihat bimbang. Ia pun berusaha mencari tau agar keduanya tak pernah ada keributan lagi.


"Semampu saya. Saya akan menghentikan aksi Tuan Triis yang jelek. Bersabarlah nona Luna. Anda perlu bahagia bersama Triis." lirih Ebon.


Triis menjabat tangan pada rekan bisnisnya. Pak Albert seorang pengusaha dan pembuat film. Ia mengenal Albert ketika di eropa sama sama menjalankan bisnis. Meski ia tak tau jika Albert masih keluarga dari mendiang Erland kekasih Luna.


"Terimakasih. Tanpa anda semua ini pasti tak akan berjalan lancar bukan?"


"Ya. Triistan kau masih sama merendah, besok hadirlah ke pembukaan resmi perdanaku. Pembuatan E-Film resmi. Saya telah merekrut beberapa kandidat yang berbakat."


Triis mengulang. Apa E-Film. Rasanya ia tak asing, karena mendengar beberapa jam lalu. Jika tak salah Luna membicarakannya beberapa saat.


Triis membicarakan, lalu ia menanyakan siapa saja kandidat itu. Karena jujur Triis mempunyai investasi di perusahaan E- Film yang di pegang oleh Erico sang adik.


Albert menunjukan layar tabletnya. Ia menatap beberapa foto ketika itupun ia tekejut ada foto Luna dilayar sana. Ia tersenyum lebar dan kembali menjadi tak bersalah ketika tau Luna salah satu wanita berbakat meski dibalik layar.


"Dia Luna istriku Albert. Awalnya aku tak mengijinkan, karena aku tak suka ia mempunyai banyak waktu. Tapi kini!"


"Wah. Hebat kau Triis. Tenang saja, jika itu kemauanmu. Aku akan menyuruh Luna untuk mengatur jam pekerjaan di tiga hari itu. Tapi pastikan ia datang acara perdana resmi esok jam Sepuluh pagi!"


Perbincanganpun semakin erat. Hingga larut Triis kembali keruangannya. Ia menatap Luna di meja tertidur dengan tangan yang masih mengetik naskah. Dan email pengunduran diri yang belum selesai untuk di kirim.


"Sayang. Maafkan aku, mari kita pulang!"


Triis menggendong Luna ala bridestyle. Ia tak menghiraukan tatapan karyawan yang sedikit melewatinya dengan membungkuk.

__ADS_1


Termasuk Rivano dan Ucup tak jauh dari sebrang menatap dengan mata membulat sempurna akan terkejut.


Tbc.


__ADS_2