HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
Bab 9


__ADS_3

Siang ini di rumah keluarga Wira, ketika Anya akan turun, ponselnya berbunyi, ia segera merogoh ponsel yang berada dalam sakunya, melihat sekilas siapa si pemanggil tersebut, lalu semyumnya terukir secara spontan saat mendapati nama Ray di sana.


Ray merupakan pria yang statusnya kini sebagai tunangan Anya. Mereka bertunangan sejak beberapa bulan yang lalu, dan merencanakan pernikahan tahun depan. Meski begitu, perasaan Anya pada Ray tak sebesar perasaan Anya pada pria pertamanya dulu.


Anya segera mengangkat telepon tersebut sebelum ponselnya berhenti berdering. “Hallo?”


“Hai, di mana kamu sekarang? Sudah makan siang?” tanya pria yang lebih tua tiga tahun dari Anya.


Anya tersenyum, Ray memang sangat perhatian padanya. “Aku di atas, habis jemur pakaian, dan aku sudah makan siang. Kamu sendiri lagi ngapain?”


“Aku di kantin kantor, lagi makan siang.”


“Kok telepon aku? Harusnya kamu habisin waktu makan siang kamu dengan makan dan istirahat.”


“Nggak tahu kenapa, aku kangen saja. tadi pagi aku nggak bisa nganter kamu ke kampus, jadi sekarang aku kangen.”


Anya tertawa lepas, “Sudah pandai ngerayu, ya?”


“Ngerayu tunangan sendiri nggak apa-apa, kan?”


“Iya-iya, nggak apa-apa. Ya sudah, kamu lanjutin makannya, aku masih ada kerjaan lain.”


“Oke, nanti malam aku jemput.”


“Iya.”


“Anya, aku sayang kamu.”


Anya terdiam sebentar, sebelum ia membalas ucapan Ray. “Ya, aku juga sayang kamu.” Lalu sambungan itu terputus. Anya menghela napas panjang sebelum ia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku bajunya yang ia kenakan.


Anya membalikan tubuhnya, dan bersiap pergi dari tempat itu, tapi kemudian ia terlonjak saat mendapati Genta yang ternyata sudah berdiri santai dengan menyandarkan punggungnya pada dinding.


Lengan lekaki itu bersedekap, tapi tatapanya menajam, dan Anya tidak tahu apa yang akan di lakukan lelaki itu di sini.

__ADS_1


Anya memilih mengenyahkan tentang keberadaan Genta, mungkin lelaki itu berada di sana karena ada keperluan lain, pikirnya. Padaha, dalam hati Anya yang paling dalam, ia tahu, jika Genta berada di sana karenanya.


Anya mencoba berjalan keluar melewati Genta, tapi ketika sampai di hadapan lelaki tersebut, lelaki itu meraih pergelangan tangannya. Anya menatap Genta seketika, ia tidak ingin jika Genta lagi-lagi membahas hubungan mereka.


“Berikan ponsel kamu.”


“Untuk apa?”


“Berikan atau aku akan merebutnya.” Anya hanya diam, ia tentu tidak akan mematuhi apa yang di katakan Genta. Mungkin dulu ia akan menurutinya karena ia dulu terlalu bodoh, tapi sekarang, tidak akan.


Tapi secepat kilat Genta merebut ponsel Anya yang berada di dalam sakunya.“Apa yang kamu lakukan?”


Genta tidak menghiraukan Anya, ia sibuk membuka isi dari ponsel Anya, mencari tahu siapa yang tadi menghubungi Anya karena ia sempat mendengar percakapan mereka yanh terdengar mesra menurutnya. Genta menemukannya, di bagian panggilan masuk. Tampak sebuah kontak bernama Ray. Genta menatap Anya seketika. “Siapa Ray?” tanyanya dengan suara menajam.


Anya tidak menjawab, ia memilih diam karena baginya, tidak ada yang perlu ia jelaskan oada Genta. Ya, hububgannya dengan Genta sudah benar-benar berakhir, dan ia tidak ingin kembali terjerumus dalam hubungan asmara dengab lelaki itu. “Katakan, siapa dia? Apa dia tunanganmu?” tatapan mata Genta semakin menajam seiring sikap diam yang di tampilkan Anya kepadanya. Dengan spontan Genta memutar tubuh Anya dan menghimpitnya di antara dinding.


“Dengar, Anya. Kamu masih milikku, kamu masih istiku.”


“Ya, kita pernah nikah.”


“Itu hanya main-main, Kak.” Anya melirih.


“Tapi aku tulus melakukannya, Anya. Aku sungguh-sungguh.”


“Kita sudah selesai, sebelum kamu pergi ke luar negeri.”


““Belum.” Genta menjawab dengan cepat. “Tidak ada kata selesai di antara kita.” Genta semakin mendekatkan wajahnya, berharap ia dapateraih bibir ranum Anya dan melumatnya seperti kemarin malam. Tapi Anya segera memalingkan wajahnya, menolak secara halus apa yang di lakukan Genta padanya.


Sekali lagi, harga diri Genta terlukai, ia tidak pernah di tolak sebelumnya, apalagi dengan wanita yang selama ini masih ia anggap sebagai miliknya. Dengan putus asa, Genta melepaskan tubuh Anya.


“Kamu, sudah benar-benar menganggap hubungan kita selesai?” tanya Genta memastikan.


“Kita sudah selesai sejak aku tahu kalau kamu hanya main-main denganku.” jawab Anya.

__ADS_1


“Aku tidak pernah main-main.” Genta menggeram kesal. “Dan aku akan membuktikannya ketika aku mampu memenangkan hatimu kembali.” Setelah kalimatnya tersebut, Genta segera pergi meninggalkan Anya.


Mata Anya memejam seketika. Ia takut, sungguh takut, tapi bukan takut dengan Genta, melainkan takut dengan perasaannya sendiri yang mungkin saja akan kembali jatuh pada pesona Genta seperti dulu. Anya menghela napas panjang, saat bayang-bayang masa lalu kembali mengusik pikirannya, bayangan di mana ia masih buta dalam menilai, apakah Genta benar-benar menyanyanginya, atau hanya memanfaatkanya saja.


Anya memejamkan matanya mengingat masa lalunya.


“Di mana orang rumah?” Anya yang tadi sibuk mencuci piring dan peralatan dapur akhirnya membalikan tubuhnya saat mendengar pertanyaan tersebut. Tampak Genta sedang berdiri mengawasinya di seberang ruangan.


“Yang lain sibuk bersih-bersih di ruangan yang lain.”


“Jadi saat ini, kita hanya berdua di dapur ini?” tanya Genta dengan nada menggoda, lelaki itu bahkan sudah berjalan mendekat ke arah Anya.


“Jangan macam-macam.” Anya kembali membalikan tubuhnya, tak ingin Genta melihat rona merah di pipinya akibat godaan lelaki tersebut.


Saat ini sudah enam bulan lamanya mereka menjalin hubungan secara diam-diam, dan Anya tidak memungkiri, jika kini Genta sudah mampu mencuri seluruh hatinya.


“Ayo, ikut aku!”


Seperti biasa,Genta memperlakukan Anya seenaknya seakan-akan lelaki itu adalah pemilik dari diri Anya. Dan Anya tak bisa menolak, ketika Genta meraih pergelangan tanganya kemudian menariknya masuk ke dalam kamar lelaki tersebut. Ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Genta, Genta segera memeluk tubuh Anya. “Aku kangen sama kamu.” ucap Genta dengan spontan.


“Kangen? kita ketemu setiap hari.” jawab Anya yang tidak menolak pelukan dari Genta.


Entahlah, ia mera nyaman saat berada dalam pelukan seorang Genta Wira Jaya.


“Ya, tapi kita tidak bisa melakukan ini.” Genta lalu melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Anya dengan intens, matanya turun pada bibir Anya yang tampak penuh menggoda. Kemudian, ia tidak dapat mengelak lagi, jika dirinya begitu menginginkan wanita tersebut.


Genta menyambar bibir Anya, melumatnya penuh gairah, sedangkan Anya hanya bisa membalas lumatan tersebut. Anya tidak memungkiri jika dirinya juga merindukan Genta, merindukan sentuhan lelaki itu yang tampak begitu menyayanginya, jadi Anya membalas semua perlakuan Genta dengan penuh kasih sayang.


Bersambung....


Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.


Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!

__ADS_1


__ADS_2