HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
KEKASIHKU KRITIS


__ADS_3

Selepas malam yang indah, makan malam yang romantis. Erland menarik tangan Luna dengan cekat ia berbisik.


"Terimakasih, sudah mau menerimaku Luna."


"Mas, kebaikanmu. Kesetian dan ketulusanmu, aku tidak pernah melihat hal buruk. Hanya saja yang aku takuti adalah .. "


Luna terdiam, Erland menatap dan membalikan tubuh luna. Erland yang memeluk Luna dari belakang, ia langsung menyentuh pipi rona Luna yang sedikit bersedih.


"Mamaku, apa kamu masih takut. Aku pastikan Mama tak akan mempersulitmu. Percayalah My Sweety!"


Luna kembali tersenyum, meski ada rasa takut. Namun ia kembali menatap bahagia melihat kedua pupil mata indah Erland. Nafas berat kala itu Luna sedikit terkejut akan seseorang dari balik atap sebrang. Pasalnya mereka makan malam di atas rumah Erland yang di hiasi oleh EO, yang ia pesan.


"Mas, tunggu lihat apa itu di sana!"


"Heuumph ..,, yang mana My Sweety?" masih dengan tenang menatap.


Luna khawatir akan ulah Triis, ia tau jika mantan suaminya itu terlalu sadis dalam melakukan sesuatu. Tapi Erland menepis dan menampakan senyum, ia tak curiga dan berfikir buruk akan malam yang indah saat itu.


"My Sweety. Dia orang EO, aku memintanya untuk menembak sebuah petasan kearah langit tepat di atas kita."


"Tapi Mas, seseorang itu mencurigakan."


"Jangan membuat hal berlebih My Sweety."


Lima menit kemudian, Erland dan Luna yang masih khawatir ia menatap langit indah. Di baluti hiasan petasan dengan gemerlap warna warni dan bertuliskan I LOVE YOU.


Luna tersenyum haru, ia tak pernah merasakan hal bahagia selama hidupnya. Erland satu satunya kebahagian yang membuat dirinya percaya diri dan seperti ratu.


DOOOOOR !!


"Jleeeub .. Euuuukh .. Heuuumph."


Erland membulatkan kedua matanya. Ia masih tersenyum menatap Luna. Karena langit yang masih di hiasi petasan romantis, membuat Luna masih tak menyadari. Hal bodohnya Erland tetap berpura pura untuk tak menahan sakit akan serangan tembak tiba tiba dari balik punggungnya.


"Luna, hal yang paling aku rindu. Adalah membahagiakanmu, dan hal yang membuatku bahagia. Aku akan menjadi pendampingmu." lirihnya.


"Mas, ada apa. Mas kamu kenapa?"


Luna terkejut, karena Erland tiba saja jatuh duduk. Tak sadar Luna yang memeluk berusaha membangunkan terkejut akan sebuah darah yang mengalir begitu saja menembus kemeja putih ketika tangan Luna menempel.


"Haaaaah. Tidak, Mas kamu lagi ga bercanda kan. Mas bangun ayo kita kerumah sakit. Kamu ga boleh seperti ini!"


Erland mengeluarkan darah di balik punggung, yang menembus arah jantung. Seketika mulutnya tiba saja mengeluarkan darah dengan terbatuk. Masih berusaha membuat Luna tenang.


"Jangan menangis My Sweety. Tetaplah tersenyum dan bahagia!"


"Mas, aku yakin semua ini ulahnya. Aku tidak akan tinggal diam!"


"My Sweety. Jangan menuduh, aku akan baik baik saja. Tetaplah tersenyum dan Bahagia!"

__ADS_1


Aaaaaaaakh ... Mas. Tolooooong !! teriak Luna.


Rumah Sakit.


Sein, Varo berusaha menjaga kedua anak Luna kala itu. Terlihat Luna berdiri di ruang UGD. Ia tetap khawatir dan sangat bersedih.


Luna masih duduk, menatap langit langit. Ia meratapi jika takdir mempermainkannya. Ia merasa kecewa seolah ia tak berhak bahagia.


"Nyonya Luna, bisa keruangan saya sebentar?" titah Dokter Obis.


"Ya. Dokter bagaimana keadaan kekasih saya. Dia pasti baik baik saja kan?" nada cemas.


Dokter Obis mengehela nafas, ia mengajak Luna keruangannya. Tak berselang lama Luna terdiam kaku, selama kurang dari dua puluh menit Luna mendapat banyak hasil luka peluru yang mengena sisi jantung. Sehingga Luna harus mengambil keputusan yang tak bisa ia bendung.


"Apaaaa. Huuuu, huhuuuu. Dok saya bisa bertemu pasien sebentar!"


Dokter mengangguk, Luna segera menuju ruangan dimana Erland berada. Tak lama ia membuka pintu dan terkejut akan selang infus dan opname yang menutupi pernafasan Erland.


Luna duduk tepat di sebelah Erland. Ia masih menatap dan tersenggal senggal akan bicara sesuatu yang berat. Erland menatap Luna dengan air mata bercampur senyuman.


"Mas, jangan senyum lagi. Dirimu masih seperti ini membuat aku sedih dan takut kehilangan!"


"Lu-Na. Jangan Me-na-ngis, aku akan baik baik saja My Sweety." lirih Erland dengan suara terputus dan berat.


Luna masih menangis dan menciumi tangan Erland. Ia tak sanggup mengatakan hal yang membuatnya sesak.


"Mas, aku harus mengambil keputusan yang tak ingin aku sukai, aku harus apa. Jika di operasi ada kemungkinan akan gagal, tapi jika tidak itu tidak akan bertahan lama. Huhuuuu .. "


"Percayalah, aku akan baik baik saja. Peluru saja telah di keluarkan. Hanya sakit sedikit, aku pasti akan sembuh. Maaf membuatmu cemas Luna!" Erland masih berbicara dengan suara rendah, berat karena menahan sakit pasti.


"Mas, kamu masih selalu mengumpat dalam hal apapun. Aku tidak suka, jika ada pilihan tidak dapat di operasi yang kedua. Meski kamu kehilangan sesuatu atau kelumpuhan. Aku tetap setia berusaha mendampingimu Mas. Tapi dokter tak ada pilihan lain, aku semakin takut."


Luna masih menangis, Erland menatap langit ruangan sakit dan tetap tersenyum. Hal ini memang ia telah persiapkan, sesuatu terjadi, ia tau jika seseorang pria sadis yang menginginkan Luna akan bersikukuh melakukan hal segala cara.


Tapi ia berusaha memaafkan demi Luna dan kedua anak Luna yang telah ia anggap sebagai anaknya.


"Luna, berjanjilah. Aku menyiapkan sesuatu di rumah untukmu dan kedua anak kita. Jangan lagi menangis. Berjanjilah kamu akan melakukannya demi aku!" suara berat terputus.


Tak lama, dokter datang. Dan meminta Luna menunggu di luar, ia pun menatap Erland dan mencium tangan Erland.


"Mas, berjuanglah demi aku!"


Luna dengan berat melangkah keluar, ia tak bisa menahan jika Erland akan di operasi kelanjutan, tak lama Luna kembali mendekat ke arah Erland. Ia membuka penutup mulut opname, ia mengecup bibir Erland dan keningnya. Lalu menutup kembali dengan rasa berat.


"Aku mohon. Berjuanglah, aku dan kedua anak kita menunggu!"


Erland dengan sempurna ia tersenyum bahagia, Mengalir tetesan airmata begitu saja. Lalu menatap Luna yang melangkah mundur.


Sementara dokter menutup ruangan dan segera melakukan tindakan.

__ADS_1


"Luna, jika aku tak selamat. Aku pastikan akan menjadi sayap dan membuat kamu menjadi wanita perfect di dunia. Aku akan selalu setia menunggumu di keabadian."


Erland menutup mata ketika suntikan baal tiba saja menusuk urat nadinya. Kepalanya terasa pusing dan tiba saja menutup begitu saja, sebuah goresan pisau tajam membelah anggota tubuhnya, membuat ia tak merasakan sesuatu, namun di balik itu ia menatap dari kejauhan cahaya indah.


Erland yang berdiri merangkul dan berlari ke arah Luna. Ia membawa bucket dan membawanya kepelataran halaman penuh bunga yang harum. Sebuah janji ia lewati untuk hidup bersama Luna seumur hidupnya.


"Mas, aku bahagia. Terimakasih!"


"Luna, aku akan menjadi sayap pelindung dan cahaya indah di hidupmu!" balas Erland.


 


"Tidak. Mas kamu mau kemana. Mas Erland .." teriak Luna.


***


"Luna, ayo bangun. Kamu tertidur, aku kesini membawakan makanan. Kamu pasti belum makan kan?" tanya Sein.


Luna menatap jam, ia telah melihat pukul sembilan. Ia tersadar dan menatap seluruh ruangan operasi. Ia mencari keberadaan Erland.


"Kamu kenapa, Erland masih dalam ruangan perawatan. Setelah operasi dia tidak boleh di jenguk selama berberapa jam kita akan menjengukanya. Tenanglah Erland pasti akan baik baik saja!"


"Sein, aku takut jika Erland akan, "


Tak lama seluruh suster yang di iringi dokter berlari ke suatu kamar pasein. Luna dan Sein terkejut menatap suatu ruangan yang ia kenali.


"Luna, itu ruangan Erland."


"Apa, tidak mungkin. Erland akan baik baik saja kan Sein?"


"Tenanglah Luna!"


Luna begitu histeris, matanya sudah sembab dan tak bisa berkata lagi. Ia harus menahan hal pahit ketika di hadapannya mendapat sesuatu terjadi yang membekas. Keberadaan Erland membuat hidupnya berwarna, tapi ia akan sulit jika ia harus kehilangan pria yang kini ia cintai.


Aaaaaakh ... Tidaaak !! teriak Luna.


"Mas Erland, kamu ga bisa seperti ini, kamu ga boleh meninggalkan aku tanpa pamit. Aku mohon sadarlah Mas!"


Luna masih menatap dari balik jendela bening, sementara beberapa dokter dan perawat sedang membantu menangani keadaan Erland.


"Luna, jangan bersedih. Erland menitipkan ini beberapa saat lalu!"


Luna menatap seseorang, mata yang sembab terlalu banyak menangis. Ia pun mengambil sebuah amplop merah berisi surat dan kunci serta sebuah kartu.


"Apa ini, Mas kamu jangan membuatku takut." lirih Luna. Ia kembali duduk tersungkur dan lemah, lalu ia tiba saja pusing dan kembali lemah. Seolah matanya tak bisa berkompromi akan hal yang ia dapati.


"Luna ..." Teriak Sein, ia meminta bantuan saat tubuh Luna tergeletak lemas dan pingsan.


"Dokter Toooolooong!" teriak kembali Sein.

__ADS_1


Sementara Sein masih menatap Dokter yang sedikit sibuk, membawa ranjang Erland kesuatu ruangan Darurat.


Tbc.


__ADS_2