HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
BUKAN ERLAND


__ADS_3

Sementara Sein masih menatap Dokter yang sedikit sibuk, membawa ranjang Erland kesuatu ruangan Darurat.


Dua puluh menit, detak jantung dalam peralatan medis telah di kerahkan. Luna sadar dan menatap Sein. Ia langsung terkejut akan ranjang karena ia terbaring.


"Mas El ku, Sein apa dia baik baik saja. Aku akan pergi menemuinya."


"Luna, sabarlah. Kuatkan hatimu!"


Luna berlari kecil, ia menatap ruang UGD. Terlihat Varo masih menunggu. Sementara Kedua anaknya bersama asisten di rumah. Begitu terkejut ia ketika tak lama seorang dokter keluar dan membuka penutup masker. Melepas segala sapu tangan dan para suster keluar begitu saja.


"Nyonya Luna. Apa anda sudah baik baik saja?"


"Dok, bagaimana. Cepat katakan, apa pasien baik baik saja?" masih mengembang. Lalu sang dokter menghela nafas dan membuat perkataan yang menguatkan.


Luna paham akan perkataan itu, tapi batin nya tak menerima hingga ia langsung masuk menerobos menemui Erland yang berada di dalam ruangan.


"Maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik, ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Kami ikut berduka cita, bersabarlah Nyonya Luna!"


"Enggak mungkin, Tidaaak itu ga benar kan."


Luna berdiri tepat di pembaringan Erland. Ia menatap nanar dan amat bersedih, rasa bagai mimpi buruk membuat ia termenung. Sein mengusap punggung Luna dan berusaha menguatkan. Tak lama Luna membuka penutup kain putih, ia menatap Erland yang tersenyum dengan wajah pucat bagai kehilangan sesuatu percaya dirinya mulai goyah.


Baru saja ia akan bahagia, mengapa takdir masih saja mempermainkannya.


"Mas, kamu kenapa berbohong. Kita akan bahagia menikah bukan, lalu aku harus bagaimana hidup tanpamu. Sudah bertahun tahun kamu menemani masa sulit dan membuat aku jatuh. Kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini, banguuun Mas!" histeris Luna.


Ayoo ... banguun aku mohon. Banguuuuuun Mas !! teriaknya.


"Luna, tenanglah!"


Sein mencoba menenangkan Luna. Tapi ia tetap histeris menangis dan mengkoyak menggerakan tubuh Erland. Sein pun tak bisa menahan rasa sedih akan sahabatnya.


Hal itu mengingatkan ia pada sang suami yang telah berpulang tapi bedanya, mendiang almarhum karena sakit. Begitu sedih rasanya hingga ia tak bisa move on. Dia pun selalu menutup hatinya hingga kini. Ia masih berusaha sendiri karena takut kehilangan orang yang ia cintai dan berusaha tidak jatuh cinta.


"Luna, aku paham. Aku tau Mas El mu sangat baik dan best pria sejati. Tapi karena ia orang baik, percayalah Tuhan lebih menyayanginya sehingga ia mengambilnya lebih cepat!"


"Enggak. Aku harus tau siapa dalang dibalik semua ini. Aku ga akan diam Sein!"


"Nyonya Luna. Silahkan menunggu di Luar, karena kami akan memandikan jenazahnya!" titah perawat, sehingga obrolan mereka terhenti.


Beberapa jam kemudian, Luna telah membawa Erland kerumah.


Sein dan Varo ikut membantu untuk mengurus pemakaman. Sudah banyak pelayat yang berdatangan dan tetangga yang ikut datang untuk belasungkawa.


Sementara kesedihan Luna membuat Triis dari sudut jauh, menemani kedua anaknya. Keadaan Luna membuat ia lupa akan kedua anaknya dari semalam.


Triis melakukan cara yang tak masuk akal membuat Luna semakin geram. Luna meneguk air di gelas, ia membulatkan pandangannya ketika Rein dan Reina berada dalam gendongan Triis.

__ADS_1


"Sejak kapan pria iblis itu menggendong kedua anakku?" lirih Luna.


Sein yang ikut menatap, ia mencoba untuk menyabarkan Luna.


"Luna, ini ramai. Tahan emosimu, dia telah membantu menjaga kedua anak baik dari semalam!"


"Ini pasti ulahnya kan Sein?"


"Stop, Luna. Banyak mata yang melihat, kasian Erland jika ia menatapmu seperti itu. Kita harus melakukan pemakaman dulu Ya!"


Tak berselang lama sebuah mobil mewah datang dengan para pengawal orang yang berseragam coklat dan abu muda. Lalu Luna ikut berdiri akan terkejut.


"Erland, anak Mama. Sayang apa yang terjadi?"


Luna menunduk hormat, meski Mama dari El sangat membencinya. Di sebuah keramaian dan berduka pasti ia tak akan membuat onar. Hingga Luna di tatap oleh Mama Reita dengan tajam.


"Kau, aku tidak akan memaafkanmu wanita licik. Kau yang membuat putraku kehilangan nyawa, sudah berapa kali aku menekankan agar jangan mendekati El. Kau itu wanita pembawa sial!"


"Bu, tenanglahlah. Ini masih suasana berduka!" titah Sein. Ia harus menatap kekesalan karena tiba saja keluarga Erland menuduh Luna.


Padahal Sein tau, jika Luna sama amat bersedih, hingga tatapan tetangga bergosip dan berbisik melihat mereka kala itu.


Luna tak bisa berkata apapun, ia lemah dan tak bisa membendung. Sehingga ia menahan emosi dan selalu saja menyalahkan diri, perkataan tante Reita ada benarnya. Andai saja Erland tidak dekat dengannya dalam beberapa tahun, sudah pasti keadaan tidak akan seburuk seperti saat ini.


Acara pemakaman telah selesai, para pelayat telah pergi menyisakan Luna, Sein dan Mama Reita serta kedua adik tiri dan pengawalnya itu.


"Mas El, aku akan pulang. Aku akan selalu mendoakan dan berkunjung setiap waktu. Maafkan aku mas aku harus pulang."


Luna membalikkan arah, ia lalu pergi begitu saja dan meninggalkan tatapan Mama Reita dan kedua anaknya yang lain. Meski sebuah perkataan menyakitkan meneriakinya. Ia hanya terdiam dan menutup mata dan telinga.


"Dasar wanita licik, wanita pembawa sial kamu Luna. Aku tidak akan membiarkan nafasmu sejengkal saja tenang!" Reita.


"Sudah, jangan pedulikan perkataan itu. Aku akan selalu ada di sampingmu Luna!" titah Sein yang selalu mendampinginya, saat pergi.


"Thanks. Sein kamu sahabat terbaik!"


Sesampai di rumah, Triis masih menyuapi Rein dan Reina. Dibantu asisten rumah tangga. Ia tersenyum menatap Luna telah kembali, ia tak mendekati Luna karena ia tau perasaan dan kesedihannya kini. Awalnya ia terkejut dan cukup syok, lalu ia berani mengahampiri Luna


"Luna, aku turut berduka. Aku akan membantumu mencari siapa yang telah melakukan."


"Cukuuup ..!" Luna memberi tangan, tanda kode untuk Triis diam.


Tak lama kedua anaknya berlari, mereka lalu menceritakan perlakuan manis, baik Triis padanya. Meski dihadapan kedua anaknya, Luna tak bisa menampaki kemarahan dan kekecewaan akan wajahnya yang kesal pada Triis.


"Bunda yang sabar ya, kata guru. Uncle itu lebih disayang Tuhan dari pada kita. Rein juga sedih kehilangan!" Putra Luna memeluk.


"Iya, Reina juga cediih Bunda." ikut memeluk putri Luna.

__ADS_1


Triis menatap nanar, ia lalu mengkedipkan mata pada Ebon. Untuk menenangkan Luna beberapa waktu dan membiarkan suasana itu berlalu.


"Rein, Reina. Papa akan pulang, besok papa akan menemui kalian lagi Ya!"


Kedua anak Luna mengangguk. Tapi Luna tak menatap Triis hanya terdiam dan menutup matanya. Ia masih bersedih dan tak bisa berbuat apapun, bagaimanapun Triis adalah ayah biologisnya.


Ia tak bisa mangkir hal itu, ia pun legowo jika Triis berusaha mendekati kedua anaknya. Harapannya adalah ia hancur ketika pria sejati yang membuatnya seperti ratu telah cepat pergi kepangkuan ilahi.


Hari demi hari Luna lewati, sudah empat puluh hari tak terasa. Luna selalu berkunjung setiap waktu ke pemakaman, tak di pungkiri ia selalu berpapasan dan adu debat pada Mama Reita, karena ia tak di ijinkan menatap tempat peristirahatan Erland yang terakhir.


Luna yang telah ada dirumah, ia meletakan tas dan membersihkan diri. Lalu menatap jendela ia tersenyum ketika kedua anaknya sedang bermain bola lempar dengan seorang pria yang ia cintai.


"Mas El. Kamu ada dirumah?"


Luna berlari kecil dengan dress berwarna mustard seperti daster dengan ikat pinggang saja, membuat Luna tampil Elegant. Ia pun menatap dan ikut bergabung dengan tersenyum.


"Sayang, apa Bunda boleh ikut?"


Triis membalikan punggung dan ikut tersenyum. Tapi begitu tau wajahnya berubah Triis.


Luna memundurkan langkah dan jatuh duduk tak percaya, seolah Erland masih ada bersamanya. Ia menatap dari balik tirai kamar kedua anaknya bermain dengan Erland. Tapi pupus dan kembali terdiam ketika sosok Triis yang ada bermain dengan kedua anaknya.


"Ayo Bunda. Sini cepat di samping Reina dan ka Rein!"


"Ayo Luna. Bermain dengan kedua anak pintar aktif ini, membuat hariku semakin bahagia. Ayoo kemarilah ikut bergabung!" teriak Triis.


Jleeeb...!!


Luna pucat pasi, ia menempelkan tangannya pada punggung. Dengan lemas berkata ia tiba tiba saja pusing. Dan akan ikut melihat saja. Luna melangkah mundur dan mengambil segelas air.


Luna meneguk air minum berwarna itu dengan habis, lalu ia duduk menatap kedua anaknya yang gembira dan senang.


"Luna, ayo jangan terus seperti ini. Rein dan Reina butuh kamu yang ceria seperti sediakala! Triis membantu agar mereka tidak kesepian." cetus Sein dibalik punggung Luna.


"Apa seperti ini, rasanya kehilangan orang yang kita cintai Sein. Aku ga bisa menerima kenyataan, bahkan sosoknya selalu saja ada dan membuat aku yakin. Mas El hadir selalu dekat dengan aku?"


"Sabarlah Luna sayang." Sein menyabarkan.


Tak lama, asisten rumah tangga datang memberitau jika ada tamu di luar.


"Nyonya, ada yang ingin bertemu. Saya sudah memintanya menunggu di ruang tamu!"


"Baik, terimakasih bi ijah."


Luna menatap Sein, ia pun sama hal bingung, menggelengkan kepala dan meminta Luna untuk menemuinya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2