
Sepulangnya Luna dari pulau, beberapa hari kemudian aktifitas Triis dan Luna seperti biasa menjalani usaha cake Luna, dan kantor bagi Triis. Akan tetapi saat Triis sampai rumah belum melihat Luna pulang, ia menemui kedua anak anaknya dikamar. Dan tak lama Luna baru datang, ia langsung ikut berkumpul dengan keluarganya.
"Hey, bunda datang. Mas aku minta maaf ya, terlambat pulang." di anggukan Triis.
"Ayah tau. Saat pulang bunda ketiduran di mobil. Lalu berteriak dan menangis."
"Serius Nak. Sayang benarkah, kamu mimpi buruk apa sayang?" tanya Triis.
Luna menatap papa mertuanya. Lalu kembali menatap ibu mertuanya. Dan terakhir menatap kedua anaknya, ia tak ingin masalah yang ia hadapi kelak, membuat orang di sekeliling cemas. Triis segera meraih tangan Luna dan mengecup jemari tangan Luna.
"Mmmmmuach. Sayang, katakanlah, aku akan mendengarkan!" titah Triis. Melingkar kedua tangannya ke pinggang kecil indah Luna.
"Mas. Jangan seperti ini. Ga enak di lihat anak anak!" lirih Luna. Menatap sang suami, lalu tersenyum pada kedua anaknya.
Sementara Luna tangannya gemetar dan gugup menatap sang suami kala itu.
"Luna istriku. Aku suamimu. Apa kamu menyembunyikannya. Sayang bicaralah padaku!" tutur Triis menatap Luna.
"Mas. Itu hanya mimpi yang aneh, aku juga bingung dari mana menceritakannya."
Tak lama kedua mertua Luna menghentikan secara halus. Mereka bersama di meja keluarga itu berjam jam. Sehingga dimana waktunya Luna dan Triis pamit lebih dulu.
"Sayang. Aku pergi dulu ya, ada hal klien mendesak." Triis melihat ponsel.
Luna mengangguk dan mengecup tangan suaminya. Seperti biasa ia akan bersikap tak tau, sampai jelas ia benar benar bertemu lagi dengan Sean. Bahkan kali ini ia akan mengekor suaminya diam diam dengan merekam kegiatan suaminya sebagai bukti.
Seperginya Triis yang mengajak sang anak. Ia mengekor pada mobil taksi ke sebuah house private dibelakang mall terbesar.
Tak lama Luna menatap sang suami benar memberhentikan dimana kedua anaknya dan mama mertuanya bertemu rekan mama dengan cucunya. Luna pun meminta supir taksi terus mengikuti mobil Triis dari belakang.
Setengah jam berlalu Triis menyodorkan segala berkas di berikan pada seseorang yang tak asing. Ia berharap istrinya tak mengetahui apa yang ia lakukan di belakang, ia bersikeras kamuflase tentang hubungannya dengan Sean.
Luna yang memandang semua itu, hanya menahan air mata di bawah bola matanya. Rasa rindu itu ada, tapi entah mengapa ada perasaan sakit yang ia tak tau, perasaan apa ini tuhan. Mengapa engkau telah memberikan ku ingatan kembali yang menyakitkan.
Luna tak kuasa berbalik pada dinding besar. Menatap bangunan tinggi nan kokoh. Tapi tak sekokoh hati dan kelembutannya. Menatap pria yang ia percayai, tapi ia sadar jika kepercayaan itu hanya sang pemilik yang berhak di percayai.
Hingga Luna menatap kembali ke arah Triis. Tapi akhirnya ia sulit dan kehilangan jejak.
"Aaakh. Aku bodoh. Lagi lagi aku kehilangan jejaknya." lirih Luna.
"Bu. Sekarang kita kemana?" tanya supir taksi.
"Bogenvill romawi dua ya pak. Jakarta timur!"
Satu jam berlalu Luna kembali datang menemui Rivano. Ia meminta untuk Vano segera mempertemukannya pada Sean. Ia ingin kebenaran yang terjadi dari mulutnya langsung, ia ingin menanyakan dan motif apa sehingga merebut suaminya.
__ADS_1
"Vano. Terimakasih telah mau membantu masalah konflikku" Tutur Luna pada Rivano.
Meski perasaan sakit hatinya menatap Vano. Tapi Rivano menatap bos mudanya yang sudah ia sayangi dan mengagumi hanya tersenyum.
"Ya bu. Lagi pula saya memang ingin bertemu Sean. Sudah lama tak bisa menemuinya."
Luna memberikan satu kertas kecil. Itu adalah nomor alamat dan nomor telepon rumah dan nomor ponsel Sean. Hanya saja ia tak dapat menghubunginya.
"Kamu bisa atur Vano. Mungkin nomorku sudah di blacklist oleh Sean. Ingin sekali aku ga percaya semua ini. Tapi... "
Rivano menatap bosnya, yakni bu Luna yang menunduk terdiam. Ia menyembunyikan mata yang merah ingin menangis dengan cara membalikan tubuh. Serta pamit pulang.
"Baiklah. Bu Luna saya harap kuat dan sabar, saya akan bantu semampu saya dengan baik. Saya tak akan mengecewakan ibu." tutur Rivano
"Terimakasih Vano." balas Luna membalik badan.
Lalu ia pergi dengan pamit tak lupa memberikan suport agar Vano cepat sembuh.
Dalam perjalanan, Luna semakin bersalah. Ia bingung dengan keadaan yang benar benar mempermainkannya. Tapi ia bisa apa ketika semuanya benar benar terjadi padanya. Luna hanya mendesah nafas berat, lalu mencoba rileks agar semua berjalan lancar.
Apalagi saat tadi, Luna merasa gugup. Ia takut jika Triis melihatnya. Hingga ia sadar, apa dengan bantuan nona bintang ia berlari menceritakan kisahnya. Tapi ia sadar kembali, jika ia tak ingin orang lain tau yang terjadi dan ia rasakan kini dalam hidupnya.
"Hidupku. Adalah pilihanku, jadi aku harus menyelesaikannya." gumam Luna.
***
Sementara Di Berbeda Tempat.
"Mas. Beri aku wewenang, agar aku bisa berada disini!" pinta Sean.
"Pergilah. Aku tak ingin Luna tau, tak mungkin kamu berada di sini. Sean, kamu sedang mengandug tak baik jika kamu ada di sini. Aku akan menghubungi Ebon untuk mengantarmu pulang!"
Sean hanya mengkerucut sebal. Ia pamit dan pergi dari ruangan itu, lalu menatap bangunan toko cake sweet yang terlihat seperti hotel mewah.
"Jika aku menjadi nyonya Triis satu satunya. Anak ku sehat dan laki laki. Aku dengan mudah menyingkirkan Luna bukan." tawa peringai Sean yang berjalan pelan.
Luna di balik tirai yang tertutupi dinding, hanya bisa mengepal kedua tangannya. Hal yang pertama yang harus ia lakukan adalah mengubah struktur kekuasaan toko yang diberikan mama mertua. Luna yakin Sean berubah seperti itu ada hal yang ia sembunyikan darinya.
"Aku ga sangka, kamu akan jahat padaku Sean. Setelah aku mendengar kabar usaha Luse yang kita dirikan menjadi hak paten milikmu. Aku menjadi benci, dan setelah usaha mu merebut apa yang aku miliki. Bahkan aku jijik mendapati sahabat sepertimu, inikah balasanku dahulu saat aku menolongmu dari Alex mantan suamimu yang kini berada di balik besi. Dan saat itu aku melihat dengan wanita bernama Thalia, ada hubungan dengan suamiku. Aku harus menjauh dari kalian semua, agar aku bebas dari jeritan sakit ini." gumam Luna, menghapus air mata.
Luna keluar dan menatap Sean telah pergi dengan mobil. Luna begitu jijik jika harus menemui sang suami. Hingga akhirnya ia pergi ke sebuah butik mama Maya. Ia ingin mengatakan sesuatu dan meminta satu hal yang mungkin berat ia ucapkan. Ia ingin meminta mama mertuanya membantu dirinya yang ingin pergi, bersama kedua anak anaknya.
Setengah jam perjalanan. Luna mengabaikan panggilan dari suaminya. Dimana Triis mengirim pesan seperti biasanya, Luna pun membalas jika ia sibuk sedang mempelajari acara naskah Tuan Albert.
"Sayang mama. Luna ada hal apa kamu ke sini?"
__ADS_1
"Maaf membuat mama mengganggu. Tapi Luna butuh bantuan mama. Luna ga sanggup, dan semoga Luna bisa bertahan dengan semua ini. Setidak nya demi Rein dan Reina Mah."
Isak tangis Luna membuat Mama Mertua terdiam, membalas pelukan. Ia paham bagaimana seorang wanita jika tersakiti. Bahkan ia mendengarkan cerita Luna hampir dua puluh menit di ruang private kedap suara.
"Mama akan mengubahnya. Bertahanlah, soal Triis mama dan papa akan membicarakan pelan pada Triis. Bahwa cake Sweet milikmu sampai kedua anak anakmu besar bisa menuruni bisnis mama. Dan mama memberi wewenangmu di butik mama, semata tak ada menantu lain selain kamu dan Keiy sayang. Luna kembali menangis sendu.
"Tapi Luna ingin pisah mah! tapi Luna juga ingin kedua anak anak Luna, tak ikut tersakiti." jelas Luna, membuat mama Maya memintanya menunggu untuk memikirkan perasaan Luna dan kesehatan kedua cucunya.
Ia tak menyangka mempunyai mertua yang baik. Bak pengganti dari rasa sakit sikap Triis yang kembali mengecewakannya. Bahkan ia benar benar tak sanggup dan lemas saat mengetahui beberapa jam Lalu Sean bertemu dengan Triis, di area toko nya.
'Mas. Kita akan bermain seolah aku bodoh dan tak tau. Aku akan ikuti kemauan mu dan sampai dimana kamu bisa jujur padaku semuanya, setelah kamu tahu kamu terlambat kita sudah tidak bisa bersama.' batin Luna menatap cermin dalam pelukan mama mertua.
Luna kembali makan malam bersama. Matanya yang sembab kembali di tutupi concealer. Mama mertua dan Papa mertua meminta Luna tabah, kuat dan sabar. Ia meminta Luna menjadi wanita perfect untuk mengimbangi Triis. Agar ia berusaha menerima semua sikap semua Triis.
Luna tak ingin kehilangan kedua anaknya lagi, bahkan ia pernah kehilangan anak dalam kandungannya. Ia tak akan kalah dan begitu saja menyerah akan sikap Sean.
"Aku tau. Aku pernah salah padamu Sean, kamu menyukai seorang pria. Tapi pria itu memilihku, bahkan kamu tau, jika dia adalah cinta pertamaku. Apa karena sosok Mas Erland kamu melakukan ini padaku. Bahkan aku telah menganggap sebagai saudara kandungku. Tapi bagaimana bisa kamu lakukan ini padaku Sean." lirih batin Luna yang mengapit sendok dan Garpu.
HINGGA DI RUMAH
Triis yang mencari keberadaan Luna, begitu mendadak ketika Luna tak izin pergi ke belanda atau singapore!
"Sungguh papa tak tahu, hanya itu yang papa dengar dia menghubungi seseorang, ia pergi dengan kedua anak anaknya. Menitipkan surat saja," ujar Steva.
Yang membuat mata Triis tak percaya.
"Papa juga sudah memberikan deposit untuk kedua cucu papa tetap berjalan berobat."
"Apa ini ..?"
"Triis, sebaiknya jelaskan semuanya dengan clear. Papa hanya tahu Luna pergi ke singapore, atau belanda! tapi tidak tahu tinggal dimana. Sebab itu sudah keputusannya bulat. Surat pengadilan, Luna meminta damai dan tetap baik baik saja."
"Omong kosong! aku akan cari Luna dan anak anak pulang pah." teriak Triis, dan pergi.
TBC.
Satu Bab Lagi, Luna End .. Pindah ke Season 2 Ya All.
Judul nya : Klik jika sudah dapat notif, tap love.
🌼 **Yus Untuk Luna** 🌼
Dukung Luna dengan jejak tap love.
__ADS_1