
Trdeeettth... Tredeeeeth. Dering ponsel Triis. Triis tak bisa mengelak, dibalik menatap ponsel. Ia kesal hingga menggertag giginya. Ia mencoba memberi pesan Ebon dengan amarah kesal saat mengetiknya. Hal itu menarik perhatian Luna.
"Mas kenapa. Apa ada masalah?" tanya Luna.
"Sayang. Aku akan ke menemui Klien. Aku pergi dulu!" kecup Triis pada kening Luna.
"Ayah. Aku juga mau di cium keningnya. Masa bunda aja?"
Melihat Hal itu, Triis pun mengecup kening putrinya dan putranya. Memberi senyuman hingga berlalu.
Dibawah anak tangga selepas kepergian Triis. Luna membantu pengasuh untuk merawat kedua anaknya. Kedua anaknya terbilang sakit serius, tapi suasana hatinya selalu membaik dan semakin baik. Luna menyukai dan sangat bahagia kala itu.
"Mungkinkah. Bunda harus terima. Apapun kelak kebahagian kalian adalah utama bagi Bunda nak." batin Luna menatap kedua anaknya.
Mereka tersenyum sambil memegang satu mainan saat diberikan infus oleh perawat.
"Mas. Infus kesehatan untuk Rein dan Reina telah selesai. Kamu pulang jam berapa, mereka ingin kita makan malam bersama. Aku akan menyiapkannya."
Luna meletakkan ponsel. Lalu ikut bergabung pada suster. Menaikan sebuah obat infus dari suster yang tersambung beberapa menit ke tangan mungil sang anak.
"Tangan kalian begitu kecil. Kenapa harus anak anak bunda yang sakit?" lirihnya.
"Bunda. Reina dan Kakak akan sembuh baik baik saja. Asalkan Bunda dan Ayah selalu bersama sama, bahagia dan dekat dengan kami!"
"Ya sayang. Bunda akan selalu dan selalu ada. Juga mewujudkannya." batin Luna menatap kedua anaknya kala itu.
Tak lama, Oma dan Opa dibalik pintu masuk kedalam kamar sang cucu. Hal itu membuat Luna tertegun, apakah mertuanya mendengar permintaan Reina.
"Cucu Oma tersayang. Apakah kalian sehat baik baik saja hari ini? Oma senang jika kesehatan kalian membaik."
"Opa jadi bisa main kejar kejar lagi dong. Bolehkah kita bermain nanti?"
Rein dan Reina mengecup pipi sang nenek dan kakek. Ia mengangguk dan mengarahkan jari kelingkingnya agar tertempel. Hal itu membuat Luna semakin berusaha untuk mengutamakan kebahagian kedua anaknya.
Ia akan selalu percaya pada Triis, apapun yang ia lakukan. Ia urungkan untuk egois dengan nama cinta kedua anaknya.
'Mas Erland. Ketika aku kembali ke bali, aku akan memberikan salam perpisahan. Berbahagialah kamu disana dengan bidadari. Aku harap kamu tak menungguku di keabadian.' batin.
***
"Jadi kamu mengancamku Mas?" tanya Sean.
"Sekarang aku mengakhiri secara resmi. Kita tak akan mengenal lagi, saat kita berpapasan. Kembali lah ke waktu dimana kita tak mengenal Sean!" titah Triis memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Sean mendorong tubuh Triis, ia mengecup ranum Triis dengan paksa. Ia tak terima jika pria di hadapannya benar meninggalkannya.
"Syiet. Apa yang kau lakukan, wanita ja-lang. Kau pikir aku akan tergoda lagi. Aku berusaha menjadi suami dan Ayah sempurna. Pergilah aku yakin jodohmu bukan aku!"
Triis keluar mengibas jas hitamnya. Sean masih memeluk erat dibalik punggung. Ia sematkan noda bibir putih dan wangi pekat khasnya. Dengan mencibirkan senyuman jahat.
"Lepaaaass!" teriak Triis. Melirik ketidaksukaan ketika Sean merangkul erat dibalik tubuh indah punggung yang kokoh.
"Aku hanya ingin memeluk perpisahan saja. Aku mohon tunggu sebentar lagi!"
Triis kembali goyah, ia lalu di minta untuk meminum cherry soda. Triis hanya menghela nafas tanpa berfikir buruk. Ia percaya saja jika Sean, benar akan berhenti melupakan.
"Habiskan. Lalu pulanglah!" sombong Sean.
Triis menatap Sean, ketika ia menunjukkan tangan panjangnya kearah pintu Luar. Tapi ia memijit mijit kening, ia menatap samar wanita dihadapannya.
Pikirannya adalah Luna dan kedua anaknya kebahagiannya kala itu. Tapi ia tersenyum manis saat dihadapannya adala Luna sang istri yang ia cintai dari kebencian, hatinya melunak dan berubah takut kehilangan.
"Aku tak perduli. Imajinasimu adalah Luna, tapi di malam ini aku Sean, wanita menemani malammu Triis." lirihnya mengigit telinga Triis.
Ketika bayangan samar itu menatap Luna, Triis memeluknya dan meraih tubuh wanita yang ia cintai kala itu. Menutup rapat dengan rakus tanpa jeda.
"Kau masuk perangkapku Triis. Dengan begitu kau akan mudah menunduk padaku. Ketika bersama Luna aku akan mengancammu, jika tidak ku sebar video ini pada istrimu dan klien besar akan membuatmu tercengak siapa dirimu sebenarnya. Hahaaahaaa."
"Luna aku minta maaf. Aku mencintai suami lebih tepatnya, mantan suami masa lalumu. Kamu memulainya dariku. Kita akan lihat siapa yang bertahan?" cibir Sean.
"Aaauuuw. Mas pelan pelan, aku kesakitan!"
Sean mulai terpedaya. Hampir pagi mereka bermalam habiskan. Tak melupakan momen adegan mereka pun di rekam, untuk meminta Luna melepasnya. Menatap Triis yang telah tertidur pulas pengaruh obat dalam minuman, membuat Sean semakin tak peduli.
'Triis. Kamu memulai perang dariku, sebelum kau mengancam. Aku lebih dulu yang akan mengancam dan membuat kartu As mu!' tawa jahat Sean.
Sean berlalu meninggalkan hotel. Ia pergi menuju bandara. Sementara di loby bawah, terlihat jelas pengawal bodoh yang masih setia menunggu tuannya.
"Dasar kurcaci bodoh. Tuanmu sedang tidur karena puas, mungkin masih beberapa jam dia akan sadar dan bangun." gumam Sean dengan tersenyum jahat sedikit miring.
***
Luna yang menunggu di ruang tamu, ia menatap ponsel tak ada balasan atau pesan apapun dari Triis. Itu sebabnya ia meminta anak anak tidur lebih dulu dan membuat alibi.
"Nak. Jangan sedih ya, Ayah sedang ada urusan penting yang ga bisa ditinggalkan. Kalian tidur dulu, kita ganti hari lain. Bunda dan Ayah masih menemani kalian beberapa pekan."
Rein dan Reina pun mengangguk. Ia amat sedikit kecewa sehingga Luna menemaninya sampai terlelap.
__ADS_1
Sementara Triis di dalam hotel, ia tersamar bangun. Ia memukul kepalanya dengan berat. Menatap pakaian yang tak ada ditubuhnya. Ia segera berlalu dan meminta seorang pengawal membelikan baju ukurannya. Hal ini membuat Triis tak mengingat apa yang terjadi beberapa jam lalu.
"Siapkan. Cari tau apa yang terjadi, minta duplikat cctv apa yang terjadi. Ingat bungkam, jangan melihatnya sebelum aku melihatnya. Mengerti!"
"Ebon pun menuruti. Ia lalu menyetir kembali hingga sampai tujuan di mansion."
Triis masuk kedalam ruang tamu, ia tertegun samar menatap di ruang sofa terlihat Luna sang istri tidur di balik sofa. Ia menyalakan lampu ruang tamu dan benar saja, ia tersenyum lalu mengangkat Luna dan membopongnya ke kamar.
"Mas. Kamu sudah pulang. Aku tertidur maaf?"
"Sayang. Tidurlah di kamar, ruang sofa tamu tidak aman untukmu!"
Masih dalam mode pelukan dalam gendongan. Luna merasa nyaman, ia merangkul leher maskulin sang suami. Mengecup ranum manis sang suami.
Tapi ia terhenti saat penciumannya samar seperti ada yang aneh.
"Mas. Kenapa bau parfum yang tak asing. Lalu kenapa baju mu ganti?"
Triis terdiam, ia menatap Luna dengan bingung. Lalu dengan asal ia menjawab dan mengelus pipi Luna yang manis setelah meletakkan tubuhnya di kasur empuk.
"Mas akan mandi. Klien menumpahkan minuman, mas ga bawa pakaian. Jadi meminjamnya tadi."
Luna hanya mengangguk, mengambil sebilah handuk hitam bersih. Lalu memberikan pada sang suami yang sedang melepas kaitan kancing dan jam di lengannya.
"Mas aku bantu!"
Triis meembiarkan Luna membantu melepas seluruh bajunya hingga polos.
"Mau mandi bersama sayang?"
"Maaaas. Ini sudah larut menjelang pagi, aku sediakan air hangat di bathup ya?"
Triis melingkar pinggang Luna, saat beranjak melangkah. Cekatan tangan kokohnya membuat Triis candu.
"Mas. Apa sesibuk itu, kamu melupakan membalas pesanku?"
"Pesan apa sayang?" tanya Balik Triis.
Luna menatap sempurna, melihat perlahan Triis yang meraih ponselnya. Anehnya tak ada pesan apapun dari istrinya. Sehingga Luna meraih ponselnya dan melepas ikatan tangan kokoh sang suami.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku mas. Terlihat pesanku telah kamu baca. Mengapa tidak terlihat di ponselmu?" cercah Luna.
Tbc.
__ADS_1