
‘Bugh!!’ tubuh Genta menabrak seseorang yang berada tepat di depan matanya. "Argh maaf...” Kata seorang yang baru saja tertabrak itu.
Seseorang itu mendongakkan kepalanya, matanya membulat besar saat melihat orang yang di tabrak adalah Senior. Mereka juga orang-orang yang berpengaruh besar di kampus. Terutama Aldo Atdmaja dan Samuel Sejati. "Siapa nama kamu?” Tanya Aldo dengan wajah serius.
"Adam, kak!” Jawabnya menunduk.
"Oh, berarti kamu punya hawa?” Goda Genta merangkul pundak Adam.
"Gimana kalau kamu traktir kita??”
"Iya mau, kak!” Jawab Adam dengan terbata.
Di kantin Genta melihat Bulan dan Anya sedang asyik makan bareng Mahasiswa yang lain. Genta berjalan ke arah Anya dan Bulan, berdiri tegap di hadapan mereka sekarang. “Anya, makan di situ yuk, bareng kita.” tunjuk Genta pada meja yang sudah terisi itu.
Anya dan Bulan membulatkan matanya saat melihat Genta ada di hadapan mereka. “Kenapa kamu di sini, Kak??” Tanya Bulan heran.
“Memangnya kenapa??”
“Kakak seharusnya di kantor...”
“Aku minta sama Papa buat ngambil megister di sini.”
“Ough begitu!!” ucap Bulan.
Sepintas Genta melirik Anya yang tampak menegang. Sebuah senyum terulas di bibir Genta, ‘Kamu benar-benar membuat aku gila Anya’
“Ayo ke sana!!” Ajak Genta yang sudah memegang piring Bulan dan Anya.
“Ayo Anyaa...” Anyaa hanya mengangguk mengikuti Bulan.
__ADS_1
Bulan dan Anya berjalan mengikuti Genta tepat di belakangnya. Anya menyenggol bahu Bulan, agar Bulan melihat mata para Senior cewek yang memandang wajah mereka. "Kak Bulan ma ...- ,” belum selesai Bulan bicara Genta sudah menyeret tangannya duduk di antara teman-temannya.
Ya, akhirnya Bulan dan Anya mengikuti apa yang Genta inginkan. Bulan menjulurkan satu tangannya mencoba memperkenalkan diri sambil melirik ke arah Aldo. “Kak Aldo kenal sama Kak Genta??” Tanya Bulan dengan senyum mempesona.
“Iya, aku dan dia sekarang ngambil kelas yang sama.”
“Ouh...” jawab Bulan sambil menganggukkan wajahnya. Bulan sempat berpikir bahwa Aldo adalah senior yang sama-sama mengambil Sarjana. Wajahnya begitu segar seperti bayi.
Kemudian Anya juga turut mengenalkan diri. Anya mengulurkan tangannya. Ketika sampai di Samuel, Anya sedikit terkejut karena merasa sangat mengenal pria itu. dia adalah teman Genta yang menjadi saksi di hari pernikahan palsunya.
Jantung Anya kini mulai tidak menentu. Dengan cepat Anya melepaskan tautan tangannya dengan Sam. Genta yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya. Anya menjadi salah tingkah, wajahnya pucat. “Kamu kenapa??” Bisik Genta tepat di telinga Anya agar Bulan tidak mendengarnya.
Bulan sedang sibuk bercanda dengan Aldo. Itu benar-benar membuat Genta mempunyai waktu untuk menggoda Anya. “Kamu lebih cantik bila tidak mengenakan apapun, polos!!” bisik Genta lagi sambil meremat tangan Anya.
Anya memejamkan matanya sambil menggeser posisi duduk. tapi sayang hal itu tidak menyurutkan niat Genta untuk menggodanya. Genta kini juga ikut bergeser. “Argh!! Dia menggodaku!!’ rutuk Anya.
"Iya kak makasih.”
Pesanan makanan Genta dan yang lainnya telah datang dan mereka mulai memakan dengan tenang sambil sesekali saling lirik. “Aku mau minta hakku!!” bisik Genta tiba-tiba di telinga Anya.
“Jangan mimpi.”
“Apa kamu berencana lari selamanya?? Kamu itu milik aku.”
“Aku bukan milik siapapun, Kak!!” Jawab Anya kesal tapi masih dengan berbisik
Genta menatap Anya sambil meremat tangannya kesal. “Aku hanya ingin kamu tidak membantah Anya.”
“Aku bukan membantahmu, aku harap kamu tidak keterlaluan seperti ini.” Anya menatap sinis ke arah Genta. Bisa-bisanya Genta mengundang masalah bagi Anya, padahal dirinya sangat tidak ingin di ganggu saat ini.
__ADS_1
‘drdrrtt’ Ponsel Anya bergetar. Menampilkan nama Ray di sana. Genta yang melihat itu langsung menahan tangan Anya agar tidak mengangkat telepon dari tunangannya itu.
“Jangan di angkat atau aku akan mengatakan pada semua orang yang duduk di sini tentang masa lalu kita.” Ancam Genta pada Anya. Mereka beradu pandang hingga Anya benar-benar merasa terpengaruhi.
Anya hanya menatap Genta hingga getaran panggilan itu terhenti. Melihat hal itu, Genta langsung melepaskan genggaman tangannya. Anya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Genta mewujudkan ucapannya, dia tidak akan membiarkan Anya dan Ray hidup tenang.
Di kantor, Ray yang sudah dari pagi tidak bisa menghubungi Anya benar-benar frustasi, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Anya adalah tujuan hidupnya. Hingga dia mau melakukan apa saja untuk hidup yang lebih baik. Ya, Ray sangat sadar gajinya di perusahaan tidak akan cukup untuk mendapatkan hidup yang layak.
“Sayang, kenapa kamu menung lagi?? Apa tunanganmu masih sibuk kuliah?” Tanya seorang wanita yang kini tidak menggunakan pakaian sehelai pun.
“Maaf ini bukan urusan kamu...” Jawab Ray dengan suara malas.
“Ini akan jadi urusanku jika kamu cemberut saat melakukan tugas...” Jawabnya lagi dengan suara lembut tapi nada yang mengancam.
Ray menggigit bibirnya kesal, Wanita itu bernama Jenny. Dia adalah anak direktur perusahaan yang bermitra dengan perusahaan tempat Ray bekerja. Perempuan karir yang tidak ingin adanya hubungan pernikahan yang mengikat tapi dia butuh pemuas napsu untuk mengisi hari-harinya. Jenny seumuran dengan Ray, dia menggantikan posisi orang tuanya memimpin sebuah perusahaan.
Pertemuan mereka di mulai saat Ray harus ke perusahaan milik Jenny untuk melakukan hubungan kerja. Malamnya setelah mereka saling berdiskusi, Jenny mengajak semua untuk makan malam bersama. Tidak ada yang aneh dari Jenny, hingga malam itu dia permisi untuk keluar ruang makan. Ray pun awalnya juga tidak berniat apa-apa. Sampai saat atasannya meminta Ray mengambil barang di dalam mobil. Ray yang hanya seorang bawahan pun langsung berlari ke arah parkiran padahal saat itu dia baru memakan setengah dari nasinya.
Saat mendekat pada mobil atasannya, Ray mendengar suara seorang wanita mendesah. Karena penasaran Ray pun mendekati arah sumber suara. Ray membulatkan matanya saat dia melihat Jenny sedang bercinta dengan seorang pria berseragam sekolah SMA. Jenny yang bertemu mata dengan Ray pun langsung berdiri dari duduknya. Ray yang melihat itu langsung pergi begitu saja, dia tidak menyangka seorang yang memiliki perusahaan bermain di tempat umum. Tidak mungkin dia tidak memiliki uang. Namun di sanalah semua kisah Ray dan Jenny di mulai.
Bersambung....
Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.
Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!
Kalau suka ceritanya, dukung terus author dengan cara like, coment, dan vote novel ini biar makin banyak pembacanya:))
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1