HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
MENIKAH LAGI


__ADS_3

"Apa kau Takut Luna Sa- Yang?"


"Kau mau bawa aku kemana?"


"Menurutmu. Apa kau tak mendengar tadi. Ikutlah denganku sekarang!"


"Triis. Jangan lakukan itu, bagaimana pun aku adalah ibu dari kedua anakmu. Jangan kau samakan aku dengan wanita liarmu di luar sana."


Triis mendongakan wajahnya. Luna memang mengekor dalam langkah Triis. Itu semua karena pergelangan tangan Luna ditarik erat oleh tangan kokoh Triis. Lalu di tepi pintu mobil ia menatap wajah Luna.


"Bagaimana agar kamu bisa percaya. Kamu adalah wanita tepat untukku Luna?"


"Berhentilah bermain wanita Triis. Jika kau mau menyentuhku, jangan pernah menyentuh wanita lain!"


Hahahahaaah. Baik, aku akan berkomitmen. Asalkan dirimu tak lagi mendekat pada pria manapun, dan lupakan mantan mu yang telah mati.


"Sekarang kau masuklah!"


***


"Iya. Ustadzah Ummi memang kemarin keponakan saya sedang bertugas, selagi semestenya telah usai dan libur panjang. Ia bekerja freelance di sebuah perusahaan perfilman. Tapi kemarin itu adalah pria masalalu yang meminta kembali. Saya tak banyak ikut campur soal pribadinya."


"Luna anak yang baik. Saya tau ketika dia kecil, hanya saja kepergiaan Ummi iren membuat Luna ikut dengan ayahnya ke ibukota kan. Andai saja saat itu saya menahan untuk berada tetap di pondok."


Obrolan antara Ustadazah Ummi dan Bukle Srie pun berlanjut. Mereka memang dahulu berinisiatif mengkhitbah Luna saat masih kecil untuk putra tunggalnya yang bernama Irwan abid khoirin yang kini berada di turki.


"Tapi Luna mungkin sudah lupa ummi. Karena ia sempat bertemu dengan ustad muda Yus. Putra bungsu Ummi yang berada di luar. Luna selalu memanggil pria surgawi."


Obrolan itupun menjadi manja dan tertawa. Karena Luna amat lucu. Memanggil putra bungsu di pondok dengan sebutan pria surgawi.


***


"Triis. Jangan seperti ini. Aku belum siap untuk melakukannya. Aku butuh waktu!"


"Luna. Aku hanya menginginkan dirimu. Kenapa kamu selalu menolak ku, apa karena sosok pria yang telah mati masih ada di sini?" menunjuk hati Luna. Luna terdiam pias, ia tak enak hati.


"Baiklah. Siapkan pernikahan, setelah itu kamu bebas melakukannya Triis!"


Senyum tertarik pada wajah Triis. Ia lalu menghubungi kedua orangtuanya yang berada di penang. Tanpa menunggu lama dengan persiapan. Esok pagi ia akan menikahi Luna kembali. Luna meminta untuk menikah secara sederhana, hanya proses ijab kabul di KUA.


Sontag Mama maya dan Steva ikut bahagia mendengarnya. Kesehatan Rein dan Reina yang kini dalam kemo di penang. Akan menjadi kebahagian tersendiri bagi kesehatan imunnya.


Mereka akan bahagia ikut senang. Begitu tau jika kedua orangtuanya telah kembali dan bersama.


Luna memupuk air mata yang tiba saja jatuh di depan cermin. Triis mendekat dan melingkarkan kedua tangannya ke dalam pinggang Luna. Hanya dalam sekejap, ia merobek baju longgar Luna dan terpampang singlet bertali maroon yang melekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Bagus. Kamu hanya memperlihatkan tubuh indahmu hanya padaku. Jangan pernah memakai baju ketat di hadapan pria lain Luna!"


"Sejak kapan aku memakai baju ketat Triis?"


serat di wajah Luna.


"Kau tau. Istri pria wah sepertiku, pasti memiliki selera fashion ketat dan feminim bukan. Aku memberikanmu akses saat kamu berbelanja hanya untuk bersamaku!"


Luna hanya menggeleng, bahkan ia tak berniat berfoya foya


"Triis. Kamu bisa melakukannya setelah kita sah kembali. Jangan seperti ini!"


"Ya. Aku akan menuruti janjimu. Tapi melihat dirimu saat ini. Aku tidak janji Eeeuuumph." mengigit manja telinga Luna.


Desiran tubuh Luna mulai merinding. Hal itu membuat Triis semakin suka dan tak bisa menahannya. Ia membalikan tubuh Luna, meski luna mengkesampingkan wajahnya. Sementara Triis mulai mengecap seluruh tubuh Luna dari tungku leher hingga kebawah pusar.


"Biarkan aku melihatnya. Besok Sore kita akan ijab kabul."


Srrreeeth. Tubuh Luna di pegang erat. Luna yang menahan tak bisa berbuat apa apa. Ketika jari Triis telah menari nari di tiap jenjang bagian sensitif dan gundukan kembarnya. Hal itu membuat Luna semakin mengalir rasa yang tertahan dan menatap balas kecupan Triis.


"Bagaimana jika aku melakukannya?"


"Aku berharap tidak Triis. A-aku. A-Aku Eeeeeuumph!"


Triis semakin tertawa bahagia menatap Luna yang semakin tidak tahan. Sehingga seluruh tubuh mereka benar benar polos dan menarik wajah Luna untuk memanjakan bagian termanis dibawah pusar Triis.


Luna hanya menelan saliva. Sudah berapa lama ia tak melihat Triis dengan seperti ini. Ini bukan bagian yang ia inginkan, ia hanya menyetujui bersama karena permintaan kedua anaknya yang sakit keras.


Luna telah berbaring dengan sehelai penutup selimut putih. Ia mengambil air gelas putih.


Namun Triis mengambil dan mulai dengan memperlakukannya Luna manis, memberikan gelas itu pada Luna. Ketika Luna meneguknya, Triis menurunkan selimut dan terjadi tarik menarik, tapi kedua gundukan itu membuat Triis kembali berada diatas Luna dan mencengkram lembut, sehingga Luna berteriak manja.


"Triis. Apa kau pria hiper, ini sudah berapa jam. Kau melakukannya lebih dari empat kali. Beri aku nafas!"


"Salahkan tubuhmu yang membuat aku tergoda jika berada di sisimu sayang."


***


Ke esokan harinya. Setelah ijab kabul, sebuah ruangan Hotel Triis pesan dengan beberapa saksi dan kerabat yang datang. Acara itu begitu sempurna ketika Triis mengucapkan kembali janji pernikahannya. Sehingga proses ijab kabul selesai dan mereka telah sah menjadi suami dan istri.


Luna teringat akan almarhum kedua orangtuanya. Kini ia kembali menikah dengan pria yang membuatnya terikat. Hanya satu harapan doa terbaik dalam rumah tangganya kini adalah baik - baik saja, Triis bisa mencintai ia dengan tulus dan setia tanpa syarat.


Setelah berakhir acara dan ucapan selamat. Kini Triis kembali melakukan kewajibannya. Ia mematikan ponselnya selama tiga hari. Hal itu ia berusaha menghindar dari Sean yang takut menghubunginya di saat tidak tepat.


"Mas. Aku turun disini, aku ga akan lama. Setelah pekerjaan selesai. Aku akan mampir ke toko mama, apa kamu akan disana seharian?"

__ADS_1


"Tidak. Mas akan berada di perusahaan dimana Erico sedang rapat penting. Cepatlah pulang, jangan terlalu larut. Aku akan terlambat pulang!"


Luna mulai pasrah, ia akan mencintai Triis dengan segenap jiwanya. Membangun rasa kepercayaan dan memulihkan sakit yang pernah pria di hadapannya menggores luka.


"Baiklah Luna Armea, ini adalah nama belakang penulis terbaik dalam pembuatan film. Produser akan membimbingmu. Tolong di baca dan di pahami semua berkas perjanjian kontrak ini!"


"Baik pak. Terimakasih."


"Saya akan memberikan tugas. Pada asisten bernama Taro. Tapi ketika saya butuh datang ke suatu lokasi penting. Ruangan mu ada disebelah kanan. Jam kerja mu hanya Tiga hari dalam waktu enam jam dikantor, namun kamu harus paham jika saya membutuhkan. Kamu harus standbay dan ini diluar jam kerjamu.


Luna pun membaca dengan teliti, ia pun segera menandatangani semua berkas dan berjabat tangan karena E-Film mulai aktif.


"Baiklah, selamat bergabung dan pelajari semua berkas ini bisa kamu bawa!" ucap Asisten Taro yang mengantar Luna keluar ruangan.


"Hello Luna, kamu dimana?"ucap Shasa.


Ia pun membalas. "Ya. Sha. Gimana kabar hari ini apa lancar?"


"Luna makan siang gimana, ada yang mau aku obrolin. Kebetulan aku tak jauh ni. Bisa bertemu?"


"Baiklah. Grand savaro meja no tujuh ya!"


Tak menunggu lama mereka tiba disatu meja pesanan.


"Hello Luna, cepat sekali kamu sudah sampai, cuaca hari ini panas kenapa memakai syal Luna?"


"Owh. Ini tak apa sedikit dingin saja aku Sha. Gimana hari ini kabar modeling pekerjaanmu apa lancar?"


Shasa pun menjelaskan dengan lancar dan ia tak diperkenankan menjadi bagian model atau artis perfilman. Ia bicara jika akan keluar bersama dengan tuan Taro si asisten produser ketika ada meeting diluar kantor. Selebihnya mungkin sama saja seperti dikantor sibuk dengan laptop dalam pekerjaan.


Luna pun tersenyum dan memberi selamat pada sahabatnya Shasa. Karena ia satu project, dan Luna aktif di layar belakang dalam membuat naskah.


"Kita akan selalu bertemu Sha. Aku akan mendukungmu."


"Thanks Luna." Saling berpelukan.


[ Mas. Aku akan telat, bagaimana jika menunggu dirumah ] pesan Luna pada Triis.


[ Luna. Tanpa kamu bekerja, aku bisa menafkahimu. Cepat aku tunggu dua puluh menit. Cepat aku tunggu, aku sudah kirim lokasi kantorku]" titah Triis.


Luna hanya membulat tak percaya. Triis lebih protektif dan diluar ekspetasinya.


"Kenapa, kamu dipaksa lagi sama dia?"


Luna hanya tersenyum. Ia membatalkan bertemu dengan pria kenalan Shasa untuk memperluas naskah filmnya.

__ADS_1


"Besok aku kabarin ya Sha. Aku minta maaf. Aku pamit!"


Tbc.


__ADS_2