HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
RUJUKAN PENANG


__ADS_3

Dia... ?! Lirih Luna, menatap Triis.


"Dia adalah rekan dokter untuk rujukan ke penang. Pengobatan anak kita Luna, tolong kesampingkan hal burukmu padaku!"


Luna tak percaya, dirinya begitu ingin percaya. Tapi nahas seseorang wanita yang masih ia ingat akan hal di mana ia masuk kedalam Apartment menatap wanita itu keluar dengan berantakan, pernah tidur dengan Triis di depannya adalah seorang petugas rumah sakit.


"Baiklah. Aku mengerti Mas. Lakukanlah, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Yang aku tau kita bersama dan dekat karena Rein dan Reina!" balasnya.


"Triis ini hasil rujukan, kebetulan sekali kita bertemu di rumah sakit ini. Aku juga sedang bertugas pindah di rumah sakit ini, Aku punya kuasa atas rujukan seorang pasein. Jika bukan karna Triis. M- Mmmmmh entahlah." tutur Lidia. Ia melirik Triis dan menggoda dengan rambut yang di kesampingkan ketelinga.


Triis mengucapkan terimakasih. Lalu ia berusaha meminta Luna untuk menunggu Rein dan Reina. Sementara Triis bersama Lidia mengurus berkas beberapa hal.


Hati luna sangat sakit, mengapa kedua anaknya mempunyai seorang ayah yang tabiat tak baik, ia mempunyai keburukan. Luna menarik nafas dan menatap kedua anaknya itu.


"Andai kamu masih ada Mas Erland. Aku pasti akan bahagia, kedua anak anakku tak kan malu mempunyai ayah sambung sepertimu. Aku merasa wanita bodoh yang menyia nyiakan kesempatan emas perlakuanmu." Luna berbicara masih menangis tersedu sedu.


Kedua anak Luna masih belum sadar karena pengaruh obat. Tak lama ia menatap ponsel yang membuatnya bimbang.


[ A-apa. Aku diterima di kampus Oxford belgia. Lalu bagaimana dengan putra putriku. Erland kamu sudah menyiapkan segala hal, bahkan setelah tiada kamu selalu membuatku terkejut. Sampai kapan kamu semanis ini. Meski jiwamu tak ada, hatiku dan ragamu masih terasa dekat ]


Sementara Di Ujung Kasir.


"Apa kau kembali pada istrimu Triis?" tanya Lidia.


"Bukan urusanmu, kembalikan berkas itu Lidia!"


Lidia menggoda dengan menaikan tangan yang di bubuhkan tanda tangan dikertas penting diatas kepalanya. Namun dengan mudah Triis mengambilnya hingga wajah mereka terasa dekat.


"Triis. Tatap aku!" diabaikan


"Triis aku sulit melupakan dirimu, apalagi yang satu itu membuat aku selalu teringat dan menginginkannya, Aku .. bisakah nanti malam?"


"Baiklah. Tapi tidak untuk saat ini, ku mohon jangan mempersulitku!"


Hahahaha ... Lidia tersenyum. Luna yang berada tepat dibelakang Triis. Ia tetap menoleh dan membuang muka, seolah ia tak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi. Luna merasa jijik dan Triis tersadar menoleh kebelakang ketika tatapan Lidia senyum mencurigakan.


Lidia menatap wajah Triis, di dekat meja kasir. Lidia adalah seorang istri dari pilot.

__ADS_1


Tapi keberadaan suaminya yang jarang pulang membuat Lidia dan Triis dekat karena sebuah project dan berlabuh asmara. Triis melakukan itu karena kesempatan dan kesepian bagi Lidia.


Triis lalu melangkah mengikuti Luna yang berjalan kesuatu kasir. Lalu ia meminta print tagihan, tapi Triis segera mengambil dan meminta kasir mendebet dengan kartu atmnya. Luna masih saja diam seribu basa.


"Apa kau sudah sejak lama di belakangku tadi Luna?"


"Untuk apa, aku baru saja tiba. Tidak mendengar percakapan kalian."


Triis menahan tangan Luna ketika pergi, tapi Luna menghempasnya. Triis paham jika Luna mendengar apa yang tadi di bicarakan bersama Lidia.


"Luna. Kamu harus tau aku, tadi hanya mengiyakan tanpa berjanji. Jadi aku harap .."


"Mas, kita bersama karena kedua anak kita. Tidak lebih, aku tidak berniat. Sampai kapanpun untuk kembali padamu itu mustahil!"


Triis terdiam, lagi lagi Luna kembali pada sifat angkuhnya. Lima tahun membuat Luna menjadi wanita yang ia kagumi dan tidak lemah seperti yang ia kenal. Atau karena Triis baru sadar perubahan Luna yang drastis ini membuatnya kagum. Sosoknya seperti kepompong yang berubah menjadi kupu kupu indah.


"Hai Luna. Aku dengar kau ingin ke penang, Jika bukan karena bantuanku itu tidak mudah. Coba saja kau usaha sendiri. Jika aku jadi dirimu, aku tak akan melewati kesempatan emas untuk selalu dekat dengan Triis. Apalagi soal di kasur. Kau tak bisa mendapat pria sepertinya."


Luna tak menghiraukan wanita rendah yang kini dihadapannya itu. Baginya statusnya kini telah berubah tak seperti wanita miskin lima tahun silam. Ia sadar semakin tinggi popularitasnya, semakin tinggi pula level wanita yang berusaha menjadi musuhnya.


"Sombong sekali. Kau tidak menjawab pertanyaanku?" bisik Lidia marah. Luna pun menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Apa kamu akan gila, ketika Triis nanti akan mengabaikanmu. Juga suamimu nanti."


Luna tersenyum dan pergi meninggalkan Lidia seorang diri. Terlihat Triis dari jauh dengan Ebon melangkah mendekati dan berusaha menghampirinya di mana keberadaan Luna.


Sebuah angin besar menyapu dan membuat wajah Luna tersambar angin.


Tapi Triis menangkap bahu Luna, mengesampingkan dan membenarkan rambut Luna kala itu. Triis tersenyum ketika Luna menatapnya, sungguh perlakuan aksi tadi membuat Luna teringat Erland beberapa tahun silam.


Sementara tak jauh Lidia memicik sebal akan tingkah Triis yang membuatnya cemburu. Pasalnya Triis tak pernah bersikap manis seperti tadi padanya.


Luna tersadar lalu ia masuk meninggalkan Triis yang berada di depan pintu. Terlihat Luna telah memakai baju kebesaran rumah sakit dengan plaster masker dan penutup rambut. Lalu ia mendekati kedua anaknya. Triis pun menoleh kearah Lidia dan kembali menghiraukan.


Sementara Ebon berjaga di depan pintu agar tak boleh ada yang masuk siapapun selain dirinya dan Luna.


"Minggir kamu. Aku akan masuk menjenguk kedua anak Triis. Minggir Kacung!" titah Lidia.

__ADS_1


"Maaf. Sebaiknya anda pergi sebelum kekerasan yang saya lakukan!" balas Ebon.


***


"Sayang Bunda. Kapan kamu siuman nak, sudah dari kemarin malam hingga menjelang sore. Tapi kamu masih saja membuat cemas Bunda. Kamu tau nak, setelah keadaan membaik kita akan pergi jauh dari kota ini. Bunda akan pergi membawa kalian dekat dengan dimana usaha bunda serta pendidikan Bunda di mulai. Bunda akan lakukan apapun itu demi kalian. Bunda mohon sadar sayang!"


Triis yang mendengar pembicaraan Luna. Ia terkejut dan berfikir, "Apa yang kamu rencanakan Luna. Apa kau berusaha menjauhkan aku dari kedua anakku?" Triis yang mendekati Luna.


"Kau akan merencanakan apa di belakangku Luna?"


"Aku hanya melakukan apa yang aku bisa untuk kedua anakku Triis. Mulai saat ini berhentilah mengurusi kehidupanku dan kedua anakku. Jika kau ingin menjenguknya aku tak akan mencampuri urusanmu!"


Triis mengepal tangannya. Ia berusaha untuk menahan, bagaimanapun ia berusaha membuat Luna kembali karena kedua anaknya. Juga karena usahanya untuk mengurus direktur dalam perusahaan.


Karena kini sang adiklah yang berada diposisi teratas. Membawa Luna kembali akan memudahkan dan membuat hidup kembali sempurna dan kesempatan emas ketika bertemu kembali dengan Luna.


'Luna, ketika kau kembali masuk. Aku akan membalas perlakuanmu diatas ranjang. Aku tidak tahan melihat sikap dinginmu seperti ini!' batin Triis.


Tliiith... Tliiith. Suara detak jantung dalam monitor terpampang.


Luna kembali tersenyum dan menyapu air matanya. Perlahan ia menatap Rein yang membuka mata, di ikuti oleh Reina yang ikut juga. Membuat debaran jantung Luna bahagia.


Ya. Seorang ibu akan bahagia menatap belahan jiwa anaknya yang sadar dari koma. Hal itu disadari oleh Triis dan berusaha mendekati tatapan kedua anaknya itu. Tapi Luna menciumi jemari Rein dan Reina akan rasa syukurnya.


"Terimakasih sayang. Kamu sudah bangun dan apa yang kamu rasakan sekarang. dimana yang sakit nak?" tanya Luna.


"Bun-da. Rein baik baik saja kok." ucap putra Luna dengan suara yang rendah dan terpatah kala itu.


"Bun-da. Reina juga, tapi apa punya papa selalu disamping kita seperti ini. Reina pasti bahagia. Apa bunda bisa bersama sama dengan Papa seperti saat ini?"


Luna menciumi jemari Reina kala itu. Namun ia menatap Triis yang tersenyum menang. Seolah ia telah masuk dalam babak kemenangan akan kedua anaknya yang mendukungnya.


"Kamu sembuh dulu ya sayang. Papa Triis pasti akan selalu bersama dengan kita. Ia akan selalu menjenguk kalian dimanapun, kapanpun!"


Tak berselang lama seorang dokter masuk. Ia meminta Luna dan Triis melengkapi berkas dan menandatangani segala hal untuk mereservasi ruangan vvip di penang. Mengingat kondisi pasein yang full dan keuangan lah yang di nomorsatukan. Mengingat Luna harus memasuki rumah sakit swasta. Karena jalan satu satunya penanganan rumah sakit itu cepat dan baik.


"Apa yang harus aku lakukan. Lagi lagi wanita kacau itu masuk ikut campur. Sebegitukan ia menginginkan mantan suamiku?" batin Luna.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2