
Tak lama Luna terdiam mematung saat pria yang datang adalah seseorang yang ia kenal. Setelan dan punggung itu sama seperti kekasihnya dahulu.
"Mas, Euum.. maksud saya. Dokter El?"
"Terimakasih sudah menunggu. Owh apa kamu mengenal saya?" Dokter itu berpura tak mengenali Luna.
"Aaakh! tidak mungkin mirip. Anda seperti orang yang mengobati saya. Juga pernah memberikan saya Elang." Luna masih menggendong Elang.
Miiiooow... Miiiooow.
Haaachiim.. Haaaachim.
Pandangan Luna kabur, ia lemas dan seketika Elang melompat ke arah Dokter El dengan kilat.
"Luna, lo kenapa?"
Dokter El terperanjat. Ketika Luna akan terjatuh dan Bruuugh! tepat ia menyangga dengan cepat. Sehingga Luna tidak jatuh mengenai aspal jalan. Membuat Seina, sahabat baik Luna terkejut menohok.
"Anjaay.. gw yang mau gebetin. Luna yang dapet huhuuuu." batin Sein. Sein menatap Luna di gendong seorang pria.
***
Kalian bodoh sekali. Dalam seminggu kalian harus menemukannya. Jika tidak kalian di pecat!
Mama Maya dan Papa Steva, Tak menyangka jika saat itu Luna bukan ke Apartment untuk menyiapkan sesuatu hidangan wah kepulangan Triis.
"Maafkan mama. Harusnya mama peka dan mengantarnya Triis."
"Papa juga minta maaf, karena lalai menjaga istrimu. Kasian dia benar hamil, bagaimana nasib cucu kita?"
"Sudahlah Pah. Urusan Luna aku sudah mengerahkan orang untuk mencarinya!"
Ebon memberikan satu tiket, bus arah Yogya. Tapi ia tak bisa tau tujuan berikutnya dan hilang jejak.
"Maaf Tuan. Hanya sampai halte kami mengetahuinya!"
"Bodoh. Cepat kau cari ke seluruh dunia kau harus tapaki, Jangan kembali sebelum kau menemukan kepastian!"
Ebon menatap kedua orangtua Triis. Lalu ia berpamitan. Meski dalam batinnya ia kesal, Apa satu Yogya ia akan menapaki dan menggedor gedor satu pintu ke pintu rumah.
"Huuuft. Sungguh ini adalah tugas yang berat." lirihnya.
***
Rumah Baru Luna :
"Bagaimana perasaan anda sekarang Lun?"
Luna terdiam kaku, ia menatap Dokter El yang membuka wajah plastik di bagian pipi agar tak di kenali.
"Erland. Mengapa kamu disini. Jadi saat di villa?"
Erland menceritakan mengapa ia menjadi dokter. Sebuah gelarnya di tebas oleh seseorang. Sehingga ia harus berganti profesi dan memakai pipi plastik untuk tak mudah di kenali dan mendapat tes serta surat izin praktek. Terlebih saat keluar rumah.
Seina yang disampingnya ikut mendengar dan terkejut.
"Waah.. daebak. Suami lo itu apa Luna. Kenapa bisa nebas orang dengan mudah ssseeeert. Sssert gitu?" menunjuk tangan bagai kipas.
Luna terdiam, ia menceritakan mengapa ia bisa menikah dengan Pria saiko.
Ia menyadari awalnya ingin bertahan demi nona bintang yang penuh jasa padanya. Tapi perlakuannya semakin liar, apalagi saat aku tau sedang mengandung. Aku ga mau dia ngelukai anak ini. Karena aku tau dia cuma butuh kepuasaan bukan keturunan.
Uuuuuuppph. Sein menyemburkan minuman. Erland merasa sedih, karena ia meninggalkan kekasihnya semakin merana hidupnya. Terlebih ia meninggalkan begitu saja keluarganya demi mengejar Luna.
__ADS_1
"Luna, kamu harus menjauh dari Elang Ya. Aku akan membuat resep anti alergi. Biar sementara waktu Elang sama aku."
"Makasih Er." tutur Luna.
"Owh ya. Satu lagi, kalau ada apa apa. Kamu pencet tombol kuning di sana, itu terhubung dengan rumah sebelah yang aku tinggali!"
Sein mengangguk. Luna pun tersenyum hangat. Ada kerinduan yang menyelimuti. Tapi hatinya telah terkunci oleh Triis.
"Nak, apa papamu masih sama. Melakukan hal gila bersama wanita lain tanpa bunda?"
Luna mengusap perutnya yang rata. Karena
dengan menjauh ia rindu pada Triis. Tapi ia berusaha untuk menghilangkan rasa cinta itu agar semakin tak dalam.
~ **Lima Tahun Kemudian** ~
Luna dan Sein berhasil merintis Coffe Eatry. meski memiliki lima karyawan diawal, kini sudah bertambah dua puluh orang. Mereka bahagia karena bisa berhasil. Bali terbilang cocok untuk kuliner makanan selain pemandangan yang luar biasa.
Tak sedikit para bule yang selalu memesan dan membooking untuk pesta dan acara keluarga penting. Saat itu Luna memang mengelabui sebuah tiket bus dan berhasil ke Bali dengan nama oranglain. Alhasil Triis tidak mudah menemukannya.
Coffe LUSE.
Terlihat jelas nama gerai mereka dengan dua pemilik, yaitu Luna dan Sein dengan dua gambar dua perempuan dan dua balita kecil ditengah menjadi daya tarik.
"Owh ya biar aku aja yang jemput si handsome Rian dan Riana oke?"
Ya thanks ya Sein! Nama pangeran Luna adalah Rian de Luna dan Riana de Luna. Yang artinya hanya anak dari Luna. Ia sengaja tak memakai nama dari keluarga Triis. Karena ia masih malu dan tak menginginkan bertatap pada Triis.
"Miss, Nona.. hei gimana?" Luna terdiam dan sadar.
"Ya, ada apa ya. Maaf saya tidak konsen. Biar karyawan saya akan melayani anda!"
Luna memanggil seseorang, tapi tangannya ditepis.
Seorang pria asing membuat onar dan mengganggu Luna, ia mencoba melepas dari genggaman pria bule nakal itu, tapi nahas entah apa yang terjadi membuatnya kesal.
"Nyonya bos gak apa, maaf kami lupa. Bawa security pak Curen dia cuti sakit."
"Ya tak apa, jika boleh carikan satu security untuk pengamanan ya. Cafe kita membutuhkan itu!"
Baik nyonya bos!
Luna menarik nafas, ia tak lupa menatap jam.
"Kalian jaga gerai dengan baik ya!" titah Luna.
Luna ingin berjalan sebentar menghirup udara pantai. Tiba saja ia menatap satu kapal turun ditengah tengah, membuat para wanita berbikini bersorak.
"Maaf, di sana ramai sekali ada apa ya?" tanya Luna.
"Ooowh. Di sana adalah pemilik resort Nona. baru saja membeli pantai disebelah sana, sepertinya untuk mansion pribadi keluarganya kelak."
Mansion, tempat tinggal. Baru kali ini pantai bisa dibeli, apa samudra dan gunung juga bisa di beli? lirih Luna. Menyelingkup kedua tangannya.
Tak lama, Sein dan kedua anak luna mendekati dan memeluk cium sang anak.
"Thanks ya Aunty best seller, udah jemput Rian, Riana."
"Iya dong, Aunty kan langka. Jadi seneng jemput kamu tuh handsome banget."
"Na, ada apa sih disana?" tanya Sein.
Luna menggeleng kepala, entahlah seseorang membeli pantai untuk tempat tinggal kayaknya. Udah yuuks Cabut!
"Apa, haaaa yang benar aja Na, serius?"
__ADS_1
"Heuuump! mungkin cucu atau generasi putri duyung. Kaya raya banget ya?" Luna dan Sein tertawa membayangkan, sementara Rian dan Riana terdiam menatap seseorang yang membuatnya tak berkedip.
Luna menatap sang anak, ia jongkok mengimbangi sang anak.
"Handsome, Cantik. kamu liat apa sih?"
Luna menoleh dan menatap pria yang turun dari kapal heli, dengan setelan jas mahal dan rompi. Pria itu membuka kacamatanya dan di selipkan di saku jasnya. Dia berjalan dan melingkar tangan sehingga rompi jas nya tersapu angin.
"Na, dia kok mirip?"
"Sein dia pasti ga ngenalin kamu kan?" Luna dan Sein bertatap muka.
Tak membutuhkan lama, Mereka segera berjalan berusaha menghindar. Rian, Riana yang tak ingin beranjak merasa sulit, Luna pun dengan kilat menggendongnya.
"Bunda, aku mau disana. Turunkan aku!"
"Tidak sayang, lain kali aja. Anginnya ga bagus untuk kamu nak."
"Ya, benar sayang. Percaya sama Aunty kali ini Ya!" tambah Sein melangkah cepat ikut menggendong, tapi bocah itu melirik pria dewasa turun dari Helikopter.
Sesampai di cafe, Luna mengambil tas dan pamit lebih dulu untuk pulang membawa kedua anaknya. Bagai kucing kucingan, kini sudah lama ia melupakan, mengapa ia bertemu kembali.
Kedua anaknya ga boleh tau dia adalah Ayahnya. Benak Luna yang kumat kamit.
***
"Ebon lakukan tugasmu!"
Sementara wanita berbikini bersorak, sorot mata tajam Triis terarah pada cafe LUSE.
"Apa ada hal yang tak bisa aku lakukan, cafe itu menghalangi View untuk mansion yang akan kita buat bukan?"
"Maksud Tuan, kita harus menyuruh pemiliknya pindah?" tanya Ebon. Lalu Triis mendeheum dan menaikan alis tanda Ya.
Suara langkah pantopel mengiringi dering menakutkan, karyawan lain, juga Sein menatap tak percaya. Baru kali ini tamu datang memesan coffe dengan tampilan wah.
"Aduh bu, ini sih namanya Sultan yang beli. bukan raja lagi ya?"
Sari adalah kasir, berbicara pada Bos Sein.
"Kalian layani ya, tiba aja kepala bu bos pusing nih, mau pulang. Kalau udah sepi kabarin!"
Sein segera mengambil tas, dan keluar dari pintu belakang dengan topi hitam dan kacamata hitam. Dia takut Triis melihat dan menanyakan Luna kelak jika bertemu. Meski begitu ia pernah satu kali bertemu, hanya saja ia takut saat itu. Apa pengawalnya akan mengingatnya.
"Idiih bu bos, bukannya seneng malah kabur. kali aja ada jodohnya ibu disana." celetug Sari tapi di hiraukan.
***
Di Rumah.
"Kamu udah pulang Sein tumben?" tanya Luna.
Sein duduk di sofa dengan memijit kening, kamu tau ga Na, masalah mulai. Haaah aku seperti menyembunyikan istri orang saja, selama lamanya kita bersembunyi. Selama itu pula perang cinta dimulai lagi.
Triis dan kurcaci hitam datang ke cafe. Full satu lantai di booking!"
Serius, Haah ya ampun. Maaf ya buat kamu pusing, dan bakal terlibat. Aku yakin dia hanya sekali untuk berkunjung dan tak bertemu kamu kan dicafe kan?!
"Aku harap begitu, sudahlah kamu temani kedua anakmu di kamar. Aku juga mau istirahat hari ini lelah." balas Sein.
Sein menguap, mengulat dan memejamkan mata bersandar di sofa.
...Sementara Di Cafe LUSE....
"Apa dua pemilik, jadi bos kalian dua cewe. Jadi yang bener yang mana nih nomornya?"
__ADS_1
tanya Ebon.
Tbc.