HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
BERTEMU MANTAN


__ADS_3

"Sayang, bagaimana. Ada apa selama itu?" tanya Erico, dibalik punggung Luna.


"Lovely, tak apa. Aku tadi hanya ada, sedikit kesalahpahaman tentang peragaaan saja. Aku hanya satu sesi tapi dalam perjanjian dua sesi. Semua itu sudah beres, jangan risau!" Keiy menjelaskan.


Tala terdiam, begitupun Luna. Ia merasa bersalah dan melihat sisi Keiy yang benar mandiri.


"Semakin lama aku mengenal Keiy, pantas saja dia dicintai begitu dalam oleh.." lirih Luna.


"Yes. oleh pria tampan menyejukan. Erico seorang ia kan. Kamu baru mengenal seujung jari. Tapi eeikeeeu nih ya, udah Lama sangat. Mungkin saat kamu masih kencur baru dilahirin hihiii." gerutu asisten Keiy yang menggelikan.


Tala cengingisan, meski hatinya kacau ia harus di rumahkan selama satu minggu. Tapi ia gemas akan siapa yang tega berbuat jahat pada Nona Keiy kala itu.


"Awas aja, kalau ketauan siapa yang berani. Habis ku cincang dia jadi makanan sapi." ketus Tala.


Ia pergi dan meninggalkan Luna kala itu. Luna menatap punggung asisten yang baik, berjalan lenggok lenggok itu merasa kasihan. Ia kasihan karena melibatkannya dan ia dituduhnya.


***


Di Rumah.


"Mas, Kamu udah keterlaluan tadi sama Keiy. Gaunnya kamu benar hancurkan. Diamond yang wah itu benar kamu ambil?"


"Mas, kamu memanggilku Mas. Luna sejak kapan?" Triis menoleh, tertawa lucu menaikan alis.


"Aku istrimu. Meski sementara, tapi aku ingin memanggil yang pantas dan menghargaimu sebagai suamiku. Meski kita tak lama lagi akan berakhir."


Triis menaikan alis, ia tersenyum dan membiarkan ocehan Luna berkicau. Dan memegang telinganya dengan telunjuknya, ia tak menghiraukan perkataan luna saat itu.


"Luna, kau bisa diam tidak. Aku minta kamu untuk melakukan hal yang aku inginkan. Jika tidak..."


"Jika tidak apa, aku akan terima perlakuanmu yang semaumu. Perlakuan kebiasaanmu, aku tahan dengan hinaan mu Mas. Karena aku.."


Triis menoleh, mendekat tubuh Luna. Aku apa... Apa yang kamu ingin katakan Luna?


"Karena aku istri sementara mu Mas." balas Luna.


Ia tak melupakan perkataan suaminya untuk tidak jatuh cinta padanya. Tapi ia juga merasa sakit saat orang yang baik padanya di perlakukan tak baik.

__ADS_1


Tingnong. Perdebatan mereka terhenti saat bunyi bel tiba.


"Luna, bukakan pintunya cepat!" titah Triis.


Luna pun membukakannya, ia terkejut dan menatap seorang wanita yang datang. Ia lalu menatap pakaian wanita itu tak layak untuk di tiru dan menatap wanita itu seperti liar.


"Kau, pembantunya ya. Boleh aku masuk?"


Triis menyambutnya. ia pun berkata agar Luna pergi membelikan sesuatu makanan enak selama satu jam. Luna pun segera pergi keluar dan bergegas. Sebenarnya ingin menanyakan siapa wanita tadi, tapi melihat aksi Triis. Ia tak berani dan takut untuk bertanya.


Empat puluh menit kemudian. Luna yang membawakan makanan seafood dan minuman jus segar. Segera masuk dengan id cardnya. Sementara kantongnya terisi penuh di kedua tangannya. Sehingga ia sedikit kesulitan untuk masuk.


Perlahan saat menutup pintu kembali, ia terperanjak melihat seisi ruangan yang telah berantakan. Menatap pakaian wanita yang di kenakan saat pertama kalinya, pakaian itu telah bercecar di lantai.


"Mas Triis... Apa dia bertamu bukan untuk masalah project?"


Luna mengintip dan mencari suara yang tak asing. Sungguh sakit menyayat hatinya saat tau di balik celah pintu. Triis sedang mencumbu dan bermain dengan ganas bersama seorang wanita secara terang terangan. Ia menarik nafas, ada rasa kesal. Ada rasa ingin berontak ia menatap wanita liar itu bermain di kasur bersama suaminya kini.


"Aaaaakh.. Aaaaaakh. Baby aku akan segera.!"


Huuuuaaah.... Oooowh. suara erangan dan ******* yang amat keras di telinga Luna kala itu. Luna sakit karena suaminya tidur bersama wanita Lain ditempat ia tidur setiap malam. Tapi ia tau diri akan siapa dirinya.


"Ada yang saya bisa bantu. Nona Luna, anda kenapa?" tanya Ebon, di pintu luar bertemu.


Ebon yang ingin memberikan berkas terkejut. Ia lalu mencoba menghentikan Luna agar memberitaunya. Bahkan sekedar mengantar.


"Tidak perlu. Kamu urus saja urusanmu dengan Tuanmu Ebon!"


"Apa yang merasukinya. Kenapa pedas ketus seperti itu?"


Ebon mencoba masuk. Tapi ia kembali keluar ketika menatap Tuannya tak mengenakan pakaian, dan di ikuti seorang wanita dengan handuk mini. Lalu ia menunggu dibalik pintu. Jelas paham mengapa Luna seperti habis menangis dan kesal saat berpapasan.


"Nona Luna. Kamu sungguh malang, akankah kamu bertahan menghadapi Tuan Triis." Lirih Ebon.


Luna berteriak. Ia kesal akan takdir yang mempermainkannya. Kesal mengapa hatinya terkunci sosok pria terkutuk yang pernah di ciptakan.


"Jika dia pria terkutuk, aku wanita terbodoh. Heuuh.. aku sangat lucu bukan. Sudah jelas suamiku seperti itu, sudah jelas ia tak menganggapku. Aku masih ingin bertahan?"

__ADS_1


Luna berjongkok dan membungkuk. Menutupi wajahnya dengan lutut dan kedua tangannya yang menyelingkap. Tak lama sebuah sapu tangan tiba saja mendekat dengan sebuah tangan berkulit maskulin.


Luna terperanjat dan menatap pria yang datang. Luna langsung berdiri dan menjauhkan tubuhnya karena terkejut.


"Aku mencarimu. Kenapa kamu duduk menangis di sini. Menangisi aku yang belum kembali ya?"


"Erland. Kamu kapan tiba di indonesia. Aku tadi, hanya lelah saja."


Erland tersenyum, ia tau jika Luna saat bersedih. Ia akan datang untuk menangis, berteriak, di depan lautan tempat favorite nya.


"Kamu masih sama seperti dulu ya. Luna kamu ga akan bisa mengelak dari aku. Aku kenal kamu, aku frustasi saat kerumahmu ketika tiba di indonesia. Tapi aku ga sangka kita bertemu di tempat ini."


"Cukup Erland. Jangan di teruskan. Aku akan pulang, dan aku harap kamu tidak perlu mencariku lagi!"


Luna bergegas pergi, ia menjauh dari Erland. Bagaimana tidak, jika ia dekat akan menjadi masalah bagi orangtua Erland.


Mereka yang terang terangan memberikan cek untuk memutuskan hubungannya kala itu. Ya merobek cek itu dan membiarkan Erland pergi akan misi menjadi pengacara terkenal di negri sebrang dan tak boleh menjalin hubungan kembali.


"Luna tunggu. Setidaknya jelaskan apa yang terjadi saat aku tiada. Apa ibuku masih menyulitkanmu?"


Erland menarik tangan Luna. Ia menatap wanita yang ia cintai itu menangis sejadi jadinya. Luna duduk tersungkur akan nasib dan penghinaan dari orang kaya yang membuatnya jijik. Terlebih ia harus menikah dengan orang sombong sepeti Triis.


Kebaikan Keiy, ia membantu banyak dan semua akibat sang kakak yang berulah melibatkannya hingga kini masuk lebih jauh.


"Pergilah Erland. Aku hanya wanita bodoh. Wanita miskin yang ga patut kamu cintai!"


Tidaak! bagiku kamu wanitaku. Aku sudah kembali dan berhasil mengejar impian. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian mulai detik ini!!


Jangan mengusirku Luna. Aku akan melindungimu. bisik Erland.


"Stop.. Apa yang kamu lakukan Luna!"


Seseorang menarik Luna, sehingga Erland pun terjatuh dan terkejut ketika mendekap tubuh Luna.


Plaaaagh. Sebuah tamparan keras.


Tbc.

__ADS_1


Yuuks, terus ikutin kisah triis. Apa yang terjadi sama Luna ya? Next episode.


__ADS_2