
Genta masih hilir mudik di kamarnya sendiri dengan sangat gelisah. Dia menunggu Anya datang ke kamarnya tapi wanita itu tidak kunjung tiba.“Ngapain kamu lama banget Anya?” Genta menggerutu. Hingga hampir tengah malam, Genta masih menunggu Anya di dalam kamarnya. Tadi, setelah makan malam Genta segera masuk ke dalam kamarnya. Berharap jika Anya segera menyusulnya karena ia ingin memberikan sesuatu pada perempuan tersebut.
Walaupun lama di luar negeri, sedikit pun Genta tidak melupakan Anya. Tubuh gadis itu benar-benar membuatnya pusing bukan kepayang. Berapa kalipun Genta mengganti perempuan. Tetap tidak akan sama. Genta melirik oleh-oleh di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Tanganya meraih benda tersebut lalu membukanya. Genta berakhir dengan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri. “Sial! Untuk apa juga aku membelikan perempuan itu barang seperti ini? Sungguh, barang itu pasti tidak akan cocok di kenakan oleh Anya.”
Genta kembali menutupnya, menaruh barang tersebut di tempat semula. Ia lalu melirik ke arah jam di tanganya dan berakhir menghela napas panjang.“Apa kamu tidak akan datang Anya?” Genta terpasak bangkit, mau tidak mau ia harus menyeret Anya untuk masuk ke dalam kamarnya, ia tidak peduli jika akan ada orang di dalam rumah ini yang tahu tentang hubungan mereka, nyatanya, Genta sudah sangat merindukan perempuan tersebut.
Aroma yang keluar dari kulit Anya sangat nikmat. Membuat Genta sulit untuk melupakannya. Leher jenjang Anya selalu terbayang di pikiran Genta. Bahkan Genta sempat membandingkannya dengan wanita yang ia tiduri. Ya, Genta merindukan tubuhnya....
Genta turun dari kamarnya yang berada di lantai 2 , Genta segera menuju ke arah dapur.
Rupanya, di dapur sudah sepi, tak ada lagi aktivitas di sana. Genta menuju ke ruang tengah, di mana di sana terdapat orang tuanya, mereka masih saling menikmati moment walaupun sudah larut malam. Ya...romantisme Tuan dan Nyonya Wira tidak di ragukan lagi.“Pa, kok sudah sepi?” Genta mencoba mencari tahu tapi tidak ingin terlalu mencolok.
“Hey anak tampanku, kemarilah. Temani papa dan mama bercerita.” ajak Tuan Wira pada putra pertamanya yang kini sudah terlihat sangat dewasa. Mau tidak mau Genta duduk di sebelah Tuan Wira.
“Yang lain kemana?” Tanya Genta kemudian.
“Adik kamu sudah tidur, tinggal kami berdua di sini.” Genta tersenyum kecut, bukan itu yang ingin di ketahui oleh Genta. Ia hanya ingin bertanya, dimana Anya? Genta tidak bisa membohongi tubuhnya yang menginginkan Anya. Ya...membawa wanita itu ke tempat tidurnya.
“Maksud Genta, para pengurus rumah. kok sudah sepi.” Genta bertanya sedatar mungkin agar tidak terlihat mencolok dan biasa saja.
“Sudah pada istirahat mungkin, besokkan bangun pagi. Kenapa? kamu ingin di buatkan sesuatu?” tanya Nyonya Wira pada anaknya. Genta menggeleng dengan malas. Sungguh, ia hanya ingin tahu di mana keberadaan Anya.
__ADS_1
“Sayang sekali Anya sudah tidur, kalau masih bangun, mungkin dia sudah nyiapin cemilan malam untuk kita.” Genta seketika menatap sang ayah. “Tidur?” Ah iya,bukankah tadi siang Bulan sempat bilang jika Anya masih tinggal di rumah ini? Siaal! berani-beraninya wanita itu menolak ajakannya dan tak menghiraukan perintahnya.
“Ya, Anya tidur di kamar ibunya.” Genta menurunkan bahunya sembari menghela napas panjang. Nyonya Wira mentap ke arah Genta, sepertinya Genta kecewa dengan jawabannya. Tapi apa yang membuatnya kecewa. “Kamu kenapa? ada yang mengganggu pikiranmu?” Nyonya Wira bertanya lagi.
“Enggak Ma, tadi cuman mau ngasih oleh-oleh saja. kan kami lama tidak bertemu, setidaknya ngobrol-ngobrol akan membuat nyaman.” Nyonya Wira mengangkat sebelah alisnya.
“Anya maksud kamu? kamu membelikan sesuatu untuk dia?” Genta sedikit salah tingkah dengan pertanyaan mamanya, tapi ia mencoba mengendalikan dirinya.“ Ya, aku kan kenal dia sejak kecil. Dan aku tahu dari Bulan kalau dia masih bekerja di rumah kita, jadi aku belikan dia sesuatu, Ma.”
Nyonya Wira menganggukan kepalanya seakan mengerti apa yang di ucapakan putranya tersebut.“Ya, Mama ngerti. kamu bisa ngasih barangnya besok, atau ketuk saja kamarnya.” Genta menatap Mamanya dengan semangat. “Apa boleh Ma?” tanya Ganta kembali.
“Ya, tentu saja. kalian sudah kenal sangat lama. Tapi jangan lama-lama, jangan sampai ada yang merasa iri hati nanti dengan kedekatan kalian.” ucap Nyonya Wira memperingatkan Genta.
Genta berdiri seketika.“Terima kasih Ma, izinya.” dengan semangat Genta meninggalkan mamanya. Tapi pertanyaan Mamanya menghentikan langkah kaki Genta seketika.“Kamu, beneran gak ada apa-apa sama dia, kan?”
“Mama nggak pernah membedakan orang dari statusnya. Mama hanya nggak mau kalau kamu menaruh hati dengan perempuan yang sudah menjadi tunangan orang. Pria itu sangat baik dan dia menerima Anya apa adanya walupun umur Anya belum menginjak dua puluh tahun.”
Tubu Genta kaku seketika. “Tunangan? Maksudnya?” Genta mencoba bertanya ulang karena dia sempat berpikir salah dengar. Genta tidak ingin salah paham di sini.
“Anya sudah punya tunangan, jadi lebih baik kamu jangan terlalu dekat dengannya.” Mendengat itu Genta hanya bisa mematung.
Tunangan? Bagaimana mungkin perempuan itu memiliki tunangan? Genta menggertakan giginya, apa mungkin ini terjadi? Apa aku yerlalu percaya diri? Begitu banyak pertanyaan di kepala Genta.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama, Genta menatap kamar di ujung bagian di rumah ini. Ia ingin mengetuk pintu kamr itu, tapi apa yang di katakan Mamanya seolah menghantui. Anya sudah memiliki tunangan, dan mungkin perempuan itu sudah bahagia dengan tunangannya. Tapi jujur saja, Genta tidak suka menerima kenyataan tersebut.
Genta menghela napas panjang sebelum kemudian ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar. Persetan dengan status Anya, persetan dengan perempuan itu yang mungkin saja sudah bahagia dengan kekasihnya. Nyatanya, ia adalah lelaki pertama dari perempuan tersebut dan ia kembali karena ingin menagih haknya.
Genta mengetuk pintu di hadapannya berkali-kali, tapi si pemilik pintu tak kunjung membukanya. Akhirnya Genta mengetuknya lebih keras lagi, dan tak berapa lama, pintu di buka dari dalam mendapati Anya yang sudah berdiri di balik pintu dengan wajah terkejutnya.
“Ka,kamu...” Anya tak dapat melanjutkan kalimatnya saat tubuhnya sudah di dorong masuk ke dalam oleh Genta. Dengan segera Genta menutup pintu di belakangnya kemudian mengimpit tubuh Anya di antara dinding.“Apa yang kamu lakukan?”
“Jadi, kamu berani menolak permintaanku? Berani membantahku, Anya? Anya tidak menjawab, ia memilih menolehkan kepalanya ke samping ketika Genta menatapnya dengan tatapan membaranya. Jemari Genta meraih dagu Anya, menolehkan wajah Anya dengan paksa ke arahnya. Lalu jemari itu menelusuri sepanjang gari pipi Anya dengan gerakan menggoda. Hingga yang bisa Anya lakukan hanya memejamkan matanya sembari menahan napasnya karena kedekatan antara ia dengan Genta.
“Kamu masih seindah seperti dulu, Anya. Dan aku sangat menyukainya .” Lalu tanpa banyak bicara lagi, Genta segera menyambar bibir ranum Anya, bibir yang selalu membayanginya selama empat tahun terakhir. Oh, rasanya masih sama, bahkan Genta merasakan jika bibir tersebut lebih padat dan berisi berisi dari sebelumnya. Anya yang dulu masih sama, tapi sedikit berubah dan perubahan tersebut membuat Genta semakin menginginkan wanita tersebut.
Jari-jemari Genta semakin nakal, ia bermain di antara paha Anya. Anya memejamkan matanya lebih lekat. Dia benar-benar tidak ingin melihat Genta saat ini. Bila dia berteriak sekarang percuma saja, karena kamar Anya berada paling jauh dan pojok dekat taman bunga. Bisa di bilang kamar ini punya akses penuh, seperti keluar dari kamar dan langsung ke halaman tanpa masuk ke rumah utama.
“Tolong jangan seperti ini!.” ucap Anya lirih.
Bersambung....
Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.
Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya*......