
"Mas rasa. Jaringan eror, sudahlah. Memang apa isi pesanmu sayang. Ceritalah!" merangkul kembali sang istri dalam pelukannya.
"Mas. Cepat mandi, jangan biarkan airnya luber menjadi dingin. Aku akan mengatakan setelah kamu selesai mandi Mas." Luna melirik menatap senyum palsu dengan khawatir.
"Baiklah. Tak masalah sayang." kecup kilat mendarat di pipi Luna.
Luna kembali melipat pakaian kotor untuk di masukan kedalam keranjang. Ia melamun dan mencoba menerka.
Lima menit. Sepuluh menit, rasa gelisah itu menyelimuti. Ia ingin sekali mencoba meraih ponsel sang suami dan melihatnya. Tapi Luna bukanlah wanita yang selalu mengintip privasi sang suami. Tak ingin melihat kenyataan pahit, maka ia urungkan untuk lebih memejamkan mata saat ini.
Meski dalam mode rebahan posisi miring, ia memeluk guling. Terdengar sang suami keluar menutup pintu kamar mandi, dan berbicara. Tapi Luna yang tak mood, kala itu ia mencoba berpura pura tidur.
"Sayang, Aaakh. Kamu sudah tidur. Baiklah mimpi indah." Triis mengecup peluk dan ikut memejamkan mata. Ia memang menatap sang istri telah terlelap, hal itu karena ia melihat sendiri sang istri telah tertutup mata dengan balutan piyama indah yang memeluk guling dalam selimut tebal.
'Maafkan aku Mas. Aku berpura pura terlelap, andai saja aku berani membuka ponselmu. Mungkin aku tak segundah seperti saat ini.' batin Luna.
Triis berusaha memejamkan mata. Nahas saat ia mencoba terlelap, seseorang mengganggu menghubunginya.
Hal itu membuat nada dering pekik lantang di samping telinganya. Ia mencoba untuk menghiraukan, membuka mata dan terlihat sang istri masih dalam mode lelah dan terlelap.
Triis meraih dan menerima panggilan itu. Terlihat Ebon sang pengawal setianya, ia mencoba memarahinya dan berlalu menjauh ke atap balkon luar kamar untuk menerima panggilan.
"Kau gila. Apa tidak ada jam lain?"
"Maaf Tuan. Tapi ini mendesak, dan anda harus segera melihatnya. Saya akan menghapusnya!"
Triis menutup ponsel. Ia segera melihat video aksi tadi siang. Ia mengigit jari, mengkrinyitkan keningnya. Lalu dengan keras ia menjatuhkan pot dan berlalu mengambil jas untuk berganti pakaian.
"Cepat kau jemput aku. Sepuluh menit!" teriaknya menatap jendela.
Triis meraih tasnya. Ia masih mengira sang istri tidur terlalu pulas, sehingga ia akan kembali di waktu sang istri belum terbangun.
"Maafkan aku sayang. Aku harus pergi." mode menatap ranjang kasur.
Luna segera membuka selimut, ia menatap punggung sang suami yang telah rapih dan berlalu pergi. Luna hanya menatap gerik sang suami dari balik balkon, lalu mencoba memegang sesak yang kembali sakit tanpa ia ketahui.
"Mas. Apa ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku mohon terbukalah!" lirih Luna.
__ADS_1
Luna kembali menutup tirai, ia kembali keluar kamar dan tidur. Di kamar kedua anaknya tak jauh dari kamarnya kala itu. Masih memikirkan apa yang terjadi sehingga sudah pukul tiga dini hari, membuat sang suami kesal dan pergi lagi, berganti pakaian.
"Apakah kamu mempunyai seseorang wanita lain Mas. Atau kamu menemui seseorang lagi. Apa seperti ini caramu memintaku kembali?" lirih Luna kecewa.
Reina sang putri yang sedang pulas. Tiba saja bangun, mengucek kedua matanya dan menatap Bunda. Hal itu karena ia ingin minum. Lalu terkejut menatap sang Bunda telah berada di sampingnya dengan memeluk salah satu tangannya. Ia bangun dan membuat sang Bunda ikut terkejut penasaran.
"Nak. Maaf, Bunda membangunkanmu ya?"
"Tidak. Reina hanya haus Bunda."
Luna dengan gercap menyalakan lampu, lalu ia memberikan segelas air untuk sang anak meneguknya. Setelah itu ia kembali merapihkan selimut dan meminta sang anak kembali tidur.
"Bunda. Apa ayah malam ini tidak pulang. Kemana Ayah?"
"Mmmmh. Reina rindu ya, tadi Ayah udah pulang. Tapi karena ada hal mendesak, harus kembali lagi. Ayo waktunya kembali tidur nak!"
Reina mengangguk. Lalu ia kembali tidur dengan membiarkan sang Bunda memeluk erat setengah tubuh mungilnya.
'Sayang. Kamu tau, detik ini Bunda akan selalu menyembunyikan hal terburuk. Menutup apapun langkah Ayah biologismu. Demi kamu. Hidup bunda kebahagiaan Bunda adalah Rein dan Reina.' batin Luna bergeming.
***
"Baik Tuan."
Triis menatap kesal, ia menatap selembar kertas di hotel itu. Ia bisa mengetahui karena sebuah coretan yang benar asli di bubuhi oleh tulisan Sean. Betapa sakit dan kesal amarahnya kala itu.
"Jika kau tak berani menikahiku. Bagaimana jika video malam panas berakhir ditangan istri dan kedua orangtuamu Triis. Cepat kau beri balasan, jika kau berubah pikiran. Aku akan mengaktifkan kembali nomorku!"
"Kau sudah berani mengancam. Andai aku bisa mengontrol, mengapa aku harus terjerat sahabat dari istriku. Aku sudah pernah melukainya, mana mungkin aku harus melukainya kembali." benak Triis.
Triis berjalan menuju tempat air mancur tak jauh dari hotel. Setelah ia menonton kebenaran, dan membuat ia merasa bodoh. Ia memikirkan cara untuk menyuruh para pengawalnya mencari Sean dan membunuhnya.
Tak lama, sebuah pesan masuk kembali dari Sean.
"Ingat, jika kau berulah. Membuat nyawaku terancam. Aku sudah mengirimnya pada seseorang yang ku percaya. Jika aku mati, kau akan tamat dan mendekam dalam penjara. Apalagi Luna dan keluargamu akan marah besar serta kecewa bukan?" ancam Sean.
Triis membanting ponselnya. Ia meminta Ebon agar memberi nomor baru dengan ponselnya. Ia kesal ketika wanita yang pernah ia aja senang senang mempunyai ide gila. Jika aku bicara pada Luna tentang Sean, bagaimana perasaanya.
__ADS_1
"Jika ada Dua atau Tiga wanita seperti Sean. Apa Luna akan menerimanya, cepat atau lambat ia akan tau. Bagaimana aku menjelaskannya, aku tak sengaja dan terjebak." emosi Triis.
***
PAGI HARINYA.
"Luna. Kemana Triis. Ayo panggilkan. Kita sarapan bersama!"
Luna terdiam, ia hanya menelan saliva. Baginya ia tak melihat keberadaan sang suami sejak tadi dini hari hingga kini. Ia bingung harus menjawab apa pada ibu mertuanya.
"Mah. Sepertinya Triis lelah, ia sedang mandi. Sebentar lagi pasti turun."
"Owh. Ayo cucu oma, di makan ya sayang!"
Rein dan Reina hanya mengangguk kala itu. Ia tak bisa berbuat apa - apa. Ia menyukai tempat tinggal, masakan dan kasih sayang Oma ketika sang Bunda tak ada. Membuat dirinya seperti anak briliant yang tak habis berkilau apapun yang terjadi.
Luna masih merapihkan makananan kedalam piring putih besar. Membiarkan piring sebelahnya, tempat duduk Triis kosong tanpa piring.
"Bunda. Apa Ayah tidak akan makan dan ikut bergabung?" tanya Rein.
Luna bingung, apa yang harus ia katakan. Ia berinisiatif mencari alasan, apa yang tepat untuk kedua anaknya.
"Ayah mungkin sedang sakit karena terlalu banyak duduk. Kerjaaan ayah menumpuk semalam. Bunda akan menyendok dan membawanya ya."
"Tapi Bunda?" tutur Rein melirik.
"Tak apa sayang. Seperti ini cukup, Bunda akan mengantanya sebentar. Kalian tunggu di sini dengan Oma dan Opa ya!"
"Tapi Bunda." kembali menahan Reina.
Saat itu Luna memegang kepala sang anak, ia bicara agar tak perlu khawatir.
Tak lama saat ia memangku satu tangan piring dengan isi, satu tangan dengan sebuah gelas. Ia masukan ke nampan kecil. Luna mencoba membawa makanan keatas, berharap Triis di kamar. Agar kedua anaknya tak curiga.
Saat Luna berbalik, senyum pada kedua anaknya. Tiba saja tubuhnya di topang. Hal itu membuat Luna terkejut, kenapa sudah di belakang tubuhnya.
"Mau kemana sayang?"
__ADS_1
Tbc.