
Pertemuan mereka di mulai saat Ray harus ke perusahaan milik Jenny untuk melakukan hubungan kerja. Malamnya setelah mereka saling berdiskusi, Jenny mengajak semua untuk makan malam bersama. Tidak ada yang aneh dari Jenny, hingga malam itu dia permisi untuk keluar ruang makan. Ray pun awalnya juga tidak berniat apa-apa. Sampai saat atasannya meminta Ray mengambil barang di dalam mobil. Ray yang hanya seorang bawahan pun langsung berlari ke arah parkiran padahal saat itu dia baru memakan setengah dari nasinya.
Saat mendekat pada mobil atasannya, Ray mendengar suara seorang wanita mendesah. Karena penasaran Ray pun mendekati arah sumber suara. Ray membulatkan matanya saat dia melihat Jenny sedang bercinta dengan seorang pria berseragam sekolah SMA. Jenny yang bertemu mata dengan Ray pun langsung berdiri dari duduknya. Ray yang melihat itu langsung pergi begitu saja, dia tidak menyangka seorang yang memiliki perusahaan bermain d tempat umum. Tidak mungkin dia tidak memiliki uang. Namun di sanalah semua kisah Ray dan Jenny di mulai.
**
Menjelang sore, Bulan dan Anyaa akan pulang ke rumah. Sambil jalan Anya melihat catatan yang sudah dia rangkum. Bibirnya sesekali membaca jadwal Dosen untuk besok.
Bulan yang melihat itu tersenyum simpul. Bulan tahu alasan orang tuanya membantu Anya untuk kuliah. Ya... itu semua bukan karena rasa iba, tapi lebih dari mereka sangat tidak ingin otak Anya hanya berakhir di dapur.
‘Tin...’ mobil yang membawa Anya dan Bulan masuk ke dalam pekarangan rumah. Anya melihat di dalam garasi mobil sudah ada mobil Genta terparkir di sana.
Hari yang begitu mengesalkan bagi Anya saat dia harus berhadapan dengan Genta. Apalagi Genta sekarang kuliah di satu Universitas dengannya. “Ah, lelah sekali...” ucap Anya sambil menarik napasnya panjang.
Anya masuk ke dalam kamarnya setelah meminum beberapa tegukan air sebagai pelepas dahaganya. “Ah, Anya terkejut saat dirinya membuka pintu kamar dan dirinya terdorong begitu saja oleh seseorang yang ada di belakangnya.
“Tuan Genta yang terhormat! Bisakah kamu bersikap wajar!” ucap Anya menatap Genta dengan wajah yang sudah mengeras.
“Kamu sudah pintar melawan, Anya...” Jawab Langit dengan suaranya yang datar tapi terus saja maju melangkah menggoda Anya.
Napas Anya kini sudah terengah. Dia takut ada yang melihat ini semua. ‘Drtrttt’ ponsel Anya bergetar. Anya manatap ponselnya dan melihat nama Bulan di sana. “Tolong keluar dari sini.” Pinta Anya dengan wajah memelas.
“Kenapa??” Jawab Genta yang kini terdengar agak parau.
“Jangan tanya kenapa! Aku benar-benar memohon.” Anya menyatukan kedua tangannya pada Genta,
“Aku tidak bisa sayang...” Ucap Genta yang jujur saja membuat Anya bergindik ngeri.
__ADS_1
Anya tahu Genta hanya ingin tubuhnya, Genta tidak menginginkan yang lain. Karena hal itu jugalah dia sanggup membuat pernikahan sebagai sebuah permainan.
Anya terus mendorong tubuh Genta yang kian maju kepadanya. Sedangkan telepon dari Bulan kini telah mati. “Tolong, aku lelah sekali kak!!” Ucap Anya mengiba pada Genta.
Di tempat lain ada Bulan yang tengah merutuki Anya yang tidak mengangkat teleponnya. “Kemana Anya ini?” Racau Bulan yang akhirnya bangun dari kasurnya. Dengan langkah malas Bulan berjalan ke kamar Anyaa sambil memegang apel di tangan kanannya. “Anya... aku pinjam catatan!” teriak Bulan dari luar kamar.
Genta yang mendengarkan panggilan Anya tersenyum simpul. “Apa ini waktunya?” Tanya Genta yang semakin mendekatkan diri pada Anya.
“Sembunyi...” pinta Anya pada Genta. Genta yang mendengar permohonan Anya menggelengkan kepalanya.
“Aku enggak mau sembunyi. Kita di dalam saja sayang, jangan berisik!” ucap Genta yang kemudian menggigit kecil telinga Anya.
“Argh!” Anya mendesah kecil saat Genta dengan intensnya mendekati tubuh Anya yang tidak bisa berontak. Anya tidak boleh berisik agar Bulan menganggapnya sudah tertidur. Entah bisa percaya atau tidak, yang jelas Anya saat ini sedang berusaha.
“Any...a” panggil manja Bulan. “Any...a! Masa kamu sudah tidur sih??” terdengar rutukan suara Bulan dari luar.
“Kamu masih sama Anya...” bisik Genta yang kemudian meremat aset berharga milik Bunga dengan gairah yang kini sudah membuat celananya mengetat.
“Any...a...” Suara Bulan masih terdengar dan membuat Anya memejamkan matanya. Genta yang melihat itu sungguh tidak ingin melewatkan kesempatannya sama sekali. Dengan senyum menyeringai Genta kini sudah menempelkan bibir basahnya pada tengkuk Anya. Tangan nakalnya sudah membuka kancing baju kemeja milik Anya.
Genta lagi-lagi tersenyum menyeringai saat melihat Anya menahan napasnya. “Jangan!!” seru Anya pelan karena dia masih belum mendengar suara Bulan yang menjauh dari pintu kamarnya.
Genta tidak peduli, dia mendekatkan pinggulnya pada Anya, menempelkan keperkasaannya. Seolah memperingatkan Anya bahwa bagian bawahnya kini sudah mengetat.
Anya yang merasakan keperkasaan Genta berdiri langsung menjauhkan diri. Tapi Genta lebih cepat dari pada Anya. Dia menangkap wanitanya itu agar mendekap dalam pelukannya. Tangan kanan Genta menahan Anya, sedangkan tangan kirinya sudah mulai membuka kancing baju Anya yang berikutnya.
Genta menundukan kepalanya dan langsung mengecup aset berharga milik Anya. “Aku minta hak suami malam ini...” Ucap Genta saat mengadahkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku bukan istrimu kak! Tolong berhenti mengatakan itu...” jawab Anya yang kemudian mendorong tubuh Genta menjauh darinya. “Kita tidak ada hubungan sama sekali, jangan melihat ini seperti kita tidak bisa di pisahkan!” seru Anya pelan.
“Anyaaaa!” teriak Bulan yang akhirnya menggedor kamar Anya dengan kesal. “Ih Anya tukang molor!!”rutuk Bukan yang berakhir pergi dari pintu kamar Anya.
Anya yang mendengar langkah kaki Bulan yang menjauh langsung mendorong tubuh Genta yang sedang asyik menyesap aset milik berharga miliknya. “Sial!!” Apa yang kamu lakukan Anya?” rutuk Genta yang kemudian mengepalkan tinjunya.
“Keluar!!” teriak Anya yang sedang memasang kancing bajunya.
”Tidak!” jawab Genta yang sudah melipat tangannya.
“Aku tidak ingin kakak seperti ini...” dengan cepat Anya mendorong tubuh Genta ke arah pintu.
“Satu lagi...” Ucap Genta pada Anya yang merujuk pada satu aset milik Anya yang belum dia sempat hisap.
“Brengsek!” Anya memukul lengan Genta.
Genta yang mendapatkan perlakuan itu tersenyum simpul.
Bersambung....
Maaf teman-teman karena lagi up nih😅
Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.
Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!
Kalau suka ceritanya, dukung terus author dengan cara like, coment, dan vote novel ini biar makin banyak pembacanya:))
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya