
"Triis menatap layar ponsel Luna. Terlihat nama Sean kala itu."
"Angkatlah. Tapi jika ia memintamu untuk datang. Aku tak mengizinkannya, ini sudah larut malam sayang!"
"Baiklah Mas. Aku akan menghubunginya di balkon."
Luna telah memencet tombol nomor Sean kala itu. Triis masih mode menguping dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sang istri.
"Nyalakan speaker. Aku ingin mendengarnya sayang!"
Luna mengangguk. Saat tersambung, nada panik Luna pada Sean sahabatnya terlihat jelas di pelupuk mata Triis.
"Sean. Ada apa selarut malam ini kamu menangis?"
"Luna. Aku butuh kamu malam ini, kekasihku jahat. Dia pergi meninggalkan aku. Aku butuh kamu di hotel malam ini. Huuuhuuuuuuu." mode tangisan palsu.
Triis menggeleng kepala. Ia hanya meratap menatap ponsel Luna yang tersambung kala itu, dasar wanita licik. Ia masih berani mengelabui istriku. Aku baru sadar istriku sangat baik dan briliat. Bahkan tak menyadari jika Sean sahabatnya mengelabui dengan perkataan dengan tangisan palsu.
"Mas. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Luna.
"Eheuuuum. Sean ini aku Triis. Aku tak mengizinkan Luna untuk pergi malam ini. Ingat jika pria mu meninggalkanmu, mungkin kamu harus merelakan. Karena dia memilih wanita terbaik!"
Tluuut... Mematikan ponsel.
"Maaass." bisik Luna pada sang suami.
Sean hanya menohok. Membelalakan kedua mata menatap ponsel, memukul layar ponsel dengan amat kesal. Bisa bisanya Triis berkata seperti itu padanya.
Perkataannya membuat ia sakit tak berdarah. Dasar pria menjijikan kau akan aku hancurkan lebih dulu Triis.
"Sean. Apa kau masih mendengarkan aku?" tanya Luna, di saat Luna mengbubungi lagi.
"Ya. Luna, bilang pada suamimu. Aku tak berniat memintamu datang semalam ini. Aku lupa kau bukanlah lajang lagi, aku pamit. Bye kita bertemu lain waktu. Aku akan menghubungimu lagi lain waktu!"
Luna terdiam menatap sang suami kala itu.
"Apa Sean marah Mas, kamu keterlaluan. Sebab ia mendengar perkataan jelas mu tadi?"
"Biarkan saja sayang. Jangan terlalu baik oke. Ayo kita istirahat, lupakan sahabat mu karena merasa bersalah!"
"Mengapa aku yang jadi bersalah Mas?" cibir Luna mengekor Triis.
***
"Bunda. Apa semalam kami tidur terlalu pulas. Sehingga Ayah. Bunda sudah tiba dan di samping kami saat bangun tidur, Rein dan Reina sangat bahagia sudah ada Bunda."
"Ya sayang. Bunda dan Ayah tak ingin membangunkan kalian. Efek obat harus cukup untuk kalian istirahat!" kecup Luna pada kedua anaknya.
"Nak, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Luna.
"Ssssssssttt. Bunda, Rein hanya ingin membuat Ayah terlihat tampan. Hanya Rein yang boleh turun dengan paling tampan!"
Luna tertawa lucu menatap aksi sang putra bertindak jahil. Ia mengikat perlahan dengan mengunci tengah pucuk rambut Triis. Mengikatnya dengan karet berwarna pink soft.
Terlihat Reina putri kecilnya ikut menjahili, menambah dengan lipstiknya. Menggores perlahan di pipi Triis.
"Bunda. Kebawah dulu ya nak. Bunda mau buat sarapan bantuin Oma. Oke!"
__ADS_1
"Oceee Bundaaaa." teriak Rein dan Reina.
"Sudah beres dik. Ayo kita tinggalkan ayah!"
"Heuuumph. Hoooooam, apa anak Ayah sudah bangun lebih dulu?"
Rein dan Reina yang baru saja berpijak tiga langkah. Kembali membalikan tubuhnya.
"Ayah ga asik. Jauh - jauh datang hanya untuk tidur. Ayah terlambat bangun."
"Maaf Nak. Kemarilah, Ayah ingin peluk. Ayah sangat mengantuk semalam."
"No. Ayah ga boleh cium peluk kami. Ayo dik kita turun. Biarkan ayah di kamar kita!"
"Nak. Kamu meninggalkan Ayah seorang diri di kamar pelangi ini sendirian?"
Rein dan Reina berlari kecil. Namun Triis mengekor sang anak yang kabur kala itu.
Tak lama, Luna menatap aksi kedua anaknya yang berlari kecil menelusuri anak tangga. Luna pun berteriak halus agar kedua anaknya berhati hati melangkah.
Tak menunggu lama kedua anak Luna telah manarik kursi, menatap dengan gemas saat itu menunggu sang Bunda menyiapkan sarapan.
"Cucu Oma. Siapkan pembersih tangan ya!" Rein dan Reina mengangguk.
"Bbbbbbbbuuuuuph. Apa Ayahmu akan bermain film Rein?" tanya Opa disampingnya.
"Itu semua ide kakak Rein Opa. Kakak memulai karena kesal pada ayah."
"Sssst... Adik. Diamlah, nanti Ayah dengar!"
Luna terkejut menatap aksi Triis yang berlalu saja menuruni anak tangga. Terlihat semua orang tertawa, termasuk Erico dan Keiy yang tiba saja tiba dan ikut bergabung.
Bagaimana tidak Lucu, aksi Triis turun menghampiri meja makan. Sebuah rambut tipis terikat oleh satu kunciran. Ditambah pewarna lipstiknya berwarna pink dan ungu pekat di area pipi.
Hahahhahaha. Semua tertawa, termasuk Rein yang bergelayut pada paman Erico. Reina tak kalah bergelayut pula dan berbisik.
"Bagaimana paman. Apa karyaku sangat bagus?" tanya Reina.
"Sangat bagus sayang. Paman menyukainya. Hahahha." semua ikut tertawa.
"Ada apa dengan kalian, mengapa tertawa seperti itu. Ada yang aneh padaku?" tanya Triis.
"Mas. Cuci muka dulu gih, Lihat karya anakmu!" kode mode silent Luna di belakang kedua anaknya menatap Triis.
Triis kembali mencibikan bibir, menyempitkan kedua matanya. Ia membalikan badan, tak jadi menarik kursi, lalu mencari ke anak tangga mencari sebuah cermin. Sementara seluruh penghuni di meja makan masih sibuk menertawainya dengan terpingkal pingkal.
"Yes. Kita berhasil dik." bisik Rein pada Reina.
***
Di Berbeda Tempat :
"Siapa orang itu. Apa dia mengikutiku?"
Sean kembali berlari kecil, tubuhnya merasa lelah karena di ikuti. Ia mencoba menerka jika pria itu bukan mengejarnya. Tapi nahas tiba saja tubuhnya dibenturkan ke arah tembok lift.
BRUUUGH.
__ADS_1
"Kau siapa?"
"Hei wanita. Kau adalah Sean bukan?"
"Ya. Anda siapa, bedebah jangan sentuh pundakku!"
"Ingat baik - baik perkataanku Nona. Anda tidak boleh menghubungi apalagi mengganggu Tuan Triis. Jika anda ingin selamat saat ini dan seterusnya. Berhentilah mengganggunya dan keluarganya!"
"Siapa kamu berani memerintah seenaknya."
Sean mencibik bibirnya, ia memukul tumit pria tinggi kekar itu. Tubuhnya meski tinggi tapi ia berhasil mengalahkannya.
"Dasar pria pesuruh. Dia pikir siapa memerintahku, kakiku juga panjang. Terlihat apik dan kuat untuk menendang pria pesuruh model seperti dia itu mudah bukan?" lirih Sean.
Hei tunggu kau wanita. Jangan kabuur!!
Sean segera berlari. Ia masih menyusuri jalan. Ia masuk menelusuri anak tangga darurat. Tubuhnya sudah lelah, karena di hadang. Keringatnya telah mengucur dari dahi. Sean melepas sepatu heelsnya. Kembali menatap jendela terlihat supir Triis berada di loby.
"Haah. Sial ternyata kamu Triis, kau menyuruh kurcacimu mengancamku. Bahkan si supir Bebon itu masih di sana."
Sean yang panik, ia membungkukan tubuhnya pada tong sampah. Menutupi kepalanya dengan tas berwarna merah muda. Ingin sekali Sean muntah kala itu, tapi ia menahannya agar tidak ketauan.
"Maaf bos. Kami kehilangan jejak."
Sean mengintip, setelah aman tak ada orang ia kembali keluar. Menepi di ujung sudut, dan memuntahkan segala yang ada di dalam perutnya.
"Triis. Jika kamu berusaha menyakitiku, dan mengabaikanku. Apalagi tak menepati janjimu padaku. Lihat nanti, kau akan menyesal." ancam Sean.
***
Di Mansion.
Triis yang memakai jas hitam terlihat gagah. Luna ikut memakaikan dasi di kerah jenjang kulit leher maskulin.
Terlihat indah, ia memang pria perfect. Semakin bertambah usia ia semakin terlihat tampan.
"Kenapa kamu senyum sayang?"
"Tidak. Aku hanya kagum melihat suamiku begitu sempurna." puji Luna.
Tak lama, kedua anak Luna mengelilinginya. Triis dengan cekat. Segera menghadang dan menggelitik Reina putri kecilnya.
"Ampuuun Ayah. Aku minta maaf, semua tadi itu ide kak Rein. Aku hanya ikut ikutan saja."
"Dik. Kenapa kamu memberitaunya?"
"Anak manis yang jahil. Terima hukuman ini dari Ayah ya!"
Luna semakin tertawa geli. Luna hanya bisa menatap senyum dari dekat, semoga kebahagiannya tak akan pernah sirna.
"Aku tau. Entah sampai kapan aku bersabar, aku takut dan masih takut. Masa lalu suamiku akan datang menjadi duri dalam rumah tanggaku." batin Luna.
Trdeeettth... Tredeeeeth. Dering ponsel Triis
"Mas kenapa. Apa ada masalah?" tanya Luna.
Tbc.
__ADS_1