HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
BERSAING HEBAT


__ADS_3

"Erland, jangan seperti ini. Aku harus jelaskan jika aku."


Diamlah, aku rindu akan dirimu Luna. Sudah berapa hari aku mencari keberadaanmu.


Jreeeng.. tiba saja. Tubuh mereka terpental dan terpisah. Seseorang memisahkan dengan paksa.


"Stop.. Apa yang kamu lakukan Luna!"


Plaaaagh...,, tamparan mendarat ke pipi Luna. Ia memegang pipinya dan wajahnya tertutup rambut kala itu.


"Mas Triis. Kamu salah paham padaku." lirih Luna menatap suaminya dibalik helaian rambut menutupi matanya.


"Apa yang kamu lakukan pada wanitaku?" tutur Erland. Dia mencoba meraih Luna. Tapi kedua bodyguard menghalanginya.


Ayo, ikut Aku. Dasar wanita ****** kau!


Erland menatap Luna. Apa hubungannya dengan pria sakit, kasar seperti itu. Erland pun mengambil ponsel, memotretnya dan menghubungi seseorang.


"Luna, tunggu aku. Aku akan melindungimu!" teriak Erland.


Triis yang mendengar, ia menoleh dan membuang ludah tepat di hadapan Luna.


Kau berani bermain dibelakangku. Dasar ******, Apa kau tak bisa kembali seperti ini, di saat kita berpisah?!


"Mas, kamu salah paham. Tadi tidak seperti yang kamu kira. Karena tadi itu."


Plaagh.. Triis kembali mendarat menampar Luna. Sakit hatinya ia ingin bicara kasar. Tapi ia telah berjanji pada Keiy untuk tetap bertahan. Namun saat perlakuan keras apa bisa di toleransi, tapi hatinya terbalik sudah mencintai.


Triis melepas tangan Luna. ia terjatuh dan menunduk menatapi ombak yang masih bergema seperti alunan music yang indah.


'Ombak itu sangat merdu, tapi tak seindah nasibku bukan?' batin Luna.


"Kau mau menyangkal apa lagi. ******?"


Bukankah sudah jelas kau pergi tanpa memberitauku. Kau tak menyangka kan, Jika gerak kemana langkahmu. Itu sudah terkendali olehku. Kau akan mencari alasan apa lagi? teriak Triis saat berbisik pada Luna.


"Mas. Aku akan menerima perlakuan apapun darimu, tapi aku tidak seperti yang kamu kira. Terlebih aku tidak mengkhianatimu apalagi seperti yang kamu lakukan secara terang terangan."


Triis menatap dengan rahang yang mengeras. Triis ingin sekali lagi menampar, tapi tangannya ditahan oleh pria di balik punggungnya. Luna pun menoleh.


"Erland, kamu tidak perlu ikut campur. Biarkan semua ini urusan pribadiku!"


"Bagus sekali, ****** bertemu tamu vvip ya?"


Triis pun menertawakan, sementara Erland meninju Triis kala itu.


Braaaagh!! itu adalah sikap liar bajinganmu. Karena menuduh seorang wanita!


Triis menyentuh bibirnya yang berdarah. Dia memperingati Pria di hadapannya itu.


"Kau adalah. Erland Sucikwo. berdarah jawa dan Eropa. Usia 32 tahun. Lebih muda enam tahun dariku. Baiklah, kau baru menerima piala sebagai Pengacara terkenal bintang Dua. Tapi kau melakukan kesalahan, lihat saja apa yang akan kelak kamu dapati setelah ini!"


Erland berkata, ia tak takut. Baginya ia akan melindungi Luna wanitanya. Kekasihnya itu, lalu ia meminta Luna untuk bergandengan padanya.


"Erland, pergilah. Karena dia adalah suamiku, aku mohon!"


Erland terdiam kaku, bibirnya terkunci rapat. Erland berkata dengan getir dan gemetar.


"Kau berbohong Luna, tidak mungkin. Kamu mengatakan ini pasti sebuah kebohongan kan?" Erland kembali bertanya.


Luna di tarik paksa, meski ia adalah istri sementara. Tapi ia tak ingin melibatkan Erland lebih jauh. Triis merasa iba kala itu, ia menepuk pipi Erland.


Prooogkh..Proogkh dan berkata.


"Tragis sekali. Ternyata jalangmu telah tidak sempurna bukan. Apa kau pura pura amnesia jika dia telah menikah?"

__ADS_1


Erland berteriak, ia terdiam kaku. Ketika Luna mengikuti pria asing yang ia kenal, terlebih beberapa pengawal yang mengekor. Dia menepi di sebuah pohon kelapa, berkali kali ia meninju dan melukai tangannya.


"Harusnya aku tak meninggalkanmu. Luna meski aku meraih apapun itu. Tapi aku tak bisa hidup tanpamu. Kembalilah Luna padaku!"


 


***


Apartement.


"Kau di hukum. Selama satu bulan tidak boleh keluar. Perintah acara apapun di luar, aku tak mengijinkan dirimu. Bersiaplah sebentar lagi akan ada yang mengantarmu!"


"Aku akan kemana. Mas .. Mas .. Mas Triis, aku butuh penjelasan darimu!"


Triis hanya merapihkan jasnya, ia pergi begitu saja meninggalkan Luna di dalam Apartment.


"Nona, ayo bergegaslah. Saya akan mengantar di mana Tuan menyuruh kami. Saya mohon jangan menolak, jika tidak kami yang akan habis oleh Tuan!"


Luna kembali berdiri, ia menyapu rasa sedih dan air mata yang begitu saja terpampang. Luna tak tega jika karena dia menolak atau kabur saat ini. Pengawal, suruhan Triis yang akan menerima pukulan dan musibah karena lalai.


"Baiklah. Tunggulah diluar. Saya akan segera bersiap!" titah Luna.


Erland menepi mencari sebuah kediaman Ayah Luna. Ingin mencari kejelasan yang sesungguhnya.


"Luna, aku tidak tau. Apa yang terjadi saat aku tak ada." lirihnya. Erland memutar kendali dengan motor besarnya, seteleha mengikuti kediaman gedung yang Luna tinggal.


Luna telah sampai di Villa. Jaraknya sangat jauh dari perdalaman dan desa. Kebun yang mirip seperti hutan. Hanya di isi oleh satu rumah yaitu Villa milik Triis.


Butuh waktu 30 kilometer untuk berjalan menuju keramaian desa. Dan butuh waktu lima jam jika sampai di kota yang ia tinggali saat bersama Triis.


"Mas, kamu bahkan mengirimku ketempat terpencil hanya untuk menyingkirkanku."


Luna tertawa, ia merutug nasibnya. Jelas ia bahagia karena ia tak akan sakit hati menatap Suaminya bermain dengan wanita lain.


Di kamar Luna mendapat pesan dari Tala. Tapi ia membalas sedang di luar kota menemui sang Ayah dan tak bisa menerima tawaran pekerjaan apapun. Ia duduk ditepi balkon kala itu.


"Non, tolong makan dulu. Dari siang makanan belum tersentuh. Jika sakit bibi yang akan kena marahnya. Bibi mohon dimakan ya Non!"


Luna terdiam pias, ia berfikir untuk apa juga ia makan. Tenaganya akan habis bukankah itu lebih baik. Aku bahkan tak menginginkan perceraian. Aku ga ingin seperti bunda dan Ayah bercerai, menyesal ketika telah tiada.


Jika seseorang berhasil menikahiku, bukankah harus bertahan apapun yang terjadi. Tapi aku juga tak bisa bertahan dengan pria yang telah membuat ku menangis dan sakit seperti ini.


Tak lama di tepi balkon Luna naik keatas jendela, ia berusaha naik ke atas genting. Dan menatap keindahan di seluruh langit juga ia mengharapkan sesuatu.


"Aku berharap, takdirku bisa lebih baik dan indah meski tak seindah bulan dan bintang yang bersinar di langit " lirih Luna.


Menjelang pagi, Matahari terbit. Menyilaukan cahaya redupnya ke arah wajah. Luna menatap sinar surya telah menyapanya.


Hari di lalui begitu saja hingga ke minggu tiba melewati masa pengasingan.


Luna merasakan seorang diri dan sepi. Ponsel yang tak mendukung akan sinyal. Bahkan sekedar menghubungi sang Ayah pun tak bisa.


Luna selalu makan tak banyak. Dia lebih banyak berpuasa dan makan hanya beberapa sendok dalam sehari. Tubuhnya mengecil dan ia pun berteman dengan Seekor kucing tanpa nama.


"Puuuush.. miooow. Terimakasih selalu menghabiskan makananku. Tapi kamu sering kesini, kita harus berteman bukan?"


"Miiiioooow..."


"Benar sekali, aku akan mencarikan nama untukmu ya. Puuuush." senyum Luna.


Luna menatap langit, melihat seekor burung yang terbang membuat berfikir sejenak.


"Elang, aku akan menamaimu itu puuush."


"Meoooow.." Seekor kucing masih memakan ikan makanan Luna. Kucing itu mengelus kaki Luna dengan tanda menyukainya.

__ADS_1


Setidaknya aku mempunyai teman. Besok akan aku buatkan rumah dan kamu tidak kedinginan, kelaparan lagi ya Elang!


Sementara Di Kantor.


Terlihat Triis tersenyum lebar, ia menyingkirkan karier Erland yang berusaha ikut campur dan meninjunya kala itu.


"Setelah ini, kau akan tau berhadapan dengan siapa?" Hahaaaaahaa. Triis tertawa puas dibalik jendela. Sementara seorang wanita sedang pulas bersandar menutupi tubuhnya dengan selimut!"


Triis yang turun kebawah, ia melewati lorong. Saat itupun ia berpapasan dengan wanita yang ia harapkan.


"Keiy, kamu di sini. Apa kau menyusulku. Apa kau telah mengambil keputusan?"


"Singkirkan tangan anda kakak ipar!"


Lihat dirimu seperti ini saja aku jijik dan muak. Betapa tega kau siakan wanita seperti Luna. Aku yakin soal gaun itu pasti ada hubungannya denganmu kan. Benak Keiy memikirkan.


"Kenapa diam?" tanya Triis.


"Kakak ipar. Sekalipun kamu membuat Erico tak mempunyai apapun. Anda salah, aku akan tetap berjuang bersamanya. Nikmati saja senyum puasmu. Esok kita lihat siapa yang akan kalah!"


"Kau ingin berperang denganku Keiy!"


Keiy pun memajukan langkahnya. Dia mendekati sosok pria bertubuh tinggi dan rahang yang keras berurat itu hingga amat dekat dengan berjinjit kedua kakinya.


"Anda memulainya Tuan, maafkan saya sebagai juniormu mewakili untuk menerima dengan kedua tangan terbuka."


Triis tertawa keras. Hahaha, ia tak menyangka wanita yang pernah ia tolong, kini ia amat mengagumi keberaniannya.


"You are beautiful and genius girl. You are perfect, kamu harusnya bersanding denganku. Bukan Erico yang bodoh." lirih Triis.


"Setidaknya aku memilih pria bodoh dan setia terhadap satu wanita!" balas Keiy.


Triis mengepal kedua tangannya, ia meninju ke arah tembok ketika mendengar perkataan Keiy.


Jika saja ia tak berada di pelataran mansion kedua orangtuanya, ia sudah pasti menarik paksa wanita itu ke suatu tempat untuk menghukumnya.


***


Ke esokan harinya. Luna merasa pusing dan bersin. Ia menatap Elang yang masih tertidur di samping sofa kamarnya.


"Elang, aku akan membeli obat. Apa kau mau ikut?"


Miiiaaaauw... Miiiaaauw.


"Aakh tidak, aku akan membawamu ke rumah belakang. Kamu harus disana ya. Aku akan mengunjungimu setiap waktu. Karena aku sedang Flu. Haaauchim, aku tak ingin kamu tertular!"


Hauaaachim..Huaaachim. Jangan nakal ya Elang. Aku pergi dulu!


Luna bergegas, ia ikut bi inah ke pasar kala itu, sehingga dengan kondisi Flunya. Luna memakai mantel dan beralasan dengan membeli obat ke apotik terdekat.


Selama memakan jam selama dua puluh kilo meter. Luna tiba saja pingsan membuat bi inah tertegun panik.


"Non, Non luna ayo bangun!"


Toloooong...Toloooong.


Seketika sebuah motor besar berhenti. Ia menatap seorang ibu paruh baya meminta tolong. Lalu berhenti dan membantunya dengan cepat.


"Terimakasih, untung anda datang Den. Tolong majikan saya pingsan tiba saja !" pinta bi inah.


"Sama sama bu, baiklah bawa ke klinik saya di ujung. Saya akan memeriksanya. Ibu tak perlu khawatir!"


Ya terimakasih, tapi jika nona kenapa kenapa. Nyawa kami akan terancam den.


Dia tak apakan jika saya tetap ikut. Saya ingin tau keadaan Non Luna?

__ADS_1


"Tentu. Tak masalah, ikutlah dengan saya bu inah!"


Tbc.


__ADS_2