HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
BELENGGU SUAMIKU


__ADS_3

"Sayang. Mas kira kamu benar jadi besok pulangnya."


"Ko aku tanya ga jawab. Sini aku liat mas duduk dulu ya!"


Wajah pucat, tapi ga panas. Luna meminta ke dokter tapi Triis menolaknya. Triis pun dengan sekejap memeluk Luna. Membuat Luna terdiam begitu saja tanpa bersuara.


Luna pun membalas pelukan erat dan hangat tubuhnya Luna, membuat Triis nyaman.


"Mas. Ada apa, apa ada yang terjadi beberapa saat?"


"Aku hanya rindu. Aku hanya ingin memeluk mu saja Sayang. Tunggu sebentar!"


Luna masih mode bingung, ia tak tau harus bagaimana. Dirinya bagai dalam suasana yang tak enak, karena ia berada dalam kegalauan memikirkan ada apa dengan suaminya itu.


Sehingga saat Ebon masuk dan terkejut. Membuat mata Luna ingin menghentikan.


Triis mengejapkan mata, bahwa tak ingin diganggu. Sementara Ebon berjaga di luar pintu. Seolah karyawan yang ingin bertemu tak boleh datang saat ini, dan kembali beberapa jam berikutnya.


'Apa kamu menemukan masalah baru mas. Mengapa aku jadi takut?' batin Luna, khawatir karena membuka pintu seolah ingin menusuk gunting ke arah yang mungkin bukan Luna.


'Andai aku berkata jujur. Apa kamu akan tetap tinggal Luna. Jujur aku tak mau kehilanganmu, aku sudah terlanjut cinta dan sayang. Aku hanya menginginkan kamu saat ini dan selamanya.' batin Triis masih mode memeluk erat Luna.


***


ESOK HARINYA.


"Oma. Apa bunda dan Ayah akan datang akhir pekan?" tanya Reina.


"Ya sayang. Itu sudah pasti, Oma dan Opa akan menjaga Reina. Sementara Ayah dan Bunda mengurus pekerjaaan. Reina dan kakak Rein harus bahagia ya disini!"


Kedua anak Luna mengangguk senyum Memeluk hangat kedua neneknya. Mama maya selaku nenek merasa aneh. Tidak biasanya kedua cucunya merasa khawatir dan gelisah saat bangun tidur. Ia pun berinisiatif untuk menghubungi Triis atau Luna.


Treeeedeeth... Tredeeeth.


Ponsel Luna berdering, tapi ia tak bisa mengambilnya. Mode pelukan Triis masih sama, ia bingung untuk beralasan yang tepat. Sehingga ia mengabaikan. Ponsel Luna berdering hingga dua kali.


"Mas. Kita pulang ya?"


"Ya sayang sebentar lagi!"


Tredeeth...Tredeeth. Mode dering khas ponsel Triis kembali. Kini ponselnya yang lantang itu membuat mata Triis melotot.


"Mas. Kita angkat ya, siapa tau penting!"


"Tidak perlu sayang!"


"Mas, gimana kalau itu Mama soal anak anak?"


Triis menatap Luna. Ia berjalan meraih ponsel diatas meja nakas samping laptop. Lalu benar saja sang mama menelpon.


[ Triis. Kamu sedang apa, apa jam segini sibuk. Mama hubungi Luna sulit tak diangkat. Kamu juga lama sekali? ]


[ Ya. Mah maaf, sedikit terganggu. Ponsel tadi sedang.. ]


[ Ya sudahlah. Ayo sekarang video call. Reina dan Rein rindu, ga biasanya dia khawatir sama kamu! ]


Triis mengangguk, menatap Luna dengan senyuman. Ia merasakan apa hati suasana ketakutannya berimbas pada batin sang anak.


"Kenapa Mas?" tanya Luna.

__ADS_1


"Video call sayang."


"Mas, tapi jangan seperti ini malu. Gimana kalau karyawan masuk?"


Triis tak peduli, ia memeluk Luna dan menduduki sofa dan memeluk Luna diatas pahanya untuk duduk. Luna semakin malu memerah, karena bisa bisanya ia melakukan seperti ini didalam ruangan kerja. Memang ruangan kerja suaminya, ada rak khusus yang tak seorang pun tahu didalam, hanya Ebon juru kunci Triis yang tahu di ruangan kerjanya ada kamar minimalis dibalik rak buku yang berjejer.


"Kita sah sayang. Kita harus seperti ini saat menghubungi Rein dan Reina bukan?"


Luna hanya mengangguk. Membiarkan Triis semaunya. Ia pun menatap ponsel saat bersambung.


Rein dan Reina saling berebut tatap. Sehingga kedua wajah mereka sangat dekat dilayar ponsel. Luna dan Triis tertawa dan suasana semakin haru bahagia. Triis mengatakan yang indah dan bagus. Hal itu tak ingin kedua anaknya drop ketika mendengar berita tak baik. Pembicaraan video call itu hampir dua puluh menit mereka mengakhirinya.


"Bye. Ayah. Bunda, kami sayang kalian. Kecup dari kami. Muuuaach."


"Ya sayang. Sehat terus, nurut sama Oma dan Opa ya!" kedua anak mereka mengangguk dan berakhir.


Triis meletakkan ponsel, ia merebahkan Luna di sofa. Lalu dahi Luna dan tungku leher dengan kilat, bringas. Membuat tanda di gundukan Luna sehingga membuat Luna memejamkan mata.


"Mas. Kamu lupa ini masih di kantor?"


"Ya. Mas lupa, baiklah ayo kita pulang!"


Luna segera merapihkan rambut. Ia menata bajunya hingga rapih saat keluar. Sudah pasti setelah tiba, suaminya akan membuat ia lemas dan tak berdaya.


Saat berjalan keluar, semua mata karyawan menunduk. Triis merangkul tangan erat istrinya. Memerintahkan Ebon untuk menghandle, sementara ia meminta untuk langsung pulang. Triis menyetir sendiri tanpa supir.


"Mas, kamu yakin mau nyetir. Kenapa ga Ebon aja?"


Triis tersenyum menjalankan mobil. Masih mode pelukan erat tangan Luna yang putih nan lembut itu.


Striiiith...


"Mas ingin berdua sama kamu. Ini adalah villa mas. Tak ada penduduk yang lewat. Mungkin asisten dan tukang kebun di belakang. Mas sudah mengirim pesan, saat di perjalanan tadi untuk membersihkannya dan mereka suruh mas keluar berada di rumah belakang!"


Luna menurut, karena Triis, mampir ke villa yang Luna baru tahu.


Luna meminta Triis untuk menahannya ketika telah sampai di kamar. Tapi dengan cekatan tubuhnya telah di tindih dalam mode kursi yang diturunkan. Kaca hitam pekat, tak akan ada yang sadar jika dua insan sedang bermanja. Luna hanya pasrah, ia menerima perlakuan pria yang jelas sudah kembali suaminya. Jika saja ia meminta tiba tiba, mungkin ia telah bersiap untuk menyegarkan seluruh tubuhnya.


"Mas, gimana kalau kita mandi dulu?" bicara setelah kecupan ranum terhenti.


"Kita akan membersihkan bersama. Kamu tau aku tak suka penolakan, aku akan berhenti setelah si dia itu benar lelah!"


Luna menggerutug kebodohannya. Ia jelas tau Triis yang selalu bermain tidak hanya dua atau tiga kali dalam bermain. Tubuhnya seolah lemas tapi ia berusaha mengimbangi, mungkin sang suami sedang penat. Sehingga ia melakukan di mana yang ia sukai.


Luna pernah membaca artikel, jika pasangan sedang stress atau bosan. Maka ia akan melakukan di tempat tak terduga dan berbeda. Jelas Triis mengajaknya di villa dan dalam mobil di dalam ruangan terbuka. Hanya ada cuitan burung berkicau dan angin yang melihat dan mendengar aksi mereka kali ini.


"Mas. A- akuu!" Luna mulai pias, ia tak tahan akan rasa yang menjalar itu. Membuat tatapan Triis semakin gembira dan tersenyum.


"Lepas lah sayang!"


Triis kembali menduduki tubuh Luna diatas tubuhnya. Sehingga kali ini Luna yang banyak bergerak. Hal itu semakin terbawa suasana menjelang malam, menatap jam di dashboard. Sudah dua jama Luna melemas, tapi tubuh Triis masih saja ON.


Ia sadar selain rupanya yang perfect. Luna takut akan kehadiran wanita yang datang menginginkan suaminya menjadi madunya. Atau ia takut jika Triis akan menduakannya, sehingga Luna berinisiatif membeli herbal untuk stamina mengimbangi sang suami.


***


PAGI HARINYA.


Dalam balutan tubuh yang polos, di tutupi selimut tebal. Triis masih merangkul peluk dari belakang tubuh Luna. Luna mengambil nampan berisi buah. Membalikan tubuhnya, sehingga Triis menggeser posisi tubuhnya kala itu setengah duduk. Luna masih dalam posisi di atas tubuh sang suami.

__ADS_1


Ia menyuapi beberapa buah dengan tersenyum pada ranum Triis.


"Gimana enak Mas?"


"Enak. Hingga mas mau lagi sayang. Bisakah kita?"


"Mas. Maksud aku buah anggurnya. Kamu kenapa ke yang lain sih, bikin aku malu terus."


Triis kembali mengecup ranum Luna selama sepuluh detik, membuat aksi Luna terdiam dan terpaku.


"Mas mencintaimu. Hati mas, tidak akan berubah setetespun. Mas sudah bahagia, bersama istri mas yang briliant ini. Jangan pernah berubah apapun yang terjadi ya!"


"Mas. Kamu itu bicara apa sih. Ayo buka mulutnya. Aaaaaaaaak! jangan lagi bahas yang aneh aneh ya."


"Heuuumpm." Triis kembali menggoda menutup ranum Luna, dengan ranum bibirnya yang menempel erat dan membuat sirup di dalam sana.


Luna terkesiap, ketika sesuatu kembali bangun. Mulai membalikan tubuhnya, posisi Luna kini berada kilat membelakangi tubuh suaminya. Sehingga jelas benda itu tajam tiba saja masuk dengan cepat dan kembali beraksi.


"Mas. Kamu selalu membuat aku kaget."


"Karena aku suka kamu ketika lemah. Sangat menyenangkan menatap wajahmu yang semakin merah dan membuat suara sayang." bisik Triis dengan nada terputus putus.


Ia kembali menggigit telinga Luna dengan halus.


Pergerakan itu semakin cepat dan semakin lama. Membuat Luna tergontai, dan berusaha kembali mengimbanginya. Selama empat puluh menit lebih, mereka berhasil menelusuri titik terakhir dan mengakhiri dengan kecupan di dahi Luna.


"Terimakasih sayang!"


"Sudah seharusnya mas. Aku adalah milikmu." senyum balas Luna yang merasakan hujaman berkali kali.


Tak lama suara ponsel berdering. Triis melirik dan segera meraihnya, masih dalam tubuh yang menempel membuat Luna canggung karena geseran itu membuat ia tidak tahan.


"Kenapa. Kamu mau lagi sayang?"


"Maaas." teriak Luna yang ingin bangun tapi ditolak semakin erat oleh sang suami.


"Maaas. Aku butuh mandi, ini sudah lengket. Kamu ga ingin makan?"


Triis melettakan ponsel. Nomor Sean yang telah ia blokir. Lalu kembali menggoda sang istri.


"Baiklah. Aku tak ingin jadi suami yang menindas. Aku akan menyiapkan makanan spesial. Mandi lah lebih dulu sayang!"


Luna pun menatap aksi tubuh polos sang suami. Bergegas membersihkan diri dan keluar dari kamar kebesarannya, menatap Triis yang akan membuat sarapan kali ini.


"Heuuumph. Seperti ini kah rasanya jatuh cinta pada Ayah dari kedua anak anakku?" tutur Luna.


Luna sadar ketika itu ia membenci mati matian Triis karena tabiat yang buruk. Triis pun tak jauh beda ia dulu sangat membenci mati matian pada Luna, berusaha ingin mengakhiri pernikahan. Tapi takdir memang menyatukan kami kembali dengan caranya.


Luna bergegas membersihkan diri, ketika kembali ia tak menemukan sang suami. Ia mengganti pakaian lalu menaruh sisir ke atas meja.


Ponsel dering Triis kembali. Luna menatap pesan yang tak ingin ia baca. Hanya saja terlihat kilat nada pesan seperti mengancam.


Tlith ...


[ Kamu akan menghindar dariku sampai kapan, kamu harus tanggung jawab mas Triis! ]


Pesan itu membuyarkan Luna yang lemas, menjadi gugup setelah mandi beberapa saat. Ia duduk dan ragu untuk membuka pesan itu, sekilas ia ingin melihat nomor yang masuk di ponsel suaminya, tapi Triis sudah lebih dulu datang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2