HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
TIBA TIBA KHAWATIR


__ADS_3

"Dasar pria menjengkelkan. Kau sudah matang membuat situasi ini. Jika kau memaksa aku, aku akan membuatmu kesal dan mengakhiri dengan sendirinya Triis!" bisik Luna.


"Benarkah. Kau akan menghindar dariku selalu Luna?" batin Triis.


Selepas pria paruh baya bertamu dan menjelaskan mereka pamit.


Luna mendekat kearah tubuh Triis dan mencengkram kerah leher kemejanya.


"Kau berusaha memaksa lagi Triis. Sampai kapan kau jadikan kedua anak kita tameng?"


"Kenapa begitu marah Luna sayang. Bukankah menjadi istri pria sepertiku harusnya beruntung." menoel pipi Luna.


Luna semakin murka kedua tangannya ingin sekali menampar. Tapi apalah daya sebuah bel berbunyi sehinggga ia memendam rasa kekesalannya.


"Itu pasti Rein dan Reina telah tiba, aku akan bersiap."


"Tidak usah!" menarik tubuh Luna.


Luna yang berusaha menghempas. Tiba saja tubuhnya berada dalam pelukan diatas tubuh Triis. Saling menatap kedua bola mata itu. Triis mengambil siasat dan melepas ikatan rambut Luna hingga tegerai indah dan menutupi setengah wajahnya.


"Jika kamu diam, kau terlihat manis Luna." lirih Triis.


Luna menghempas tubuh Triis. Mendorongnya namun Triis alih alih ia menggoda. Hanya dengan satu jentik Triis menempelkan tangannya di punggung Luna.


CTRIIEK ...


"Apa yang kau lakukan. SAIKO!"


Triss tersenyum gila. Menahan rasa tawa ketika melihat aksi marah Luna. Betapa tidak marah, dengan hentakan jentik jarinya. Satu tali bra Luna terlepas. Sehingga ia pergi dan marah ke arah kamar berlari ke atas anak tangga dan masih mode mata yang kesal.


Triis pun membuka pintu akan tamu yang datang.


"Kenapa lama sekali. Triis kamu telah sampai?" tanya Papa.


"Ayah uncle. Mmmm bunda mana?" tanya kedua anak kembar mereka.


"Woow. Si cantik dan Si handsome ayah Triis. bagaimana perjalanan tadi. Ayo masuk! Pah. Mah. Triis juga baru saja tiba, apa kalian lelah?" tanya Triis.


"Lelah. Tapi karena kedua cucu oppa dan grandma, sudah pasti tidak akan lelah." tutur Papa.


"Owh. Ya dimana Luna Triis?" Mama.


Triis mengatakan ia sedang berganti pakaian. Tak lama Luna menyambut kedua mertuanya itu, meski mantan. Tapi mereka bersahabat dan saling terjalin silaturahmi. Hal itu pun Luna harus merelakan kedua anaknya tinggal bersama kedua orangtua Triis yang cukup megah karena kesibukan usaha cafe dan kuliahnya.


Mansion Steva adalah papa dari Triis. Selain itu kedua anak mereka memerlukan kesehatan lebih dalam. Mereka berdua anak yang pintar dan tenang tak pernah rewel.


"Kau lihat. Aku perfect bukankah pria berpengaruh sepertiku terlihat setia. Membantu hal kecil ini Luna?" bisiknya merapihkan piring.


"Jika kau hanya membuat sinopsis tiap bait dalam hitungan jam. Lebih baik kau pergi dan duduk di ujung sana Triis!" Luna masih menata makanan.

__ADS_1


"Kau marah sekali. Apa tidak bisa melihat ketulusan dan pengabdianku padamu Luna?"


"Bagiku. Kau hanya pembual Triis." bisiknya.


Sehingga tatapan satu meja menatap aksi mereka dengan saling pandang tak bersahabat. Tapi Luna menoleh ketika merasa di sudutkan akan aksi bagai tom and jerry jika bersama Triis. Sehingga mereka bergabung dan makan bersama dengan suasana indah dan damai.


Luna menyendok satu lauk dan sayur untuk kedua anaknya. Triis pun menyendok untuk Luna.


"Makan yang banyak ibu dari anakku!" senyum Triis menatap Luna.


Luna mau tak mau tak berdebat, hal yang paling ia tak ingin adalah berdebat dengan Triis di depan kedua anaknya. Juga di depan kedua nenek kakek dari kedua anaknya Triis. Hal itu membuat Luna rindu sosok Ayahnya yang telah pergi meninggalkannya. Ia mempunyai seorang kakak, tapi entahlah dimana. Memikirkannya saja membuat ia sesak tak berdaya.


"Sejak kapan kau menyentuh piring dan memberikan hal istimewa Triis. Bahkan Papa jadi iri melihatnya?"


"Kau lihat Luna. Papa memujiku, mengapa dirimu tidak melihatnya. Handsome dan Cantik ayah. Apa ayah terlihat seperti monster?"


"No. Ayah Uncle terbaik. Tertampan." ketus Reina menyuap buah.


"No. Ayah Uncle adalah ayah kami yang sangat Teeer best." ucap Rein. Benarkan Bunda? tanya anaknya.


"Mmmmh. Ya jika itu yang kalian katakan. Bunda berharap seperti itu." balasnya. Luna terpaksa ikut memuji. Dalam hatinya ia sungguh menyesal harus ikut bicara.


 


***


Suatu Malam Triis berada di tengah balkon. Ia menerima panggilan dengan wajah suram. Lalu ia terlihat panik dan bercucur keringat akan lelah yang bercampur penat.


"Kenapa aku jadi khawatir. Akh tidak, aku tak peduli padanya. Apapun keadaanya biarkan saja, mungkin itu hukuman pria sepertinya."


Luna kembali ke kamar, ia membuka tirai setelah meletakkan teh ke nakas meja sebelah lampu. Ia menatap langit begitu gemerlap terang.


"Luna. Jika seseorang menyakiti. Balaslah dengan ribuan kebaikan. Ada hal kebahagian tersembunyi sang pencipta ciptakan tanpa sebuah langkah untuk kita lewati."


Tiba saja Luna ingat perkataan Almarhum sang Ayah. Dimana ia mengingat Triis, ia pun berusaha kembali mencari keberadaan Triis.


Setelah membuka pintu, ia tak menemukan Triis. Tapi ia menatap Triis telah menyalakan mobil dan pergi begitu saja. Luna segera mengambil tas dan mengikutinya dari belakang dengan mobilnya. Tapi menatap bensin telah habis dan kering.


"Siaaal. Kenapa aku lupa isi bensin."


Luna keluar dan mencoba menutup gerbang. Tak berselang lama sebuah taksi kosong pun tiba melewatinya. Ia menghentikan dan meminta untuk mengejar mobil putih tak jauh dan masih terlihat.


---


Setengah Jam berlalu. Luna berhenti di sebuah cafe 24 jam. Luna membayar taksi dengan beberapa lembar kertas merah ia berikan pada supir. Lalu dengan perlahan ia menginjak sebuah cafe agar Triis tak menyadari jika ia mengikutinya.


"Kau tidak bisa seperti ini. Kontrak kita batal, kau tidak peduli dengan masa percobaanmu. Aku mendukungmu agar kau kembali pada posisi awal. Tapi setelah mendukung, kau tak lebih dari kertas tanpa tinta. Sia sia enyahlah kita putus kontrak bisnis dan tak mengenal jika kita berpapasan Triis!"


"Silahkan. Aku tidak peduli, aku ada urusan penting yang harus aku kejar. Hingga beberapa waktu tak fokus pada bisnis kita. Baiklah jika itu mau anda Albert. Kita putus bisnis."

__ADS_1


Luna membalikan tubuh di balik tembok. Triis terlihat duduk dan memijit keningnya. Ia bingung harus apa yang ia lakukan saat ini, meski begitu kesal padanya. Tapi dia adalah ayah bagi kedua anaknya.


"Hoooah. Lagi lagi aku berfikir menautkan anak. Ayolah Luna berfikir jernih. Jangan menjiplak siasat Triis." lirih Luna.


Luna menatap kembali kaca untuk memastikan keadaan Triis. Tapi ia tak melihat di sudut dimana Triis duduk bersama seorang pria tadi.


"Kemana dia. Kenapa tak ada, mobilnya apa telah pergi."


Luna membalikan tubuhnya. Ia terkejut ketika Triis telah berdiri menatap tajam di balik punggungnya.


"Huuuuaaah ... Triis. Kau membuatku kaget. A-ku aku sedang menunggu teman. Kau di sini juga rupanya ya?"


"Benarkah. Bukankah kau tadi melihat ke sisi sudut. Itu adalah..?"


"Ya. Itu tadi teman partnerku hilang. Benar itu benar sekali, jangan salah paham oke. Baiklah aku akan pergi."


Luna menutup mata, ia melangkah tapi kakinya tak bisa maju. Alhasil ia mundur kembali saat tangannya telah berada dalam genggaman Triis.


"Apa yang kamu lakukan, ini umum Triis. Banyak yang menatap, lepasin tanganmu!"


"Jika aku tak mau. Apa kamu akan berteriak?"


Haaaah.. Harusnya tadi aku tak mengikuti pria saiko ini. Akhirnya aku terjebak dalam suasana sempit yang tak aku inginkan terulang bukan.


"Apa yang kamu pikirkan Luna. Bukankah kamu merindu padaku, kedua anak kita jam seperti ini apa sudah terlelap?"


"Apa maksudmu Triis?" Luna menatap wajah Triis.


Tatapan itu amat dekat.


"Tuhan. Jika keadaan seperti ini, sudah pasti Triis akan berprasangka aneh. Rasanya aneh, aku selalu menjauh dan berusaha lenyap dari wajahnya. Tapi mengapa malam ini aku mengikutinya karena khawatir, dia tak ada di ruang tamu?" benak Luna.


"Luna. Maukah kamu menjadi ratu dan menemaniku kembali. Aku masih menunggu!"


LUNA TERDIAM SERIBU BASA. ADA HAL YANG TAK BISA MUNGKIN UNTUK BERSAMA, TAPI JIKA MENATAP AYAH BIOLOGIS KEDUA ANAKNYA SEDANG KESULITAN. IA PUN TAK TEGA.


"Aku minta maaf Triis. Jangan bahas lagi soal ini!"


Luna mendorong tubuh Triis. Ia berlalu dan mengehntikan taksi dan pergi meninggalkan seorang Triis sendiri. Masih menatap dalam spion. Luna menatap Triis yang masih berdiri dan mematung.


Pyuuuuh .. Bahkan rasanya menolak itu tidak enak. Apa lagi ditolak ya? batin Luna. Ia menarik nafas dan menutup matanya.


Striiith ... Mobil Taksi Rem Mendadak.


"Ada apa pak. Kenapa berhenti?" tanya Luna.


"Maaf Nona. Tapi pria itu menghentikan dan menyalip taksi kita untuk berhenti."


Luna pun mengambil tas. Ia menatap dengan jernih. Tapi ia hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala, karena arogannya sikap mantan suaminya itu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2