
Triis menggendong Luna ala bridestyle. Ia tak menghiraukan tatapan karyawan yang sedikit melewatinya dengan membungkuk tanda hormat pada atasan.
Termasuk Rivano dan Ucup tak jauh dari sebrang menatap dengan mata membulat sempurna akan terkejut.
"Lo bakal lanjut atau nyerah No?" tanya Ucup.
"Apaan sih Cup. Udah deh, lanjut kerja lagian kalau mereka bersatu itu lebih baik kan."
"Maksud lo Vano Rivano. Bersatu lagi emang dia pernah nikah sebelumnya?"
"Ya. Baru tau lo ya, udah kerja aja. Kita bawahan ga boleh ikut campur urusan atasan dan istrinya. Gw pernah intip status Tuan Steva, unggah kalau mereka udah menikah kembali secara sederhana."
Ucup menatap penuh dengan jiwa hampa. Ia merasa kasian pada Rivano yang selalu dipanggil Vano. Pasalnya dia selalu patah hati dan di tinggalkan wanitanya dan menikah dengan pria lain.
"Sabar Ya Bro. Lo harus sukses dulu biar ga ditinggap cewe!" terbahak bahak Ucup meledek. Tapi Vano fokus dengan motor bebeknya kala itu.
"Udah diem deh Lo. Kalau ga bisa diem, lo mending naik angkot sana!"
"Wiiiiuuh. Tega lo bro, sorry deh. Oke oke!"
***
Luna menatap langit langit, ia merasa tubuhnya pegal dan posisi tidurnya merasa tak enak. Ia membuka mata dan menatap samar pria di hadapannya itu.
"Apa. Jadi aku baru saja tertidur di dalam mobil. Triis kamu memindahkan aku. Apa aku terlalu mengantuk." benak Luna.
Luna segera membenarkan posisi tubuh yang duduk kala itu. Lalu menatap Triis telah menatapnya saat membalikan tubuhnya. Rupanya Triis telah mengakhiri panggilan dan masuk kedalam mobil.
"Sudah bangun sayang?"
"Mas. Aku minta maaf terlalu mengantuk tadi!"
"Sudahlah. Kita pulang ke Apartment, besok kita akan pergi kebandara. Jaraknya lebih dekat!"
"Ya. Mas, aku akan mempersiapkan semuanya. Dan meminta Ela kasir untuk menghandle segala di toko. Juga meminta bantuan Vano. Rein dan Reina pasti senang kita datang."
"Kita ke acara E-Film. Setelah itu menemani kedua anak kita, karena jam kemo anak kita menjelang sore. Mengingat acara pekerjaanmu di pagi hari. Kita masih ada waktu bukan?"
"Mas. Kamu izinkan aku, tapi aku tadi baru saja membuat pengunduran diri."
"Maafkan aku. Aku mengizinkanmu, aku harap kamu tetap me-nomorsatukan aku dan anak anak kita!"
"Makasih mas. Setelah kontrakku habis. Aku janji tidak akan memperpanjangnya. Terimakasih sudah mengijinkan aku bekerja dengan hobi ku. Aku janji padamu memprioritaskan dirimu dan kedua anak kita. Itu pasti Mas."
Triis tersenyum, ia mengecup dan mereka saling beradu ranum dan menikmati. Luna hanya bisa mengikuti aliran dan alur gaya Triis ketika menginginkan.
Ada rasa bahagia, Luna berharap Triis memang benar mencintainya dengan tulus. Sehingga impian ia mempunyai imam yang baik terwujud. Setidaknya tabiat buruknya, ia akan sadar. Yang utama adalah rasa cinta suaminya tak pernah hilang untuknya. Karena jujur Luna takut rumah tangganya kembali hancur akan gangguan dan Triis yang masih terpedaya hobi yang mungkin para istri tak menginginkannya.
__ADS_1
"Sudah sampai. Mau aku gendong lagi?"
"Mas. Jangan buat aku malu, aku bisa jalan sendiri. Aku bukan bayi." Senyum Luna.
"Tapi kamu adalah bayiku sayang." senyum menggoda Triis kala itu.
Mereka berjalan dan Triis menggandeng erat tangan Luna. Tapi satu sosok wanita tak jauh memperhatikan Triis dan berusaha tidak suka ketika melihatnya.
"Jadi seperti ini. Hampir satu minggu kamu menonaktifkan. Kamu berani memblokir nomorku Triis. Lihat saja. Luna akan tau apa yang terjadi di antara kita!" ucap Sean, dibalik dinding tembok.
"Mas, ini handuknya."
Luna yang telah memakai piyama tidur berwarna maroon. Membelah lekukan tubuh indahnya, sudah tak dapat di pungkiri kala itu Luna merasa geli. Akan tangan kokoh Triis yang melingkar dan membuat tubuhnya bergerak, terkoyak manja bagai alunan nada suara lembut piano yang semakin lama semakin tinggi nada suara itu. Otomatis Luna semakin tak tahan, ia memang mengakui jika Triis sangat lihai.
"Mas. Apa benar kamu tak menyentuh wanita lain. Bagaimana nanti jika mereka hadir, apa yang harus aku hadapi nanti!" benak Luna.
Triis semakin gila, ia membopong tubuh Luna. Mendudukinya di atas meja rias. Membuang seluruh benda kecantikan yang ada sehingga Luna bisa duduk dengan nyaman tanpa halangan benda lain.
"Selain bendaku. Aku akan menyingkirkannya!"
"Mas. Parfum dan Alat make up ku. Baru saja aku beli, sudah kamu pecahkan. Apa seperti ini kamu meminta jatah?"
"Tinggal pesan lagi sayang. Bagiku bendaku lebih berharga, dan kamu adalah pemilik sambungan dalam benda tajamku yang hebat."
"Mas. Kamu mulai sombong." memukul Triis.
Triis kembali memulai aksinya, Luna merasa dimanja. Tapi sesuatu bel berbunyi menyadarkan dari lamunan aksi mereka yang sedang bergairah.
Triis terdiam. Tak seharusnya ia mengajak luna ke apartementnya. Ia mengingat jika Sean selalu berkunjung ketika ia menghampirinya dan bertemu. Bagus pasword sudah ku ganti tadi.
"Mas kenapa diam?"
"Sayang. Nikmati saja, aku lupa menyuruh security datang. Karena kerusakan bathroom. Tapi biarkan saja, ini sudah malam. Hal lebih penting adalah aksi kita untuk membuatkan adik bukan?"
Luna tersipu malu. Sebenarnya ia sudah lama memakai implan. Ia tak akan hamil sebelum benda itu di copot, mengingat jadwalnya harus diganti beberapa bulan. Perkataan Triis menyadarkannya.
***
ESOK PAGINYA!!
"Sudah rapih Mas. Aku benarkan memakaikan seperti ini dasinya?"
"Ya. Kamu terbaik sayang."
"Benarkah. Terbaik dari wanita wanitamu ya?"
"Jangan memulai sayang. Aku hanya candu dan berada di dekatmu membuat aku tersengat aliran listrik. Kamu adalah wanita dan pantas menjadi nyonya Triis."
__ADS_1
"Gombal kamu Mas."
Setelah mereka sarapan. Ia merapihkan koper dan Triis meraihnya dari tangan Luna.
"Mas. Terimakasih."
"Cuup. Sudah seharusnya sayang." mengecup kilat ranum Luna.
Dalam perjalanan menuju bandara. Luna dan Triis saling menggenggam tangan. Ebon terlihat senang ketika melihat Tuannya. Karena ada raut bahagia. Tapi sesaat ia membelokan jalan membuat Triis dan Luna tertegun.
"Ada apa Ebon. Mengapa kita melewati arah tikus."
"Maaf. Tuan, terlihat map merah dan saya takut tidak tepat waktu. Maaf mengejutkan tolong jangan khawatir. Saya hafal jalan tikus di sini!"
Triis menatap google map. Benar saja sedikit merah, ada nafas lega saat itu Ebon bicara asal. Hal itu ia membuat alibi, karena tepat melewati toko Cake Sweet. Terlihat Sean sedang berjalan menuju arah itu.
Ebon khawatir Luna dan Triis terlambat ketika mereka melihatnya. Hal itu pasti memicu mood Tuannya karena ia adalah wanita selingan saat belum menikahi Luna kembali.
"Mas. Ini jalan arah lostmen kediaman Shasa yang baru. Temen aku, selalu lewat sini!" Ebon menatap pias, apa Shasa kekasihnya.
"Benarkah sayang. Sudahlah, istirahat di pundak ku. Ketika sampai aku akan membangunkanmu!"
"Mas. Jika aku tertidur. Sudah pasti aku sulit bangun, yang ada kamu menggendongku lagi. Jangan lakukan di bandara Mas!"
Triis tersenyum dan tertawa. Ia lagi lagi di buat berbunga menatap wajah istrinya.
Mengapa aku menjadi pria yang bucin padamu Luna. Ambisiku menyakitimu lagi, karena kamu berani jatuh cinta pada pria yang telah mati. Erland yang aku benci. Tapi seiringnya waktu aku terpedaya dan tak rela melepasmu. Bahkan menyakitimu membuat aku ikut sakit.
***
"Katakan. Dimana Bos kalian?"
"Maaf Nona. Tapi bos kami dan istrinya tidak datang hari ini dan beberapa hari kedepan. Ia sedang pergi ke luar kota."
"Kemana. Apa kalian tau?"
"Maaf. Soal itu kami tidak tau, saya permisi!" balas seorang karyawan.
Sean begitu kesal menatap seluruh manusia di depannya. Ia kesal karena Triis telah meblokir dan tak mengabari jika dia sudah menikah kembali dengan Luna mantan istrinya.
"Triis. Kamu mempermainkan aku. Lihat apa yang aku balas kelak untukmu, kau berani mengingkari janjimu!" lirih Sean.
"Mas. Aku angkat dari Sean ya. Dia tumben menghubungiku di pagi ini. Gak biasanya banget. Ini bukan Sean banget Mas."
Luna tertawa kecil, hingga sorot mata Triis terdiam dan merebut ponsel Luna.
"Jangan di angkat. Fokus pada acara kita, aku tak mau diganggu dengan siapapun sayang!"
__ADS_1
Hal itu, membuat Luna terdiam.
Tbc.