HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
LUNA SAKIT


__ADS_3

Luna berjalan dengan jalan setapak yang sedikit becek. Hujan yang tiba begitu saja, membuat Luna sedikit tertegun, ia berteduh di balik pohon bukit kecil, tak lama ia mendengar suara bising dan ia menyelinap ketakutan.


"Astaga. Pak mengapa berlari?" tanya Luna.


"Anda sedang apa disini Nona. Tempat ini berbahaya oleh manusia berhati srigala!"


"Maksud anda pak. Saya mencari saudara saya wanita bernama Keiy apa bapak melihatnya?"


Pria separuh baya itu menggelengkan kepala. Dan meminta Luna untuk pergi dari tempat mengerikan, ia pun terperanjat karena menatap bapak tua itu berlari dengan cepat meski gerimis yang sedikit besar.


Triis kembali masuk ke gudang. Ia menatap Keiy yang masih duduk terdiam menunduk. Lalu menatap wajah Keiy yang lesu akan pucat.


Ebon, panggil dokter cepat. Hilangkan ikatan kedua tangannya. Jangan biarkan wanitaku tersakiti. CEPAT!


Ebon pun melepas kedua ikatan dengan lembut, ia berharap nona Keiy tak apa apa. Tapi satu sudut Keiy mengedipkan sedikit. Ebon terdiam dan berusaha tidak gugup. Ia tau apa yang direncanakan oleh Keiy yang pintar itu, ia tak mengambil pisau di bawah meja nakas karena takut Ebon di curigai.


"Kalian semua keluar!"


Triis mendekati, tak lama Keiy terbatuk batuk. Ia perlahan membuka mata dan berkata seolah ia sedang menatap Erico.


Keiy mencoba mengalihkan agar Triis melunak.


"Erico, aku kedinginan. Peluk Aku sebentar saja!"


Ebon berdiri menutup pintu, ketika Triis menoleh ke arahnya. Triis mengambil kesempatan dengan memeluk Keiy dengan amat senang.


"Lovely. Aku haus bantu aku!" bisik Keiy.


Triis mengambil minuman, tak lama ia memberikan ke bibir Keiy. Saat itu Keiy mendekat bibir Triis. Keiy berusaha menggoda untuk mengalihkan alibi tatapan mesra.


"Keiy, aku bukan Erico. Apa kau sakit. Tapi jika kau menggoda aku akan senang dengan gembira menyambutnya."

__ADS_1


Keiy yang berdebar masih memutar mata, ia membubuhkan kedalam minumannya dan mengaduk dengan jarinya saat Triis mengecup dan memeluk tubuhnya.


"Lovely. Aku mau kamu minum. Agar cairan ranum kita tidak kering!"


Triis tersenyum, ia segera meminum bekas gelas Keiy kala itu. Triis masih menatap Keiy dengan tatapan lurus, sementara Keiy berharap obat itu dengan cepat bereaksi agar harga dirinya tak dikuasai oleh Triis.


Luna menatap jendela dan membukanya, saat itu Keiy menoleh. Dan tak ingin Luna berfikir aneh padanya. Ketika Triis masih memeluknya dan memijit keningnya yang sedikit pusing. Keiy pun mencoba memberi kode pada Luna.


"Masuk, cepat masuk bantu aku!"


Luna terdiam, ada rasa sakit hatinya. Tapi ia mencoba untuk berfikir positif. Lalu ia mencoba membantu Keiy untuk membuka jendela itu dengan hati hati memakai linggis kecil.


"Pria sialan, kau kakak ipar terbejad yang aku kenal Triis!" lirih Keiy. Dia merebahkan Triis di tepi ranjang kayu saat Triis sudah mulai hanyut memejamkan mata karena pengaruh obat tidur.


Kreeeek ... Kreeek.


Luna berhasil membuka jendela. Sementara Keiy membuat suara ******* dari rekaman. Seolah pengawal yang mendengar dibalik pintu, tidak akan berani masuk dan menyadari jika ia kabur.


"Nona bintang, suara itu mengapa?" bisiknya.


"Ya, dia suaramu dan suami bejadmu. Aku harap kau selalu berfikir baik padaku. Aku tak mencintai suamimu, bagus kau berhasil menolongku di saat yang tepat!"


Luna tersenyum, bergandeng pada Keiy. Dia berjanji akan bekerja sama pada Keiy dan berusaha membuat Triis mencintainya karena sebuah dendam dan obsesi yang tidak tulus.


Di sebuah tepi hutan, berjarak lima kilo meter. Tiba saja Luna merasa keram dan sakit teriris akan perutnya.


"Luna, kamu pasti lelah. Kandunganmu pasti tidak kuat. Aku harus bagaimana. Kamu bawa ponsel tidak. Karena ponselku masih di dalam?"


Luna menyodorkan tasnya. Lalu Keiy dengan cepat menghubungi ambulance agar segera menjemputnya.


"Luna bertahanlah. Aku akan berusaha menolongmu. Kali ini aku akan membalas pertolonganmu!"

__ADS_1


"Heeemph Ya. Terimakasih Keiy."


Auuuwkh! Auuuwh.. sakit sekali Nona. Perut aku sakit sekali, Keiy yang sudah sepuluh menit menunggu. Akhirnya Ambulance tiba menolong membantunya dan tiba menuju rumah sakit terdekat.


Dua jam penuh, Keiy meminta Tala menemuinya. Ia meminta asistennya untuk membawa kartu black dan mengurus administrasi Rumah sakit.


"Apa nona bintang. Jadi ini semua ulah Pria menyeramkan itu. Kenapa ga yeeiy laporin aja sih. Genges bikin bengek, sesak di jiwa kalau nyawa dan kehormatan Nonaku terancam kaya gini!"


"Ssst diamlah Tala. Diamlah aku tak bisa begitu saja melapor. Kau tau dia kakak dari suamiku, kini Erico sedang ditugaskan di irlandia. Aku khawatir Triis membuatnya terancam. Bahkan aku tak bisa menghubunginya saat ini karena berfikir aneh."


"Coba Nona pake ponsel eikeeu. Tapi isiin pulsa ya, cos habis gitu hihii." Tala tersenyum tapi menyempit saat wajah Keiy menatap tajam.


"Ketawa genges lagi, aku pecat kau Tala!"


"Eiiy, maaf Nona."


Tak lama dokter keluar.


"Apa anda keluarga dari Nona Luna?"


"Ya saya, saya keluarganya dokter. Bagaimana?" balas Keiy.


Yes! Tepatnya adik ipar sekarang. Meski usia Nona bintang lebih muda akan bulan yang berojol saat lahir. Lalu Tala menutup mulutnya saat Keiy menatap tajam lagi.


Keiy dan Tala terdiam syok. Ketika Dokter memberitahu keadaan Luna saat ini.


"Apa dokter?"


Keiy melemas dan jatuh duduk menatap Luna, ia menyalahkan dirinya akan keadaan Luna kini yang tak baik, setelah berhasil ke rumah sakit melarikan diri.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2