HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
KEGILAAN TRIIS


__ADS_3

"Luna. Kamu yakin mau tinggal sementara ditempatku?"


"Ya. Sementara untuk menenangkan, aku butuh tempat cerita dan masukan Sha."


Shasa yang mempunyai lostment ukuran sangat kecil, Jika dikatakan ukuran rumah tipe 21. Namun sangat nyaman, bersih dan meningkat membuat ruangan dengan skat. Menjadi tujuan Luna untuk tinggal.


"Duduklah. Ayo minum jika sudah santai. Kamu bisa cerita padaku Luna!"


"Thanks ya. Aku bisa saja pergi ke hotel. Tapi tempatmu adalah teraman. Seseorang pasti mengunjungi kediaman pondok Bukle ku."


Shasha tak percaya. Ia meletakkan kue kering di sisi teh hangat. Memulai pembicaraan mengapa dia berniat bersembunyi untuk sementara waktu.


"Ak-aku. Tenanglah, akh waktunya ga tepat. Luna tunggulah dirumahku. Aku akan keluar sebentar! Kekasihku telah menunggu dibawah."


"Ya. Makasih ya Sha."


Di balik tirai lantai 1. Luna menatap langit di malam hari. Ia tak bisa tidur memikirkan kedua anaknya. Ia juga memikirkan perkataan Mama Maya untuk bersabar merubah Triis, mengingat ia benar menyayangi Luna sejak tak ada beberapa tahun silam. Terlebih menyakitkan jika Triis bersama Sean, dan sahabatnya itu telah tidur bersama karena cinta pada mantan suaminya itu, ironis!!


"Bu. Jika Ayah dan Ibu Disana telah bersama. Dapatkan Luna bertahan, demi kedua anak Luna. Luna harus bersama dengan Pria yang mempunyai kebiasaan hal buruk."


Luna sedikit pusing, rasa mual itu tertahan begitu saja. Ia berlari ke kamar kecil dan memuntahkannya.


"Pasti masuk angin lagi. Aku terlalu lelah dan cemas hingga seperti ini."


"Beb. Karna kamu di malang, makasih Ya. Sudah memgantar aku, kebetulan di rumah ada temen aku yang bersedih. Sabar ya, cepat nikahi aku. Kamu bisa datang kapanpun bukan?"


Seseorang tersenyum. Ia lalu mengusap pipi Shasha dan pamit pergi.


"Udah gitu doang. Dasar pria ga peka, susah kalau menjalin hubungan sama gadun. Pria berumur ga peka, makan udah antar pulang gitu aja. Kalau bukan karena uang aku malas dekatin kamu bebon." lirih Shasa sebal.


Ke esokan harinya, saat sarapan Luna mendengarkan celoteh Shasa yang kesal pada kekasihnya. Luna hanya cekikikan tertawa dengan sepotong roti coklat.


"Udah. Please kamu jangan marah aja Sha. Aku jadi sakit ni, lagian kamu nih sabar banget. Kalau ga cinta kenapa ga di lanjut?"


"Habis. Makin hari aku makin kesel, kerjaan dia itu asisten pribadi. Waktunya ga banyak, tapi aku makin seneng aja kalau ga liat dia. Dia itu pria yang bukan buaya."


Luna terdiam, lalu ia meminum air segelas dengan pelan. Tersenyum kembali pada sahabat baiknya itu.


"Lun. Soal kamu gimana, semalam ga jadi cerita kan."


"Soal apanya Sha?"


"Yeeah. Kamu mau nenangin karena apa. Ayo cerita!"


"Eeeuh. Kamu mau dengerin masalah aku, masalah kamu aja berlibet Sha."

__ADS_1


Luna menggoda dan menuangkan air teh hangat kedalam cangkir. Lalu Sha menggeletik Luna dengan kilat, membuat Luna meminta ampun, karena balas menggoda.


"Oke. Oke udah dong. Ampun aku!"


Luna mengajak Shasa ketaman. Ia memulai ceritanya saat pertama kali menikah.


Aku menikah dengan pria karena terpaksa. Tapi semua ga berjalan sesuai rencana Sha. Aku terlanjut cinta, meski dia enggak. Tapi aku menerima perlahan sikap kasar ketusnya. Namun aku tak bisa menerima, dia selalu mencari pelampiasan dengan wanita di luar sana. Hingga aku pergi meninggalkannya dan mempunyai anak, kini aku bimbang.


"Wuuuih. Pyuuuh, enggak banget deh. Dah jangan dibahas. Trus intinya gimana kamu bimbang apa?"


"Mmmmh. Huuuuft, dia minta aku untuk menjadi istrinya lagi. Tapi aku ragu dia udah beneran berubah, terlebih permintaaan Mamanya. Karena hanya aku yang pantas jadi istrinya, ia meminta aku dengan sangat demi kedua anak aku. Tapi bahkan dia bermain dengan sahabat se- join cafe."


"Waah. Itu mah berat Lun, aku klo jadi kamu udah Ampun deh. Ga akan bisa tahan aku say. Trus sekarang pilihan kamu apa?"


"Entah. Aku mau aja memberi kesempatan, tapi aku takut. Hatiku tak sesabar yang oranglain pikir, aku juga berhak bahagia. Terlebih sosok seseorang yang mengisi di hatiku beberapa tahun silam. Membuat aku menunggu dan lupa cara mencintai Sha."


Shasa memeluk Luna. Ia tau isi hatinya masih ada sosok mendiang alm Erland. Karena ia telah mendengar jauh dari Luna mengatakannya, sosok Ka Erland adalah teman dari sang kakak. Tanpa sengaja bertemu dan menjadi teman baik di kampus oxford.


"Sabar Ya. Aku yakin kamu bisa ambil keputusan yang tepat!"


"Thanks Sha."


***


"Sudah tiga hari. Kau tidak menemukannya juga Ebon. Aku perintahkan, kamu segera mencari Lu..!"


"Luna. Akhirnya dari mana saja dia, biar ku beri hukuman karena telah membuat kekacauan.


"Tuan. Tenangkan, jika anda emosi. Luna tak akan melunak pada anda!" titah Ebon. Ia tak ingin ada keributan di toko kue bisnis kuliner keluarganya yang baru di buka. Mengingat ia adalah orang utama penting dari Tuan besar Steva.


Triis mencoba bersabar, ia menatap Luna dan senyum dari kejauhan. Tapi Luna lagi lagi mengabaikannya.


"Dasar wanita tak tau diri. Aku berusaha baik, tapi dia acuh. Tidak kah di luar sana, wanita ingin mendapat perhatianku." benak Triis mengepal tangan.


Luna menepuk pada seluruh karyawati yang berada di dapur cake. Pembuatan cake itu Luna cicipi dari tekstur dan rasa yang pas. Hiasan yang cantik pun jadi daya tarik. Luna banyak mengarahkan dan ikut turun dengan sebuah celemek membuat kue terbaru yang ia rancang.


Pertamakalinya Luna memperlihatkan bakat kemampuannya. Ia ramah, terlebih seluruh karyawan bicara salut dan senang pada Nona Luna.


Triis menatap dan melihat aksi Luna dari jendela hanya tersenyum. Ia ingin sekali menarik dan meminta seluruh karyawan keluar dan menutup tirai jendela kala ini.


"Ebon. Istirahatkan seluruh karyawan sekarang!"


"Tapi ini baru dua jam. Masih belum selesai Tuan?"


"Perintahku cepat kau kerjakan. Aku ingin privasi berbicara pada Luna."

__ADS_1


Tliiiiiuuuut. Suara bel untuk istirahat.


Luna menatap Jam. Belum waktunya dan masih ada sekitar empat puluh menit lagi. Tapi ia tak bisa menahan.


"Kalian istirahatlah. Saya akan di sini untuk membuat sesuatu yang baru. Tak apa pergilah!"


"Baik bu .." serentak.


Lima bleas menit ruangan itu sepi. Lampu tiba saja padam dan tirai tertutup. Luna menoleh kebingungan ada apa yang terjadi. Sebuah pintu terbuka dan seseorang masuk dengan gaya sepatu fantopel yang berdetak begitu saja.


Tap Tap Tap.


"Dari mana saja kamu Luna?"


"Triis. Untuk apa kamu disini. Ruangan ini untuk membuat karya usaha Mama. Jangan libatkan hal pribadi. Pergilah!"


"Kamu mengusir pemilik. Bukankah kamu hanya wewenang saja sayang?" Triis menepuk pipi Luna yang merona ketika telah dekat.


Luna melepas celemek dan mencuci tangan di wastafel dalam ruangan itu. Meski pencahayan gelap, ia berusaha untuk keluar.


Tapi saat ia berjalan menuju pintu keluar. Luna tak bisa membukanya dan benar saja tertutup rapat dan terkunci.


"Kamu mau lakukan apa lagi Triis. Apa kau akan melakukannya di ruangan ini. Ingat ini tempat usaha baru Mama?"


"Hahahhahaha. Kau wanita yang terang terangan sekali. Apa kau menginginkannya?"


Triis mendekat, melingkar kedua tangannya pada pinggang Luna. Luna yang mencoba untuk melunak agar bisa keluar dari tempat terkunci. Ia mencari akal. Agar bisa keluar dari tempat yang hanya menyisakan berdua saja.


Tolooong. Seseorang bukalah pintu dapur ini !!


Triis hanya tertawa dan menatap Luna, ia berusaha mendekatinya lagi.


"Apa kau. Menyuruh seluruh karyawan pulang. Mengapa aku berteriak untuk seseorang membuka tak ada jawaban?"


Wajah dan Tubuh Luna tepat saling berhadapan. Luna menatap keatas menuju mata Triis. Ia mencoba mengalungkan kedua tangannya pada Triis. Sehingga gairah Triis On bertanya tanya mengapa Luna menyerah.


"Apa kau melunak?"


"Aku ingin tau. Seberapa kamu berani bermain ditempat usaha Mama. Terlebih di sini banyak pengintai kedap suara dan kamera tersembunyi Triis. Bukankah akan menjatuhkan nama keluarga terpandang?"


Triis mencibik Ranum Luna. Ia tertawa dan mengangkat ponselnya. Memencet tombol seseorang dan meminta sebuah kamar.


"Siapkan. Pergilah aku akan mengendarainya. Aku butuh satu kamar king size ukuran mewah dan besar. Yap di sebelah gedung ini, Hotel Petern adalah tepat bukan. Lantai Atas, dimana satu hari menghabiskan malam dengan ratusan juta!" lirik mata Triis ke arah Luna.


Luna membelalak kedua matanya. Ia mulai takut dan gemetar kala itu. Triik nya gagal dan Triis mudah membaca pikiran apa yang ingin ia lakukan.

__ADS_1


"Apa kau Takut Luna Sa- Yang?" bisik Triis, membuat Luna ingin menantang Triis.


Tbc.


__ADS_2