HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
MANSION MERTUA


__ADS_3

Tap ... Tap ... Tap.


Langkah sepasang sejoli memasuki ruangan mansion dan suara itu semakin terdengar makin dekat.


Sementara Triis yang selalu menggoda Luna. Kedua mertua yang kompak menambah candaan. Luna hanya bisa duduk dan mulai memerah kembali di pipinya. Ketika kedua mertuanya lagi lagi menggoda dan mencecar untuk tidak menunda mongmongan.


"Triis pasti akan membuat seluruh mansion dengan anak anak kecil. Kemauan mama dan papa bukan?" balas Triis menjawab pertanyaan kedua orangtuanya.


"Hahahhaaa. Ya, lakukanlah Triis!" senyum tawa sang papa.


"Udahlah. Ayo kita makan, kamu tau kita juga pasti akan kedatangan tamu sebentar lagi!"


"Siapa Mah?" tanya Luna.


"Heiiy. Lihat, baru kita lagi bicarain. Kalian udah sampai juga? Lihat Luna sayang. Mereka sudah datang."


Luna menatap nona bintang yang selalu ia kenal. Bersama dengan suaminya kala itu, ia terlihat memang anggun dan semakin dekat mereka menyambut.


"Menantu sibuk mama sudah datang. Ayo Keiy sini bergabung!"


"Ya. Mah, Pah. Terimakasih."


Luna hanya terdiam dan sedikit canggung. Sudah berapa lama ia tak pernah bertemu, ini pertamakalinya mereka satu meja. Erico pun menyambut sang kaka dan berjabat tangan. Sementara Keiy menghampiri Luna membuat Luna merasa malu dan sungkan.


"Apa kabar. Kaka ipar?"


"Hhhaaah. Aku jadi malu, seakan aku tua saja."


Hahahhahah. Semua tertawa lucu ketika Luna berpeluk salam cipika cipiki. Keiy memeluk Luna dan memberikan senyuman bahagia.


"Selamat atas pernikahan kalian ya. Acara begitu mendadak. Kami sedang sulit juga untuk menghadiri fashion show, jadi ga bisa menghampiri pernikahanmu Luna."


"Terimakasih Keiy."


"Rasanya canggung ya Luna. Sudahlah kita kan seumuran. Aku hanya beda dua tahun darimu. Kamu hanya lebih muda dariku, tapi tetap saja kamu harus aku panggil kakak ipar bukan?"


"Aaaakh. Ya benar saja."


Erico menrangkul silang ke pinggang Keiy. Tris tak ingin kalah, ia menarik kecup kening Luna di depan keluarga.


"Lihat kedua anak kita. Seperti kita muda kan Mah?" goda Papa. Sementara Luna semakin malu.


"Sayang. Aku sudah sadar kamu adalah wanita briliat perfect. Mana mungkin aku menyianyiakanmu lagi sayang. Kami telah berdamai, jangan ragukan aku hanya milikmu!"


"Mas. Udah gombalnya, ga perlu ngegombal aku percaya sama kamu mas."


Semua berada di satu meja makan tertawa renyah. Melihat tingkah Triis yang sudah tidak lagi muda, ia terlihat bucin seperti anak Abg.

__ADS_1


"Owh ya. Triis kenalkan bukle Luna untuk datang. Bukankah kamu menghampirinya ke pondok beberapa minggu lalu?" tanya Papa.


"Ya. Triis akan meminta Luna untuk bicara pada bibinya. Semoga dia mau Pah, mengingat ia sibuk membantu pondok di sana."


"Gimana kalau kita saja yang datang pah? tanya Mama. Ia menatap Luna kembali menanyakan.


"Luna akan hubungi bukle nanti Mah. Pah. Terimakasih."


"Ka. Setelah makan, aku ingin bicara!" bisik Erico.


Triis menatap Erico sang adik. Ia pasti akan mengoceh soal seseorang, dan pasti wanita itu telah menghubungi Erico sehingga membuatnya risih dan terganggu.


"Oke. Tenang dik, kita bicara di kolam belakang oke!"


"Baiklah tak masalah kak."


Hingga mereka pun akhirnya bisa makan bersama. Sudah lama sekali keluarga Steva yang notabane papa dari Triis dan Erico lama tidak pernah makan bersama dalam satu meja.


Hal itu membuat mereka sangat bahagia dan bersyukur pada gusti yang maha kuasa. Dalam beberapa saat mereka telah selesai. Kedua mertua telah lebih dulu pamit, menyisakan pasangan dua insan sejoli yang telah resmi suami istri kala itu.


"Sayang. Aku akan kebelakang sebentar, aku rasa Erico akan membicarakan soal kantor yang bermasalah lagi. Tunggu ya!"


"Ya Mas. Aku akan menunggu di sini bersama Keiy."


Keiy pun mengajak keruang sofa menonton tv ala drakor atau movie. Tapi itu hanya alibi, karena Keiy ingin berbicara serius padanya.


"Ya. Berkat nona bintang. Kini aku dan Keiy saling dekat karena sudah bagian keluarga. Bukankah terlihat sungkan, aku merasa tak enak dan malu Keiy."


Keiypun menepuk bahu Luna. Bahwa ia yang berterimakasih, karena berkatnya. Triis tau arti cinta dan kehilangan. Ia tau jika saat dahulu kesenangannya bukan hobi, tapi meminta perhatian dan kasih sayang. Triis merasa diabaikan, padahal kenyataannya tidak benar.


Luna tersenyum, menatap langit diatas ruangan. Ia memang tak bisa menebak akan rencana yang gusti agung berikan padanya. Tapi ia bicara jika ia belajar dari Keiy yang terlihat luar biasa jika diacara televisi.


"Kamu berlebihan Luna. Aku tidak seperti itu rasanya. Hahhaaa." senyum manja Keiy.


***


"Ka. Sampai kapan kakak mau berbohong. Aku lelah, temui Sean. Aku ga mau Keiy salah paham, dia selalu menghampiri kantor guna mencari kakak. Apa kakak pernah berbuat janji padanya. Jika Keiy tau, aku terlibat dan pura pura tidak tau. Istriku akan marah karena membohongi perasaan wanita?"


"Dik. Sudahlah, urusan wanita itu. Dia akan tau siapa kakakmu ini. Beraninya meminta hal bodoh. Kakak akan mengurusnya!"


"Kakak tidak sedang merencanakan sesuatu kan?"


"Tenanglah. Ayo kita kembali!"


"Tapi kakak. Dia meminta pertanggung jawaban. Kudengar jika kakak menikahi Luna karena sebuah milik kakak yang di sita papa. Benarkah?"


"Dik. Jangan bahas lagi, aku tau apa yang harus aku lakukan. Sekarang kembalilah, terimakasih sudah memberitau. Maaf jika dia masih menghubungi dan mengganggu!"

__ADS_1


Erico pun pamit. Ia kembali mencari ke tempat istrinya. Dan lelah akan rasa panasnya aktifitas kini. Terlihat Triis meraih ponselnya dan mengubungi seseorang.


"Ya. Kau bereskan saja, aku sudah muak!"


"Baik Tuan." sambungan di ponsel.


Luna segera menghampiri sang suami dibalik jendela kolam. Ia menatap sang suami berdiri tegak, sambil memencet tombol di layar ponselnya. Hal itu karena Keiy telah di susul oleh sang suami, tapi tidak dengan Luna. Ia jadi merasa risih dan inisiatif menghampiri Triis. Karena tak ingin jadi nyamuk diruangan sana.


"Mas. Sedang apa, kamu menyuruh siapa. Maaf aku tak sengaja mendengar tadi?"


Triis terdiam, menoleh dan memberikan senyuman lentur. Agar Luna tak mencurigainya.


"Sayang. Aku sedang menahan soal di kantor klien penting!" jawab Triis dengan mata berkunang kunang dan memijit kening.


"Kita temui kedua anak kita. Terus kita tidur bersama sama bagaimana?"


"Ide bagus sayang."


Luna memeluk Triis dari belakang. Triis dibuat malu, bagai kehilangan rumah dan madu jika Luna kelak tau masalah sebenarnya. Erico benar ia harus jujur, tapi mengingat masa pernikahan mereka masih dini. Ia tak ingin Luna sakit hatinya, apalagi wanita itu adalah sahabatnya.


"Kebahagianku. Bunda dan Ayah sudah datang nak. Maaf terlambat!"


Luna mengecup kening kedua anaknya bergantian. Terlebih Triis yang menatap pemandangan luar biasa baginya. Andai ia tak menyiakan dan merubah sikapnya yang tak senonoh itu, mungkin kedua anaknya tak akan memiliki nasib penyakit yang menyakitkan di usia sangat muda.


'Semua salah Ayah. Maafkan Ayah nak, kalian harus menanggung dosa Ayah. Ayah akan selalu menemani kalian apapun keadaanya.' batin Triss.


"Mas. Ayo sini mendekat, jangan diam disana. Lihat kedua anak kita!"


Beberapa saat Luna dan Triis sibuk mengelap seluruh tubuh anaknya. Lalu mereka tidur di sofa besar. Dengan posisi saling memeluk menatap ranjang kedua anaknya yang masih tertidur kala itu.


"Mas, terimakasih sudah membuat aku bahagia."


"Sudah seharusnya sayang. Kamu sangat berarti untukku. Selamat tidur istriku."


"Selamat tidur mas. Suami perfectku."


Senyum Triis mereka saling memeluk, posisi mereka saling menatap ranjang kedua anaknya. Luna merasa nyaman saat tidur dipeluk dari belakang oleh Triis. Begitupun Triis ia merasa sangat nyaman dan bahagia. Rasanya memeluk wanita resmi dengan wanita bayaran berbeda dan hampa, tapi memeluk sang istri, adalah rasa gejolak yang berbeda bagi Triis.


"Semoga kamu benar seperti ini. Jangan berubah mas. Aku takut kamu mengecewakan aku lagi."


Trdddettth. Treeeddddth. Suara ponsel Luna bergetar, ia meraihnya dan menatap jam dilayar ponselnya.


"Sean. Ada apa semalam ini mengirim pesan?"


"Sayang. Sudah malam, buka pesan nanti saja. Masih ada waktu besok!"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2