
Luna.. Luna cepat kau kemari!
Triis berteriak, membuat Luna yang telah berganti baju dan mandi di kamar mandi sebelah kaget. Ya! ia bergegas mencari sumber mengapa suaminya berteriak histeris seperti itu.
"Ada apa Mas?" tanya Luna.
"Singkirkan binatang cicak itu cepat!"
Luna terdiam, ia melihat sumber ketakutan suaminya itu. Menatap cicak yang sudah mati di kerubuti semut. Luna berdecak nafas yang lucu, ingin sekali ia tertawa tapi sorot tajam mata suaminya. Membuat Luna menyembunyikan senyumnya meski ia tak tahan.
Setelah menyingkirkan dengan plastik dan kedua tangannya. Luna membuang ketempat sampah. Tubuhnya Triis masih menempel pada dinding kamar mandi dengan takut histeris.
"Mas ini, sudah..."
"Tidak.. kau pergi. Pakai kamar mandi kedua. Jangan kotori kamar mandiku dengan tangan kotor bangkai itu!"
Luna berbalik Arah. Dia baru tau jika Triss suami gaharnya. Takut oleh binatang cicak.
"Kau jangan menertawaiku, atau aku akan membuat kau menyesal!"
"Memang aku harus menyesal apa Mas. Selain cicak binatang apa yang kamu takuti?"
"Diamlah!"
Triis terdiam, ia memakai baju yang dipilihkan oleh Luna.
"Meski ia lemot, ceroboh. Dia pandai menata menyiapkan baju untukku!" senyum Triis kala itu.
Triis keluar, ia menatap hidangan meja makan. Lalu menatap luna menyiapkan tanpa sarung tangan.
"Kau membuatkan aku hidangan, kenapa tidak pakai sarung?"
"Mas, aku sudah cuci tangan dengan bersih. Masa kamu ga percaya. Soal cicak tadi aku tuh."
Stooop.. Jangan membuat selera makan hilang. Cepat kau berganti pakaian, kita sarapan di luar!
"Tapi Mas?" Luna terdiam akan wajah suaminya itu.
Alhasil Luna berganti pakaian, dan dengan cepat membungkus hidangan yang akan ia berikan pada orang di jalan. Mengingat ia akan makan di luar. Luna tak ingin makanan begitu saja dibuang.
Triis segera menghampiri dan berkata.
"Luna, aku tidak punya pilihan lain. Aku memintamu untuk datang mengurus kantor!"
"Kantor Mas. Aku bekerja di ruanganmu ya. Tapi aku minta antar untuk bawa Elang ya. aku kasihan karena dia sendirian di villa. bolehkan?"
Triis meminta Ebon untuk membawanya. Entah apa jadinya, dia akan membuat Luna menjadi tak tahan akan pernikahannya.
"Kau pikir kau akan menjadi sekertarisku, tidak kau akan menjadi petugas kebersihan di ruanganku khusus!"
Luna yang makan terdiam, ia mulai mencerna. Pasti Triis akan membuatnya tak tahan lagi. Ya Luna mencoba tersenyum kala itu.
"Mas apapun itu aku akan menerima. Karena kamu suamiku. Meski suami sementaraku." lirihnya. ia mengelap bibir yang sedikit kotor akan sisa steak dengan pede.
__ADS_1
Ke Esokan Harinya.
Luna terbangun sudah ada Elang dengan Rumahnya. Luna pun berterimakasih pada Ebon telah membawa Elang ke Apartment tempat tinggalnya kini.
Luna mengurus Elang, memandikannya dan memberikan makan seperti biasa. Juga bercerita menjadi teman baiknya.
"Elang, aku harus pergi. Tunggu Aku sampai tiba di rumah ya!"
Triis menoleh, ia tersenyum kesal. Bagaimana bisa ia mempunya istri sementara menyukai kucing. Bahkan ia sempat salah sangka dan membuatnya marah. Tapi membuat Luna kesal adalah kesan tersendiri yang fantastis baginya.
Luna bangun, ia memeluk Elang dan menciuminya. Tapi terkejut akan pesan dari Ayah.
"Apa, Mas aku minta maaf. Ayahku sakit, aku harus ke desa. Aku mohon izinkan aku?"
Setelah sampai Luna bersedih, karena setibanya datang. Sang ayah tersenyum dan berkata agar ia bahagia selalu. Sang ayah tersenyum dan menghembuskan nafas terakhir.
Hal itu membuat hati Luna hancur berkeping keping. Karena sang Ayah jatuh dari kamar mandi yang di akibatkan ulah sang kakak.
AYAH. Tidaaak. Jangan pergi tinggalkan Luna!
Triis masih menatap kesedihan, meski begitu ia menyumpat di balik mobil. Dan teringat akan sang mama yang pergi ketika ia tak siap kehilangan.
Di pemakaman, Luna berkerumun dengan keluarga besar Triis. Kedua mertua ikut hadir. Triis pun ada di sudut samping sang Papa. Semua mata karyawan dan orang lain berbisik tak percaya akan hal yang mereka lihat begitu saja.
"Apa itu istri Tuan Triis Ya?" berbisik orang bergunjing.
"Yang sabar ya Luna!" Kedua mertua menyabarkan. Terlihat sanak keluarga Sang suami mengucap belasungkawa.
Tepat Empat puluh hari, Luna melakukan tugasnya membantu Triis. Ya sudah lelah akan tingkah Triis yang memperlakukannya seperti petugas bersih bersih. Bahkan di depan karyawan ia akan bersikap semaunya dan merendahkannya. Seringkali Triis mabuk di dalam Apartment membawa wanita masuk. Meski ada dirinya yang terkejut, tapi ia sudah tak tahan. Dan sadar hati Mas Triis bukan untuk dirinya. Luna sudah kehilangan sang Ayah karena serangan jantung. Kini ia harus merelakan Mas Triis karena sikapnya semakin keterlaluan.
Luna keluar untuk makan siang, ia mengatur segala hal untuk pergi. Dari keluarga kini yang membuatnya frustasi akan siasat tanpa ia tau sebelumnya. Luna merasa dan beranggapan ******, wanita tak tau diri. Itulah yang terngiang dari pikirannya. Wanita yang menikah dengan siapa, tapi sang suami masih mengharapkan adik ipar. Sehingga Luna memutuskan sesuatu diam diam.
***
Paginya.
"Dimana Luna?" tanya Triis, pada Ebon.
Ebon hanya menggeleng karena tak tau. Triis segera keluar, ia tersadar saat menemukan diary Bunda Triya. Jika sang bunda tiada karena satu penyakit serius, bukan kesalahan mama sambungnya itu. Dari sinilah penyesalan Triis mulai sirna akan dendamnya dan meminta penjelasan pada Mama sambungnya. Triis bersimpuh pada sang Papa dan akan menjadi pria lebih baik.
"Triis. Luna sudah yatim piatu, berbaiklah. Jangan biarkan dia pergi. Papa takut wajahnya yang pucat ia hamil. Bukankah kalian pernah melakukannya?"
"Aku, melakukannya?"
Triis terdiam. Ketika ia mengingat perlakuannya pada Luna. Ketika ia salah mencampurkan sesuatu untuk seseorang, Nahas ia terjebak dan meniduri Luna. Meski dalam keadaan tak sadar karena panasya obat. Tapi membuat Triis tersenyum dan menginginkan, hanya saja Luna terlihat tak sehat dan pucat. Sehingga membuatnya tak berselera menatap dan menyentuhnya.
Triis menemui Luna dikamar, ia membuat terkejut dan menutup pintu.
"Luna kamu dimana, sepulang dari luar kota, aku akan mengajakmu kesuatu tempat!"
Luna masih terdiam, membiarkan Triis melakukan hal apapun padanya. Luna bingung akan perasaan yang tak biasa, ia mencium Aroma tubuh Triis yang mendekatinya. Membuatnya tidak mual.
Triis merasa aneh, Luna tak seceria dan lebih banyak diam. Tapi ia masih mengerti akan perlakuannya pada Luna, meski begitu ia terlalu sadar wanita dihadapannya itu membuatnya jatuh cinta. Triis sabar akan perlakuan kejamnya tapi sifat angkuhnya masih sulit untuk meminta maaf.
"Aku akan melakukannya lagi dengan pelan dan lembut. Tunggu aku pulang, aku sudah memesan Eo terbaik untuk resepsi kita, kamu siap sayang?"
__ADS_1
"Mas. Aku rasa, aku tidak perlu dilanjutkan hubungan ini adalah.. !"
Sluurrp! Eeeeuhm! Cup ranum itu ditutup. Menutup bibir itu dengan rakus tanpa jeda, melirik jam yang melingkar. Triis memulai nya agar Luna tetap nyaman, Masih ada waktu dua jam, aku akan menemanimu beristirahat sayang.
Perkataan lembut Triis membuat Luna ilfill. Karena ia sudah di liputi kekecewaan dan kesedihan yang mendalam, seolah mati rasa.
Triis tiba di pesawat, jarinya tiba saja tertusuk perih.
Sementara Luna pamit pada kedua mertuanya dengan sebuah tas kecil. Mereka tidak menyadari koper yang sudah masuk kedalam mobil mewah.
"Hati hati, kabarin Mama jika sudah sampai Apartment Luna!"
"Ya. Mama terimakasih."
"Biarkan sampai sini saja, pulanglah. Sisanya aku akan mengabarkan pada keluarga dirumah!" titah Luna pada pengawal.
Luna bertemu sahabat bernama Siena, ia baru saja bercerai ditinggal mati oleh sang suami tapi dia tidak hamil, ia menceritakan segala hal disebuah cafe.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kita besarkan anak ini sama sama, aku akan suportmu Luna. Kita jadi orangtua penuh untuknya!"
Luna tersenyum bahagia, dengan sisa tabungannya ia lebih cukup, ia pun tak memberi tau Keiy dan kedua mertuanya.
"Maafkan aku nona bintang, aku menyerah akan sikap Mas Triis kini. Dia yang sering berubah seram dan manis. Aku takut dia akan melukai lagi jika dia tau aku hamil." lirih Luna.
Hingga Triis Pulang Syok.
BRaaaagh! Apa kalian bodoh. Kalian kehilangan jejak istriku?
Triis mendapat kabar itu, meminta pengawal mengerahkan untuk mencari keberadaan Luna. Tapi nahas sudah berminggu minggu. ia tak mendapat jejak Luna, Eo resepsi pun di batalkan begitu saja.
"Kamu pergi kemana sayang. Jika terjadi pada anak kita. Aku akan menghukummu!" gumam Triis. Triis sudah tau jika Luna hamil.
Padahal ia berusaha membuatkan surprise kejutan saat ia kembali. Tapi ia teringat akan perkataan jika ia tak menginginkan seorang anak menjadi terikat.
Hal bodoh itulah Triis mengingatnya mengapa Luna meninggalkannya.
"Luna, aku harus mengatakan padamu. Jika aku menerimamu dengan tulus. Aku tau kamu hamil saat dirimu meninggalkan alat tespeck. Aku tak sengaja menemukannya di narkas tempat sampah. Bercerakan dengan kertas kerja." batin Triis.
Triis terpukul karena Luna pergi tanpa jejak. Kali ini ia menyesal akan perlakuannya yang sangat gila dan tidak bisa di toleran. Ketika sudah pergi ia merasakan kesedihan yang menyakitkan seolah hukuman dan karma.
"Aku memang suamimu yang menjijikan bukan."
PRaaaaagh! Triis meninju sebuah kaca. Pengawal membantu dan berusaha mengobatinya. Namun hanya mendapat amukan.
Kedua orangtua Triis menjadi pilu, mereka berusaha membuat iklan agar Luna cepat di temukan.
***
"Ada apa Sein. Apa rumah itu terlalu kecil. Kenapa harus menunggu seseorang?"
Tunggulah. sebentar lagi pemilik rumah sewa ini datang !!
Tak lama Luna terdiam mematung saat pria yang datang adalah seseorang yang ia kenal.
Tbc.
__ADS_1