HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
PERGI KE MALANG


__ADS_3

"Katakan. Apa yang kamu ragukan padaku?"


"Bukankah. Tabiat seseorang tidak bisa berubah, apa caramu mencintai seseorang adalah menyakitinya Triis?"


Triis terdiam, ia terpaku menatap bibir Luna yang bergetar. Ada rasa kasian, tapi ia urungkan. Niat utamanya adalah menikahi Luna kembali menjadi istrinya, urusan sikapnya yang menurutnya biasa. Adalah hal wajar bagi kaum pria yang mempunyai kelebihan bukan.


'Dasar wanita sok. Dia pikir siapa memintaku untuk seperti ini dan itu, tidak kah membuang uang pada wanita adalah amal. Dasar kau akan tau akibatnya jika mencegah diriku ketika telah kembali menjadi istri!' batin.


Triis mengekor didalam mobil, ia mencari tau kemana Luna pergi setelah kegiatan dari kampus. Hal itu membuat ia meminta asisten untuk membuntutinya.


"Kau ikuti kemana dia pergi!"


"Apa Tuan akan bertemu dengan sahabat Luna?"


"Ekheeeuum. Lakukan tugasmu, jika kau masih setia bekerja denganku. Tutup mata dan telingamu Ebon!"


 


Luna kembali pergi ke malang. Setelah semester satu berakhir dan mendapat cuti. Sebelum ia menemui kedua anaknya kala itu. Ia mencoba mengejar naskah dan cita citanya untuk sukses. Ia sedikit menghindar dari ulah Triis yang selalu membuntutinya.


"Aaakh. Akhirnya aku sampai juga di malang. Setelah ibu tiada, Ayah menyusul. Entah kemana aku mencari sosok keluarga yang menuntunku. Sudah lebih jauh aku mengejar dunia dan menangis akan kesedihan karena aku merasa tidak adil. Tapi dia yang maha kuasa benar benar mendorongku untuk kembali dimana tempat aku semula."


Luna telah mengitari seluruh jalan aspal. Ketika tak ada satupun ia menyarter ojek online. Kini ia harus melangkah lebih jauh ketika harus mendapati ojek pangkal. Keringatnya sudah mengucur, sementara di tangannya sebuah koper sedang ia tarik mengikuti langkah.


"Pak. Tunggu, apa bapak tau pondok di tempat ini?" tanya Luna..


"Owh. Namanya Pondok Akhwan Aliyah Azzahedy neng. Nama pemiliknya Ust Abu Khoirin Abidin. Kebetulan tak jauh dari rumah saya."


"Mmh .. terimakasih ya pak. Tapi apa ada ojek pangkalan, agar saya bisa sampai di tujuan pak. Saya ingin bertemu bukle saya yang lama tinggal di sini, tapi saya lupa gang dan tempatnya. Karena seingat saya tak jauh dari pondok ini."


Pria paruh baya menatap foto wanita paruh baya. Lalu ia tersenyum menatap foto itu dan bicara.


"Bu Srie namanya. Apa benar nama bukle mu neng. Kalau gitu neng tepat sekali, saya adalah suami barunya. Tiga tahun setelah mendiang suami meninggal. Bu srie dan saya bekerja bantu untuk membereskan kantin dan keperluan santri dan akhwan di sana."


Luna terdiam, apa pria ini bicara dengan benar. Atau hanya palsu, ia jujur saja takut. Karena sudah banyak yang ia takuti setelah pernikahan gagal bekas hutang sang kakak. Tak lama Luna menarik nafas dan berfikir baik.


"Saya akan ikut bapak. Mmmh Pakle maksudnya. Bolehkan?"


"Hahaha. Pak Srie saja. Saya senang jika masih ada saudara jauh yang mengingat bu Srie. Ayo ikut naik motor butut saya neng. Ceritanya nanti saja setelah bertemu dirumah buklemu!"


Dengan ragu ragu. Luna akhirnya ikut selama lima belas menit lebih mengendarai motor. Ia sampai di sebuah rumah tepatnya di belakang pondok. Luna terhenti dan berpijak menatap seisi halaman luas. Ia malu karena beberapa santri menatapnya aneh. Ia sadar tak memakai kerudung atau sekedar selendang untuk menutupi rambutnya.


"Pak Srie. Bukankah ini bukan rumah yang dulu bukle saya tinggal?"


"Tunggu sebentar di sini ya neng. Nanti bisa tanyakan dengan bukle mu nanti!"


Luna terdiam, ia mengangguk dan menjadi berfikir benar. Orang yang ia temui adalah orang baik.

__ADS_1


Namun sosok matanya terperanjat ketika pria yang pernah ia temui dan membuat kagum beberapakali itu ada di dekatnya.


"Aakh. Tidak, jadi dia benar tinggal di pondok ini. Pantas saja aku merasa tidak asing, dengan pondok ini?" gumam Luna.


"Luna. Kamu benar Luna sayang?" tanya bukle.


"Bukle. Ya bukle maafin Luna, Luna baru mengunjungi dan mencari bukle sekarang?"


Luna memeluk, ia menangis tersedu sakin rindu. Bukle adalah wanita yang tak mempunyai anak, adik dari mendiang ibunya. ia pernah merawat Anton dari seorang tetangga yang tak jauh dan pergi menitipkan. Namun karena keadaan ekonomi ia dirawat oleh sang ibu hingga kini, ia pun tak tau kemana Anton berada.


"Ayo masuk Luna sayang!"


Setelah mengambil teh dan bercengkrama. Luna menanyakan mengapa bukle tinggal di sini? Luna pun terdiam dan tak ingin melanjutkan ketika raut wajah bukle berubah sedih.


"Bukle. Jika berat jangan di bahas. Lain waktu saja!"


"Tidak Nak."


Semua karena ulah Anton, ia lagi lagi berhutang dan mengakali bukle tiga tahun lalu. Pakle Tansrie tiada karena jantungnya kumat. Rumah kami di sita karenanya.


Tapi Alhamdulillah berkat Ustadzah Aminah dan pemilik pondok memberikan kami tempat tinggal dan memberikan kegiatan kami di sini. Hingga Bukle bertemu dengan pak Sura yang sekarang jadi suami bukle. Tapi panggil Pakle Srie nama bukle aja ya. Dia pria mualaf yang tak sengaja sang pencipta kirimkan agar bukle ga berlarut sedih dan sepi.


Luna pun saling kangen bercerita, hingga ia menonaktifkan ponselnya. Malas karena Triis terus saja menghubunginya.


***


"Honey. Apa kamu kembali mencintai istrimu lagi?" tanya Sean.


"Bukankah kau mengenal Luna dariku?"


"Tidak. Aku sangat mengenalnya, tapi ketika dia jatuh pada pria yang selalu aku suka. Aku selalu ingin menginginkan seperti dia yang beruntung. Lantas kapan kau akan menikahiku Mas?"


"Bersabarlah. Mmmmmch. Aku harus memastikan dan membuat Nama aset Luna menjadi kembali nama ku yang telah di buat oleh Papa!"


Sean melirik dan membuat tanda kissmark di area tubuh Triis. Ia memang sahabat Luna, tapi seiring project dalam setengah sadar, ia meratap tak ingin kehilangannya. Sosok Triis sangat sempurna baginya. Sehingga ia tak menghiraukan jika sosok Triis adalah mantan suami Luna. Lagi pula yang ia tau adalah, Triis tak pernah mencintai Luna sehingga ia kabur dan pergi bersamanya lima tahun silam.


TRLIIIT ... TRILIITH.


Luna mengangkat video call. Ia sambungkan dan berpindah kedalam laptopnya, dengan sisi ruangan teras dan sedikit pencahayaan. Ia pun menyadari jika Bukle sedang menatap dan memperhatikannya.


Tak lama bukle Srie menghampiri dan memberikan segelas teh.


"Anakmu lucu sayang. Kapan ia ajak kesini?"


"Makasih Bukle. Pujiannya Luna jadi malu."


Luna membalas jika ia ingin sekali. Bahkan ia menceritakan bagaimana ia bisa menikah dan mempunyai anak. Tapi kuliah nya di negeri tetangga membuat ia mencari pundi untuk hidupnya, karena ia ingin berkarier dan tak ingin menjadi wanita rendahan yang dianggap Triis sebelah mata. Namun seiring waktu bertemu sosok pria yang tak asing dan membuatnya kagum. Ia teringat akan hidup yang fana. Jika ia mempasrahkan hidupnya kedepannya pada yang kuasa dan tak berlarut mengejar dunia.

__ADS_1


"Takdir Luna tak beruntung bukle. Jika saja tuhan memberikan Luna seorang imam yang baik dan menuntun Luna. Luna ingin seimbang dunia dan akhirat bukle."


"Insyallah Luna sayang. Tetap istiqomah, jika bukle sarankan tutuplah auratmu!"


"Insyallah bukle. Luna akan memantapinya."


Tak lama suara di ponsel Luna, berdering lagi. Ia sebenarnya malas mengangkatnya, tapi ketika merasa risih akan pesan yang mengancam. Membuat ia harus mengangkat ponselnya.


"Sampai kapan kau menghindar Luna?" tanya Triis.


"Aku mohon. Aku sedang sibuk, bisa kita berdamai waktu untuk hidup di jalan masing masing. Kita tak sejalan, aku sedang berada di rumah bukle ku. Ku mohon jangan ganggu!"


"Tiga hari. Jika kau tak bisa datang, aku pastikan akan membuat keributan dan menikahimu dengan paksa Luna."


Truuuth .. Truuuth.


Sambungan telepon Luna ia matikan. Luna copot simcard agar Triis tak bisa menghubunginya. Bagus saja ia sudah mengganti ponsel agar Triis tak bisa menyadapnya dimana ia tinggal saat ini.


"Triis. Aku butuh waktu, sesakit bekas noda yang kau bubuhi di hatiku. Tak semudah kamu bicara jika kau berubah. Aku ragu, dan keraguanku aku sangat takut." lirih Luna masih memeluk erat ponsel.


Ia berdiri ditepat tiang. Dengan selendang yang hampir turun, ia mengusap air matanya dan berlalu untuk masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum." seseorang tiba datang.


"Walaikumsalam." Luna refleks. Ia menatap pria yang pernah ingin ia ikuti dan mengenal lebih dalam.


"Maaf saya. Tidak tau jika ada santri di sini, bisa panggilkan Bu Srie!"


"Maaf. Saya hanya menginap, bukan santri di sini, tunggu sebentar. Apa mau saya buatkan teh?"


"Tidak perlu. Cukup panggilkan saja Bu Srie atau Pak Srie!"


Luna terdiam, ia merapihkan selendang menutup kepalanya. Benar saja Shasa bicara jika pria itu benar alim jauh dari kata sopan dan santunya sangat perfect dari ketampanannya. Apalagi pandangannya tak pernah melihat ke arah Luna.


"Apa pria surgawi seperti itu indahnya Tuhan. Mengapa aku merasa iri, andai waktu bisa di putar aku di pertemukan imam yang bisa menuntunku."


Luna terjeduk tiang. Keningnya merasa sakit, ia masih menatap di balik punggung cara pria itu tak menatap dan menyamping ketika bicara pada lawan jenisnya termasuk padanya.


"Siapa yang datang Luna?"


"Owh. Ada pria surgawi bukle, cari bukle atau pakle."


"Haaah. Pria surgawi yang bener aja Luna?"


Cengoh kebingungan Pak Srie mendengar perkataan Luna. Menatap sang istri.


"Ia, beneran ditunggu di depan. Mau Luna anter kedepan. Ayook Bukle. Pakle!"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2