
Tak berselang lama, seluruh pria berjas hitam belang kupu kupu itu mengelilingi keberadaan Luna dan Erland.
Luna sedikit kaget, begitupun Varo dan Sein menggendong Rein dan Reina kedua anak Luna, yang terkejut akan puluhan pria yang mengililinginya.
"Kalian siapa, mau apa?" tanya Luna.
Eheuuuum .. Luna, tatap mata aku. Kemarilah aku ingin mengatakan sesuatu di hadapan orang banyak. Luna di buat terkejut akan sikap romantis Erland yang selalu ia kagumi saat masa di kuliah. Menatap puluhan pria itu membuka tangan dan memberikan mawar mengelilingi Luna. Sementara Erland bersipu lutut menatap Luna.
"Mas, jadi para pria ini orang Kamu?"
"Maafkan aku My Sweety. Aku membuatmu terkejut."
"Mas, ayo diri. Aku ga bisa kamu duduk berlutut seperti itu, kamu mau apa. Berdirilah!" merona pipi.
Luna yang merona akan pipi yang merah. Semerah tomat tapi tak sehijau cabe tua. Ia menatap tatapan kedua anaknya yang tersenyum.
"Bunda, ramai sangat." teriak manis
Luna tersenyum, sementara Sein menenangkan kedua putra dan putri Luna.
"Will you marry me. Luna?"
"Mas, tadi beberapa jam lalu kamu udah mengatakannya, kenapa?"
"Karena aku ingin mengatakan sekali lagi, aku ingin mengatakan pada dunia. Kalau aku mencintaimu sampai akhir nafas terhenti. Kamu wanita yang selalu aku tunggu sampai di akhir keabadian Luna."
Luna begitu tersanjung, ketika pahit hidupnya. Ia merasa tuhan memberikan hadiah terindah, andai sang Ayah masih ada. Ia akan lebih bahagia. Tetapi Luna tak melihat sisi lain di suatu tempat sedang mengintai keadaan Luna yang semakin bahagia.
"Terima, Terima, Terima." bak pengunjung lain berteriak, menepuk dan ikut bahagia menatap kedua sepasang insan yang sedang memberikan tontonan ala cinta manis bagai film korea.
"Ya, mas El. Aku bersedia menjadi ratumu. Aku akan menjadi istri terbaik dan terbahagia. Karena selalu di sampingmu. Aku juga sangat mencintaimu."
Sesudah mendapat jawaban, Erland berdiri dan membuka kotak merah love. Ia menautkan sebuah kalung indah liontin love terbuka. Kalung yang menandakan inisan nama EL yang artinya Erland dan Luna, dengan bahagia dan tersenyum Luna pun sangat bersyukur hari itu. Erland berbisik jika nanti malam ia akan mengajak dinner.
Sein mengedipkan mata, jika kedua anaknya akan mereka atasi dibantu Varo. Hal itu membuat Luna semakin malu saja.
"Mas, tapi aku ga bisa ninggalin Rein dan Reina."
"Aku ga masalah, mengajak mereka My Sweety."
Luna terkagum, bagai kehidupan yang semakin berwarna. Sein berbicara jika mereka bisa dinner setelah kedua anak mereka tidur, Rein dan Reina ikut senyum bahagia seolah mereka senang. Meski mereka tak mengerti apa yang di lihat.
"Aunty Sei, apa Uncle El merayakan Ulang tahun untuk Bunda?" tutur Rein.
__ADS_1
"Ya, Aunty ramai. Reina senang lihatnya." sedikit cadel.
"Heuuum .. Aaakh, anak pintar Aunty nih. Ya seperti itulah cara orang dewasa membuat kejutan Ulang tahun sayang." dalam batin Sein ia tertawa lucu, tapi ikut tersanjung.
Betapa tidak Erland sangat setia pada Luna dalam keadaan apapun, karena ia adalah saksi hidupnya saat bersama berjuang dengan Luna.
***
Kehidupan Triis Kacau.
"Kau bodoh. Jangan biarkan ini terjadi, Pria biadap itu benar benar membuat aku geram. Luna apa pentingnya pria seperti dia. Aku lebih kaya, mengapa harus dia." lirih Triis.
Di balik ruangan gelap, ia menatap cermin dengan sedikit cahaya. Tak berselang lama, ia menatap keindahan dalam bayangan cermin. Ia berbisik dan bergemuruh dalam jiwa.
"Luna, aku akan melihat kebahagianmu di detik detik akhir. Kamu pasti akan menyesal, aku tidak akan berhenti untuk membawamu kembali bersamaku." bubuh Triis.
Ebon kembali mengetuk pintu, ia memberitaukan Misi sebuah dalam rekan bisnis, Triis pun membuka pintu dan menatap lembaran kertas dengan tersenyum.
"Baiklah, Ebon kau lakukan tugasmu. Untuk hal ini aku akan mengatasinya sendiri. Pergilah urus hal yang belum selesai!"
"Baik, tuan Triis." balas Ebon.
Luna menatap satu meja, meski mereka dinner di atas atap rumah milik Erland. Ia tersanjung karena pria yang membuatnya tersenyum membawanya tak jauh dari rumah mereka, hanya bersebelahan ia tak akan khawatir meninggalkan kedua anak mereka.
Satu bunga mawar, saat Erland sedang memasak makanan istimewa di hadapannya. Luna menatap tak berkedip, karena dari tadi Erland membuat sesuatu sambil menatap senyum padanya. Luna pun memegang liontin itu dan menatap dengan senyuman, ia membuka liontin love itu dan terkejut, satu foto saat pertama mereka berdua berfoto di tempat kuliah, dan satu foto saat Luna mengabadikan ketika Rein dan Reina baru lahir, karena saat itu Erland menggendong Reina sementara Luna menggendong Rein yang seperti keluarga.
"Mas, kamu pria yang membuat aku bahagia. Aku sangat berterimakasih padamu." lirih Luna.
Selesai, aku sudah menyiapkan semua ini dengan cinta. Ratuku bersiaplah untuk menyantapnya!
Luna lagi lagi malu dan tersipu, tapi kedua tangan kokoh Erland memegang tangannya dan membuka wajah cantik Luna. Erland dan Luna saling bertautan dan berdiri dengan perlahan.
"Luna, aku yang bersyukur memilikimu seuutuhnya. Apapun itu, aku akan membahagiakanmu. Terimakasih sudah menerimaku dan membuat aku menjadi pria yang bahagia."
"Mas El, aku yang bersyukur dan beruntung. Karena dipertemukan pria sebaikmu Mas."
Mereka pun terbawa suasana, hanya nafas mereka sejengkal. Erland menepuk pipi halus Luna, mereka saling berdekatan ketika Erland melingkar pada pinggang Luna. Wajahnya mendekat ke ranum Luna. Luna tak menghindar, ia memejamkan mata.
Mendapat tak ada penolakan, Erland tersenyum dan menautkan perlahan ranum manis Luna. Sudah sejak lama, ia tak merasakan manis bibir Luna. Saat terakhir adalah perpisahan di masa kuliah mereka, tak menutup kemungkinan aroma sensasi itu membuat Luna terbakar dan bahagia saling mengingat masa indah di kuliah.
__ADS_1
"Kamu cinta sejatiku Luna." bisik Erland.
"Mas El, aku akan di sunting olehmu bukan yang pertama, tapi aku bahagia karena kamu cinta pertama dan pria terbaik yang aku kenal." batin Luna.
Mereka masih saling menautkan aroma indahnya ranum bibir yang saling menempel, dengan lihai Erland membawa Luna ke alam indah. Setelah itu menyudahi ketika ia semakin terbakar gairah, tapi ia menahan hasratnya.
Luna membuka mata setelah Erland menghentikannya, ia menatap dan saling senyum memeluk bidak Erland kala itu.
"Mas, aku bahagia. Semoga kita bisa menjadi pasangan terindah dan selalu bahagia."
"Ya. My Sweety. Ratuku, aku akan memperlakukanmu bagai ratu. Meski badai apapun aku akan lewati hingga nafasku terhenti."
"Mas, jangan berbicara seolah ingin meninggalkanku. Aku akan rapuh jika aku kehilangan Pria sebaikmu."
"Luna, kamu terlalu memujiku. Semua karena dimataku aku hanya melihat kamu wanita istimewa. Akan aku lakukan apapun itu untukmu dan kedua anak kita."
Janji Erland membuat Luna, lagi lagi tersanjung. Pasalnya meski bukan darah dagingnya, tapi Erland sangat menyayangi kedua anaknya. Ia tak perduli akan kisah cinta mereka yang tak lagi muda. Meski Luna saat itu masih sangat muda di usia 26 tahun. Tapi Erland sudah cukup matang, di usia 29 tahun.
Luna dan Erland menyantap makan malam mereka, saling menyuapi dan tertawa renyah bahagia.
Mereka pun lagi dan lagi saling berbicara hal manis, mulai dari perkembangan kedua anak Luna. Mulai dari masa lalu mereka mengingat asmara manis saat mereka pertama bertemu.
"Hahaa .. Ia mas, kamu yang memulai, pertama aku di antar ka Anton. Kamu mengicep mata tanpa berkedip saat turun dari mobil."
"Ya. Terus kakakmu bilang dia pacarnya, aku seolah percaya dan ingin merebutnya. Lagi dan lagi kamu membuat aku penasaran akan sikap cuek mu. Jelas jelas aku ingin dekati kamu."
Haahahhaha .. Saling tertawa dan menggenggam kedua tangan saling menatap.
Pertemuan mereka awal. Memang sangat tidak peka oleh Luna. Tapi Erland benar benar menunjukan sikap romantis dan membuat kejutan selalu pada Luna.
"Mmmm ... habis aku pikir kamu pria gombal Mas. Jadi aku biasa aja hehee."
Erland tersenyum, ia menyantap sebuah steak dan mengambil tissue. Karena kala itu ada sesuatu di pinggir bibir Luna. Erland pun menyekanya, karena Luna begitu lucu makan seperti kedua anaknya yang berantakan.
"Aaakh .. menempel lagi ya Mas?"
"Heuuumph .. kamu mirip kedua anak kita, jika makan masih berantakan seperti itu." goda Erland. Luna tertawa kecil dan malu memegang pipi dan bibirnya, membuat Erland tergoda ingin mengesap kembali.
Alhasil makan malam itu sangat lancar dan penuh bahagia tawa.
Tapi dari sebrang gedung, ada pengintai yang melihat keindahan dinner itu bak jadi kesedihan bagi Luna.
Tbc.
__ADS_1