
"Kau menggodaku?" lirih Triis.
"Eeuum. Aku tadi a-ku hanya."
Sluuurph! Triis mengecup halus. Lalu melebarkan mulutnya dan memejamkan mata. Luna pun hanyut, ia merentankan kedua tangannya kedalam punggung Triis.
Bagaimanapun Luna merasakan sosok kehangatan dan kelembutan pria di hadapannya itu. Tiba saja kecup lama itu berhenti membuat Luna membuka matanya.
"Apa dia akan marah, saat aku menyambutnya. Bagaimana ini?"
Luna terdiam, ia menatap sang suami telah mendekur dan tersungkur di atas tubuhya. Ia segera membenarkan posisi itu. Namun ia merasa aneh ketika hendak bangun. Seolah Triis tak ingin ia beranjak. Alhasil ia ikut tertidur dan membiarkan Triis memeluknya.
"Aneh, dia seram dan kejam. Tapi kenapa aku amat senang ketika dia manis seperti ini?"
Luna tersenyum dan yakin perasaannya kini adalah perasaan bayinya yang mendekatkan dirinya pada sosok Ayahnya. Heuuumph Luna sadarlah, dia tak mungkin punya perasaan lebih padamu. Semua ini terjadi pasti karena ikatan batin anak dan Ayahnya.
Triis tersadar di pagi hari, ia memegang kepalanya yang berat. Ia memikirkan apa yang terjadi kemarin malam, sungguh ia merasa lelah dan berat. Hingga ia memutuskan untuk ke kantor sedikit siang. Lalu kembali bangun dan tak ada siapapun di kamar ini, sedikit ingat ia kini berada di rumah orangtuanya. Jelas terlihat kamarnya yang tak pernah berubah sedikitpun.
Tapi satu sudut ia menatap Baju kantor yang telah disediakan. Tak lama Luna masuk membawa nampan dan sarapan pagi.
"Kamu sudah bangun, aku minta maaf tak membangunkanmu lebih awal. Aku lihat kamu begitu lelah."
Triis masih terdiam menatap tajam. Masih sama mengabaikan suara bising Luna yang berbicara. Andai saja di hadapannya adalah Keiy mungkin tak sama ia perlakukan.
"Aku tidak tau apa minuman kesukaanmu. Tapi aku membawakan susu, teh dan kopi. karena aku tidak tau kebiasaanmu di pagi hari."
Triis mendekat ke tubuh Luna. Ia mundur dan menepi di satu sudut.
'Apa yang akan dia lakukan lagi, apa ia akan menciumku lagi?' batin Luna terpejam.
Kau sedang apa di sini? Jika sudah bicaramu keluar sekarang juga. Aku akan mandi!!
__ADS_1
Teriakan Triis membuat Luna amat sakit. Tapi sikapnya ia harus lebih ekstra sabar dan tetap tersenyum. Ia pun berkata.
"Baiklah, aku akan keluar sekarang. Aku sudah meletakkan baju, pakaian dan semuanya di sana. Lalu.."
"Cukup... keluar sekarang!" nada satu oktaf Triis kembali bersua.
Huuuft Pria seram! Luna kembali keluar, ia menutup pintu dan tetap tersenyum pada Triis. Di balik pintu ia menunduk dan berfikir keras. Aku hanya melakukan sebagian kecil, ini belum cukup untuk meluluhkannya. Kecupan manis dan sikap semalam membuat aku mabuk.
"Sabar Nak, kita harus berjuang mendapat perhatian Ayahmu ya!" Luna tersenyum dan mengelus perutnya yang masih rata.
Triis yang telah selesai mandi, ia masih membelit handuk. Ia menatap cermin dan menatap sebuah ponsel.
"Cepat cari waktu, alihkan Erico sore ini juga!" Pesan kilat Triis pada Ebon.
Saat itu Luna mengetuk pintu, namun ia tak mendapati suaminya berada disana. Ketika ia meletakkan sebuah Arloji yang tertinggal di mobil dan meletakkan dekat meja yang menyatu di lemari besar. Tapi ia menatap sebuah ponsel dan terpampang pesan.
"Baik Tuan. Erico akan segera sibuk. Dengan begitu saya akan mengalihakan ke ruangan private nona Keiy!"
Luna terdiam, ia menutup pintu kembali dan keluar dengan terburu buru.
"Apa yang akan dilakukan suamiku padanya?"
lirihnya dan turun ke anak tangga.
Luna telah berada di meja kebesaran keluarga. Ruang makan yang amat besar, ia menatap Triis jalan dengan gagah menuruni anak tangga. Luna terpana akan sosok pria yang menikah padanya meski tak sesuai harapan pernikahan idealnya.
"Meski aku tak bisa lama dan membuatnya jatuh cinta padaku. Tapi aku tak bisa begitu saja melupakan momen hangat manis semalam."
"Luna, ajak suamimu makan. Kita sama sama bersama makan ya!"
Heuumph baik Mama. Akan Luna lakukan. senyum Luna kala itu.
__ADS_1
Luna menghampiri Triis. Eeehmm... ia sedikit canggung. Panggilan apa yang tepat, sebab pria ini seperti sangat berbeda dari semalam. Triis sedikit tempramen meski tatapan tajam, tetap saja Luna tak bisa berhenti memandang.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Eeeeeuh... itu. Kita bisa makan bersama. Aku dan kedua orangtuamu sudah menyiapkan dan ..."
Tiba saja Triis menepis perkataan.
"Aku sudah kenyang, melihatmu saja sudah muak. Berhentilah manis mencari sikap yang seperti topeng seperti kemarin. Kau sengaja menikmatinya kan?"
"Apa maksudmu?" Luna sedikit sakit dan teriris perkataan Triis. Luna membiarkan Triis pergi begitu saja dan kembali duduk ke meja makan.
"Maaf Mama, Papa. Triis sudah kenyang. Karena terlambat akan ada meeting. Luna juga sudah sarapan tadi, Luna pamit akan mengambil tas. Sebab akan pergi bersama Triis."
Senyum Luna, membuat sang mertua percaya. Dan mereka bicara agar Luna berhati hati dan tidak terlalu lelah.
Seperginya Luna, kedua mertua itu saling tersenyum.
"Semoga Luna membawa kebaikan pada Triis ya Mah?" ucap Papa.
Tapi Mama Maya sedikit ragu akan sikap Luna yang seperti disembunyikan, seolah perkataannya itu berbalik dan menutupi.
"Sudahlah kamu jangan berfikir begitu, kita serahkan pada Luna. Kita tak bisa ikut campur kedalamnya!"
***
Srreittth... Rem mobil tiba saja berhenti.
Luna mengekor mobil Triis. Lalu dia mengendarai dengan taksi, tapi ia terperanjat ketika sebuah mobil berhenti untuk mengelabui dan menghalanginya.
"Ada apa pak?" ucap Luna.
__ADS_1
Luna menoleh dan membuka kaca, begitu terkejut akan seseorang yang berada di luar taksi menghampirinya.
Tbc.