HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
ANAK KU SAKIT


__ADS_3

Triis, telah kembali dan sampai di pelataran rumah Luna. Ia masuk berlari dengan langkah kaki panjangnya mencari keberadaan Luna serta kedua anaknya.


Luna pun menoleh dengan rasa khawatir ketika Triis, telah tiba dan amat dekat dengan wajahnya kala itu.


"Mas. Rein demam. Tak lama Reina juga ikut demam sangat tinggi, mereka sudah demam mencapai 39,5º bagaimana ini?"


"Jangan cemas, kamu gendong Reina. Aku membawa Rein. Ebon sudah menunggu di bawah dan mereservasi ruangan khusus untuk anak kita!"


Luna sedikit terdiam, ia menatap punggung Triis yang lebih dulu melangkah cepat. Luna teringat Erland yang siaga, bahkan saat ia melahirkan Erland selalu mendampinginya dalam keaadaan apapun.


Andai masa lalu pernikahannya dengan Triis tak sesakit dan pedih, mungkin ia tak akan pernah jatuh cinta pada sosok Erland pria yang sangat luar biasa membuatnya seperti ratu.


Bahkan hingga lima tahun Erland masih menunggu dan sopan tak berlaku kurang ajar pada dirinya. Dari pria yang pernah ia temui, bahkan sekedar mendengar dari kisah sahabat ketika dirinya telah menjadi wonder women, tak sedikit pria tak baik berusaha memanfaatkan dengan tidak tulus. Tapi Luna tak ingin dan belum sanggup kembali pada Triis, karena kedekatannya kini ia sadar! dia adalah ayah biologis kedua anaknya. Hal itu harus ia sadari tak boleh mengelak jika kedua anaknya butuh kasih sayangnya.


'Apa aku tetap harus menutup hati, atau memberi kesempatan pada Triis?' batin Luna.


"Ebon cepatlah, jangan sampai kedua anakku terjadi sesuatu. Tunda penerbangan malam ini!"


"Baik Tuan!"


Luna yang mendengar perintah Triis pada asistennya. Ia meminta maaf dan memohon maaf karena telah merepotkannya. Luna tak tau jika Triis akan terbang ke ibu kota dan telah berakhir tugasnya di mansion bali.


"Jika aku tak memanggilmu mungkin ... ?"


"Sudahlah Luna. Aku akan menemani sampai kedua anakku sehat. Aku melakukan ini karena aku sayang pada kedua anak kita. Juga aku ingin menebus rasa bersalahku padamu. Maafkan aku di masa lalu!" menepuk pundak Luna.


"Mas, Aku ... "


Luna pun menoleh tangan kokoh itu, sudah lama ia rindu. Tapi ia tak ingin terpedaya, kesalahan fatal Triis adalah menyakiti batin nya. Terlebih hobi yang mengisap kegadisan wanita lain secara terang terangan. Hal itu membuatnya masih terasa perih jauh dalam lubuk hatinya hanya sosok Erland pria luar biasa yang menerima kekurangannya, tapi Tuhan tak bisa menyatukan. Andai aku menerima dari dulu, aku memang bodoh menyiakan pria sebaik Erland. Atau ini hukuman diriku yang lama mengabaikan pria sebaik Erland, sehingga kini mendapat yang terbaik di dunia berbeda.


"Maafkan aku Mas. Aku merasa bersalah padamu!" batin Luna mengingat Erland, tapi menatap Triis dengan wajah yang sendu.


Tak lama di depan rumah sakit, Luna tak jadi bicara. Segera mereka turun dan mendorong ranjang yang di sediakan suster serta kursi


roda untuk mendorong kedua anaknya ke ruangan IGD. Tak berselang lama Luna dan Triis diminta untuk menunggunya di luar.

__ADS_1


"Tenanglah, kedua anak kita pasti akan baik baik saja!" tutur Triis.


Ada perasaan cemas bagi Luna. Sudah hampir empat puluh menit, tapi belum ada tanda tanda dokter mematikan ruangan yang terlihat. Bahkan tanda tanda dokter keluar memberi penjelasan pun tak ada.


"Mas bagaimana si kembar, mengapa dokter lama sekali?"


Luna kembali berdiri, ia duduk dan tak karuan. Ia bertanya pada Triis dengan gelisah.


"Tenanglah Luna. Bersabarlah kedua anak kita sedang di tangani!"


Triis duduk menepuk elus pundak Luna. Ketika Luna duduk menduduk dengan mengusap telapak tangannya. Tanda kecemasan tinggi dari raut wajah Luna terlihat amat jelas yang di lihat.


Hal itu membuat Triis memeluk dan menyandarkan kepala Luna pada bahunya. Kala itu Luna terlihat gemetar, takut situasi di mana hal terjadi kembali. Ia tak bisa lagi membayangkan hal buruk terjadi pada kedua anaknya.


'Jika aku merebut kedua anak kita, apa kamu akan sepanik cemas ini. Demi mendapatkan hatimu sepertinya aku tak boleh melibatkan mereka. Maafkan aku Luna, aku sudah merencanakan hal baru agar dirimu memaafkan dan kembali ke pelukanku. Batin Triis.


Triis berusaha mengambil kesempatan, dari sesuatu yang terjadi adalah, ia harus berusaha dekat pada kedua anaknya. Meski jarak jauh ia tinggal, selelah apapun ia harus membuktikan pada Luna dengan sabar.


Bahkan kedua anaknya yang menggemaskan, membuat Triis tak ingin jauh. Ia sadar sikap dahulu menyiakan Luna dan tidak peduli dan meminta Luna untuk tidak hamil. Jika ia mempunyai anak selucu dan sebahagia ini, mengapa harus ia sia siakan dan bodoh.


Dari sikapnya yang terlalu, dan amat keterlaluan kala itu. Triis sadar ketika Luna pergi belajar dari kehilangan, ia semakin sadar dan emosi tak terkontrol. Bahkan meninggalkan kebiasaan buruk hanya karena Luna. Tapi apa Luna mau kembali padanya, mengingat hatinya telah terisi oleh pria yang ia benci meski telah tiada.


"Nyonya Luna, Tuan Triis." Lirih dokter Selen yang keluar dari ruangan dan membuka masker serta sarung tangannya.


"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Luna.


Dokter menatap dengan wajah guratan khawatir. Ia meminta Luna dan Triis keruangannya. Hal itu membuat bola mata sempurna Luna melemah dan menatap wajah Triis.


"Ba- Baik Dokter." Nafas menipis Luna.


Tiga puluh menit, Luna dan Triis kembali keluar dari ruangan pribadi dokter selen.


Dimana ia keluar dengan lemas dan menatap lembaran CT SCAN kedua anaknya. Bahkan derai air mata tak bisa ia tahan masih saja mengalir dan membendung. Pasalnya Luna kecewa akan diagnosa sementara dokter meski ia harus menunggu keadaan kedua anaknya membaik, karena Rein dan Reina akan kembali di cek ulang dengan hasil yang lebih baik lagi.


"Aku ga bisa terima ini mas, mengapa harus kedua anakku. Kenapa bukan aku saja?" lirih Luna.

__ADS_1


Huuuhuuuu.. wajah masih mengembang. Tangisan pecah mengalir begitu saja, Triis menyeka dengan sapu tangan dan jari kokohnya ke wajah Luna. Ia sadar selama lima tahun Luna sangat tertekan akan kesehatan kedua anaknya yang tak seperti anak lain. Hal ini membuat ia selalu ingin menebus rasa bersalahnya pada Luna, tapi Luna seolah menjawab dengan sikap.


Kedekatannya karena kedua anaknya yang telah tau. Luna tak bisa memberi jarak karena psikis kedua anak Luna masih terlalu kecil, bahkan meski ia memaafkan dan menerima Rein dan Reina itu saja sudah cukup, bagaimanapun sebuah data pengakuan Luna butuhkan.


Meski bukan Triis yang ia butuhkan saat ini, ia lakukan karena kedua anaknya. Ia rela melakukan apapun untuk kedua anaknya. Bagi Luna, mereka harta kebahagian dan keluarga satu satunya yang ia punya.


"Luna. Maafkan aku, aku berjanji akan selalu ada di sisimu kapanpun itu. Percayalah padaku!"


Luna melepas tangan kokoh itu. Ia kembali duduk dan menatap ulang berkas diagnosa sementara.


"Leukimia dan lemah jantung. Kenapa harus kedua anakku Tuhan?" lirih Luna. Ia amat kesal mengapa orang yang ia sayang selalu cepat kepangkuan ilahi. Ia tak rela jika kedua anaknya benar benar pergi meninggalkannya.


Triis meminta Ebon untuk menyiapkan tiket ke penang. Ia pun sama halnya tak mau terjadi sesuatu pada kedua anaknya. Luna yang mendengar perintah Triis segera berdiri dan menatap wajah Triis.


"Mas, tapi aku ibunya. Kamu ga bisa bawa dia semaumu?"


"Lalu aku harus diam di tempat. Atau kamu ingin diam seperti ini menunggu keajaiban? Aku mohon padamu Luna. Percayalah aku melakukan hal terbaik, aku punya kenalan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan anak kita!"


"Anak kita, bukankah kamu dahulu sungguh tak menginginkannya mas?"


Triis di ingatkan kembali membuat emosinya meledak dan nada naik satu oktaf.


"Cukup. Luna kita tak seharusnya berdebat. Aku minta kau turuti, kita harus bawa kedua anak kita ke penang. Jika kamu tidak ingin ikut bersamaku. Terserah padamu!"


Luna hanya terdiam, bahkan ia hanya bisa menatap wajah kemarahan Triis kala itu. Hanya bisa menurut baginya saat ini, dan menunduk diam.


Triis meminta maaf akan nada suaranya, lalu ia menggenggam paksa tangan Luna untuk ikut bersamanya.


Tak lama seseorang datang membuat kedua matanya membulat dengan sempurna.


Kedatanganya bagai goresan api dan serpihan kaca yang menyatu, datang di saat tidak tepat.


"Kenapa harus dia yang datang?" lirih Luna.


Triis menatap wajah Luna kala itu dan memeluk Luna.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2