HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
Bab 3


__ADS_3

Anya masih dalam degupan tidak jelasnya. Apalagi Genta semakin menggila karena ini.“Kakak.”panggilan manja itu membuat Genta menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Bulan,adiknya berada tidak jauh di seberang meja dapur.“Apa yang kakak lakukan di sana?”tanya Bulan sembari menatap kedekatan Genta dan Anya.


Bulan memicingkan matanya menatap dengan penuh tanya.“Katakan padaku,Anya. Apa yang di lakukan kakakku padamu?”tanya Bulan dengan serius.


“Ah,aku cuma mau di bikinkan kopi,memangnya apa lagi?”ucap Genta sembari melirik ke arah Anya dengan lirikan menggoda. Ya,seperti dulu, seperti biasanya.


Bulan berjalan mendekat, mengamati sang kakak dan juga Anya yang di hadapannya.“Kakak mau ngerjain Anya? Bude sudah meninggal dan Anya tinggal di sini. Aku enggak mau kakak usilin dia.”


“Ya, Aku enggak usilin dia.” Jawab Genta dengan wajah datar. Anya hanya mampu menunduk. Ia tidak suka di tatap seperti itu oleh Genta. Tapi mau bagaimana lagi, Genta tetap majikannya, jadi ia tidak dapat memprotes apa yang di lakukan lelaki itu. karena Anya berusaha sadar diri.


“Anya sudah kuanggap saudara sendiri, kalau kakak macam-macam sama Anya awas saja.”ucap Bulan mengancam.


“Jadi, dia masih tinggal disini?” pertanyaan itu mungkin terdengar biasa saja bagi Bulan,tapi tentu berbeda dengan Anya . Ada nada yang terselip dalam setiap katanya, yang entah mengapa membuat Anya merasa tidak nyaman atas keberadaan Genta.


“Iya dia tinggal disini! kenapa memangnya? Aku suka dengan keberadaannya di sini, setidaknya aku tidak kesepian, bukan begitu kan, Anya?”Bulan menatap Anya sambil memainkan matanya yang manja. Anya hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya. karena dia benar-benar tidak ingin emosinya tersulut.


“Ya, sepertinya aku juga akan senang dengan keberadaannya di sini.”lagi-lagi, kalimat itu di ucapkan Genta dengan begitu santai.tapi entah kenapa Anya menangkap maksud lain dalam ucapan lelaki tersebut. Rasanya bulu kuduk Anya bergidik ngeri.

__ADS_1


‘Astaga...tidak! Jangan lagi, jangan lagi seperti dulu.’ Anya sangat takut dan tidak ingin itu terjadi. Masa lalu sudah memberikannya pelajaran yang sangat banyak.


“Kak,ayo keluar dari sini. Jangan ganggu Anya!” Bulan menjewer telinga kakaknya.


Menyiapkan makan malam memanglah menjadi kebiasaan Anya sesudah dia pulang dari kampus. Di rumah sebuah keluarga yang sudah seperti keluarganya sendiri,Anya tetap harus menjaga kewarasannya. Keluarga yang ia kenal sejak masih kecil.


Ya, keluarga Wira sudah seperti keluarga kedua untuknya. Ketika ayahnya meninggal dan kini ibunya juga meninggal, ia bergantung pada kelurga ini.Nyonya Wira benar-benar sangat baik. Wanita itu mau menampung anak dari seorang oembantu rumah tangga di rumahnya. Anya merasa sangat beruntung,karena ia juga di sekolahkan oleh Keluarga Wira hingga lulus SMA. Sungguh, Anya tidak tahu harus membalas kebaikan kelurga itu dengan apa? Yang Anya tahu adalah ketika ibunya meninggal dua tahun yang lalu, sang ibu berpesan agar Anya tetap melayani keluarga Wira apapun yang terjadi. Dan kini, ia melakukan apa yang dipesankan mendiang ibunya.


Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, jika sebelumnya Anya bisa dengan leluasa menata makan malam dengan pelayan-pelayan lainnya di ruang makan, maka malam ini ia merasa kepercayaan dirinya sedang diuji ketika ia merasakan sepasang mata tak berhenti mengamati gerak geriknya. Matasiapa lagi jika bukan mata seorang pria Genta Wira Jaya?


Astaga, Anya bahkan tidak habis pikir, apa yang dilakukan pria itu di ruang makan ketika jam makan malam belum tiba? Sesekali mata Anya melirik ke arah Genta. Pria itu duduk santai mengawasi apa yang ia lakukan. Mata pria itu masih seperti dulu, rahangnya tampak tegas, bibirnya...Ahh,bibir yang selalu menyungginggkan seyuman yang tampak menggoda dimatanya.


Dengan memberanikan diri dan mencoba tak menghiraukan keberadaan Genta, Anya berjalan menuju ke arash meja makan sembari membawa piring-piring kosong. Ia meletakan piring-piring tersebut seperti biasa, hingga ketika Anya meletakan piring kosong tersebut tepat di hadapan Genta, tubuhnya membatu ketika jemari Genta dengan sengaja menyentuh jemarinya.


Anya melirik ke arah Genta, dan seperti biasa, lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang menggoda. Oh, ia benci sekali dengan tatapan itu. “Maaf.” Anya mencoba melepaskan jemarinya, tapi jemari Genta semakin erat menggenggamnya. Mata Anya segera mengawasi ke segala penjuru arah, takut jika apa yang di lakukan oleh Genta di lihat pelayan-pelayan lain, ia dapat menghela napas lega saat pelayan-pelayan lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Anya kembali menatap Genta,dan memohon agar Genta melepaskan genggaman tangannya. Sungguh, ia tidak mau jikaada yang melihat tindakan Genta yang tentunya akan membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua. “Kamu menghindar, Anya?”

__ADS_1


Anya hanya menggelengkan kepalanya. Tunuhnya bergetar ketika mendengar Genta memanggilnya dengan panggilan tersebut. Ya, hanya Genta yang memanggilnya dengan panggilan selembut tidak seperti yang lainnya. “Kalau tidak, nanti malam aku tunggu dikamarku.”


Mata Anya membulat seketika kearah Genta. “Maaf.” Tanyanya tak percaya. Ia berharap jika apa yang ia dengar itu salah.


“kamu mendengarnya, kan? Aku menunggumu di kamarku setelah makan malam.”


“Maaf, tapi aku tidak bisa.” Jawab Anya tegas.


“Ambilkan makan malamku, cepat. Aku sudah lapar.” Genta memotong kalimat Anya hingga Anya sadar jika ia tidak memiliki hak untuk menolak majikannya. Ah,kenapa selalu seperi ini. Anya berbalik, meninggalkan Genta dengan perasaan yang sudah campur aduk. Genta meminta Anya untuk ke kamar lelaki itu nanti, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menuruti apa yang di inginkan Genta? ‘Astaga..itu tidak mungkin terjadi. Aku belum gila!!’ Anya mendesis pada dirinya sendiri.


Genta menyunggingkan senyuman seolah dia menang. Genta tidak tahu dalam waktu empat tahun bisa merubah pribadi orang dengan sangat banyak. Anya bukanlah Anya yang bodoh seperti dulu. Bukan Anya yang bisa di bodohi dan di bohongi lagi oleh pria itu.


Bersambung....


Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.


Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya*......


__ADS_2