HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
ANCAMANKU PAHIT


__ADS_3

Luna mendengar itu dari dokter langsung melemas. Tak pernah terfikir sang ayah akan mengidap penyakit jantung dadakan begitu cepat.


"Ayah. Ayah aku mohon sembuh ya!"


Luna, kamu adalah putri terbaik ayah. berjanjilah. Apapun sikap kakakmu maafkanlah dan beri ia suatu kehidupan baik. Ayah minta maaf tak dapat lagi jika kelak bisa membahagiakanmu lebih nak.


Luna masih menangis, memutar kepala akan rasa sedihnya. Hidungnya sudah memerah dan air mata sudah banjir. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan malam ini.


"Anda tunggu diluar Nona. Kami akan memeriksanya dan menanganinya sebaik mungkin!"


"Dok, sembuhkan Ayah saya. Aku mohon!"


Luna memohon, suster dan dokterpun merasa iba, ia segera menenangkan dan meminta Luna menunggu di balik pintu. Tak terasa ponselnya berdering tak ada jawaban. Luna segera memberi pesan jika tak bisa pulang. Bersyukur sang Ayah tak apa dan tak perlu operasi.


Ke esokan harinya.


Triis yang tersadar segera menyibak selimut. Ia bergegas menyalakan shower dan berendam. Tak lama saat selesai ia menatap ponsel dan menatap pesan dari Luna.


Triss Merasa iba, ia berusaha menghampiri Luna setelah pekerjaannya telah selesai. Dan suatu ketika dalam meeting ia merasa tidak konsen memikirkan Luna.


"Wanita itu, kenapa aku memikirkannya?"


Ebon segera menghampiri dan memberikan suatu berkas klien yang akan dikalahkannya. Tapi ia langsung menebas dan berkata.


"Lupakan, antar aku ketempat Luna!"


Asisten yang mengekor tak percaya. ia berfikir jika keadaan Tuannya adalah mulai menyukai Luna. Hingga di perjalanan Ebon menatap, melirik tuannya yang sesekali menatap Tuan Triis ada wajah khawatir pada Luna.


"Kau, tidak perlu melirik Ebon. Cepat sampai. aku melakukan ini semua karena aku takut dan kasihan pada Luna!"


Sesampai di perdesaan Triis merasa kesal akan jalan yang setapak penuh becek. Ia meminta asistennya untuk menunggu di suatu tempat. Dia berjalan tak jauh, menatap rumah sederhana dengan luas, tumbuhan alami yang mengelilingi.


Terdapat pohon pisang, singkong dan padi di dalam rumahnya. Tersadar ia melihat Luna dengan ayahnya sedang bicara, memperhatikan.


"Nak, tak perlu khawatir. Ayah sudah pulang kerumah. Kamu harus kembali kasian suamimu nak!"


"Ayah. Luna ingin menemani Ayah. Soal izin Luna sudah memberitaunya. Meski tak bertatap, lagi pula Luna saat ini nyaman seperti ini."


Triis mendengar ucapan Luna di balik pintu menyambar. "Tapi aku tidak nyaman, jika kamu pergi tak menungguku Luna."


Luna terperanjat kaget. Terlebih Ayah Luna yang terkejut. Apa benar pria yang menikah dengan anaknya orang baik. Meski ia tak yakin, Luna selalu menutupi, menatap saat ini Ayah Luna tersenyum dan Yakin jika keadaan putrinya baik baik saja.


"Triis. Aku ga pernah tau. Jika kamu akan cepat menyusul harusnya aku berusaha mempersiapkannya. Kenapa menyusulku?"


"Karena kau istriku?" senyum tampak.

__ADS_1


Triis melewati Luna. Ia menyapa dan berbicara pada Ayah Bari. Sesaat memang Triis rindu kenyamanan rumah yang di miliki Ayah Luna. Menemani dan mengobrol banyak pada Ayah Luna, sementara Luna menyiapkan minuman dan camilan.


Luna merasa bahagia saat Triis datang dan mengunjunginya. Selama dua hari mereka tinggal dan bersama. Luna kagum dan melihat sisi baiknya.


'Setelah perlakuan manismu. Aku semakin terbuai dan tak ingin kita berpisah cepat Triis.' batin Luna.


Hingga keberadaan Luna tinggal, ia pun kembalu pamit setelah di rasa ayahnya sembuh membaik.


 


Apartement Triis.


Luna yang kini telah berada di Apartment Triis. setelah keadaan sang Ayah membaik. Ia meletakkan tasnya itu. Ia bermaksud ingin berendam dan menghangatkan tubuhnya.


Tapi suatu ketika ia menyalakan dan mengisi air hangat di bathup. Suatu tangan tiba saja meraihnya dan menyelupkan tubuhnya bersamaan dengan tangan pemilik tubuh tangan kokoh itu.


"Triis. Apa yang kamu lakukan. Aku akan bersiap dan akan.."


Sluuuurp. Triis mengecup ranum Luna. Dengan lembut hingga bringas. Ia membuka helaian baju Luna yang transparan itu dan merobeknya dengan sekejap. Membuat mata Luna menohok terkejut.


"Bajuku, sudah berapa kali kau merobeknya Triis." batin Luna. Saat Triis melakukan hal manis dan menginginkan darinya.


Satu jam penuh, hal manis itu membuat Luna terbuai dan semakin mencintai pria di sampingnya. Meski suami sementara, tapi ia berharap itu bertahan lama.


"Kau harus melakukan sesuatu Luna. Aku sudah menjadi pria termanis padamu. Aku yakin kamu akan tersentuh. Dan ingat apapun itu jangan pernah jatuh cinta padaku!"


Triis tersenyum lebar, ia berbisik dan masih merangkul Luna. Aku bisa berlaku manis, Asalkan kamu membantuku untuk seseorang ! Luna terdiam, hal yang ia takuti terjadi.


"Memang, apa yang harus aku lakukan?"


"Esok kamu akan tau, aku hanya memintamu ketika di perintah kamu harus berperan dengan sangat sempurna!"


Triis segera berlalu pergi meninggalkan Luna. Ia memang terbuai akan sikap manis Triis, tapi ia juga takut akan rencana licik Triis. Ia berfikir banyak dan berharap hal terburuk, tak terjadi dan menimpanya.


Aku sudah menyiapkan makan malam, apa besok libur ada rencana. Aku ingin meminta sesuatu?"


"Heuumph.. apa itu. Kau ingin meminta Apa. Cepatlah!"


Luna mulai sadar, Triis kembali pada tabiat ketusnya. Ia dengan santai dan menerima perlakuan Triis.


"Aku ingin pergi ke pantai. Apa bisa kamu menemaniku?"


"Kau, pergi duluan. Aku akan menyusul. Tapi jika terlalu lama. Tak perlu menungguku!"


Bruuugh! pintu di tutup dengan kencang.

__ADS_1


Luna menatap dibalik punggung. Ia duduk bersipu di meja makan. Lagi dan Lagi ia di perlakukan seperti ini. Aku memang bodoh, mengingat tiga bulan lagi kita akan berpisah, aku tak sanggup melangkah pergi darimu.


Tapi aku tak bisa melupakan semua hal manis dan perlakuanmu saat bersamaku. Meski kamu menyakiti. Entah hal apa yang membuat aku bertahan, Aku sakit di sini. Terasa sesak saat kau kasar dan acuh Triis. Tapi aku sadar istri sementaramu tak bisa menahannya.


***


Butik Esok Harinya.


"Hei, kalian apa sudah selesai?"


"Sudah bu."


Luna bertemu Keiy di butik MR. Hal yang ia takuti adalah melakukan hal buruk pada orang yang baik padanya dan keluarganya. Tapi karena ia mencintai Triis dan lagi lagi menginginkan sikap manis Triis saat beberapa hari lalu. Membuat Luna akan melakukan apapun itu demi Triis.


"Hai Luna, apa ada yang bisa aku lakukan padamu?"


"Tidak. Aku hanya ingin berkunjung saja."


Luna diajak oleh Keiy berbincang. Di suatu meja kerja kebesaran mama mertuanya. Saat Keiy meninggalkan ia menyelipkan satu benda kecil di bawah meja.


"Maafkan aku nona bintang, aku memang menuruti Triis melakukan apapun, tapi aku juga akan berusaha membuntuti dan mencegahnya. Karena aku tak sanggup Triis bermain dengan wanita lain sekalipun itu kamu." lirihnya.


Triis di meja kantor, ia mendengarkan suara perbincangan wanita dan istri sementaranya. Tak lama ia menatap sebuah benda kecil untuk Luna yang berhasil menjalankan awal misi.


'Nona bintang, aku berharap kamu mengerti, jika aku harusnya tidak melakukan kecurangan!' batin Luna menatap Keiy yang baik. Hingga saat itu ia senyum dan pamit setelah semua selesai.


Akan tetapi setelah Luna pergi, terlihat mobil Triis tiba di loby.


"Triis, apa yang kamu lakukan di sini?"


Keiy yang sedang berganti baju di ruang tepi pantai. Ia segera ingin berlari karena Triis tiba saja ada dibalik punggungnya.


"Aku tau, kau syuting di sini. Jadi aku yakin kamu tau siapa yang mengajakku berlibur kesini Keiy."


"Kau, saiko. Aku tidak akan percaya kata katamu. Jika Luna ada, harusnya kau ada di sampingnya. Lepaskan tangan kotormu dari tanganku!"


Triis mulai mengikat kedua tangan Keiy. Dia mulai membekap menutup mulut Keiy. Saat itupun Triis mulai membuka seluruh kemejanya. Membuat mata Keiy menohok dan menggelengkan kepala akan sikap tingkah Triis dan membuat ketakutan.


Triis mulai merangkul rambut Keiy, seluruh tubuh Keiy merinding ingin berteriak. Ketika tangan kokoh itu menempel pada pundaknya.


"Maaf, aku harus memaksamu. Dengan ini kamu pasti tidak akan melupakannya kan?"


Hahahaha ...


TIDAAAK......!!! Teriak Keiy kala itu, tapi tak terdengar.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2