
"Triis. Jangan seperti ini, mari kita bicarakan!"
Sreeettth... Sreeetttth. Kancing kemeja Luna terputus begitu saja.
Luna mendorong tubuh Triis. Ia tak ingin terpedaya, kala ia keluar dari atap mobil. Triis menarik tubuh Luna, hingga menepi berada diatas kursi. Triis menindihnya sehingga terlihat kacamata Luna terpampang di mata Triis.
Wajahnya menyeringai, ketika dua gundukan yang padat melebihi kapasitas tangan kokohnya. Luna tampak indah dan menggoda dari wanita yang pernah tidur bersamanya. Tapi nahas Luna selalu memakai pakaian yang longgar menutupi keindahan tubuhnya.
"Apa kau memperlakukanku, seperti wanita tidurmu Triis?"
"Apa maksudmu. Tak ada yang bisa menolak jika itu Aku."
"Jika kau melakukannya. Aku pastikan tak akan pernah menerima perlakuanmu. Sampai kapanpun aku tak akan menjadi istrimu kembali Triis!"
Hahhahaha.. Triis tertawa, lalu terdiam. Ia tak melanjutkan aksi mengecup tungku leher Luna. Bisikan tajam Luna membuat ia redup akan gairah, menatap wajah Luna telah berkeringat dingin dan matanya merah menyala.
Ia memang salah, tak seharusnya tadi saat memuncak, ia memperlakukan Luna sebagai wanita tidurnya.
Triis berlalu. Ia kembali memakai baju dan kemejanya lalu meninggalkan Luna seorang diri di dalam mobil. Luna hanya bisa menangis dan memunguti seluruh kemejanya yang terlihat hampir seluruh kancing terlepas dari bajunya.
***
Pagi hari, Luna sudah datang sebelum calon karyawan lain datang ke sebuah toko kue milik mama Maya. Tepat pukul delapan pagi. Reino menunggu di parkir dan menatap Luna yang menunggu di satu mobil. Ia menyusuri ruangan dimana perekrutan itu harus segera selesai hari ini juga.
Mama Maya memberi pesan. Jika ia akan telat hadir dan Triis telah menuju menggantikan sementara.
Luna masih gemetar saat menerima pesan. Ia tak bisa melupakan kejadian semalam yang hampir saja Triis melakukan aksi nekat padanya. Tak lama sebuah dari jendela terlihat para penjaga menyambut Luna sudah tau siapa yang datang.
"Itu pasti, Triis."
Sebuah mobil putih pekat tiba, Luna masih berdiri dan menghampiri dimana mobil itu selaku berhenti tepat di tempat ia berdiri saat ini.
"Luna, lima menit kita harus segera pergi!" titah Triis. Luna pun mengangguk mencoba profesional, terlebih Triis seolah biasa saja.
Di dalam ruangan Triis memandang Luna dengan wajah bimbang. Namun ia melirik seseorang tak lain adalah Reino pesuruh yang terlibat masalah beberapa pekan lalu hadir dalam acara papa.
"Ada apa, bukankah masuk dan sudah waktunya akan jam kerja?" tanya Triis.
Ebon dari jauh tak percaya, Triis ketus pada Luna saat ia menghampiri Reino. Tidak seharusnya Triis kesal membawa masalah pribadinya kedalam pekerjaan.
__ADS_1
"Maaf membuat anda kesal, tapi saya hanya ingin pamit. Tak akan membuat anda kesal dan merasa di bohongi."
"Apa maksudmu Luna?" tanya Triis.
"Aku akan berada di ruang sebelah. Tugasku bukan lagi di sini setelah direktur ada di sini bukan?" ketus Luna.
Luna melangkah pergi melewati Triis, setelah menitipkan sebuah surat. Triis terdiam, ia merasa pria bodoh selama ini, Luna telah mengetahui sisi keluarga yang selama ini sudah tak asing.
Tapi setelah ia mencintai dan mengagumi. Luna, merasa ia di hempas pergi begitu saja.
"Apa kau sengaja masuk hanya untuk memata matai perusahaanku Luna?"batin Triis.
Triis meremas sepucuk surat yang belum ia baca dan membuangnya. Lalu melangkah tanpa menatap Luna. Ebon membuntuti langkah sang atasan, tapi ia mengambil sepucuk surat itu dan memasukannya kedalam saku.
"Kau pikir aku berada di sini kemauanku. Jika bukan karena Mama aku tak akan menyetujui selalu berada dalam pekerjaan yang melibatkan dirimu. Melihatmu saja aku muak Triis." benaknya.
Ebon menyelipkan kertas yang Triis buang tanpa membacanya ke dalam tas koper hitam. Ia lalu kembali menyetir kemana tujuan Triis kala ini.
"Belok ke arah kanan Ebon. Aku merasa pusing dan lelah!"
"Tapi Tuan. Kita ditunggu oleh Nyonya besar. Apa tidak apa?"
Triis tetap menatap untuk pengawalnya itu menuju belok ke arah kanan. Ia tau dimana rumah kediaman itu di tempati seorang wanita yang selalu membuat ia ingin menolak antar.
Di sisi Lain, Luna meminta bantuan pada Reino yang pernah menolongnya. Ia menyeleksi beberapa kandidat yang benar benar tepat untuk karyawan toko kue terbesar dari kota manapun.
Dua puluh menit berlalu, Luna menghapus air mata di bawah pelupuk mata yang indah. Ia mendapat kabar jika kedua anaknya telah di bandara menuju penang. Ia di minta untuk mengurus toko baru selama beberapa waktu sampai kembali.
Kedua anaknya dan bi Ratna sudah diboyong oleh papa mertuanya. Hanya menyisakan ia sendiri dengan asisten pribadi.
Aku tak keberatan, jika mereka menyayangi kedua anak ku lebih dari jiwanya. Tapi lebih dari itu, ia bahkan tak mau lagi memiliki kesempatan untuk di nikahi oleh Triis. Meski telah mempunyai kedua anak, tapi permintaan mama amat berat untuk aku jalani.
"Apa aku bisa. Triis masih saja mencari kepuasan di tempat lain. Kita lihat apa dia akan datang malam ini menjelaskan."
Beberapa jam berlalu. Luna akhirnya pulang dari sebuah cafe hottes bintang lima. Ia berlalu dan melupakan janjinya terhadap mama Maya.
Batinku benar, dia tidak akan datang, dia pasti tak akan membacanya. Jika aku sebenarnya ingin memberi kesempatan setelah mendengar apa maksud ia semalam melakukan hal itu. Luna menghapus rasa kasih dan melupakan janji pertanggung jawaban janjinya pada kedua orangtua Triis saat ini.
"Aku bodoh begitu luluh, Mama maya sangat baik. Memintaku untuk menerima anaknya kembali, tapi dengan sikap dia seperti ini. Keraguanku semakin yakin bukan?" lirih Luna.
__ADS_1
***
Triis tersenyum lebar, setelah mendapat kepuasaan dari Sean. Lalu ia pergi keluar sebentar mencari angin.
"Honey. Apa masih mau lagi?"
"Sean. Aku sibuk, pergilah aku ingin sendiri. Aku akan keluar sebentar. Jangan ganggu aku!"
Sean tertegun. Ia membalikan tubuhnya dan menatap ponsel melihat berita apa yang menarik untuk ia baca.
Triis membuka layar ponsel, rekan bisnisnya menghubunginya kala itu.
"Baiklah itu sudah pasti, akan segera aku kirim secepatnya!" menutup ponsel.
"Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan. Apa anda sudah membaca surat itu?"
"Surat Apa?" Tanya Triis.
"Maaf. Saya tidak sengaja melihat tumpukan kertas yang anda buang. Terlintas tulisan dan dibubuhi nama Luna. Ia meminta anda datang satu jam lalu, sepertinya akan mempertimbangkan untuk kembali dengan syarat menemuinya malam ini."
"Kenapa kau baru bicara sekarang Ebon?"
"Maaf, saya tidak tau jika anda akan lama di dalam. Mengingat saya tak bisa masuk Tuan."
Triis segera mengganti bajunya, ia segera berlalu. Meski sudah larut, tapi ia tetap ingin menemui Luna meski terlambat lima jam.
"Dimana kamu Luna, apa aku bisa menemukanmu?" lirih Triis, membuat syok Sean telah ditinggalkan.
Orang Triis tak menemukan keberadaan Luna dan ia kini benar pergi dari rumah orangtuanya yang diberikan beberapa tahun lalu, setelah menelusuri cafe yang di maksud pun ia tak ada disana. Dan pelayan bicara jika memang ada wanita yang menunggunya.
Luna sengaja tak memberitau pergi kemana ia akan tinggal, hanya penyesalan Triis yang membuatnya kesal saat itu.
Triis duduk jongkok ditepi tiang putih yang menjulang tinggi.
Aaaaaarggggh... siaaal. Aku kehilangan jiwa cinta dan kedua anak penyemangatku. Kau tau Luna, aku berusaha untuk mengurangi tabiatku. Aku diluar seperti itu, karena kau masih tak bisa mencintaiku seperti dulu. Sehingga aku mencari kepuasan di luar. Karena aku takut, tapi kamu adalah orang yang pantas jadi istriku.
"Ebon. Cepat kau tuju Malang. Apa dia pulang kerumah Bukle nya?"
"Tuan. Saya sudah menghubungi tapi tak ada tanda Nona Luna pulang. Mama Maya meminta Luna untuk mengurus toko kuenya. Tapi saya tidak tau. Apa nona Luna akan datang esok dan seterusnya. Maaf !"
__ADS_1
"Apa maksudmu. Cepat cari, aku tak mau kalian aku gaji tapi tak memuaskan kinerja kalian tidak becus. Cepaaat Cariii!" teriakan Triis membuat seisi pengawal saling menatap.
Tbc.