HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
Bab 11


__ADS_3

Apa yang di lakukan Genta nyatanya tidak sia-sia, ketika ia mendengar erangan Anya berubah menjadi desahan demi desahan pendek yang menggoda. Anya kembali bergairah, Genta tahu itu, dan Genta memutuskan untuk menggerakan tubuhnya sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, mencari kepuasan untuk dirinya dan juga diri Anya. Oh, betapa indahnya pengalamanpertama mereka, pengalaman pertama yang membuat tubuh keduanya ingin terus melakukannya.


*Pov Anya


Aku tidak bisa melakukan ini, semua masal lalu begitu terlihat jelas ketika matanya bertemu dengan mataku. Aku masih mencintainya dan aku tidak tahu kenapa cinta itu tidak pernah hilang.


Aku merasa lebih baik, jika aku membohongi diriku sendiri. Dalam hidupku sudah ada Ray, pria baik yang menerimaku apa adanya.


Siapa yang bisa memulihkan aku?


Jawabannya tidak ada, karena aku masih sangat bodoh untuk membunuh cintaku sendiri.


Hari ini dia menggangguku lagi! Bukan hanya tubuhku yang tidak nyaman. Hatiku pun rasanya tidak selamat.


Jika dia harus kembali seperti ini, aku sungguh tidak siap.


“Aku ingin meminta di temani Anya berkeliling jakarta!” ucap Genta kepada kedua orang tuanya sambil tersenyum mengejek seolah dia mendapat jalan untuk mengerjaiku.


Aku yang bingung menatap ke arah Bulan yang sedang asik mengunyah makan malamnya. Bulan akhirnya juga menatapku, aku memberi kode padanya dengan mata memohon.


Ayolah Bulan, kamu harus mengerti apa maksudku. “Ehm...Anya tidak bisa karena kami akan ke fakultas nanti.”


“Kalau begitu aku akan mengantar kalian.”


“Aku bukannya tidak mau kakak yang mengantar, karena aku pastikan kami akan sangat lama.” jawab Bulan sambil memainkan garpunya.


Genta tampak melirikku, aku tahu dia tidak suka dengan kemenanganku hari ini.


Setelah saling melemparkan tatapan tajam, Aku berusaha memalingkan wajahku ke arah lain dan bergegas ke arah dapur.


Dan di dapur pun masih tentang Genta.


Pria tampan, anak pertama dari keluaraga Wira. Pria dengan tubuh atletis berkulit kuning langsat dengan tinggi di atas 187cm.


Ketua tim basket beruntun sejak SMP, membuat Genta sangat cocok menggantikan kepemimpinan papanya Tuan Wira.


Aku selalu mendengar itu sejak kecil. Genta memang di persiapkan untuk menggantikan papanya.


“Anya, kamu sini...” panggil salah satu pelayan kepadaku.


“Ada apa Mbk?”


“Kamu yang paling lama di sini, kalau kita baru hitungan bulan.”

__ADS_1


“Terus Mbk?”


Mereka saling lirik lalu tertawa. “Kami cuma mau tanya, Den Genta sudah punya pacar belum?”


Aku mengangkat tinggi kedua alisku. “Aku rasa belum.” Aku sengaja melakukan itu.


Mereka semua tertawa bahagia, apa mereka berharap Genta akan menaruh hati pada mereka? Hmm...itu terserah mereka saja.


Setelah selesai beres-beres, aku melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam kamar. Baru saja ingin menutup pintu. Aku melihat satu tangan besar menahan pintu itu.


Aku mendongak ke atas, ya tebakkanku tepat sekali. Dia Genta! Siapa lagi yang ingin mempermainkan aku kecuali dirinya. Nerakaku telah tiba.


Dia masuk begitu saja ke dalam kamarku, walau pun aku berusaha menahannya. Dengan cepat tangannya mengunci kamarku dan berbalik menatap manik mata ini.


Tangannya terjulur, aku langsung menyilangkan kedua tanganku di antara dada. “Jangan macam-macam!” sentakku sambil berbisik.


“Aku hanya satu macam, dan itu hanya untuk kamu.”


Beginilah pria yang telah menjadi perayu ulung ini hidup sejak lahir. Merayu, menggombal, mengucapkan kata manis yang semuanya adalah kebohongan.


Dia tersenyum seperti iblis! Senyum miring itu aku benci sekali! “Buka bajumu!”


“Apa?” aku terlonjak kaget dan hampir saja melompat.


“Tenanglah sayang, aku hanya ingin kamu membuka bajumu..”


“Apa?” Sekali lagi aku bertanya karena tidak percaya dia mengatakan hal se-vulgar ini.


Dia menarik bajuku secara paksa, aku melawan tapi tidak cukup kuat untuk melawannya.


Dalam sekejap hanya tinggal BH-ku yang tersisa dengan celana training yang masih utuh. Aku menyilangkan tanganku lagi!


“Bajumu penuh dengan saos! Dari mana kamu mendapatkan saos begitu banyak menempel di baju?”


Aku membulatkan mataku, aku melihat di bagian belakang bajuku penuh dengan saos sambal. Astaga, bisa-bisanya aku sebodoh ini.


Saat aku masih dalam pikiranku karena saos tersebut! Genta ternyata sudah sanga dekat denganku. Dia meraih daguku, ya mungkin kalian tahu... Aku akhirnya terlonjak kaget.


“Apaan sih Kak?”


Genta tidak menjawab, tanpa aba-aba dia menciumku, mengecup bibirku. Aku terpaku.


“Argh..”rasanya begitu sakit, kurang ajar sekali...Genta menggigit bibirku. Aku merasa darah dari bibir ini sudah bercampur dalam kecupan rakus pria ini.

__ADS_1


Dia mengeluarkan lidahnya sedikit. Ahm... Terasa geli sekali saat berciuman dengan gaya seperti ini. Genta paling pandai berciuman, aku merasa nyaman, ciuman ini enak. Lebih enak dari pada ciuman yang Ray berikan.


Genta pandai sekali memainkan lidahnya.


Aku mengerang pelan, Genta juga mengerang. Tangannya kini sudah berada di daerah sensitifku, memijat pelan. Sedangkan lidahnya masih mengecupi bibirku.


Napas kami menderu, lalu aku mendengar dia berbisik. “Aku mau menyatu denganmu.”


Saat mendengar itu, secara reflek aku menjauhkan tubuhku darinya. Aku mengambil baju di dalam lemari dan berlari ke luar dari kamar. Aku meninggalkannya begitu saja.


Apa dia gila? Apa memang sudah sejak lama dia gila? Dia pikir aku apaan? Aku kesal!!


“Anya...” panggil Bulan.


Aku mendekat ke arah Bulan. “Ada apa?”


Bulan berbisik kepadaku, dia bilang melihat Genta masuk ke dalam kamarku. Dia juga mengatakan takut kalau aku akan menjadi bahan gunjingan.


Ah benar-benar sial! Pria itu mendatangkan kesialan lagi padaku. Aku tidak mau masuk neraka dunia lagi. Aku mengumpat dalam hati berkali-kali.


“Anyaa...kunci pintu kamar kamar kamu rapat-rapat.”


Aku mengangguk mengerti, aku tahu Bulan tulus padaku.


Saat aku tengah berbincang tiba-tiba ada seseorang yang melingkarkan tangannya pada pinggangku. Aku terkejut, saat aku berbalik. Ah dia lagi, aku merutuk dengan wajah masam.


“Kak... jangan ganggu Anya.”


“Aku enggak ganggu dia, Bulan..”


Genta memainkan matanya padaku. Ingin aku mencolok mata itu jika tidak ingat ada Bulan di sini.


“Kamu pergi dulu ya kak!” Bulan menyelatkan aku. Dia menarik tamganku lepas dari kakaknya yang menggila.


Aku menoleh ke belakang, Genta tersenyum padaku. Aku lagi-lagi bingung dengan tingkahnya. Pria pengecut itu menjadi gila setelah pulang dari luar negeri.


Apa dia tidak sadar telah menyakitiku sampai ke hulu hati? Apa dia tidak merasakan sakitku? Seenaknya saja dia tersenyum seperti itu. Membuat aku kesal dan ingin menangis saja!


Bersambung....


Halo teman-teman,saya disini ingin mencoba membuat novel bergenre Romantisme yg esentrik:v, jadi mohon dukungannya dan saran agar saya lebih bersemangat dalam mengerjakan novel ini.


Ya novel ini original buatan saya jadi waktu upnya tidak menentu,author usahakan akan up setiap hari !!!!

__ADS_1


__ADS_2