
INGATAN SEMALAM TRIIS SADAR.
Sikap Luna sudah berubah padanya dari semalam, saat ia mencari di tengah bandara pun tak terlihat dan Triis kebingungan apakah ia harus menyusul ke belanda atau singapore.
Flashback Semalam :
Triis menatap wajah istrinya berbeda malam ini. Ia pun memeluk erat tangan sebelahnya untuk menyadarkan sang istri.
"Sayang. Apa kamu sakit, kamu begitu pucat?" tanya Triis. Luna pun menatap wajah sang suami kala itu.
"Ya Mas. Aku hanya lagi PMS. Maaf membuatmu khawatir. Sayang Bunda. Rein dan Reina setelah ini ikut bibi ya. Bunda ga enak badan, tapi sebentar saja juga baikan. Bunda akan ke kamar kalian nanti ya."
"Bunda sehat sehat ya!" pinta Reina.
Luna mengecup kening kedua anaknya. Lalu pamit pada kedua mertuanya. Serta meminta pada suamimya jika ia lebih dulu ke kamar.
"Mas Temani ya."
"Mas. Rein dan Reina membutuhkanmu. Setelah selesai, aku akan menunggumu di kamar. Tenang saja aku baik baik saja Mas." bisik Luna menggoda.
Dalam hatinya ia perih mengatakan itu. Berpura pura tak tau, membuat sakit hatinya teriris adalah hal menyedihkan. Terlebih ketika disampingnya adalah pria yang ia sayangi setelah perlakuan manis. Tapi di luar ia begitu jijik dan tidak terima kembali di sakiti
Luna berjalan ke anak tangga dengan memegang dada. Rasa sakit itu tergores kembali, luka lama itu terbuka lagi. Luna menatap langit setelah membuka tirai lebar lebar setelah berada di kamar.
Triis yang telah kembali. Ia mendekat rangkul pada lingkar punggung indah Luna. Ia menempelkan kepalanya di pundak sang istri dan menempelkan bibir karena aroma harum Luna saat itu.
Luna yang memegang erat besi balkon dengan erat. Ia terbawa hanyut menggigit bawah bibirnya, ketika kecupan itu membuat ia terbawa suasana hingga kedua gundukan itu di remas halus. Tapi satu titik ia memejamkan mata, ia teringat oleh Sean.
"Mas. Aku ingin bicara!" membuat terkejut Triis. Luna menaikan piyama yang turun ketika Triis menatapnya.
"Sayang. Bisakah kita selesaikan?"
Luna tersenyum dan berusaha memeluk sang suami dengan erat. Meski wajahnya tak terlihat, ada mata kesal dan sayap patah serta bola mata yang tajam pada cermin di belakang tubuh sang suami.
"Esok aku akan mencari kandidat karyawan kepercayaan Mama. Ada tiga orang dari butik yang di kirim mama, lagi pula aku mengenalnya sudah beberapa kali bertemu. Kamu bisa fokus di kantor di perusaahan bersama Erico. Aku khawatir kamu akan lelah Mas."
Triis terdiam, ia memang tak ambil pusing. Tapi mengingat Sean yang menginginkan kesibukan, ia pun khawatir karena bayi dalam kandungan Sean.
"Ya sayang. Lakukanlah, aku mengijinkannya."
***
__ADS_1
Ke esokan harinya. Luna telah berada dalam perjalanan bersama Triis, tapi saat itu. Ia tiba saja pindah mencari taksi. Triis dengan terpaksa menurunkan Luna karena sebuah rapat penting.
"Sayang. Jam makan siang kita bertemu ya, maafkan aku harus menurunimu di sini!"
"Ya. Mas, aku gak apa. Tuh lihat taksi udah datang. Kamu hati hati ya mas." senyum Luna kala itu. Sehingga saat itu Luna menatap mobil suaminya telah pergi, ia masuk saat taksi itu berhenti tepat di hadapannya.
Namun seseorang menabraknya membuat terkejut. Seram sekali pria tadi. Luna berlalu dan pindah ke taksi yang kosong di belakang mobil pertama ia salah tempat. Ia memutar ponsel dan mendengarkan sebuah lagu dengan earphonenya.
Tanpa sadar ia melewati mobil Triis yang berhenti di persimpangan jalan terhalang Pohon dan sebuah warung kecil. Di saat itulah, Luna kecewa suaminya penuh perhatian pada Sean.
"Sean, apa kamu pergi lagi. Jika ia aku akan menemukanmu dan mengetahui jejakmu kali ini dengan cepat, jangan membawa pergi anakku bersamamu."
Tak lama Triis berhenti di sebuah taman, ia keluar dan menatap Sean yang berdiri di tebing jurang. Triis menatap apakah ia akan mencoba bunuh diri. Tanpa Triis tahu, ada Luna yang sedang memerhatikannya.
"Sean. Jangan lakukan itu, ayo kita pulang. Kita bicarakan baik baik!"
"Sudahlah Mas. Mas berbohong, aku tak di akui. Sudah pasti kamu tidak akan menikahiku secara resmi kan. Biarkan aku pergi dengan anakku!"
"Sean. Tapi..."
"Jauhkan tangan anda dari keponakan saya Pak!"
BRAAAGH.. BRIIIGH... BRUUUGH.
Perkelahian hingga sepuluh menit tak berhenti. Sean melerai kala itu, ia takut kepala Rivano bertambah parah jika terkena pukulan Suaminya.
"Cukup kalian tak perlu berkelahi. Hentikan Mas. AKU BILANG HENTIIKAAAN.. !"
"Apa maksudmu Sean?" tanya Triis. Ia memegang bibir yang terluka dan sedikit memar akibat perkelahian itu.
Dengan berat dan terpaksa Sean harus melakukan seolah Triis percaya. Maaf aku harus melakukan ini. Aku baik baik saja disana. Suatu saat kenyataan akan terungkap. Aku minta maaf Triis. Aku mencintaimu masih seperti dulu tak berubah. batin Sean, ia menginginkan wewenang bisnis Triis agar menjadi nyonya satu satunya.
"Triis. Aku minta maaf, tapi jika saya bertemu anda di kantor. Saya pasti akan memanggil bapak semestinya atasan saya. Tapi perlu anda ingat, jika bapak mempunyai wanita berlian yaitu istri bapak. Sean adalah sepupu saya yang tidak masuk diakal, mencintai pria yang salah. Saya harus membawanya sebentar." teriak Rivano, sementara Luna masih menyaksikan.
Seperginya Rivano tak menoleh kebelakang. Sean jatuh duduk tersungkur ia menangis sederasnya. Ia menyesal akan perbuatannya itu, sudah berapa kali ia menahan untuk bunuh diri, tapi kehadiran Rivano membuat ia takut. Tapi ia terlanjut tak bisa melepas Triis saat ini.
"Maaf Mas. Aku minta maaf. Aku pergi dulu, ada yang harus aku selesaikan bersama Rivano."
Triis menuju suatu tempat setelah beberapa menit. Entah ia harus berhati hati pada kacung suruhan papa. Tapi ia juga sudah terlanjur jika pria itu tahu, ia takut Luna segera tau dan jika tahu, sudah pasti dari mulut Rivano si kacung papa.
__ADS_1
***
Menjelang malam. Luna duduk menepi dengan sebuah surat putih bermotif ungu. Ia duduk ditepi balkon ruang tamu.
"Aku berharap kamu berubah Mas. Cepat kembali semanis saat kamu mengejarku!"
Tapi sayang. Harapan telah pupus saat Triis dekat dengan Sean. Ia sering meninggalkan hanya dengan selembar surat tanpa bertemu ketika rapat dadakan. Meski selalu terselip sebuah accesoris diamond sebagai maaf.
Bruuugh... Suara pintu terbuka kencang.
Tak lama Luna mengambil obat merah, perban, dan plaster, kala melihat Triis memar dan lebam.
Beberapa menit kemudian. Luna membantu memoles obat merah pada wajahnya. Saat itu Triis bangun dan berusaha keluar mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil.
"Tunggu di sini sayang, ada titipan pak Albert untuk kamu!"
"Heuuumph. Pak Albert?" bingung Luna.
Triis di teras halaman, ia menahan rasa sakit. tanpa mengenakan sehelai baju saat itu. Hanya seutas lilitan perban miring ke tubuh Triis. ia segera menahan dan berusaha untuk tidak terlihat sakit tapi jelas nampak sedikit tubuh Triis yang terekspose sedikit.
"Mas, lain kali hati hati!" titah Luna. ia membantu membangunkan Triis yang memegang kursi, dan meminta Triis istirahat tanpa banyak tanya.
Luna keluar dari kamar. Tak lama di teras, seorang tamu datang tiba saja. Membuat mata Luna terkejut kala itu.
"Bu Luna, ada surat." Luna meraih dari tangan bibi.
'Ikutlah denganku Luna! aku sudah menunggumu dan anak anakmu pengobatan, insyallah ada pengobatan ampuh untuk penyembuhan kedua anak anakmu. Aku datang, karena titipan Bukle memintaku datang menolongmu, dan kamu tidak sedang baik baik saja!' secarik pesan.
Luna pun bergegas, ia segera mencari kedua mertuanya, meminta bantuan, apalagi rasa sakit hatinya sudah tak tertahan. Menjauh adalah cara ampuh bagi hati Luna dari sikap Triis.
TBC.
Lanjutan season 2.
"Yus Untuk Luna." semoga besok udah Acc ya!
Jika sudah ada notif, tap love ya All.
Mampir Juga Ke aplikasi baca koin di fiiiiizzooooo ya all Dengan judul : Drama Warisan Berdarah.
__ADS_1