HASRAT CINTA

HASRAT CINTA
SELALU ADA TRISS


__ADS_3

Lidia menghampiri Triis dan Luna. Tak lama memberinya sebuah berkas agar esok kedua anak Triis bisa segera berangkat untuk ditangani.


"Kau harus berterimakasih padaku di kemudian hari, datanglah kita ngeteh bersama Luna!" titah Lidia, membuat Luna diam.


 


Satu Minggu Kemudian.


Luna berada di penang. Kini ia harus mengusahakan agar kedua anaknya tinggal di mansion Mama Maya.


"Luna. Jika memang kamu harus mengejar impian, ini kesempatan emas. Kuliah lah dengan tenang. Rein dan Reina ada mama yang akan menjaganya!" Mama Maya.


"Makasih Mah. Tapi aku ga bisa jauh. Tapi disana aku pasti akan sibuk. Aku harus bagaimana?"


"Terimalah Triis kembali Luna!" titah Papa Steva.


Luna sedikit gelagap ketika mendapat perintah dari kedua orangtua Triis, yang saat ini tinggal di sekitar penang. Tapi ia juga lelah tak ingin jika Triis berusaha menghianati dan membuat batinnya sakit kembali.


"Baiklah. Luna akan pikirkan tapi tak bisa menjawab untuk saat ini Mah. Pah. Maafkan Luna!"


Tak lama! Triis tiba, kesehatan kedua anak Luna telah membaik. Mereka menjemputnya dan pulang kembali ke mansion sang mertua. Meski begitu Luna merasa grogi akan di mana ia melewati Apartment Triis kala itu.


"Bunda. Kenapa Papa tidak ikut tidur bersama kami di sini?" tanya Reina. Ketika di mansion mama Maya.


Luna menatap Triis. Ada rasa gemetar dan tak enak ketika mendapat pertanyaan dari kedua anak kembarnya. Luna berusaha membalas yang masuk akal.


"Kare- na. Bunda dan Papa belum bisa tidur bersama. Ada satu dimana orang dewasa tidak bisa bersatu tanpa ikatan. Kelak kamu besar akan mengerti nak. Tapi papa akan selalu ada bersamamu. Juga ada Oma dan Oppa kan?"


Mereka pun bercerita dan dongeng. Sementara Triis diam menatap kedua anaknya. Hingga beberapa jam waktu berlalu, membiarkan Luna membacakan dongeng.


Ketika kedua anak Luna telah tertidur. Triis kembali mendekati Luna yang telah menutup pintu kamar kedua anaknya. Lalu ia menoleh dan terkejut saat Triis sudah menatapnya dengan sorotan tajam penuh tanya.


"Ada apa?"


"Kenapa dirimu masih menutup hati. Bukankah aku berkali kali memintamu untuk kembali. Sampai kapan Luna?"


"Triis. Aku harus meneruskan kuliah ku yang pernah terhenti. Aku berharap kamu mengerti Jika aku masih menata hati!"

__ADS_1


Luna pergi begitu saja. Tapi Triis menahannya.


"Lepas Triis. Jangan seperti ini, aku butuh waktu!"


Triis melepas eratan tangan Luna. Ia tersenyum miring saat Luna melangkah pergi. Ia meminta Ebon untuk melakukan satu hal yang harus ia capai.


Kau!! Tak bisa menikahi pria lain Luna. Jika aku mengabaikanmu. Karena aku pria, tapi kamu tidak bisa seperti itu terhadapku. Aku akan berusaha lembut untuk mendapatkanmu kembali. benak Triis.


Beberapa Bulan Kemudian !!


Luna membiarkan kedua anaknya bersama kedua mertuanya. Meski statusnya bukan lagi, tapi kedua anaknya adalah darah daging dan penerus keturunan mereka.


Luna tak bisa membayangkan jika hidupnya akan berjauhan dan melalui sambungan ponsel ia berkomunikasi pada kedua anaknya.


Tapi meski demikian, Kedua anaknya akan berkunjung setiap akhir pekan menemuinya. Kondisi kesehatannya pun cukup membaik.


Dan ketika Luna telah memverifikasi data ulang menjadi mahasiswi S2. Ia segera mungkin membubuhi tanda tangan. Selama menunggu beberapa orang mengenalkan diri, Luna berusaha tersenyum manis.


Menyambutnya dari hari ke waktu. Sehingga mereka saling menyapa, bertukar nomor ponsel. Dan saling bertukar cerita mengenai kampus.


"Udah ya. Luna kami bertiga cabut dulu. Yuuks vcall. Kalau ada sesuatu berkabar aja ok!"


Luna mendapat teman bernama Keanu, Rian, Mischel. Dua pria dan satu wanita.


Beberapa Bulan Kemudian.


Luna yang telah mengambil dokumen penting dari Dosen. Ia di minta untuk mengumpulkan skripsi yang tertunda dan memintanya di perbaiki. Luna pun berniat membujuk halus pada Triis. Agar mau menolongnya karena dia adalah orang dalam di kampus tersebut.


"Pria ini. Kau pria dan seorang Ayah yang menyebalkan. Dimanapun aku berada, selalu berhadapan padamu, bagaimana bisa aku harus meminta tanda tanganmu lagi?" benak Luna.


"Gengs. Gw duluan ya. Mau beli sesuatu dan udah di jemput nih!"


"Oke. bye Luna sampai jumpa lagi Ya!"


Luna masuk setelah Mobil Triis dari kejauhan menjemput. Ia meminta ke sebuah mall dan berniat membelikan sesuatu untuk Triis dan kedua anaknya itu di akhir pekan. Karena Mama maya dan Papa Steva akan berkunjung bersama kedua anaknya.


Dua jam kemudian, Triis tertegun ketika Luna memberikannya sebuah ikat pinggang terbaik dan ternama. Triis melirik dan menatap Luna kala itu.

__ADS_1


"Jelasin. Apa maksudnya ini?"


"Aku tau karena kamu suka ini kan,Triis. Kamu suka ikat pinggang. Jadi aku beliin deh. Owh ya ada hal yang harus ditanda tangani nih..."


STRIITH... REM MENDADAK.


"Eeekh. Seebentar pelan dong nyetirnya!"


"Kamu mau makan Luna, bisa ga otak kamu jangan menyogok ku. Kalau ada maunya mengapa selalu memberikan aku hadiah, aku mampu Luna."


Luna terdiam, ia takut jika tanda tangannya Triis, dia meminta balasan untuk sesuatu yang lebih. Hal itu masih ia takuti hingga kini.


"Maaf! Hanya saja kau adalah otak kampus, setiap makala harus meminta tanda tanganmu. Jadi, inisiatifku adalah membelikan sesuatu." jelas Luna mode menatap jalan.


Triis berhenti di sebuah cepat saji, saat itu sebuah mobil dari belakang menabraknya dengan kencang. Membuat getaran mobil dan menyongsongkan mereka berdua maju. Triis yang menunggu pesanan di Drive True langsung cekatan menatap Luna sehingga menampilkan pelukan hangat.


Sementara Luna yang tiba saja tubuhnya terdorong ke depan memegang tubuh Triis. Dengan cekat Ia menarik tubuh Luna. Sehingga wajahnya menatap Triis.


Luna berada di pria yang status mantan suaminya, tapi ia donatur dan orang dalam di kampus oxford.


Triis pun menatap Luna dengan dekat. Tak menghiraukan ketukan dibalik kaca mobil. Seseorang berteriak untuk meminta membukanya.


Triis menatap wajah Luna dan terpesona akan cengkraman tangan ketakutan Luna.


Masih menatap bibir tipis itu membuat wajahnya sangat dekat dan seperti sengatan listrik yang mengalir begitu saja membuat imannya goyah.


"Triis. di sana ada yang mengetuk." menunjuk sebelah kaca.


"Heuuump. Seseorang siapa Luna?" lirih Triis. berlaga bego masih menatap bibir Luna karena ingin menyentuhnya.


Luna segera mengambil alih, ia memundurkan sandarannya. Ia meminta Triis fokus dan segera pulang.


Hal itu membuat nya tak nyaman, ia tak ingin dan berusaha agar tak terpedaya kembali.


Berbeda satu sisi Triis. Ia masih melakukan segala cara agar Luna mau kembali padanya. Meski ia seutuhnya dan pertama kali betemu dengan Luna adalah sebuah dendam. Ia berusaha memanfaatkan kedua anaknya itu. Tapi kini ia sadar dan segalanya membuatnya ingin bersama Luna dengan tulus.


"Triis. Ada teman aku, boleh mereka numpang biar sekalian. Karena satu arah?"

__ADS_1


"Apa?" Hal buyar Triis yang ingin mengecup Luna pun gagal. Tak lama ketiga teman itu tersenyum masuk kedalam mobil menyapa, saat Triis membuka jendela mobil.


Tbc.


__ADS_2