
"Kau lancang sekali Triis. Apa kau tak sadar, sudah berapa kali aku mengatakan. Kita bukan lagi seperti dulu. Kita hanya sebatas orangtua bagi kedua anak kita, apa kamu lupa?"
"Aku tidak suka penolakan. Kau wanita yang tidak tau diri, aku merasa harga diriku terinjak ketika kau telah mengabaikanku. Apa kau lupa, kau sekaya ini karena pemberian pria yang mati itu bukan?"
"Cukup Triis. Jangan lagi membicarakan sosok Erland. Dia lebih terhormat dan lebih baik dari pria yang aku kenal. Pergilah dari kamarku!"
Triis menahan emosinya. Jujur ia melakukan hal ini karena terpaksa, ia pun keluar dan membanting pintu kamar. Membuat Luna tertegun dan menguncinya. Lalu ia sadar ketika Triis mempunyai banyak kunci cadangan. Hal itu membuat Luna cepat bersiap, dan menghubungi seseorang untuk segera mengganti seluruh kunci di rumahnya.
Luna segera membuat sarapan. Ia membuat sandwich telur dan menatap Triis dari balik tirai. Ia tak habis fikir, mengapa Triis benar benar membuatnya jengkel. Kenapa ia bisa sibuk dan bisa secepat ini menghampirinya.
"Pria sombong, angkuh. Sudah tau tiket pesawat mahal, masih saja menghamburkan. Apa dia tak punya tempat tinggal lain?" lirih Luna.
Triis menghampiri Luna. Ia bicara jika akan pergi sebentar untuk menemui seseorang. Luna memutar mata sebal dan mengabaikan dengan suara kecil tapi masih terdengar oleh Triis.
"Pergilah sejauh mungkin, urusanmu adalah urusanmu, Aku siapa tak berhak untuk mencampurinya!"
Triis diam sejenak, ia mengepalkan kedua tangannya. Ia mendengar hal perkataan Luna sudah membuatnya jengkel. Lalu ia pergi untuk menemui seseorang dan berlalu begitu saja.
Suara blender Luna telah selesai membuat jus. Lalu ia memakan sandwich dan segera merapihkan segala hal, setelah menatap jam kampusnya akan kembali ke rutinitasnya.
Luna kembali menatap sosok pria yang sangat membuatnya tertegun. Ingin sekali ia mengetahui akan rencana pembuatan naskah yang harus ia kirim selama dua pekan. Ia ingin menggambarkan sosok pria itu dan berusaha mencari tau pada seisi kampus yang ia kenal.
Selepas dari musholla, ia kembali menatap dalam diam dan sembunyi. Ketika pria itu menoleh kebelakang seolah ada yang mengikutinya. Luna pun menatap tablet dan stylus-pen nya dengan nafas yang sedikit gugup.
"Aakh. Pria itu benar benar pria idaman kaum hawa yang ingin sekali mempunyai pasangan seiman dan membuat kaum hawa dituntun kejalan yang semestinya. Sungguh indah ciptaanmu Tuhan. Aku sedang menimba ilmu, tapi kau mengoyahkan membuat aku iri pada sosok pria itu. Andai Ayah masih ada, aku pasti bahagia masih mempunyai keluarga dan tak sendiri di dunia fana ini."
Luna terperanjat ketika ada seseorang yang menepuknya.
"Hey. Lo dari tadi gw panggil ga noleh juga sih Lun?"
"Eekh. Shasa sorry gw beneran ga denger."
Shasa teman sekampus melirik mata Luna yang menatap Pria yang ia kenal.
"Lo liatin dia, jangan deh. Dia itu pria alim yang bener bener ga bisa orang ngomong sama dia. Tapi meski begitu gw kagum pengen banget dapet calon suami idaman, tapi mustahil deh. Kita bukan kriteria-nya."
"Kenapa begitu Sha?"
"Nih, elo mau tau sosok dia buat naskah lo kan?"
Shasa mengirim sebuah benda kecil hitam yang bisa tersambung di laptop. Ia menaruh flasdisck di tangan Luna, tak lama Shasa pamit pada Luna karena suatu hal penting.
"Udah ya. Gw cabut, mau ketemu mas handsome idola gw, dompet gw selalu terisi penuh soalnya klo dia datang Lun. Bye!"
__ADS_1
Luna risih akan lontaran Shasa. Ia tak mengikut campur pada masalah temannya, hingga ia lupa berterima kasih pada Shasa yang sudah menjauh dari hadapannya.
Sesampai Luna dirumah, ia mendapati tukang yang memberikan kunci. Tak lama ia bergegas membersihkan diri.
Ia pun membalas video call dari kedua anaknya kala itu selama satu jam lebih. Meski lelah hal itu membuat dirinya semakin hilang rasa lelah dan keringat yang mengalir padam ketika menatap dan bicara pada kedua anaknya kala itu.
Hinggga dibatas ujung sudut, Luna kembali menatap benda kecil hitam merah yang diberikan Shasa. Ia mulai menyalakan laptop dan melihat satu persatu foto kediaman pria yang alim, sopan dan tak pernah ia bayangkan jika ia mendapati sosok pria tersebut untuk menuntunnya.
"Di alam bebas, kota luar yang jauh dari adab. Mengapa masih ada pria sederhana, tampan dan sopan seperti anda?"
Luna tersenyum menatap pria dengan balutan kokoh panjang, celana bahan yang tak ketat membuatnya tetap gagah dan tampan. Ia selalu menunduk, dan terkejap menatap sosok pria itu seperti pria yang tak asing baginya. Saat foto itu menampilkan wajah dekat dan lurus ia mengingat hal yang tak asing.
"Mengapa aku tak asing dengan pondok ini. Lalu mengapa pria paruh baya yang memegang sapu ini seperti pernah ia lihat, tapi dimana ya?"
Luna terkejut akan sebuah ketukan pintu yang keras. Tak lama ia menutup laptop dan merapihkan. Luna mencoba keluar dan berusaha melihat siapa tamu yang datang sudah semalam ini.
Cekleg.
"Triis. Astaga bau sekali kamu mabuk ya?"
Uheeeuk Uheeeeuk.
Nahas hal itu membuat Luna masuk ke kamar dan lupa mengunci pintu. Ia lalu mengguyur tubuhnya dan mengganti pakaian setelah selesai.
Tak lama Luna mendengar suara bising terdengar, ia segera mengambil syal dan segera mengobati memar alergi dengan salep di lehernya. Lalu ia turun dan mendapati warga yang telah berada di depan rumahnya. Sementara ia menutupi Triis dengan selimut karena tak memakai kaos sehelai di tubuhnya.
"Maaf Pak. Ada apa ya berada dirumah saya semalam ini?" tanya Luna.
"Bisa saya masuk. Nona?" tanya pak Rt.
"Ya. Tapi didalam ada tamu sedang tak enak badan, saya takut menggangu. Langsung saja pak jika ada yang ingin disampaikan?"
Salah satu warga menatap Luna dengan sinis. Ia mendorong tubuh Luna hingga hampir terjatuh, sehingga kebisingan itu membuat Triis bangun masih setengah sadar.
"Ada apa ini pak?"
Luna menepuk jidat. Ketika Triis berdiri dengan bertelanjang atas body. Lalu warga terkesiap menatap Luna dengan mengatakan wanita rendahan.
"Sudah saya bilang kan pak. Mereka pasti berbuat mesum, lihat saja tampilan Pria nya."
"Maaf Bu. Pak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Pria ini tamu dan muntah, sehingga saya tadi mencuci keringkan bajunya. Saya mohon jangan salah sangka!"
__ADS_1
"Modus. Pembohong kamu, lihat saja dia pak rambutnya basah. Sudah pasti Eheuuum .. Eheuum dia pak Rt. Usir dia pak!"
Luna tak berdaya, masih menatap Triis yang tiba saja duduk masih pusing akan hal yang tak ia tau ada apa. Luna hanya pasrah ketika banyak orang meneriakinya dan melemparinya dengan kasar. Luna hanya bisa meneteskan airmata dan tak berkata sepatah katapun.
"Tenang tenang. Kita tak boleh main hakim sendiri, saya harap kalian tenang." tutur Pak Rt.
"Kalian ini berisik sekali sih. Memang ada apa kalian ramai kesini?"
"Maaf Pak. Bukankah bapak pernah bilang akan menikahi kembali mantan istri bapak ini, saya lihat kedua anak dan mertua bapak telah tak ada. Bisa saya lihat jika anda telah resmi. Mohon maaf karena beberapa warga merasa risih. Karena komplek kami tak bebas dan selalu memantau hal yang tak di inginkan. Saya harap kerjasama nya ya pak!"
Triis menatap dan sadar karema ia tak memakai kaos. Ia bertanya pada Luna, tapi mendapat balasan tunjukan berada di atas jemuran. Ia mencerna apa ia tadi muntah.
Sehingga tatapan warga dan Rt memikir keras dan semakin bingung.
"Maaf Pak. Triis sedang tidak sehat, ia bahkan tak sadar dan lemah tadi. Mohon jangan berfikir buruk!" titah Luna.
"Oooowh." Serentak semua orang menjawab.
Triis melirik seisi jasnya. Ia lupa jika tas kerja dan segalanya berada di satu ruangan setelah ia bersenang senang dan merilekskan tubuhnya dengan seorang wanita yang ia simpan selama ini.
"Ebon. Cepat saya tunggu dua puluh menit Bawa berkas pendaftaran pernikahan saya dengan Luna sekarang!"
"Haaah. Apa makasud kamu Triis?" tanya Luna.
Pak Rt dan Warga pun menunggu dan saling berbicara simpang siur. Menatap Luna yang berkeringat seolah ingin menolak, tapi keadaan membuatnya terdiam tak bisa mengelak karena situasi yang terjepit.
"Bagaimana ini, aku tak bisa menerima Triis kembali dengan secepat ini. Apa yang harus aku lakukan?" lirih Luna berada di dapur.
Luna yang sedang melamun dan mengucurkan air teko kedalam gelas. Tiba saja tertegun ketika tangan ulurannya ada tangan seseorang yang membantunya menghentikan tuangan air yang luber begitu saja.
"Luber. Apa kamu meragukanku Luna?"
"Aku tidak siap. Aku harus menolaknya Triis, kamu tidak bisa melakukan paksa ini!"
"Lalu kamu bersedia di arak. Ini luar negri lebih kejam Luna?"
Luna pun terdiam, ia menyesal telah membuka pintu dan terlibat skandal yang membuatnya serba salah.
"Kamu pria yang menjengkelkan Triis. Aku tau kamu menyukai ini semua. Tapi tidak dengan aku."
Seperginya Luna, Triis hanya bisa tersenyum menatap punggung Luna yang menawan itu. Dalam hatinya ia tertawa penuh dan merasa menang.
Tbc.
__ADS_1