
Akira dan Cian memiliki rasa ingin tahu tentang ini, ini pertama kalinya Irin terlihat menggunakan cara mengubah isi teks. Mereka berdua tidak akan menahan diri mereka saat jam istirahat untuk bertanya.
Saat jam istirahat berbunyi, semua siswa segera melakukan aktivitas lain seperti anak laki-laki lainnya yang bermain basket, bola, dan banyak lagi, bahkan mungkin ada kumpul anak lelaki yang menjadi preman sekolah ataupun semacamnya dan ada yang pergi ke kantin untuk makan.
Kantin di sekolah ini sangat besar, menyediakan banyak makanan seperti yang tersedia di restoran-restoran entah itu restoran biasa, menengah, maupun restoran kelas atas. Namun disinilah mereka, hanya tersisa tiga orang di kelas yang tidak keluar. Akira, Cian, dan Airin. Mereka berdua memiliki urusan penting yang harus di tanyakan pada Irin.
Cian: "Irin, apa yang kamu lakukan? Kenapa teks nya bisa secara ajaib berubah seperti itu!? Kamu boleh jujur tahu, hanya kami berdua orang harusnya yang bisa kamu percayai."
Irin: "Maaf jika aku tidak pernah jujur dan menyembunyikan sesuatu yang aneh seperti ini, sebelumnya memang aku mengubahnya."
Akira: "Ternyata kamu."
Irin: "Omong-omong kenapa kalian berdua menyembunyikan rahasia dariku, kalau kalian mampu membuat hal-hal aneh juga." Tanya Airin dengan wajah marah karena di bohongi.
Cian: "Ehh, bagaimana kamu bisa tahu? Aku.... aku akan menjelaskannya."
Akira: "Ah sepertinya aku bertemu dua orang yang memiliki kemampuan khusus disini."
sedikit bergumam dengan tangan kanannya di belakang kepalanya.
Cian: "Ini semua sebenarnya berawal dimulai dari kemarin ketika Akira ternyata dapat membaca pikiranku dan aku mulai menyadari nya."
Akira: "..."
Irin: "Humm, kalian berdua juga ternyata tidak lebih akan memasuki daftar orang aneh dalam buku harianku."
( ̄ヘ ̄)
"Perbincangan yang cukup bagus."
__ADS_1
Suara asing terdengar dengan tepukan tangan yang pelan secara tiga kali. Mereka bertiga segera mengalihkan pandangan ke arah asal suara tersebut. Terlihat sebuah lelaki menggunakan jubah hitam gelap berambut putih yang sedang berjongkok di atas meja guru.
Kedatangannya terasa tidak asing bagi Irin, sepertinya ini lebih mirip dengan lelaki yang muncul di bawah tiang lampu tadi malam.
Irin: "Kamu!!!"
Akira: "Airin, kamu mengenal orang ini?"
Irin: "Aku kurang yakin soal itu, sekilas dia mirip seperti orang misterius yang muncul tadi malam di dekat taman apartemen ku."
Cian sudah berwaspada, karena dia sudah menyadari adanya skill peniruan kemampuan ini dia mungkin bisa meniru kemampuan lawan jika orang ini secara tiba-tiba menyerang mereka.
"Hahaha..... kudengar ada sesuatu yang menarik dari dunia ini, sepasang mata yang begitu kuat haa~ apakah di antara kalian berdua ada yang memiliki mata ini?"
Kemudian menunjukan gambar yang di proyeksikan di udara tepatnya kedua mata yang seperti dimilki Yuna dan Akira, Cian tahu sepertinya mata itu memang benar-benar sama dengan mata yang dimiliki Akira. Irin mungkin pernah melihat mata seperti ini yang di tunjukan oleh lelaki di dalam mimpinya, memang benar lelaki itu kini berdiri disini sebagai Akira.
Airin segera berprasangka apakah lelaki itu benar-benar turun ke dunia manusia untuk mencari kekasihnya seperti yang di ceritakan di dalam mimpinya. Dia dan Cian secara bersamaan memandang Akira yang terdiam di sebelah mereka.
Aura ini meluap ke segala arah, bahkan semua siswa merasa bahwa tubuh mereka melemah dan merasa seperti akan tertidur, terbanting ke tanah menahan rasa penindasan.
Kemudian lelaki yang berjongkok di atas meja itu mulai berbicara lagi.
"Perkenalkan, aku Vallen seorang malaikat. Aku menyadari bahwa sepertinya ada suatu mata istimewa pemberian Tuhan yang diberikan kepadamu. Maka dari itulah disini aku berdiri untuk mencoba merebutnya!"
Vallen adalah seorang malaikat yang telah di usir dari surga, karena ketidakpatuhannya terhadap perintah Tuhan dan mencoba memberontak mencari cara untuk membunuh Tuhan, sebenarnya dia adalah pemimpin para malaikat jatuh yang juga bersekutu dengan beberapa iblis. Malaikat ini sebenarnya cukup bodoh, jika mengira dia mampu membunuh Tuhan.
"Kamu!! Sepertinya kamu!! Aku tahu kamu memiliki mata itu dan menyembunyikan nya dariku. Sekarang aku berniat mencabut kedua bola matamu itu, aku harus segera Memilikinya."
Segera dia mengeluarkan sebuah pedang panjang yang agak tipis keluar dari telapak tangannya berjalan perlahan menuju mereka bertiga. Semakin dia mendekat Cian merasa bahwa tubuhnya sulit bergerak.
__ADS_1
Akira merasa kekuatannya semakin melemah sejak kemarin dia bahkan sulit untuk melakukan hal-hal yang terlalu membuang energi.
Segera dengan pedang di tangannya Vallen bergegas berlari untuk mencoba mencungkil kedua mata Akira dan membuat Akira tidak bereaksi dengan serangannya.
Irin merespon serangan ini dan segera berlari mendorong Akira untuk menghindari serangan tersebut. Serangannya meleset membuatnya menembus dinding kelas sebelah sampai ke kelas lainnya lagi, karena dia menyerang dengan kekuatan yang cukup kuat. Bahkan menghancurkan 2 kelas sekaligus.
Airin segera memindahkan Cian dan Akira bersamanya ke lapangan luas, berusaha mengurangi kerusakan yang ada. Hal ini membuat panik semua orang di sekolah. Vallen segera melihat bahwa mereka sudah tidak ada dan menghindari serangannya. Cian cukup terkejut melihat gerakan orang secepat itu.
Karena tidak ingin membuat semua orang jatuh dalam ketakutan, Irin segera menjentikkan jarinya untuk mulai membekukan waktu. Waktu telah berhenti, namun hanya 4 orang ini yang mampu bergerak sekarang.
Bagian lantai dua dan lantai empat kemudian meledak secara vertikal sampai menembus langit-langit sekolah, Vallen kembali bangkit dan keluar dari gedung sekolah tersebut.
Sebagian gedung hancur dari bawah ke atas, dia sekarang melayang di udara dengan mengepakkan sayap hitam nya sampai adegan tersebut seperti dia terbang dan menghalangi matahari dengan sayap gelapnya.
Kemudian dia bergegas menyerang lagi ke arah mereka bagaikan kilatan listrik berwarna ungu sangat cepat bagaikan kecepatan cahaya. Irin segera menciptakan pelindung lapisan sihir untuk melindungi mereka.
Akira: "Tubuhku terasa lemah, sangat lemah! Apa yang terjadi pada tubuhku!?"
Jangan bilang hal ini akan terjadi lagi seperti kisah tragedi nya milyaran tahun yang lalu, tapi kali ini berbeda mungkin dia akan benar-benar di bunuh.
Akira tidak pernah menganggap bahwa dirinya akan abadi, mungkin itu hanyalah kemampuan mengontrol usia nya, sehingga wajahnya akan terus terlihat sebagai seorang remaja delapan belas tahun. Dia berpikir jika dia mati kali ini sepertinya akan kehilangan dua temannya sekaligus, dia merasa seperti pecundang yang tidak pernah bisa melindungi sesuatu yang berharga.
Giginya menggertak dia mulai marah, jika dia mati mungkin kehidupan nya selama milyaran tahun akan menjadi kehidupan membosankan yang sia-sia, setidaknya dia ingin membiarkan satu di antara kisah hidupnya ada kisah yang menarik.
Dia mulai bangkit dan juga mengambil pedangnya yang terbuka dari retakan tanah dan seketika berlari menyerang Vallen. Kedua pedang saling bertabrakan, Akira tidak memiliki cukup sihir untuk mempertahankan bentuk pedang nya. Akhirnya pedang nya pun hancur dan menghantam nya kembali ke tanah sampai menabrak gedung di belakang.
Airin segera mengerahkan tangannya mengarah ke pedang untuk menyatukan kembali pedang dari pecahan-pecahannya, saat pedang terbentuk semula, dia memunculkan kembali pedang ini pada Akira.
Cian meniru pedang yang di ciptakan Akira, secara bersamaan mereka berdua menyerang kembali dengan kecepatan tinggi, merobek udara.
__ADS_1
Serangan mereka secara bersama-sama sekarang cukup kuat, tiga kekuatan besar bertabrakan di udara. Hingga menciptakan gelombang kuat yang menyapu angin hingga meruntuhkan gedung-gedung di sekitar.