Her Private Life

Her Private Life
Out of map range


__ADS_3

"Oh Lynelle..."


"Selamat datang kembali"


"Rin! bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik selalu"


"Bagaimana denganmu?"


Agak buruk, aku sedang mencari racun ular dengan bisa berbahaya namun tidak mendapatkannya. Kata Flaire.


"Ahh, menyedihkan sekali...lalu siapa dua orang ini?"


"Mereka adalah teman-teman baruku"


Kemudian Rin mulai memperkenalkan dirinya pada mereka berdua.


Perkenalkan, namaku Rin...aku adalah penjaga tempat ini, memberi misi untuk orang-orang yang ingin memburu monster dengan sebuah bayaran, senang bertemu kalian.


Isami kemudian memandang Flaire dan berkata "Apakah aku harus memperkenalkan diri?"


"Tentu, itulah kenapa kalian disini sekarang"


"Isami"


"Dan aku Akira"


"Baiklah, Isami dan Akira yah, jika perlu aku ketahui, monster seperti apakah yang mampu kalian hadapi menurut potensi kalian?"


Monster? aku tidak tahu berada di tingkat seperti apa monster yang kami hadapi, namun cukup berbahaya. Kata Isami.


Apakah perlu sebuah ujian untuk kalian agar bisa menentukan monster yang mungkin setara dengan kalian? tanya Rin.


"Ahh, tidak...tidak perlu, langsung saja berikan misi nya dan akan kami selesaikan" kata Akira.


"Baiklah" Sambil memberikan selembar kertas yang berisi misi mereka.


Kemudian Isami mengambil selembaran itu dan membacanya bersama Akira dalam hati.


"Bisakah aku bertanya sesuatu?"


Kata Akira.


"Silahkan"


"Tidak perlu bertanya sesuatu"


Flaire memotong pembicaraan.


"Hah?"


"Aku tahu bahwa kamu ingin menanyakan lokasi tempat yang di tuju di dalam misi...bukan?"


"Benar"


Kemudian Flaire menawarkan diri dan sebenarnya berniat untuk mengantar sambil menemani mereka menyelesaikan misi nya. Lagipula dia ingin memanfaatkan kesempatan ini andai saja dapat menemukan racun lainnya yang mematikan sebagai bahan percobaan


"Flaire, misi ini sudah di kerjakan oleh dua orang, jangan bilang kamu akan pergi bersama mereka menyelesaikannya bersama"


"Yap, aku akan membawa mereka ke tempat monster yang seharusnya, dan kembali kesini membawa sesuatu yang mungkin akan kami dapatkan"


Tapi sebenarnya setiap misi biasanya di kerjakan oleh satu orang saja, dua itu adalah hal yang layak, namun jika tiga, mungkin hasil dari menyelesaikan misi mereka adalah bayaran yang harus di bagi tiga.


"Aku tahu kamu memikirkan bayarannya"


Kemudian Rin yang melamun beberapa saat melihat ke wajah Flaire lagi.


"Tidak penting untuk ku, hanya untuk mereka, aku bukan menginginkan bayaran dari misinya, aku hanya ingin berada sebagai satu tim jika hal itu mungkin dapat mencapai tujuan lainku"


Isami: "Tujuan lain?"


"Yah, tujuan lainku mungkin kita bisa membunuh monster bersama, jika kalian bersedia dengan monster beracun dan memberikan racun nya padaku, bagaimana dengan itu?"


"Kurasa aku cukup setuju saja" Kata Akira.


Akira berpikir tentang racun yang di katakannya, dan mulai bertanya lagi.


"Racun, racun apakah dan untuk apa?"


"Sebuah percobaan"


Jawab Flaire dengan singkat.


"Jika tidak ada lagi hal yang perlu di bahas, ayo kita segera menyelesaikan misi nya"


Flaire berjalan keluar dengan diikuti Isami dan Akira di belakangnya. Mereka membayar sebuah mobil untuk mengantar mereka ke jalan yang jauh di luar dari kota. Namun, mobil atau motor yang ada di sini mungkin tidak pernah secanggih dari dunia Airin, dan bahkan terbilang sangat jauh jika keduanya harus di bandingkan.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil itu, bisa di anggap seperti taksi, namun dengan gaya mobil yang tidak secanggih di dunia Airin juga.

__ADS_1


Membutuhkan waktu beberapa jam mungkin untuk sampai ke tempat yang akan mereka tuju dan akan lebih lama lagi dengan mereka yang berjalan kaki atau melewati jalan lain.


Setelah satu jam di mobil, Flaire tiba-tiba berkata "Berhenti" pada pengemudi tersebut, hingga dalam kecepatan yang tidak terlalu cepat, mobil di rem sampai sepenuhnya berhenti di jalan.


"Ada yang bisa di bantu?" Tanya pengemudi.


"Kami berhenti disini"


"Eh? berhenti disini?" tanya Isami dengan wajah yang agak kaget.


"Benar! turun disini"


Ketiga nya segera turun dengan Flaire lebih dulu, dia tidak perlu membayar, karena sebelumnya dia sudah membayar semuanya, biaya perjalanan sejauh ini.


Lalu supir segera berbalik memutar mobilnya ke jalan di arah kota, ini sudah terlalu jauh baginya untuk mengantar penumpang yang bahkan meminta untuk turun di tengah jalan tanpa ada satu pun orang.


"Serius kita turun disini? tempatnya disini?"


Kata Akira sambil bertanya dengan agak santai.


"Benar, disinilah monster itu menurut petunjuk nya"


Flaire berjalan lagi lebih dulu, namun mencoba untuk tidak meninggalkan mereka, dia harus menjaga jarak dengan keduanya agar tidak terpisah.


Semakin lama dataran nya semakin tinggi.


Apakah kalian merasa dingin? tanya Flaire


"Yah cukup dingin"


Kemudian dia berhenti sejenak dan melepaskan jubah nya.


"Apa yang kamu lakukan?"


Dia membuka jubahnya dan membaca sebuah mantra hingga membuat jubah di tangannya secara hampir tidak bisa di sadari sudah menjadi lebih dari satu, bisa di bilang ini adalah mantra untuk menduplikasi suatu benda.


"Mantra Kloning yah?"


"Yap, benar"


"Bagaimana kamu menyadarinya?"


"Aku adalah seorang yang bisa melakukan sihir mudah seperti itu, bahkan tanpa perlu mengucapkan mantra"


"Tunggu, kamu tidak perlu mengucapkan mantra?" Tanya Flaire.


Sebenarnya Isami juga baru tahu, bahwa Akira bisa melakukan sihir tanpa mantra dan langsung melakukannya saja, berbeda dari dengan Isami yang bahkan hanya murid dari akademi sihir yang putus sekolah karena pergi dari dunianya.


"Kalian juga gunakan ini"


Flaire menunjukan lagi topeng nya dengan duplikat dua lainnya, dan memberikannya pada mereka.


"Topeng? untuk apa topeng ini?"


Akira merasa topeng itu tidak berguna, harusnya jubah saja sudah cukup, hanya dengan suhu dingin pegunungan itu tidak masalah, bahkan dia tidak akan merasa kedinginan.


"Gunakanlah ini, kalian berdua...gunakan, jika kita melawan monster dan ada orang-orang dari tempat pemburu lain, itu sangat merepotkan. Mereka bisa membunuh kita lebih dulu dan memanfaatkan monster yang sekarat untuk mereka ambil"


Keduanya mau tidak mau mengambil saja topeng itu walau seharusnya tidak perlu.


Terus berjalan, gunung nya semakin tinggi, mereka terus berjalan tanpa memperhatikan di belakang.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan jika tidak menemukan monsternya untuk di buru? apakah kita harus pulang dan kembali lagi kesini?"


Tanya Isami.


"Oh, itu hanya membuang waktu dan tenagamu, kita akan berkemah disini, entah kamu tidur atau tidak, kita akan melanjutkan nya samai dapat, terkecuali waktu kita sudah melebihi dua hari, itu harusnya sudah cukup untuk pulang"


"Membosankan"


Sambil membuang napas.


Terus berjalan dan berjalan, semakin terasa sepi dan hanya ada suara pepohonan yang saling bertiupan angin juga suara burung.


Mereka sudah berjalan selama beberapa jam, jika di hitung, mungkin mereka sudah berjalan sepanjang sebelas ribu kaki ke atas gunung, bukan berarti mereka akan sampai ke puncak. Gunung ini cukup tinggi.


Kabut-kabut sudah sangat tebal, mereka sudah melampaui awan sekarang, sangat tinggi dan pepohonan yang begitu besar juga bebatuan yang belum pernah terlihat di hutan biasa, seperti sebuah batu yang besarnya seperti tiga kali lipat dari ukuran mobil truk.


Aku sangat lelah, ayo kita berhenti dulu.


Ucap Flaire.


Akira dan Isami: "Lelah?"


"Hah?? kalian berdua tidak lelah? ini sudah berapa jam kita tidak menemukan sesuatu! apakah kalian berdua tidak lelah?"


"Kupikir kamu lah yang sangat bersemangat kemarin untuk melakukan misi nya"


"Ya, kau benar. Tapi selama aku mengambil misi untuk di lakukan, aku tidak pernah mendapat misi aneh seperti ini, ini di atas gunung yang sangat tinggi! lihatlah semua awan-awan berjalan itu, kita sudah lebih tinggi dari itu, ini seperti misi yang tidak masuk akal"

__ADS_1


Baiklah kita berhenti disini dulu. Kata Akira.


Flaire mengeluarkan tas kecil tersembunyi dari dalam jubahnya.


Rupanya dia selalu membawa sebuah tas di balik jubah yang dia kenakan.


"Tas? kupikir kamu tidak pernah memakai tas"


Ucap Akira.


"Aku terkadang memakainya, untuk menyimpan makanan ringan jika tersesat, setidaknya cukup untuk membuatku bertahan sehari, lalu bagaimana dengan kalian berdua, Kalian tidak makan?"


Keduanya diam, kecuali perut Isami yang sedikit berbunyi.


Ambillah ini


Sambil memenggal roti di tangannya.


"A-A-A-Aku..."


"Aku tau kamu lapar, makanlah, bertahan dan jangan mati"


"Kamu meremehkanku? mana mungkin aku akan mati hanya tidak makan selama satu hari, aku bahkan mungkin bisa bertahan selama dua hari tanpa makan"


"Hah? dua hari? aku bahkan bisa tiga"


"Omong kosong! tadi kamu bilang sehari"


"Tentu saja! karena aku memiliki makanan, sekarang cepatlah ambil jika kamu mau"


Isami mengambil potongan roti itu dan segera memakannya.


"HAP"


Ada sekitar lima roti yang mereka makan.


"Ahh! Akira! aku melupakanmu! dimana dia??"


Flaire segera mencari orang hilang itu yang membuat firasatnya daritadi seperti ada sesuatu yang kurang.


"HAHAHAHAHA!!!"


"Kenapa tertawa begitu?"


"Kenapa tertawa?? aku yang harusnya bertanya padamu, kenapa begitu kocar-kacir mencari seseorang"


"Akira hilang! bagaimana bisa? aku tidak menyadarinya, dia di culik hantu? ini adalah gunung dengan pohon-pohon yang mengerikan, nenekku terkadang menceritakan legenda bahwa di atas gunung ada seorang penyihir jahat yang menculik manusia untuk di jadikan tumbal sihir hitam nya"


"HAHAHAHA!!! kamu benar-benar gagal fokus, sepertinya itu benar-benar efek lapar yang tak terbendung"


"Apanya yang lucu?"


"Lihatlah" Sambil menunjuk ke arah bebatuan di bawah pohon besar. Itu adalah Akira yang sedang duduk di sana sambil menarik-narik rambutnya helai per helai.


Hah? aku tidak menyadarinya! bagaimana bisa?


Ucap Flaire.


"Sudah kubilang, itu bisa saja efek lapar. Kamu kurang fokus tentang apa yang harusnya kamu lakukan"


"Huh, kupikir dia di culik pemyihir jahat tanpa jejak atau hantu dan semacamnya"


HOAAAMMMM~


Mana mungkin aku dan Isami bisa di culik oleh hantu atau mahluk-mahluk cerita takhayul nenekmu itu.


"Membosankan"


"Tunggulah beberapa saat, lalu kita akan melanjutkannya, kuharap kalian berdua tidak meninggalkanku disini, aku mungkin tidak tahu jalan pulang"


"Bagaimana dengan petanya?"


"Peta ini harusnya benar-benar tidak valid sejak awal, hanya empat ratus meter dari bawah, peta nya sudah tidak ada lagi, mana mungkin kertas itu akan memuat semua lokasi sampai sejauh ini"


"Apa boleh buat"


Flaire berjalan perlahan mendekati Akira dan memberi penggalan roti terakhir yang masih dia miliki.


"Ambillah"


Akira mengambilnya juga.


Sementara di tempat lain, Isami hanya merasa iri lagi dengan mengapa Akira selalu di dekati banyak wanita, bahkan dia tidak melakukan apa-apa, membuat gadis-gadis di sekitarnya memperhatikannya dan memperdulikannya.


Terkadang melihat dirinya sendiri di cermin, Isami menggangap wajahnya itu tampan, meski begitu, itu hanyalah wajah lelaki yang sedikit di atas rata-rata, tidak jelek, dan tidak biasa saja.


Dia juga pernah berpikir tentang begitu menyedihkan nya dan begitu bodohnya dirinya sampai harus pergi ke dunia lain hanya untuk mencari penyihir favoritnya, dan sejauh itu, tidak ada penyihir favoritnya, yang ada hanya gadis yang mirip dengan itu.


Meski dia jatuh hati dengan penyihir yang di idolakan nya, yang ada hanyalah Airin yang wajahnya hampir mirip, namun itu agak berbeda. Mereka hampir terlihat sama, dan mungkin sama jika warna rambut Irin adalah putih seperti Yuna. Bahkan sampai bulu matanya berwarna putih. Itulah yang membuatnya sedikit berbeda. Lalu dia tidak pernah menyukai atau jatuh hati pada Airin, karena suatu hal sekarang membuatnya tahu, bahwa mereka bedua berbeda. Dia hanya menyukai Yuna.

__ADS_1



Ilustrasi karakter : Hisoka Yuna


__ADS_2