
Cian dan Sora sebenarnya juga datang di tempat yang sama ketika Akira dan yang lainnya sudah pergi lebih dulu.
Misi yang mereka klaim adalah beda dan tempat tujuannya juga seharusnya beda, tapi sekarang semua berada di tempat yang sama, yaitu gunung yang berada di luar jangkauan peta, ini seperti bukan lagi tempat yang di arahkan. Rute pada peta mereka berubah, tapi mereka tidak menyadarinya dan terus melihat arah nya yang berubah-ubah.
Berbeda beberapa kaki, Akira dan Isami sudah berada hampir di puncak nya, sementara mereka berdua masih ada di sekitar pertengahan jalan.
Sesuatu menyesatkan mereka, di mana mereka pergi ke tempat yang tidak seharusnya.
Akira dan yang lain sekarang tidak berjalan menuju atas, mereka mencari jalan lain yang tidak menuju ke arah atas. Dan jauh dari itu, Flaire melihat. seperti sebuah gua, atau jalan seperti yang ada di dalam tambang minecraft.
"Bukankah itu sebuah gua? mungkin ada monster nya" Kata Flaire.
Akira dan Isami hanya setuju saja dengan usulan pergi ke sana. Apa pun yang terjadi, mereka harus saling melindungi.
Dari kejauhan tadi, sekarang mereka berada tepat di depan gua itu dan akan segera memasukinya, begitu gelap gulita dan tidak terlihat ujungnya.
Flaire mengambil beberapa ranting kayu yang cukup besar di sana. Dia menyuruh mereka mengambil masing-masing satu atau dua untuk mereka.
"Menyala lah! api abadi!"
Dengan Jari tengah dan jari telunjuk nya yang saling menempel dan jari lainnya terlipat, dan cahaya hijau yang tidak terlalu terang keluar.
Di mengarahkannya dari arah rantingnya, kemudian ke semua ranting yang di pegang Akira dan Isami, pada akhirnya sepercik api yang menyala di ujung setiap ranting mulai menyala menjadi apa layaknya obor.
Api ini adalah api sihir di bandingkan dengan api kebakaran puluhan gedung yang sulit di padamkan, api sebesar api obor ini tidak bisa di katakan sulit untuk di padamkan, namun tidak akan padam sampai mantra nya di hentikan. Walau terkena ombak atau tsunami bahkan angin badai apapun, itu tidak akan padam.
Walau ini salah satu sihir yang bagus bagi Flaire, bagi Akira dan Isami itu hanya terlihat biasa saja. Keduanya berasal dari tempat yang berbeda dengan kemampuan sihir yang hebat.
Sekarang, mereka perlahan menyusuri jalan gua yang gelap, di terangi ranting berapi di tangan mereka.
"Bukannya perasaanku saja yang aneh? tapi apakah jalan ini benar-benar semakin lama bukan datar?" Tanya Akira.
"Benar, ini seperti semakin mengarah ke bawah"
Mereka tidak berjalan lurus dan lurus, struktur jalan nya mulai miring ke bawah dan lebih aneh. Semakin mereka berjalan ke depan, tanahnya semakin menurun dan agak licin.
"Seharusnya aku tidak berpikir membuat kalian kesini, apakah kita akan balik saja? bagiamana kalau berbalik saja?" Kata Flaire dengan sedikit gugup.
"Tidak apa, teruskan saja, kita sudah terlanjur berjalan jauh kemari"
Flaire melanjutkan langkah nya, namun tidak lagi berada di depan. Dia setara dengan langkah Akira berlindung di balik mereka berdua.
Entah Api mereka yang mengecil atau apa, tapi semuanya makin lebih gelap lagi, padahal api nya masih menyala dengan kondisi yang sama, namun jalan yang mereka pijak hampir tidak terlihat lagi, seperti tidak ada cahaya yang keluar dari api untuk menerangi jalan mereka.
"Api nya? hah? jalannya semakin gelap, kenapa apinya tidak bercahaya?"
"Aku tidak tahu" Kata Isami sambil berjalan terus ke depan.
Ketika dia membalikkan pandangannya pada Akira dan Flaire di sebelahnya, untuk memastikan mereka masih utuh dan berada terus di dekatnya. Akira juga sama, tapi dia melihat ke belakang sedikit karena ada perasaan yang aneh, semakin mengarah ke belakang, rasanya semakin aneh.
Ketika dia benar-benar melihat ke belakang sudah tidak ada lagi jalan, yang mereka pijak tadi sudah tidak ada lagi, semuanya buntu. Yang ada hanya jalan gelap ke depan.
"Hah?"
"apa yang terjadi? jalannya?"
Flaire sedikit ketakutan karena terjebak.
Akira masih sedikit tenang soal itu, dan "teruslah berjalan ke depan"
Walau itu semakin gelap, tapi juga semakin curam ke bawah, dan mereka semakin tidak bisa menahan pijakan. Pada akhirnya mereka akan tergelincir ke bawah.
Semua benar-benar terkejut karena jatuh begitu tiba-tiba ke bawah dan sangat dalam, sekitar delapan detik mereka terjatuh dan sampai ke dasarnya.
BRUAKK!
__ADS_1
Semuanya perlahan berdiri kembali dari tempat mereka terjatuh. Namun sekarang ada cahaya, mereka berada seperti di sebuah ruangan besar yang langit-langitnya sangat tinggi, disini sangat besar.
"Tempat apa ini?"
Kata Akira sambil melangkah perlahan lagi ke depan.
Tempat yang megah seperti sebuah istana yang sangat besar. Di setiap tiang-tiang besar yang menjulang ke atas dilengkapi dengan lampu-lampu yang mewah. dan tinggi beberapa tiang paling tinggi adalah lima puluh delapan meter dari permukaan tanah ke langit-langit nya. Tiang nya juga sangat besar dan terlihat kokoh. Mereka berpikiran yang sama tentang bertanya "bangunan apakah ini?" dan "tempat apakah ini?"
Airin merencanakan sesuatu dengan mengubah rute jalan mereka semua termasuk Cian dan Sora.
Dengan kata lain, semua rute di dalam peta yang berubah adalah karenanya. Dia bermaksud untuk sedikit mempercepat dan mempermudah permainan.
Dari tempat jatuh tadi, mereka terus berjalan ke depan mengikuti jalan yang ada dan semua tiang megah ini. Suara langkah mereka terdengar keras, bergema dan jika mereka bicara mungkin agak sedikit terpantul. Maka dari itu, mereka akan berbicara dengan nada serendah-rendahnya.
"Di depan jalan buntu, belok kanan atau kiri?"
Tanya Isami.
"Yang mana saja, aku tidak tau"
"Belok kemana saja tidak masalah bagiku"
Ucap Akira.
"Baiklah kita ke kanan"
Mereka berbelok ke jalan kanan, tidak ada yang perlu pada mereka, karena aku melihat semuanya dari sini, entah itu berbahaya atau tidak tapi aku yakin Akira bisa baik-baik saja, jika terjadi sesuatu aku harus membantu. Aku akan bertanggung jawab.
Benar-benar banyak sekali tiang megah di setiap sisi jalannya, dan lantai nya seperti tegel keramik ukuran dua ratus meter persegi. Benar-benar mewah. Tapi benar-benar aneh bagi mereka semua dengan melihat corak-corak berbentuk naga yang ada. semuanya berwarna gelap.
Tembok selanjutnya...
Mereka melewati tembok yang seperti sebuah gerbang lagi dan jalan ke depan terlihat seperti jembatan.
"Apa itu?" Kata mereka semua bersamaan.
"Apa ini? ruangan apa?"
"Tidak! ini tidak seperti ruangan, ini seperti istana atau semacamnya"
"Ada tempat seperti ini?"
Tanya Isami.
"Aku tidak tahu"
Akira masih belum mengucapkan kata-kata apapun selain memperlambat jalannya dan berhati-hati.
"Kecilkan suara kalian, ini sangat bergema"
Mereka memperkecil kebisingan dan mulai melangkah sedikit demi sedikit di jembatan mewah ini, mungkin agak panjang sekitar seratus meter ke depan, dan di bawah sana adalah sesuatu yang seperti sungai emas sangat bersinar.
Masih banyak lagi pintu dan tiang-tiang penyangga besar di bawah sana, dari atas sini ke bawah tampaknya mirip ratusan meter juga.
Tembok-tembok ini sangat mewah, dan terkadang sebagian batu dan tanah bercampur di sisi lain, ini adalah istana di dalam gua? tidak...
Lebih tepatnya istana di dalam gunung.
Tapi terserahlah, kalian mau menyebutnya sebagai yang mana. Yang pastinya tempat ini berada di dalam dua kata itu. Sangat besar dan tidak terduga ada sebuah istana bawah tanah di dalam gunung.
WUSHHH!!
Beberapa langkah pelan mereka, tiba-tiba sebuah bayangan besar melewati kepala mereka. Bayangan nya terlalu cepat, tapi itu sangat besar. Semuanya saling berbalik arah satu sama lain dan bertanya "Apa itu?"
Semua tidak tahu apa yang barusan lewat, tapi di dalam sini memang terang di penuhi lampu-lampu yang mewah, Namun bayangan tadi cukup besar dan sangat cepat, itu bukan sesuatu yang kebetulan.
__ADS_1
"Percepat langkah, tetaplah berhati-hati"
Kata Flaire.
Beberapa langkah tepat di tengah jalan, bayangannya lewat lagi dan segera menghilang. Itu membuat mereka berbalik lagi, perasaan Akira sudah tidak enak.
"Kalian berdua. padaku"
"Sepertinya kita ketahuan"
"Ketahuan? pada siapa??" Tanya Flaire.
"Entah siapa, mungkin penjaga tempat ini"
"Aku akan menghitung perlahan, dan dalam hitungan ketiga, kalian harus terus berlari sampai ke gerbang itu, berlari secepat mungkin"
"Kenapa kamu menyuruhku berlari juga?"
Tanya Isami dengan heran.
"Aku akan menjaga belakang kalian, kamu lindungi Flaire dan larilah sampai ke gerbang itu, oke?"
"Baiklah, gadis rambut ungu. Bersiaplah!"
"Namaku bukan gadis rambut ungu!!"
Satu.
Isami dan Flaire mulai mempercepat langkah mereka sedikit lebih cepat dari Akira.
Dua.
Makin cepat dan makin cepat, akira hanya melangkah santai di sana tanpa rasa takut sedikitpun, suara nya menghitung sangat tenang dan pelan, tapi benar-benar menyuruh agar mereka benar-benar sampai ke sana dengan selamat.
"Bisakah kamu mempercepat langkahmu sedikit?"
"Aku sudah mempercepat langkahku! Akira belum menghitung sampai kita berlari!"
"Baiklah, kalau begitu berpengangan pada bajuku"
"Untuk apa?"
"Lakukan saja pada hitungan ketiga"
Langkah ke sekian-sekian...
TIGA!
Tap... Tap...
Isami mulai berlari dengan dua langkah dan Ujung bajunya di tarik dengan erat oleh Flaire.
BLUSHHH!!
Dalam langkah ketiga nya, kecepatannya benar-benar cepat dan sampai di ujung gerbang jembatan.
"Hah? apa itu tadi?"
Kata Flaire sambil kaget dan memegang seluruh tubuhnya satu-persatu memastikan bahwa dia masih hidup.
"Aku hanya berlari kesini, aku menyuruh mu pegang erat-erat bukan?"
"Yah tapi ini sangat cepat, jantungku seperti lepas saja, rasanya ingin muntah"
Ketika hitungan ketiga pun, Sebuah serangan menyerang Akira dengan sangat cepat, bukan sebuah serangan, itu adalah sebuah ekor besar yang akan menghantamnya di tengah jembatan.
__ADS_1
"Huh? apa itu?"
Flaire dan Isami mencoba memcari tau apa yang akan menyerang Akira, dia masih berdiri disana, tadinya dia berjalan dan mengehentikan langkahnya.