
Kenny menarik kerah bajunya kemudian menyandarkannya ke tembok, jika dia berbicara maka satu pukulan akan melayang lagi ke wajahnya.
"Kamu cukup kuat untuk menahan serangan kami!, apakah kamu tidak takut jika bagian tubuhmu yang lain patah?"
"Bagaimana jika kamu setiap hari harus datang ke koridor ini dan memberi kami uang, jika tidak kami akan selalu mencarimu di luar sekolah dan memukulmu bukan hanya dengan tangan kosong!"
Di dalam pikiran Akira...
"Memberi uang?"
"Setiap Hari?"
"Kemudian..."
"Mencari ku di luar dan..."
"Memukul ku lagi dengan benda tajam?"
Tampak di luar nya dia seperti merasa seperti kesakitan dan bonyok, namun di dalam hatinya dia hanya tertawa untuk menyiapkan sebuah pembalasan, dia tidak boleh tahu bahwa dirinya memiliki sihir, yang seharusnya adalah dia di ketahui sebagai anak lelaki tampan yang populer dengan banyak penggemar wanita dan sebagai seorang manusia biasa.
"Maaf! aku tidak punya uang, dan aku tidak mau!"
BUKK!!!
Tanpa jeda setelah dia berhenti bicara, pukulan Kenny segera langsung melayang ke wajahnya, sekarang total pukulan adalah seratus dua puluh tujuh pukulan dan tendangan yang mengenai nya, dan dia menahan semua rasa sakit itu, itu harusnya tidak ada apa-apanya di banding dirinya yang pernah di bunuh Isami.
Akira harusnya tidak seceroboh Isami, jika Isami berada di posisi Akira, mungkin semua anak ini langsung tertebas pedang tanpa satupun pukulan dari mereka yang kena.
Namun, Akira ingin menyiapkan pembalasan yang lebih spektakuler daripada langsung menyerang.
Pada akhirnya, Kenny dan teman-temannya bosan dan akan menunggunya di luar sekolah lagi untuk menyerangnya dengan senjata-senjata tajam, intimidasi ini sangat tidak berarti.
Setelah mereka meninggalkan Akira, Akira segera mengubah kembali penampilannya menjadi baik-baik saja dan rapih, seperti semuanya baik-baik saja, dia melihat mereka meninggalkan dirinya sambil tertawa. Dan Akira bangkit dari tanah dan melihat mereka yang pergi sambil tersenyum jahat.
Dia berpura-pura kesakitan setelah menerima total seratus dua puluh tujuh pukulan tadi.
Lagipula dia mengingat wajah mereka semua, dia bisa saja mengacaukan segalanya dengan menjadi salah satu dari mereka.
Ketika sepulang sekolah tiba, para jagoan sekolah ini sudah menunggu di luar gerbang sekolah, siswa yang keluar dari gerbang sangat banyak, jadi mereka harus mengawasi Akira keluar dari gerbang dan mengikuti kemana dia pergi.
Bahkan jika Akira berhasil pulang, dan mereka melihat Akira, mereka akan mengikuti kemana tempat tinggal Akira, mungkin mereka akan melempar rumahnya dengan sejumlah batu hingga kaca rumahnya pecah.
"Yo, Kenny! kita lanjutkan besok saja mencari anak itu!! aku melihatnya sudah pulang tadi bersama teman-temannya, bagaimana jika kita ke billiard saja? biar aku yang membayar waktu bermain kali ini" Kata Vanis.
"Boleh juga, kita akan lanjutkan besok saja"
Kata Kenny.
Mereka semua pun bergegas pergi menuju ke billyard andalan mereka, tempat mereka juga biasanya bolos karena malas sekolah.
"Vanis, apakah benar kali ini kami akan membayarkan kami semua? termasuk minuman yang kami ambil?"
"Yah, silahkan saja, hari ini aku sedang memiliki beberapa uang setelah memalak uang dari anak-anak lain"
Vanis pergi untuk memberitahu pelayan billiard pada meja nomor tiga belas untuk di gunakan selama satu jam.
Petugas billyard itu semuanya adalah wanita, wanita seksi yang membuat banyak orang suka bermain di sini, itu adalah teknik tempat ini memancing banyak orang untuk sering bermain.
Pelayan billiard ada yang bertugas sebagai penjaga di meja pembayaran, ada yang bertugas untuk mengurus semua meja, merapikan atau mengambil kembali cue dan bola objek, juga menyediakan bedak.
Pelayan tidak akan mengambilkan cue pada mereka, mereka bisa melihat banyak cue yang ada di dinding untuk mereka pilih sebagai penyodok bola. Ada banyak cue sekitar lima puluh lebih cue yang tersedia.
"Vanis, apakah kamu akan ikut bermain?"
Tanya teman-teman yang lain.
"Ahh, kurasa tidak, kalian saja"
"Baiklah kami akan bermain, jika kamu ingin bermain juga katakanlah untuk menukar posisi"
Dua puluh menit menjelang permainan, mereka bermain dan tertawa setelah habis bersenang-senang memukul seorang pria yang di idolakan banyak wanita sekolah itu, meskipun hari ini mereka tidak menemukannya, mereka akan kembali lagi memukulnya besok.
"Teman-teman, aku pergi keluar sebentar, aku akan segera kembali" kata Vanis.
"Baiklah"
Vanis segera keluar dan menghubungi pihak kepolisian untuk segera datang ke Billiard ini,
__ADS_1
awalnya polisi mengira bahwa suara anak ini adalah hanya ingin melakukan panggilan candaan yang usil pada pihak kepolisian.
Namun, pihak kepolisian akhirnya mendengarnya benar-benar serius, dan beberapa unit mobil polisi segera bergegas kemari, beberapa menit perjalanan, mereka pun tiba dengan suara sirene mobil-mobil polisi.
"Kenny, suara mobil polisi, ada sangat banyak sekali di luar, apa yang terjadi?"
Tanya Keren.
"Entahlah tidak usah di pedulikan, mungkin itu adalah sesuatu di luar sana, tetaplah fokus pada bola mu, Keren."
Keren: "Oke"
Namun, tiba-tiba pintu Billiard terbuka dan banyak petugas polisi segera masuk dengan baju rompi dan beberapa senjata di tangannya, untuk mengamankan semua orang yang ada di dalam Billiard
"Kepung semuanya! jangan ada yang lolos! periksa semua tempat ini!!"
Bos Billiard datang karena di hubungi oleh para petugasnya dengan banyak polisi yang datang dengan mengeledah seluruh tempat.
"Permisi pak, ada apakah ini? apakah ada sesuatu yang terjadi di tempat saya?"
Tanya bos billiard.
"Benar! kami mendapatkan panggilan dari sebuah nomor bahwa pemain di billiard ini membawa beberapa narkoba"
"Apaa??!! berani-beraninya orang itu!!"
Kata bos billiard dengan kesal karena orang yang berani membawa narkoba ke tempatnya hingga menggangu pemain lain.
Dari banyak kerumunan Polisi, Vanis segera datang kesana dengan suara keras hingga membuat semua orang terdiam dan mengarahkan pandangan padanya.
"Tunggu dulu! bapak-bapak polisi sekalian!!!"
"Sebelum itu, kalian harus tahu siapa orang yang menghubungi kalian untuk datang kesini, apakah kalian sudah tahu siapa anak itu?"
"Seperti nya belum, tapi kami harus benar-benar datang dan memastikan hal itu ada disini dan menangkapnya" kata komandan petugas.
"Benar! anak yang menghubungi pihak polisi itu ada di depan kalian sekarang! itulah aku! sekarang kalian bisa menggeledah seluruh tempat disini!"
"Ka..kamu? benar juga! semuanya periksa seluruh tempat ini mulai dari lemari, kolong lemari hingga semua tempat tersembunyi! periksa semua tas dan kantung orang disini semua!" Perintah komandan petugas.
Belum ada lima menit waktu penggeledahan, benda itu di temukan di suatu tas remaja sekolah yang ada di meja bagian nomor tiga belas. Semua polisi segera bergegas mengamankan beberapa remaja sekolahan itu!
"Ditemukan!! disini!!!"
Kenny tidak tahu apa-apa dan mengapa ada begitu banyak narkoba memenuhi tas nya, dimana bukunya? dimana semua pulpennya? kenapa benda ini berada di tasnya? dia benar-benar tidak mengerti dia tidak pernah berurusan dengan narkoba, meskipun mereka adalah para remaja bajingan.
Kemudian dia segera mengalihkan pandangan pada Vanis yang tersenyum disana, sedikit kabur untuk melihatnya.
"Vanis??!!! a...apa-apaan ini??!!! kenapa ka-"
Dia melihat beberapa saat bahwa vanis menutup setengah wajahnya dengan senyuman licik yang benar-benar jahat, kemudian hanya dalam kedipan matanya dia segera sadar, itu bukanlah Vanis.
"Kamuu!!! tidak mungkin!! bagaimana bisa!!"
Anak lelaki itu segera berjalan perlahan mendekat dengan kedua tangannya di dalam saku celananya.
"Ada apa??"
"Kenny??"
"NyihiaAhaHAHAHAHAHAAHHAHA..."
Tertawa nya sangat panjang dan jahat, dia belum pernah tertawa sejahat ini dan sesenang ini seumur hidupnya untuk membalas perbuatan seseorang.
"Benar!!!"
"Akulah sang idol para wanita itu!!"
"Akulah sang lelaki tampan itu!"
"Akulah anak dari kelas elit itu!!!"
...AKIRA RYUZAKI!...
"ingat baik-baik nama itu!!"
"Kalian tahu bukan? bagaimana konsekuensi orang yang membawa narkoba? entah itu pengguna atau pengedar, kalian akan berada di penjara selama setengah usia kalian! AHAHAHAHAHAHA!!!"
__ADS_1
Wajah semua anak nakal itu segera terdiam pucat dan benar-benar mental mereka segera rapuh, anak ini, benar-benar licik, rupanya dia sangat kuat dan licik, menahan seratus dua puluh tujuh pukulan dari mereka, benar! harusnya itu sudah membuatnya pingsan hingga ketika pulang dengan bonyok keluarganya akan membawanya ke rumah sakit.
Namun anak ini, menahan seratus dua puluh tujuh pukulan mereka tanpa menangis dan berteriak sekalipun, apa-apaan itu, mereka mulai berpikiran tidak masuk akal, lalu dimana Vanis yang sebenarnya? mereka juga tidak tahu.
Setiap anak-anak akan di panggil orang tuanya dan melakukan semua interogasi yang ada, yang lebih utama adalah Kenny yang membawa semua narkoba, ini lebih jauh daripada yang lain yang tidak membawa apa-apa.
Kenny segera menjadi panik!
"Aku! habislah aku! aku pasti akan di masukan ke dalam penjara! tidak! aku masih anak sekolah delapan belas tahun! tidak mungkin!! siapa yang memasukan benda ini ke dalam tasku?!!"
"Akira ini, bagaimana bisa dia menyamar sebagai Vanis dan memancing kami semua kemari! habislah aku!! pasti orang tuaku akan menghajar ku habis-habisan ketika mereka tau ini!"
Sambil panik dan ketakutan dan melihat sekilas senyuman licik Akira itu! lelaki ini licik, lelaki ini berbahaya, apakah kelicikannya ini yang membuat nya bisa di gemari oleh banyak gadis?
Mereka semua pun di bawa ke kantor polisi untuk di amankan dan di interogasi, barang bukti sudah di amankan sebagai lima gram sabu dan beberapa obat narkotika dan psikotropika lainnya.
Polisi tidak menyangka bagaimana bisa seorang siswa SMA membawa benda sebanyak ini di dalam tas nya, darimana mereka mendapatkan ini?
Bersalah dan tidak bersalah, dia akan terkena hukuman ke dalam penjara karena di temukan membawa sejumlah narkotika, itu akan tetap bersalah sesuai hukum yang ada, mereka pun harus di borgol di bawa bersama ke kantor polisi.
Lalu, Akira mengamankan Vanis sendirian karena memanfaatkan dirinya untuk sebuah identitas, dia akan membalas Vanis dengan tindakan yang lebih baik dari pada di bawa karena sebuah kasus.
Akira membawa Vanis ke sebuah gang tempat yang dulunya para gangster itu berada, dia menarik Vanis di baju dan membantingnya hingga terlempar ke semua tumpukan tempat sampah itu!
"Vanis ya??? bagaimana jika kamu melawanku satu lawan satu disini sekarang? aku Takan menggunakan sihir ku lho, Jhehahahahaha..."
Vanis sangat ketakutan dan tidak percaya kenapa bisa ada anak SMA yang memiliki kekuatan sihir.
"Aku akan memberimu waktu dalam sepuluh detik untuk menjawab, jika tidak menjawab, maka aku akan memberi seratus dua puluh tujuh pukulan yang sama di kali sepuluh!"
Vanis tidak menjawab karena kebingungan dan ketakutan, kaki nya gemetaran semua. apa artinya seratus dua puluh tujuh pukulan di kali sepuluh?
"A.ap.aaa.apa maksudnya itu?"
Tanya Vanis dengan gemetar.
"Seratus dua puluh tujuh di kali sepuluh...
berapa hasilnya?"
"S..seri...seribu...dua ratt..tus tujjuh puluh"
"Benar! itulah total pukulan yang akan kamu dapatkan! sekarang..."
**SATU
DUA
TIGA**
Akira mulai menghitung sampai hitungan ketiga yang membuat Vanis harus segera memilih daripada mendapatkan seribu dua ratus tujuh puluh pukulan, sepertinya lebih baik melawan satu lawan satu untuk melayangkan pukulannya juga.
**EMPAT!
LIMA!
ENAM**!
"Nah ayo jawablah!!"
**TUJUH!
DELAP**--
"Baiklah aku akan memilih satu lawan satu!"
jawab Vanis.
Akira segera diam dan mulai mendekat lagi.
"Berdiri lah! dan lawan aku!!!"
PLAKKK!!!
Vanis baru mulai berdiri, namun sebuah pukulan Akira sudah melayang tepat di wajahnya hingga membuatnya terbang beberapa meter menabrak tiang-tiang gang dan benda-benda yang ada disana.
Satu pukulan ini saja sudah bisa membuat nya sekarat hampir mati, bahkan jika pukulan terkecil yang di berikan Akira ini sudah dapat menghancurkan sebuah rumah meskipun dia menahan tenaga nya.
__ADS_1