
Terus berjalan di sekitar sungai yang jauh nya kemungkinan ratusan kilometer. Disi lain lagi Akira dan Isami sudah memiliki level yang terus meningkat daripada mereka berdua. Keduanya berhasil keluar dari hutan dan melangkahkan kaki ke sebuah jalan yang sangat panjang.
Jalan di pinggir gunung yang bukan terbuat dari sebuah aspal, namun semuanya di buat oleh batu yang seperti cetakan kotak dan di pasang terus menyambung membentuk sebuah jalan yang ujungnya tak terlihat. Mereka berdua disini sekarang, berjalan di jalan panjang dimana setiap sepuluh meternya adalah tiang lampu yang cukup bagus, tidak seperti tiang lampu di dunia modern asal mereka.
Keduanya seperti orang yang biasa saja berjalan tanpa membawa apapun, yang ada hanya ponsel masing-masing yang berada di kantong celana mereka. Tidak ada sihir untuk menciptakan sebuah dimensi simpanan, gunakan saja kantong celana untuk apapun yang ingin mereka simpan. Jika tidak cukup, maka mereka harusnya memiliki tas. Tapi... sepertinya mereka tidak membutuhkannya
Yang mereka butuhkan adalah menang, dengan berpikir keluar dari sebuah permainan ini.
Dalam semalam yang terasa panjang saja terjebak di dalam hutan besar sudah sangat membosankan, namun tidak ada apa-apanya bagi Akira sebelum turun ke dunia bawah ini. Sementara Isami pernah sesekali ingin mengunjungi lagi dunia asalnya, dia masih memiliki teman dan keluarga di sana. Apakah mereka masih mengingatnya...seorang murid akademi sihir yang mungkin di hasut oleh setan untuk membuat sikapnya menjadi buruk.
Sebuah pemandangan indah yang mereka lihat berbeda dari padang rumput yang sebelumnya, yang ini adalah sebuah padang rumput yang memanjang di sepanjang lembah yang di kelilingi oleh gunung-gunung lagi, pepohonan yang saling tertiup oleh angin dan air sungai jernih yang terlihat sangat jernih dan bersih. Mungkin sangat meyakinkan untuk bisa meminum air sungai sejernih itu.
Ada sebuah rumah di tengahnya, namun mereka tidak menghiraukan dan terus berjalan mengikuti arah jalan ini. Namun, Akira tidak tertarik untuk singgah atau bertanya dan semacamnya, setiap orang juga bisa hidup di tempat yang sangat jauh dan tersendiri dari keramaian, mau sepi bagaimanapun tempat itu, setiap orang bisa hidup tergantung cara mereka bertahan hidup di tempat tersebut.
Entah berapa lama lagi mereka harus menghabiskan waktu di tempat ini, cari monster lagi dan mungkin ada petunjuk menemukan cara keluar.
Yang Airin tahu adalah ketetapan yang dia buat dengan mencapai level sepuluh lebih dulu maka tim itu akan menang, tidak peduli siapa yang mencapainya lebih dulu, mereka akan segera di tarik kembali ke dunia awal. Sementara mereka sudah berada di level 3 dan dua lainnya masih berada di level 1. Kira-kira tempat apa yang ada di depan sana, yang pastinya keduanya belum bertemu dengan satupun manusia terkecuali sebuah rumah di tengah padang rumput itu.
Dari lama nya mereka berjalan, sebenarnya mereka menuju tempat yang sama dengan Cian dan Sora, kedua lainnya juga sebenarnya akan sampai ke Caldwell, dimana Flaire sudah sampai lebih dulu di sana.
Tiba-tiba Akira yang berjalan lebih cepat di depan melihat sesuatu yang membuatnya senang, sambil mengarahkan pandangan pada Isami.
"Isami! lihatlah...sebuah kota!"
Isami segera berjalan lebih cepat mendekatinya untuk melihat kota tersebut, cukup besar, mungkin sangat besar dan luas, setelah sekitar enam jam berjalan di sepanjang jalan tersebut.
Pertama-tama, Akira harus berpikir bagaimana cara agar mereka bisa tinggal sementara di sana, semua butuh uang...disini mereka tidak punya uang, hanya orang-orang yang datang dari dunia lain untuk melakukan sebuah permainan. Namun keadaannya tidak terasa seperti permainan.
Entah kenapa rasanya tidak pernah bosan menatap mereka semua, entah ada apa dengan perasaan ini, lalu bagaimana dengan Kiana, aku tidak tahu apa yang dia rasakan. Namun aku yakin dia merasakan hal yang sama, ini tidak melelahkan, tidak membosankan, rasanya aneh. Aku seperti sesuatu yang memiliki akses untuk melihat segalanya. Entah itu Cian dan Sora, atau Akira dan Isami, semua hal yang mereka lakukan di waktu yang sama, tidak ada yang kulewatkan.
Kota yang di kelilingi gedung-gedung setinggi tujuu meter, hampir semua gedung nya setinggi tujuh meter kurang lebih sedikit daripada atau atau ada yang lebih tinggi sampai delapan meter.
jalanan nya benar-benar banyak orang dan sangat bersih, ada sungai yang yang panjang tepat berada tengahnya, seperti memisahkan kota ini menjadi dua bagian. Sungai ini masih sama dengan sungai panjang yang berada di hutan, ini masih terhubung dari arah yang sama, melewati kota itu.
Mereka terus berjalan di bagian kota hingga berada di tengah yang di aliri oleh sungai tersebut, melewati jembatan sepanjang sepuluh meter berpindah ke sisi lain kota.
"Kurasa ini kota yang cukup bagus"
Kata Akira.
"Apa yang harus kita lakukan lebih dulu?"
"Kita lakukan? tentu saja uang, kita butuh uang"
"Uang? untuk apa?"
"Tentu saja aku ingin tinggal beberapa saat, kita belum tentu bisa menemukan jalan keluar dari sini hanya dalam sehari"
Akira terus berjalan ke depan diikuti oleh Isami mencari sebuah tempat serupa hotel, disini tidak ada satu pun gedung yang mirip dan setinggi hotel, apalagi sebuah apartemen. Dunia dimana teknologi belum terlalu di temukan.
Hingga Akira tidak tahu dimana tempat yang bisa di tinggali untuk sementara, mungkin bertanya adalah jalan terbaik.
__ADS_1
Seorang pria sekitar berusia tiga puluh enam tahun yang sedang lewat, sepertinya cukup meyakinkan untuk di tanyakan.
"Permisi"
Pria itu kemudian berhenti sejenak dan berbalik pada Akira.
"Ya? ada perlu apa?"
"Aku ingin bertanya, apakah di kota ini ada suatu tempat yang bisa di tinggali untuk sementara?"
"Maksudmu tempat penginapan?"
"Ah ya, sepertinya kamu mengerti"
Terus berjalan dua blok dari sini, belok ke kanan dan perempatan di sana, belok lagi ke kiri, hingga menemukan sebuah bangunan dengan cat warna putih dan abu-abu, di papan depannya bertuliskan White Lodge dengan huruf yang sedikit miring. Begitulah katanya.
"Kalo begitu terima kasih atas bantuannya, pak"
"Ahaha, sama-sama"
Sambil tersenyum.
Mereka berdua berjalan lagi sesuai petunjuk yang di berikan oleh orang tadi, hingga benar-benar menemukannya, disana memang benar-benar ada. Gedung berwarna putih dengan sedikit abu-abu dan tulisan White Lodge.
Tapi masalahnya sekarang adalah...
Bagaimana cara membayar tempat ini? mereka tidak punya uang sama sekali, bahkan sesuatu untuk di barter atau di gadai.
"Iya, aku sedang memikirkannya"
Diam dalam beberapa detik, kemudian Isami berkata lagi memberikan saran.
"Aku punya ide!"
Dia mendekatkan dirinya pada Akira dan membisikkan sesuatu tentang.
Bagaimana dengan merampok seseorang?
"Hmm? begitu yah, aku sedang memikirkannya"
"Memikirkannya? bukankah itu cara yang bagus? aku juga pernah seperti itu ketika masuk ke dunia kalian"
"Tapi, bukan berarti aku harus menggunakan nya sekarang, kita tidak punya sihir atau semacamnya"
"Kalau begitu pikirkan saja dulu..."
Akira masih berpikir soal rencana yang lain, yang lebih bersih dari merampok seseorang, namun jika memang sudah terpaksa, maka cara itu harus di lakukan sebagai rencana A.
Akira berjalan ke arah penginapan tersebut, membuka pintu dan masuk secara perlahan. Di depan hanya ada seorang gadis resepsionis. Dia langsung menyapa lebih dulu kepada mereka berdua.
"Selamat datang, ada yang bisa di bantu?"
__ADS_1
Dengan nada yang sangat lembut.
"Maaf, jika aku datang kesini hanya untuk bertanya"
"Silahkan bertanya"
"Ini sebuah penginapan bukan?"
"Iya"
"Lalu, berapa harga untuk menginap di tempat ini?"
"Oh, maaf karena aku belum memberi itu"
Kemudian dia mengambil sebuah kertas dimana biaya pembayaran penginapan tertera di sana. Akira hanya melihatnya sesaat dan kembali keluar.
"Terima kasih atas bantuannya"
"Apa yang kamu lihat?"
Tanya Isami.
"Biayanya, kurasa kita harus mencari uang"
"Ayo!"
Di sisi lain kota ini juga sebenarnya ada Cian dan Sora, mereka berada pada kota yang sama sekarang. Tapi mereka berada di penginapan lain yang jauh dari White Lodge, ada sangat banyak penginapan sebenarnya, mereka berdua juga mendapat salah satu penginapan yang cukup bagus, lagipula mereka adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa disini.
Namun, bos pemilik tempat itu cukup baik hati, dia memaklumi bagaimana Cian dan Sora sebagai orang baru yang bahkan tidak memiliki satupun uang untuk membayar tempat ini.
Meskipun dia sudah mengetahui bahwa kemampuan peniruan nya tiba-tiba muncul lagi, namun dia harus melihat dulu objek yang harus di duplikat. Untuk sementara mereka diizinkan tinggal mulai malam ini, dan besok sudah harus membayarnya. Mereka di beri waktu, sementara waktu yang di berikan sangat banyak, cukup mudah untuk menemukan seperti apa jenis uang yang di gunakan disini.
Hanya perlu pergi mencari pasar di kota ini, menunggu hingga jual beli melakukan transaksi, di saat itulah pembeli akan mengeluarkan uangnya, dan disaat itu juga dia harus melihat dan menduplikat nya.
Keduanya terus berjalan ke sisi lain kota yang jaraknya sekitar tiga kilometer, di sana adalah tempat yang ramai dengan pedagang dan juga pasar.
"Sepertinya disini"
Ramai sekali orang, satu hal yang di lakukan hanyalah simpel, cukup lihat uang nya dan ingat.
Seorang wanita tua yang membeli sebuah ayam disana segera mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar.
Cian terus menerus menunggunya, hingga uang tersebut keluar dari dalam dompetnya dan di berikan kepada penjual.
"Dapat!"
"Hanya seperti itu?"
"Benar, cukup seperti ini"
Mereka berjalan lagi mencari tempat sepi untuk menggandakan kembali uangnya. Hingga di bagian-bagian terkecil bangunan yang seperti gang di temukan, mereka ada disana, sangat sepi. Dia mulai mengingat kembali yang di lihatnya, dan sebuah kertas terbentuk hingga terwarna perlahan menjadi warna uang persis seperti yang dia lihat.
__ADS_1
Aku tidak menyangka dia dapat melakukan hal itu, kupikir itu adalah sebuah sihir. Memang itu adalah sihir, namun menduplikat apapun dan mengambil apapun hanya dengan melihat dan mengingatnya itu adalah kemampuan tersendiri nya, yang jika itu adalah berhubungan dengan hal yang berbelok dari sesuatu yang logis. Kemampuan itu mengakibatkan nya menggandakan, mengambil, membuat apapun yang dia lihat, aku bahkan tidak menyadarinya sebelum memindahkan mereka ke dunia ini.