
Semua terhubung dengan pikiran mereka berdua, saling terhubung hanya dengan apa yang mereka mau maka hal itu bisa terjadi.
Sebuah petir yang sangat keras tadi benar-benar terlihat sampai ke kota, suaranya sangat keras, membuat cahaya kilat seketika dan seperti akan membuat jantung orang akan lepas saja. Terutama yang benar-benar berada di dekat sana, hewan-hewan ternak itu kini trauma sekarang.
Mungkin lebih bagus mencoba petir itu di padang pasir daripada sebuah padang rumput, mungkin padang pasir cukup sepi dan tidak ada orang, tapi percobaan tadi sudah cukup. Tidak perlu di lakukan lagi. Itu membahayakan.
Hari mulai gelap, begitu cepat berlalu. Akira mulai turun ke lantai pertama dengan sebuah meja disana, mereka menyediakan makanan yang mereka buat sendiri. gadis-gadis pelayan yang cukup cantik membawakan makanan yang mungkin bisa dia makan.
dia hanya perlu memakannya saja, lagipula mereka tidak makan seharian, bahkan dari kemarin malam. Kemudian, dia mencoba bertanya satu hal pada beberapa pelayan itu.
"Bisakah aku bertanya?"
Beberapa berbalik dan berkata...
"Tentu"
Aku adalah orang baru di kota ini, bahkan mata uang atau bagaimana transaksi nya aku tidak tahu, apakah kalian tahu bagaimana cara mendapatkan uang? Tanya Akira kepada mereka.
"Kurasa ada beberapa, mungkin biasanya adalah sebuah tempat pemburu monster"
"Pemburu monster?"
Benar, di sana lah mereka di bayar sesuai monster apa yang mereka bunuh, di hutan sangat banyak sekali monster, bagi orang-orang, memasuki kawasan hutan itu di larang karena banyaknya hewan yang berbahaya, sekali mereka masuk kesana hanya delapan persen kemungkinan mereka bisa selamat keluar dari hutan.
Begitulah kata gadis itu.
Akira: "Sepertinya ide yang bagus"
"Begitu yakinkah kamu ingin memburu monster ganas hanya demi bayaran? apakah kamu yakin bisa kembali?"
Kata gadis yang satunya lagi.
"Aku masih yakin, sangat yakin. Tapi dimana tempatnya?"
"Oh, itu"
Dia kemudian memberikan sebuah kertas gulungan yang ternyata sebuah peta kota ini, namun hanya sebagian. Peta dengan rute terlengkap berada di pusat kota ini terletak di sebuah tembok besar.
Sebuah peta ya, bisakah aku membawanya?
Tanya Akira.
"Maaf, tapi itu di untuk di berikan secara percuma"
Gadis itu menolak, karena gulungan peta itu adalah satu-satunya yang berada disini, mereka tidak memiliki peta cadangan lain untuknya.
"Ah, tidak apalah kalau begitu. Biarkan aku melihat nya beberapa saat dan menghafal jalannya"
"Silahkan"
Yang satunya di dalam ruangan tadi kembali keluar lagi sambil membawa nampan dengan sepiring roti dan gelas di atasnya, Akira tidak tahu kemana gadis tersebut akan membawa itu. Tapi itu mengarah padanya dan menghampirinya lagi.
"Tunggu dulu!"
"?"
"Kenapa ada makanan lagi? bukankah aku tidak memesan makanan nya?"
Dia kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Akira dan berbisik...
"Ini gratis, untukmu"
"Hah? gratis untukku? bagaimana dengan temanku?"
"Temanmu? itu urusannya!"
"Benar, kami memberikan ini gratis hanya padamu sekarang"
"Sungguh?"
"Ya"
Kedua pelayan itu yang satunya di meja resepsionis sambil duduk menyilangkan kakinya, dan satunya lagi menurunkan minuman itu dari nampan ke meja Akira.
"Apa ini?"
Akira bertanya lagi.
"itu Roti, roti yang di bakar, coklat di dalamnya, ini adalah coklat, coklat yang dingin"
"Minuman coklat yang dingin?"
"Benar, apakah kamu tidak suka?",
"Ah, tidak...kupikir sama saja, aku tidak mencoba untuk menolak"
Akira merobek sedikit ujung roti itu diikuti beberapa taburan coklat meleber yang terikut di rotinya, perlahan masuk ke mulutnya dan di kunyah dengan pelan. Lalu sedotan itu, dia segera meminumnya.
"Ahh, ini...enak sekali!"
"Benarkah? baguslah jika kamu suka"
Akira langsung memegang seluruh roti dan memakannya gigitan demi gigitan, karena itu enak, kemudian minumannya.
__ADS_1
Minumannya seperti mulai terasa aneh baginya, dia daritadi terus menyedot minumannya, terasa tidak berkurang, walaupun berkurang rasanya seperti hanya berkurang setinggi satu mili. Atau Akira lebih menggangap bahwa minuman itu tidak habis-habisnya, apakah itu sebuah sihir?
"Airin, ada sesuatu yang aneh pada minuman Akira, apakah itu akan baik-baik saja?"
"Ya, aku juga melihatnya daritadi, itu memang tidak bergerak dari posisinya walau dia terus menyedotnya"
"Apakah dia akan di racun?"
"Aku tidak tahu, kita lihat saja dulu"
Tiga puluh detik kemudian Akira mulai merasa seluruh pandangannya berbayang-bayang, seperti ruangannya berputar-putar, mereka yang tadinya dua gadis terlihat seperti ada empat atau lebih, tidak itu bukan halusinasi, itu efek mengantuk, ada obat tidur di dalam minumannya dan sebuah sihir yang membuat minuman itu tidak akan habis sampai mantra nya di batalkan.
Akira segera berjalan bangun dari kursinya, tidak lagi memperhatikan kedua gadis pelayan dan resepsionis itu, dia berjalan menuju pintu keluar, tangannya hampir menyentuh gagang pintu nya dan segera terjatuh di lantai.
"Apa yang kamu berikan?"
Tanya gadis resepsionis.
"Hanya sebuah sihir dan obat tidur di dalamnya, menarik bukan? sekarang giliranmu"
Keduanya tersenyum seperti gadis jahat.
Kemudian ada seorang gadis lagi berjalan ke Penginapan ini, benar! seorang gadis lagi, Flaire itu pergi ke sini malam-malam begini. Kemudian dengan cukup cepat pintunya di buka, awalnya dia hanya melihat kedua temannya seperti biasa.
Blossom adalah gadis resepsionis sementara Yumiko adalah gadis yang kadang menggantikan shift Blossom sebagai resepsionis, biasanya dia menggantar makanan dan minuman seperti pelayan.
"Oh, Lynelle!"
"Panggil aku Flaire saja!"
"Ada apa kamu datang malam-malam begini?"
Yumiko bertanya.
"Tidak, hanya bosan di rumahku dan sedikit kesal dengan hari kemarin"
"Kesal?"
"Benar, aku dalam perjalanan di hutan mencari bisa ular beracun, tetapi ada dua orang gadis yang sudah mengambilnya lebih dulu"
"Kamu malang sekali"
Tidak hanya itu, dia bisa meniru serangan sihirku! mengembalikan serangan itu padaku, atau bisakah aku mengatakan bahwa dia langsung memiliki kemampuan sihir sepertiku, dia aneh. Kata Flaire.
"Kasihan sekali, tunggu disini"
Yumiko pergi ke dapur dan mengambil satu lagi minuman, tidak menggunakan nampan, itu langsung di ambil dari kulkas dan di genggaman tangannya, sebuah minuman yang dingin seperti yang di minum Akira, namun tidak ada obat tidur. Dia kembali membawakan minuman itu pada Flaire.
"Minumlah, mungkin kamu benar-benar kesal dengan yang terjadi"
Flaire segera minum beberapa teguk coklat dingin itu...
GLUG, GLUG, GLUG...
Dan...
...... PUFFFTTTTTT!!!......
Sambil minum, dia langsung menyemburkan minuman dengan sangat banyak kembali kelaut dari mulutnya.
"Tunggu, siapa ini? apakah ada pelayan baru?"
Tanya nya.
"Pelayan baru? kami kurang yakin soal itu, tapi bukankah dia cantik?"
"Benar-benar cantik, siapa namanya?"
"Namanya?"
Irin & Kiana: "..."
Blossom dan Yumiko dengan cepat berbisik disana tentang sesuatu.
"Ada apa kalian berbisik-bisik seperti itu?"
"Ahh, tidak...tidak...bukan apa-apa, kamu bertanya namanya bukan?"
"Tentu, lalu kenapa dia tertidur disitu?"
"Namanya adalah Aira, pelayan baru di White Lodge ini, dia akan segera memperkenalkan dirinya setelah dia terbangun nanti, mungkin dia kelelahan hari ini"
"Benarkah?"
"Yap, itu sebabnya dia tertidur begitu pulas"
"Ah? begitu?"
BOING...BOING...
Sambil meremas wajah Akira...
"Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Jarinya sambil bercahaya sedikit dengan sinar hijau...
"Hanya menggunakan sihirku untuk membangunkan gadis ini"
"Hah? membangunkannya? bukankah itu tindakan yang tidak baik?"
"Betul! itu tidak baik, dia kelelahan tahu!"
"Tapi aku ingin berkenalan dengannya sekarang"
Gadis itu perlahan membuka mata nya, gadis yang tertidur di meja dengan coklat dingin yang sudah tidak dingin lagi di depannya, dan piring yang sudah tidak ada rotinya.
Perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling, tampaknya lumayan daripada penglihatan yang berbayang tadi, tapi sekarang ada tiga gadis, yang satunya tidak memakai baju khusus seperti pekerja penginapan lainnya.
Tapi gadis baru itu, langsung memegang kedua pundaknya, dan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar dia cepat sadar.
"Hei, hei, hei, ayo cepatlah bangun!"
Akira: "?"
"Ayo, perkenalkan aku Flaire Lynelle, kamu bisa memanggilku Flaire, aku bisa sihir...dan jika kamu mau aku bisa mengajarkanmu lho"
"Hah? siapa?"
Flaire segera terkejut.
"Hah? Blossom...Yumiko... gadis ini, suaranya seperti lelaki yah?"
"Eehehehe...benar! suaranya memang seperti itu, tapi bukankah dia cantik?"
"Benar juga, kamu...kamu...siapa namamu? dua orang itu berkata namamu adalah Aira lho..."
"Apakah benar?"
Sambil menggosokkan kedua matanya dan segera kembali sadar perlahan, dia mulai bertanya...
"Aira? namaku adalah Akira"
HOAMMM!!!
Dia kemudian menguap dengan sedikit keras.
Lihat? bukankah kamu mendengarkannya dengan baik? dia sangat menguap dan kelelahan, tapi kamu membangunkannya.
Kata Blossom.
"Tapi kenapa namanya bukan Aira? malah Akira? kalian membohongiku lagi"
"Sepertinya kami salah menyebutkan namanya"
Kata Yumiko.
"Apakah aku tertidur?"
Tanya Akira.
Flaire: "Benar! aku membangunkanmu"
"Sudah berapa lama aku tertidur? apakah sudah pagi?"
"Tidak, ini masih malam"
"Kalau begitu aku ingin kembali naik ke kamarku"
"Hah? cepat sekali pergi begitu! kita bahkan belum berkenalan"
"Untuk apa?"
"Untuk berteman, bukankah kamu pekerja baru disini? bersama Blossom dan Yumiko, lihatlah!"
"Tidak, aku hanyalah orang baru di kota ini yang menginap disini, kalau begitu aku naik ke atas"
Dia baru mau melangkah, namun sesuatu yang aneh di dirasakannya, suasana tubuhnya yang terasa tidak enak, lalu wajahnya dan semuanya terasa agak berbeda dari sebelum dia tertidur.
"Tunggu, apa ini?"
Dia memegang rambutnya yang berwarna hitam, dan kemudian melihat pakaian pelayan yang di kenakannya.
"Hah? aku kenapa? tidak mungkin!"
Dia segera melepas baju itu bagaimanapun cara membuka nya yang penting terbuka, dia melihat dadanya yang menonjol seperti wanita dan ternyata hanyalah sebuah dada palsu, lalu dia menarik rambutnya yang panjang itu hingga terbuka.
"Hah? rambut palsu, semuanya palsu, kupikir aku kenapa...ada yang tau siapa yang melakukan ini?"
Blossom: "..."
Yumiko: "..."
Flaire: "Eh...hehehemm...aku baru tiba beberapa menit yang lalu, bukankah aku tidak tahu apa-apa, dan hanya melihatmu tertidur sebagai gadis disana?"
"Lalu, untuk kalian berdua...kenapa dia sebuah laki-laki? kupikir dia adalah perempuan"
Ah begitu! sepertinya dua pelayan yang usil memberiku obat tidur pada minumanku, lalu minumanku yang terasa tidak ada habisnya, apakah itu sihir? perbuatan siapa? bukankah itu kalian berdua? aku yakin pelakunya di antara kalian berdua.
__ADS_1
Dia bertanya seperti itu, namun bukan berarti dia marah. Nada nya santai, seperti tidak masalah.