
Setelah keempat selesai dengan semua permainan, Cian bertanya pada Irin.
"Oh Irin, kami darimana saja? begitu tega pergi bersama Akira tanpaku!" dengan wajah iblis.
"Em...emm...itu, ahaha aku pikir kami tidak akan merencanakan sesuatu untuk keluar"
"Humphh" dengan sedikit meraju.
"Tunggu! ngomong-ngomong kamu mengecat rambutmu?"
"Itu tadi terjadi dengan sendiri, aku bahkan tidak tahu bagaimana hal itu terjadi"
"Benarkah? terjadi...dengan...sendiri...ya? lalu kenapa pewarnaan acak nya bisa begitu bagus?"
"Mana aku tahu, sekarang aku akan mencoba nya"
Irin menggunakan sihir untuk menyentuh helai-helai rambutnya yang berubah menjadi abu-abu untuk kembali di ubah ke hitam, namun tidak berhasil. Warna bagian-bagian tertentu itu sudah berubah permanen entah apa faktor yang merubah warna nya.
Tapi menurut semua orang, itu adalah pewarnaan yang bagus, dengan gradasi di setiap ujung rambut belakang dan di helaian poni. Seperti seseorang yang mengecat rambutnya di salon, namun ini terjadi sendiri.
Irin langsung melanjutkan naik ke lantai dua menuju ke kamarnya, mungkin dia lelah dan akan segera membanting dirinya ke tempat tidur. Sementara Akira tetap berada bersama mereka sekarang yang dia lakukan di ponselnya awalnya melihat semua isi pesan grup nya.
Karena terlalu banyak, dia malas membacanya. Sekali lagi Isami menawarkan Akira untuk ikut bermain bersama mereka, kali ini bukan mereka yang saling berlawanan, melainkan mereka membentuk tim dengan lima orang sekarang.
Dengan begitu, mereka bisa memulai pertandingan melawan orang random di seluruh dunia lima lawan lima.
Permainan pun di lanjutkan.
Hari ini adalah pagi pada 1 Januari 4079.
Irin terbangun lambat sekitar jam delapan pagi, kemudian dengan rambut yang sangat berantakan berjalan di bagian lantai dua dan melihat di bawah tiga gadis itu yang tertidur.
Kemudian Isami dan Akira sudah mulai mabuk karena makanan yang terlalu banyak mereka konsumsi. Sisanya tertidur di kursi dan karpet dengan bungkusan-bungkusan makanan di atas meja yang tidak ada lagi isinya.
Irin masih dalam keadaan mnegantuk berat dan tetap memaksakan dirinya untuk menyapu dan membersihkan semua yang mereka lakukan tadi malam. Mereka tidur larut malam sampai jam empat.
__ADS_1
Setelah semua yang di bawah beres dengan sangat bersih, dia tidak membangunkan ketiganya karena mungkin mereka tidur lebih lama dan lebih butuh waktu lagi. Dia segera kembali naik ke lantai dua di bagian kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tapi sekalian mengambil handuk untuk segera mandi, mandi adalah hal yang bagus untuk melawan rasa mengantuk nya.
Air pun di isi ke bak mandi dari shower hingga penuh, berendam dengan sabun dan lain-lain.
Terkadang dia sangat lama berada di kamar mandi selain menggunakan sabun, juga menggunakan lulur atau mungkin body scrub.
Setelah mengeringkan semuanya dan keluar dari kamar mandi, yang belum kering hanyalah rambut, tentu saja ini sangat sulit di keringkan.
Irin tidak menggunakan kemampuan untuk mengeringkan rambutnya dengan suhu uap panas instan. Mungkin lebih baik jika di biarkan basah begitu dan perlahan mengering.
Dia mulai mengambil bungkusan masker wajah dari dalam kulkas, menyobek nya, menuangkan ke sebuah mangkok kecil, dan kuas wajah yang khusus untuk masker.
Mengoles ke seluruh permukaan bagian wajahnya, ini berasal dari kulkas, jadi mendapatkan sensasi yang lebih dingin dari biasanya. Setelah itu dia menutup seluruh jendela dan tirai kemudian menyalakan AC.
Jika hal-hal ini sudah di lakukannya, maka dia sudah sangat malas untuk berdiri dari tempat tidur ataupun tempat duduk nya. Mulai membaca beberapa manga, menonton kartun kesukaannya. Meskipun konyol, kartun jauh lebih baik baginya daripada sebuah siaran drama. Terkecuali drama Korea, dia menyukai itu. Terkadang dia menangis karena terharu saat menonton drama, mungkin Cian akan mengejeknya jika melihat itu.
Sambil duduk dan menggangkat kakinya di kursi empuknya, dia mulai membuka ponsel dan melihat kabar-kabar di beranda internet.
Irin tidak hobi bermain game seperti yang lainnya, kalaupun bermain, itu hanya sebentar dan tidak benar-benar memahami permainan.
"Eh? siapa yang membersihkan semua ini?"
tanya Kiana
"Entahlah, aku bahkan baru saja membuka mataku" jawab Cian.
Cian segera naik ke atas juga dan membasuh wajahnya di kamar mandi, keran otomatis menyala ketika sebuah tangan tepat berada di bawah. Awalnya dia tidak menyadari apa yang ada di cermin, ketika dia melihat ke cermin, dia berhadapan dengan dirinya yang lain di cermin. Senyuman nya jahat.
"Hahh??" terkejut dan langsung mengalihkan pandangan.
Ketika dia melihat kembali ke cermin lagi, wajahnya sudah berubah normal.
"Aaaa..aaa.aapa, aku kenapa??"
Sambil meraba-raba wajahnya dan tiba-tiba lampu di kamar mandi itu padam gelap gulita, membuatnya tidak bisa melihat dan ketakutan melihat dirinya yang senyum di cermin padahal dia tidak senyum.
__ADS_1
Kemudian cahaya menyalah kembali, namun bukan lampu putih, melainkan lampu yang seperti cahaya neon ungu yang redup menyinari sebagian ruang.
Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dengan perlahan pandangannya melihat cermin lagi dan melihat ada sosok di belakang nya yang tersenyum dengan senyum menyeramkan tersinari cahaya ungu.
Segera dia mulai ketakutan, dia melihat dirinya ada dua di cermin yaitu dirinya yang normal, dan dirinya yang tersenyum jahat di belakang dirinya lagi, dia kemudian segera berbalik ke belakang dengan cepat untuk melihat sosok itu. Namun, sosok itu benar-benar ada di belakangnya.
Sambil tersenyum dia bergerak maju, dan Cian bergerak mundur ke arah pintu dan segera berlari keluar, namun pintu terkunci bahkan dia tidak bisa menggunakan sihir untuk.keluar.
Wanita yang sama persis seperti dirinya membawa sebuah pisau yang di lumuri darah sambil tersenyum mendekatinya.
"Ka..kamu????"
Ketika wanita itu akan menancapkan pisau padanya, lampu segera menyala kembali dan dia menghilang, padahal Cian sudah berteriak keras dari dalam kamar mandi.
Sora mendengar suara teriakannya ini dan ikut naik ke atas bersama Kiana.
"Apa yang terjadi? Cian? Cian?"
Kemudian Kiana segera memanggil Irin di kamarnya, dan bergegas pada Cian yang pingsan disana.
"Ada apa dengannya?" tanya Irin.
"Entahlah, aku barusan mendengar teriakannya ketika aku di tangga, jadi aku kemari secepat mungkin memastikan apa yang terjadi"
Dia tidak pingsan, tetapi tertidur tiba-tiba, Irin segera menyadari bahwa mungkin sesuatu menyerangnya, mungkin dia tiba-tiba saja melihat hantu. Tapi kenapa dia tertidur?
Irin segera mengucapkan kata "bangun" dan dia segera terbangun sadar dengan cepat, kemampuannya ini dapat membuat orang tertidur atau terbangun dalam sekejap.
Sekalipun orang itu mengantuk, atau benar-benar tidur mati dan pingsan hanya dengan satu kata "bangun" dan satu kata "tidur"
nya dapat melakukan hal-hal itu, atau membuat seseorang tertidur selama yang dia mau, entah itu dua hari, seminggu, sebulan, setahun, atau mungkin membuat seseorang tertidur selamanya seperti dongeng putri Aurora.
Cian segera tersadar dan bertanya apa yang barusan terjadi, namun yang lainnya juga bertanya balik. Cian segera menjelaskan bahwa ada penampakan dirinya yang menyerangnya menggunakan pisau berlumuran darah, entah itu akan benar-benar mengenai nya atau hanya halusinasi nya saja.
Tapi syukur nya lampu yang menyala di kamar mandi segera membuat keberadaan gentayangan itu menghilang. Serangannya lah yang membuatnya berteriak. Ketika suasana kembali tenang, semua kembali ke ruang tengah di lantai bawah. Cian tidak mengerti sosok apa yang menyerangnya menggunakan wujud yang sama seperti dirinya,
__ADS_1
Cian merasa dia kurang istirahat dan segera ke kamarnya untuk tidur, mungkin kekurangan tidur membuatnya berhalusinasi.