
Beep!
Pesan tidak hanya masuk ke ponsel Akira, itu sebenarnya masuk ke semua ponsel pemain.
dengan tulisan yang sama ketika Cian dan Sora membuka ponsel mereka, membaca nya dalam hati secara bersamaan dan saling bertukar pandangan.
"Apa yang dia lakukan? sepertinya Akira membuat membuat Irin marah"
"Jadi itu penyebab petir keras tadi, seluruh atap gedung ini terasa ingin hancur saja"
"Dia pasti melakukan kesalahan lain yang membuat Irin marah"
"Aku yakin Akira bertemu gadis-gadis dan menggodanya, apakah benar?"
"Aku hampir setuju dengan pendapatmu, dia itu memang seperti itu, walau hanya candaan, namun mungkin bisa membuat Irin cemburu!"
Kemudian keduanya menarik napas lalu membuangnya lagi...
Cian berbaring di kasur itu sambil melihat langit-langit kamar mereka, berpikir tentang apa yang harus ku lakukan sekarang? mereka bahkan tidak bisa tidur, dan sedang tidak mengantuk.
"Huh, betapa membosankan nya hidup di tempat seperti ini tanpa internet dan lainnya bukan?"
"Sepertinya kamu memang tidak tahan dengan kondisi hidup yang seperti ini"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku masih tahan dan sudah terbiasa sejak ratusan tahun yang lalu"
Mukanya cukup murung, dia teringat masa lalu nya lagi, ketika dia harus di culik dan di paksa menjadi budak di kerjaan sihir oleh Yuna, lalu itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu, keluarga nya tidak mungkin ada yang masih hidup di umur sepanjang itu, tidak akan ada lagi yang tahu bahwa dia masih hidup.
Sora dan Kiana bukanlah sepasang saudari, mereka berasal dari keluarga yang berbeda, namun pernah berada di satu akademi ketika mereka belajar sihir mulai dari dasar dan tidak tahu apa-apa, kejahatan yang menculik mereka untuk di paksa menjadi budak, Yuna cukup pandai dalam memilih budak, semua orang yang di perbudak adalah orang-orang dengan sihir tingkat tinggi.
Dia duduk di depan cermin itu menatap sambil memegang wajahnya yang cerah dan mulus.
"Bukankah aku terus terlihat seperti ini? sejak usiaku tujuh belas tahun, aku tidak pernah lagi menua"
"Kurasa itu bagus, kamu cantik selamanya"
"Begitukah menurutmu? lalu bagaimana denganmu? apakah kamu merasa penuaan pada dirimu?"
"Kurasa sedikit"
Entah cantik selamanya tanpa menua itu bisa, mungkin aku akan sangat senang, tapi Airin selalu ada di sisiku, dengan sihir nya yang menciptakan banyak hal luar biasa, kupikir hal seperti itu bisa saja terjadi.
Selama enam tahun bersama Irin, tidak ada rahasianya yang tidak Cian ketahui terkecuali isi buku hariannya, namun kini satu rahasianya sudah terbongkar pada Cian, dimana dia adalah seorang gadis yang memiliki kemampuan sihir instan dan terlihat seperti gadis biasa yang tidak bisa apa-apa.
Sihir yang normal itu menerbangkan sapu dengan dirimu duduk di atas saja sudah cukup untuk sebuah sihir, ada lagi...menerbangkan benda lain, menumbuhkan kembali tumbuhan, memperbaiki kaca yang pecah masih layak di sebut penyihir.
Cian selalu berpikir tidak pernah ada kata penyihir yang cocok untuk mereka semua, dia, Akira, dan Airin. Akira dan Airin memang murni memiliki sihir tanpa tahu asal usulnya darimana, namun dia tidak pernah tahu darimana kemampuannya ini dan sejak kapan.
Daripada kata penyihir, lebih baik di sebut dengan gadis SMA dengan sihir. Seperti cukup baik, tidak terlalu buruk.
Tik...
__ADS_1
Tok...
Tik...
Tok...
Suara jarum jam di dinding terus berpindah ke garis lainnya, saat tersadar sedikit, hari sudah pagi, Akira segera bangun dan mencuci wajahnya. Dia ingat hari ini Flaire harus mengantar mereka untuk sebuah pekerjaan memburu monster.
Dia melangkahkan kaki di tangga dan turun berjalan, dia melihat Flaire sudah ada di sana sekarang.
"Sangat pagi sekali yah"
"Tentu, hari ini aku akan mengantarkan kalian ke tempatnya, dimana Isami itu?"
"Dia masih berada di kamarnya, mungkin akan turun sebentar lagi"
Akira melihat sedikit ke arah meja tempat Blossom, dan Yumiko yang mengintip...
"Hufht! jangan mengintip-intip seperti itu, segeralah berikan aku makanan lagi, agar aku bisa memaafkanmu"
"Baik!"
Dengan cepat makanan yang sudah tersedia di dapur di ambil dan di bawakan pada Akira.
"Semoga saja tidak ada lagi obat atau sihir yang kamu coba lakukan padaku"
"Tidak ada! aku berjanji itu tidak akan ada"
"Baiklah kalau begitu"
"Irin, bukankah kamu iri dengan itu? daripada iri aku bisa merasakan kecemburuan di dalam hatimu"
"Sepertinya kamu memang benar, aku ingin sekali turun ke sana dan menjauhkan Akira dari siapapun"
"Kenapa kamu tidak melakukannya saja? ubah kembali semua sihir kita"
"Haruskah aku melakukannya?"
"Kami tidak harus, itu pilihanmu"
Aku tidak tahu harus memilih yang mana antara turun atau tetap menjadi seperti ini, ini selalu terasa bukan diriku, aku seperti bukan diriku.
"Lagipula, sepertinya permainan akan segera berakhir"
"Darimana kamu tahu?"
"Lihatlah Cian, dia sudah menemukan kekuatan nya itu kembali, bukankah itu sudah mendekati potensi kemenangan yang besar?"
"Aku masih belum terlalui yakin"
Lagipula, bagaimana jika Akira tahu jika dia memang tidak bisa menggunakan sihir, namun mata berbahaya itu masih ada disana tanpa larangan siapapun, bukankah itu akan membahayakan banyak nyawa jika mata merahnya harus bersinar lagi.
"Airin..."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kamu harusnya tahu, kita bisa saling bertukar pikiran, aku bisa membaca semua yang kamu katakan daritadi"
Kamu mendengar semuanya?
"Benar"
Sebagai dua orang yang terhubung, kesadaran kami menyatu disini, kami bisa saling membaca keinginan rupanya, aku bahkan belum menyadari itu.
"Satu hal yang ingin kutanyakan padamu"
Kata Kiana.
"Katakanlah, tanyakan"
"Mata merah itu, aku tahu kamu menyebut hal itu tadi, Akira dan mata merah bisa membahayakan banyak nyawa"
"Sepertinya kamu memang belum tahu"
Akira memiliki mata kehancuran yang ditakdirkan bersamanya menjadi miliknya, tidak akan pernah hilang darinya, dia menceritakan itu padaku, sepasang mata nya yang berbahaya itu akan membawa bencana ketika mata nya harus bersinar lagi.
"Bencana?"
Benar, sebuah bencana. Dia bisa mengaktifkan mata itu kapan saja dan menghancurkan apapun yang di lihatnya, itu sangat berbahaya, aku pernah melihatnya sekali. Ketika kami harus melawan malaikat jahat di tempat aneh.
"Malaikat? kalian pernah melawan malaikat?"
"Benar"
"Dia membawa kami ke sebuah dimensi lain yang dia sebut kota silver, lalu dimensi tanpa batas? aku tidak mengerti apa maksudnya"
"Apakah itu mirip sebuah domain?"
"Yap, kurang lebih begitu, jika seseorang bisa menciptakan domainnya sendiri maka dialah yang memegang kendali atas ruang nya"
"Apakah kamu pernah menciptakan yang seperti itu?"
"Kurasa tidak, aku menciptakan ruang sihir lain yang luasnya tidak terbatas hanya untuk menyimpan apa saja"
"Tanpa tas?"
"Tanpa tas"
Aku tidak pernah berniat atau mencoba membuat sebuah ruang domain seperti itu, lagipula aku tidak tahu tujuannya selain untuk membawa orang.
Sebenarnya aku menggangap itu cukup berguna ketika seseorang menyerang mu dan harus membahayakan orang lain, lebih baik kamu melawannya di ruang lain daripada harus membuat orang biasa terluka.
Kemudian Akira dan yang lainnya sudah sampai di tempat yang di tunjukan Flaire. Tempat dimana para petarung bekerja memburu monster, mereka bebas memakai senjata apapun dan sihir, asalkan benda yang mereka buru dari hewan liar itu cukup berguna.
"Nah, kita sudah sampai"
"Ini? tempat ini"
__ADS_1
"Iya, ikuti aku"
Flaire melangkah masuk lebih dulu ke dalam, mereka berdua mengikutinya.