Her Private Life

Her Private Life
Meet again


__ADS_3

Sesuatu yang di coba benar-benar berhasil, selembar uang tercipta dari yang awalnya sebuah kertas. Kemudian dia menggandakan selembar lagi menjadi dua lembar dan seterusnya hingga menjadi sekitar seratus lembar.


"Sora! ini berhasil!"


"Bagus!"


"Yayaya...memang bagus"


Tiba-tiba suara seseorang terdengar dan langkah kaki dua orang yang datang secara perlahan. Cian dan Sora segera memandang ke arah dua orang yang datang itu, sepertinya mereka ketahuan menduplikat sebuah uang. Dua orang berbaju hitam, keduanya sama-sama memakai topeng.


"Maaf, atas ketidaksopanan kami datang secara tiba-tiba disini dan mengawasi kalian daritadi"


Tapi, bisakah kamu membagikan setengah uang itu pada kami? aku memintanya dengan baik-baik.


"Maaf saja, aku menolak. Kenapa tidak cari orang lain saja yang mau membaginya"


Kemudian lelaki satunya yang berada di sampingnya maju dengan perlahan mendekati Cian, dan mengulurkan tangannya.


"Bolehkah?"


Karena sudah terdesak, Cian harus menggunakan sihir seperti yang di gunakan Flaire. Dia segera menyerang lelaki yang satunya dengan cukup keras.


Sebelum serangan itu sampai, lelaki yang satunya lagi segera berlari untuk menahan serangan itu, namun malah mengenai mereka berdua. Yang satunya terjatuh cukup jauh namun langsung bangkit, sementara yang satunya tidak jatuh menyentuh tanah, delapan kaki laba-laba keluar dari belakang tubuhnya untuk membuatnya tidak jatuh dan menahan efek serangan tersebut.


Cian terkejut dengan kedua orang itu, yang satunya bukan manusia biasa.


"Apa itu? manusia laba-laba?"


Tanya Sora dalam hatinya.


Kemudian dia mengeluarkan kedua senjata nya juga untuk menembak kedua orang itu.


BANG! BANG!


Peluru dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mereka, namun lelaki satunya tadi dengan cepat bergerak lagi dan tangan kiri nya langsung berubah menjadi tangan yang seperti tangan serigala, menghancurkan peluru-peluru pistol itu hanya dengan sekali serangan.


Tidak, yang kedua juga bukan manusia biasa, mereka memiliki kemampuan lain. Bukan sihir.


Kata Cian dalam hatinya.


Cian segera menyerang lagi keduanya dengan serangan yang lebih kuat, namun belum menyerang. Dia baru saja mau menyerang. Manusia setengah laba-laba itu bergerak sangat cepat dan menghilang dari pandangan mereka. Dia sudah berada di belakang Cian, bergerak hanya dalam satu zeptodetik. Tapi dia tidak menyerang, hanya mendorong Cian ke depan dan terjatuh.


Sora segera menembaknya, yang setengah laba-laba ini.


BANG! BANG! BANG! BANG!


Empat peluru lagi di tembakan padanya, dengan kecepatan yang sama si tangan kiri aneh itu bergerak juga menangkis peluru-peluru itu hanya dengan cakarannya, tangan itu mirip tangan beruang, namun seperti sekeras batu dan baja.


Cian segera terkejut di dalam hatinya, kedua orang ini sangat cepat sekali, tidak ada pilihan lain selain harus melihat seperti apa gerakan mereka agar bisa ditiru. Tangan kiri nya masih terus menggengam ratusan lembar uang itu daritadi yang sudah di ikat. Cara terakhir adalah lari dari kedua orang ini.


Dia membuka sebuah portal dan cepat lari ke dalam sana, Sora yang posisinya tidak bisa lari karena ada kedua orang ini segera di pindahkan bersamanya, di sampingnya untuk lari ke dalam portal.


Dalam lima detik saja mereka sudah lari menghilang dari sini, tadinya mau di kejar lagi, tapi yang satunya menahan saja.


Benar, ini adalah Akira dan Isami yang memakai topeng, namun rencana A yang mereka pakai malah bertemu orang seperti Cian dan Sora.

__ADS_1


"Cian, itu dia. Bagaimana dia bisa menggunakan sihir-sihir itu?"


"Apakah levelnya sudah benar-benar jauh di atas kita?"


"Kemungkinan kemampuan seperti itu bisa di dapatkan dengan level tinggi, kalau begitu kita harus mengejar levelnya"


"Lalu, kenapa kamu tidak mengejarnya?"


"Tidak perlu, lihatlah"


Sambil menunjuk ke bawah tanah, Isami melihat ke arah tersebut di mana ada beberapa lembar uang yang sempat terjatuh dari tangan Cian, Akira menggambil nya. Beberapa lembar yang cukup untuk membayar dua kamar di penginapan itu. Tidak perlu berlama-lama harus cepat menaikkan level dan keluar dari dalam permainan.


Mereka kembali membuang topeng tersebut, topeng yang awalnya berada di pasar dan karena banyak sekali orang yang tidak memerhatikan ketika tangan Isami mengambil kedua topeng itu tanpa sepengetahuan penjualnya.


Bahkan mereka sendiri tidak akan menyangka bahwa mereka bertemu Cian dan Sora di sini. Sekarang mereka sudah sangat dekat, tinggal menunggu antara siapa yang menang dan siapa yang kalah.


Keduanya sedikit merasa cukup puas dengan kemampuan mereka bergerak tadi, itu sangat cepat, andai saja mereka tau bisa bergerak dalam waktu secepat itu, mungkin sampai ke kota ini tidak butuh waktu berjam-jam, mereka hanya perlu berlari satu zeptodetik setiap lima seratus kilometer mungkin bisa lebih cepat lagi.


Itu terjadi begitu saja, sebuah gerakan refleks yang hanya ingin melindungi Isami dari tembakan pistol. Tidak di sangka bahwa Akira mampu menahan serangan pistol dengan kecepatan seperti itu. Selanjutnya yang di lakukan Akira adalah kembali membuka ponsel itu, dimana dia harus membeli sebuah pedang lain dari pada harus mencakar peluru, bisa saja ada senjata yang mungkin lebih kuat dapat menghancurkan tangannya, dia tidak tahu apakah regenerasi instan masih di perbolehkan di permainan ini.


........


.....


...


Kring...


Pintu di buka dan bel di atasnya otomatis berbunyi ketika kedatangan seseorang.


"Halo, selamat datang kembali...ada yang bisa saya bantu?"


"Baiklah, terima kasih, sepuluh Dolar untuk satu kamar, dan dua puluh Dolar untuk dua"


"Baiklah"


Sambil memberikan selembar dengan nominal seratus Dolar...


Wanita itu segera memberikan kunci kepada mereka masing-masing dengan kamar yang berbeda, wanita yang lain lagi keluar dari dalam ruangan resepsionis dan segera mengajak keduanya untuk naik ke lantai dua.


"Silahkan ikuti aku"


Ketika mereka sampai di kamar mereka masing-masing, pelayan itu pergi dan hanya meninggalkan satu kata.


Jika ada sesuatu yang di perlukan, turunlah ke bawah dan katakanlah sesuatu.


Begitulah katanya.


Keduanya hanya mengganguk, dan masuk langsung ke kamar mereka.


Beristirahatlah, besok kita harus mencari cara untuk menaikkan level secepat mungkin, untuk bisa keluar dan memenangkan permainan.


Begitulah kata Akira.


"Baiklah, kami juga"

__ADS_1


Tidak ada barang-barang yang mereka miliki satu pun untuk di simpan di kamar ini, karena pada awalnya mereka masuk ke dunia ini secara tiba-tiba tanpa barang satu pun terkecuali baju yang sudah ada sendiri di tubuh mereka, dan ponsel mereka masing-masing, dimana semua aplikasi yang ada di ponsel mereka terhapus seluruhnya, kosong dan tidak ada satupun aplikasi bahkan untuk sebuah opsi ponsel, yang ada hanyalah sebuah aplikasi yang bergambar keranjang belanjaan yang di dalamnya hanya untuk membeli sebuah senjata dengan poin mereka.


Kembali dimana Cian dan Sora harus terlempar di kordinat lain lagi, namun masih berada di kota ini, yang harus mereka cari adalah cara kembali ke penginapan mereka di awal. Mereka tidak tahu bagaimana mengingatnya, karena mereka semua adalah orang baru, portalnya terbuka di tempat umum, cukup banyak orang yang melihat, namun tidak seheboh untuk di dunia mereka, disini sihir itu nyata dan mereka semua percaya.


Ayah, lihatlah! ada penyihir, adik kecil lelaki itu berkata sambil memegang tangan dan menarik-narik baku ibunya.


Ayahnya hanya memandang ke arah yang di tunjukkan anaknya, dan tersenyum pada mereka.


"Dimana kita?"


tanya Sora.


"Kurasa kita berada di sisi lain lagi kota ini, aku tidak fokus untuk mengembalikan kita ke tempat awal, tapi tenang saja"


"Terbukalah!"


Kemudian portal cahaya biru terbuka lagi di tempat tadi, mereka kembali masuk ke dalam, Cian harus memusatkan pikirannya pada tempat yang akan di tuju, itulah cara kerja sihir teleportasi nya untuk sampai ke tempat tujuan, dengan membayangkan seperti apa tempat tujuannya.


Salah membayangkan, adalah salah kordinat.


Ketika portal terbuka lagi dengan cepat, mereka berdua sampai lagi di penginapan awal mereka, memasuki tempat itu sambil membawa sejumlah uang yang di ikat.


"Permisi, ini adalah bayarannya"


"Terima kasih nona, padahal ketua kami sudah mengizinkan kalian untuk tinggal dulu dalam semalam"


"Tidak perlu, itu benar-benar terasa seperti hutang, hidup dengan hutang itu tidak menyenangkan, membuatku gelisah"


Kata Cian.


"Begitu ya, baiklah"


Keduanya segera naik kembali ke kamar mereka, satu kamar untuk dua orang. Tidak terlalu buruk dan aneh, namun akan terasa aneh jika Akira dan Isami berbagi kamar, bukankah orang-orang akan menggangap mereka adalah penyuka sesama jenis? pandangan semacam itu tidak menyenangkan, Akira sudah memikirkan itu dari awal, itu aneh.


Sejak awal Isami hanya selalu menuruti kata-kata Akira, yang mana yang harus di lakukan dan yang mana yang tidak boleh, dia terus mendengarkan dan melakukan, lagipula itu untuk kebaikan mereka juga, Akira tidak bodoh.


Apapun yang terjadi, aku tidak boleh merepresentasikan diriku di dalam permainan, aku tidak boleh ikut campur. Baik diriku ataupun Kiana, kami harus tetap mengawasi permainan, melihat mereka, mengawasi mereka.


Berpikir sejenak, bagaimana jika memang mereka berdua adalah satu dengan alam semesta ini dan memiliki kendali atas semuanya, bukankah kami bisa mengendalikan apapun yang terjadi di alam semesta ini?


Sesaat berpikir seperti itu...


Kiana, kamu menyatu denganku, begitulah aku, alam semestanya, dunia ini...bukankah jika kita adalah alam semestanya, maka kita bisa mengontrolnya?


Aku menanyakan pertanyaan itu padanya, namun suaraku seperti ada dua, yaitu suaraku dan suara Kiana bertanya pertanyaan yang sama, ketika dia menjawab ku, aku mendengar suaraku juga sebagai jawabannya bersamaan dengan suara Kiana.


"Apapun yang kamu rencanakan, aku hanya bisa mengikuti naluri dan hal yang kamu inginkan"


Begitulah kata Kiana.


Anggap saja jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada mereka, bukankah masalah jika kita berdua membantu mereka dengan seperti bantuan dari alam. Anggap saja aku sebagai Room master, atau Game master adalah kekuasaan tertinggi atas permainan, bukankah aku dapat mengubah aturannya?contohnya aku membolehkan diriku sendiri membantu salah satu dari mereka, ketika sesuatu terjadi dan benar-benar mengancam keselamatan mereka semua.


Contohnya mungkin memberikan sebuah kilatan petir untuk menyambar apapun yang ingin membunuh mereka, atau semacam pengendalian segala elemen di alam yang terjadi seperti ajaib bagi orang-orang.


...JDEERRR!!!...

__ADS_1


Aku hanya membayangkan hal itu terjadi, namun satu yang kulihat adalah sebuah petir yang benar-benar turun sangat kuat di langit yang cerah. Seketika sapi-sapi yang makan rumput, dan kawanan kambing itu berlarian tak karuan, sepertinya benar-benar terjadi, aku memiliki kendalinya. Tapi kawanan sapi dan kambing itu benar-benar terkejut sekarang, untung saja tidak ada satupun yang mati.


Rumput yang tersambar benar-benar hangus dan terbakar, sepertinya beberapa peternak yang tadinya berada di padang rumput itu juga cukup panik tadinya, saking paniknya mereka sampai lari ke dalam rumah ternak itu untuk mengamankan diri. Memang cukup besar, aku hanya membayangkan sebuah petir kecil, namun yang terjadi sebesar itu.


__ADS_2