
Airin tidak pernah berniat untuk menggabungkan isi kedua buku ini menjadi satu.
Karena secara alami, itu berbeda.
Buku diary adalah sebuah buku yang dia tulis untuk menceritakan kehidupan dan rutinitas sehari-hari nya.
Sedangkan buku satunya adalah buku biasa yang awalnya kosong dan tak terpakai. Dia akhirnya mengisi buku ini dengan semua yang ada tentang Yuna.
Tentu buku ingatan dan harian itu berbeda.
Tidak mungkin menjadi satu.
Lagipula dia adalah Irin dan bukan Yuna.
Kedua buku ini telah di ubah menjadi lembaran yang tidak akan pernah habis.
Meskipun buku-buku ini tipis hanya setinggi satu sentimeter, sebenarnya jumlah lembaran nya tidak terbatas.
Akan mencatat semua kesehariannya, begitupun buku yang satunya. Membuat semua nya muat untuk masuk ke dalam.
Namun, hal yang tidak dia mengerti adalah bagian dalam buku diary yang menyebutkan bahwa Irin tidak dilahirkan dari awal.
Tapi dia seperti di hidupkan ke dunia ini tanpa siapa-siapa dengan wujud gadis berusia sepuluh tahun.
"Apa ini?"
"Dia tidak dilahirkan? lalu mengapa muncul di dunia ini?" tanya Akira.
Catatan bagian di dalam buku itu yang membuatnya merasa aneh, benar-benar misteri yang harus dia cari tahu tentang Irin.
Yuna yang menghilang, kini mulai terlupakan darinya, sekarang seperti dia mulai menggangap bahwa dia menemukan kekasih lamanya sekarang.
Meskipun Irin dan Yuna adalah orang yang berbeda, dia tidak peduli. Sekarang dia mulai memberikan hatinya pada Irin.
Bukan karena sekedar itu mirip, tetapi itu hanya perasaan dan pemikirannya saja bahwa itu bisa di anggap sebagai individu yang sama.
Disisi lain, dia sudah kembali menemui Irin dan Cian di sekolah.
Lagipula jika terlalu lama berada di sekolah, sekelompok gadis-gadis terkadang mengikuti nya dari belakang.
Jika Irin dan Cian pergi ke tempat lain, maka dia melakukan hal-hal yang membosankan.
Selain menjawab pertanyaan-pertanyaan dari gadis-gadis di kelasnya juga.
Mereka suka mengambil foto bersama Akira.
Bahkan Akira pernah bertanya, "Apa yang akan kalian lakukan dengan berfoto?"
Kemudian para wanita di kelasnya menjawab dengan berbeda-beda, ada yang menyimpan banyak di galeri, dan ada juga yang sampai mengubah tampilan galerinya yang sedang berfoto dengan Akira.
Irin tidak bisa melarang mereka mendekati Akira, terkadang dia merasa cemburu melihat itu.
Namun, dia merasa tidak memiliki hak untuk melarang mereka mendekati Akira.
Bahkan Irin tidak mengerti akan perasaannya yang tiba-tiba menjadi ingin berada di dekat Akira.
__ADS_1
Selain dari semua hal itu, Akira lebih suka tidur di kelas. Benar-benar membosankan. Dia harus mencari aktivitas atau game online yang menyenangkan.
Meskipun memiliki handphone, jumlah kontak nya hanya ada dua.
Itu hanya Airin dan Cian, tidak ada orang yang dia kenal lebih selain dua ini.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
tanya Akira.
"Entahlah, seorang siswa aneh tiba-tiba seperti jatuh entah darimana asalnya terhempas menabrak meja-meja" jelas Cian.
"lalu bagaimana itu bisa terj-"
"Seseorang menggunakan sebuah sihir untuk menyerang ku" Irin menyela.
Akira: "Hah? siapa?"
Cian: "Wajahnya tak terlihat dengan jelas karena memakai sebuah topeng, namun kami jelas melihat bahwa seragamnya adalah murid sekolah ini."
Mereka berbincang sedikit dengan nada rendah sehingga orang-orang tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba seorang siswa lelaki perlahan menarik kursi di meja mereka.
"Permisi, bolehkah aku duduk bersama kalian disini?"
Akira dan Airin tidak memiliki sepatah kata pun untuk di ucapkan, selain kata "silahkan"
Karena tidak saling mengenal.
Mungkin agak canggung untuk pertama kalinya berkomunikasi.
"Kamu? yang tadi pagi kan?" tanya Cian.
"iya, benar, terima kasih atas bantuannya. Lagipula aku belum mengenal nama mu"
"Bolehkah aku tau? mungkin kita bisa menjadi teman."
"Chailian Natch, biasa di panggil Cian"
Bagaimana denganmu?
"Isami Kenji, lalu apakah kedua ini adalah temanmu?"
"Benar, mereka berdua adalah teman baikku"
kata Cian.
"Ehhe, Salam kenal, namaku Isami bagaimana dengan kalian?
Lalu kedua nya menjawab satu persatu.
"Akira Ryuzaki"
"Airin Lloyd"
__ADS_1
"terima kasih atas perkenalannya, aku senang bisa berkenalan dengan kalian"
"Kuharap kita bisa menjadi teman baik"
Cian: "Hmmm, tentu saja"
Ini adalah langkah pertama Isami untuk mulai mendekati Irin dan teman-temannya.
Namun dia tidak tahu, untuk mendekati Irin, tentu saja dia akan memiliki saingan. Itu Akira.
Bagi nya di antara mereka bertiga, yang paling berbeda adalah Irin, karena dia sebuah pengguna sihir. Kesalahan lainnya adalah dia mengira itu adalah Yuna yang bereinkarnasi kembali.
Akira sebenarnya berpikiran seperti ini pada awalnya.
Kemudian Cian mulai bertanya.
"Kamu murid pindahan yah? dari sekolah mana kah itu?"
"Iyah, sekolah ku berada di luar negeri pada awalnya"
"Lalu mengapa kamu pindah jauh-jauh untuk bersekolah kesini?"
"Tentu saja karena sepertinya sekolah ini terkenal akan fasilitasnya yang terbaik dari beberapa sekolah elit yang ada"
Katanya dengan alasan yang harusnya berbeda.
Kemudian Isami merasa heran, kenapa ada lagi satu lelaki yang terasa memiliki aura yang tidak seperti manusia. Dia merasa kedua teman Irin yang lainnya juga sepertinya memiliki kelainan sedikit.
"Ternyata kamu sudah mengenal nya yah?"
"Yah, aku bertemu nya tadi pagi ketika dia menabrak ku, dan kelas nya ternyata tepat bersebelahan di kelas kita"
Namun dia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain dan terlihat biasa saja seperti anak laki-laki lainnya.
Berbeda dengan Akira yang baru saja menjadi anak baru dan menjadi idola di kalangan gadis-gadis lainnya.
Sepulang sekolah Cian, Irin dan Akira sudah selalu pulang berjalan bersama-sama.
Sepertinya tidak bisa di katakan berjalan kaki.
Terkadang hanya Cian yang pulang bersama Irin. Akira tetap pulang sendirian harus mencoba memecahkan misteri yang ada.
Namun, terkadang dia juga ikut bersama Cian pulang bersama Irin.
Apartemen itu sangat luas.
Sebenarnya hanya dengan satu kamar hampir terhitung bagaikan luas sebuah rumah.
Memiliki ruang tamu, dua kamar, dapur, dan fasilitas lainnya dengan fitur-fitur berkualitas tinggi.
Entah mengapa, tapi memang dua kamar membuktikan bahwa satu kamar tinggal di apartemen setara dengan sebuah luas rumah.
Cian bahkan terkadang menginap disini bersama Irin. Atau terkadang keduanya tertidur di ruang tamu sambil bermain HP.
Itulah kegiatan yang terkadang mereka lakukan daripada hanya terus menggunakan sihir.
__ADS_1
Terkadang hidup yang terlalu instan itu membosankan.
Saat ini sepertinya Akira tidak pergi bersama mereka. Dia bahkan tidak pulang kerumahnya.